Saka menceritakan semuanya pada malam kedua puluh delapan.
Mereka bertiga duduk di lantai kamar indekos: Algi bersandar di lemari, Edu duduk bersila di depan pintu, dan Saka di tengah, dengan kotak baja yang sudah terbuka di antara mereka.
Ia bercerita tentang langit merah. Tentang kubah. Tentang mayat di trotoar yang dilangkahi orang seperti melangkahi genangan. Tentang dispenser yang menyebut namanya lalu mengumumkan jatahnya hari itu: lima puluh mililiter. Tentang wali kota yang berkeringat di atas mimbar dan menagih oksigen lima juta rupiah sebulan untuk tiap kepala berusia di atas dua puluh tahun.
Ia bercerita tentang Akasa. Tentang pil bening yang di dalamnya ada jamur yang tumbuh pada mayat. Tentang empat belas ranjang di ruang bawah tanah rumah sakit. Tentang ibunya yang sembilan belas hari tidak haus. Tentang kakaknya yang dijual seharga delapan ratus juta bersama dua temannya.
Ketika ia selesai, tidak ada yang bicara selama hampir dua menit penuh.
“Kau gila,” kata Algi akhirnya.
“Aku tahu bagaimana kedengarannya.”
“Kau. Gila.” Algi berdiri, berjalan dua langkah, lalu duduk lagi. “Kau tahu tidak, kau ini sudah kuberi makan sebulan? Kuberi tempat tidur? Aku bahkan menombok bensin dan benih dan—”
Saka menyodorkan pergelangan tangan kirinya.
Algi berhenti bicara. Di permukaan arloji hitam itu, angka-angka bergerak turun, satu demi satu, dengan cahaya yang tidak sama dengan cahaya layar mana pun yang pernah Algi lihat.
1 hari. 22 jam. 4 menit.
Edu merangkak mendekat dan menatapnya tanpa berkedip.
“Ini tidak ada di tahun 2023,” bisik anak itu. “Aku belum pernah lihat layar setipis ini. Belum ada.”
“Bisa saja itu jam mahal,” kata Algi, tapi suaranya sudah kehilangan tenaga.
“Bang Algi.” Edu mengangkat wajahnya. “Coba abang ingat. Sebulan ini dia pernah minta apa? Satu kali saja?”
Algi membuka mulut, lalu menutupnya.
Sebulan ini Saka tidak pernah meminta uang. Tidak pernah meminta ponsel. Tidak pernah meminta pakaian bagus, tidak pernah meminta diantar ke tempat wisata, tidak pernah sekali pun mengeluh soal apa pun. Yang ia minta hanya tanah, benih, dan air.
Yang paling sering ia lakukan hanyalah berdiri di halaman, menengadah, dan memandangi langit sampai lehernya pegal.
“Ya Tuhan,” gumam Algi, dan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
***
“Aku ada di sana?” tanya Algi, jauh setelah tengah malam.
Mereka pindah ke teras karena kamar terasa terlalu sempit untuk percakapan semacam ini.
“Kalau kau masih hidup, umurmu delapan puluh dua tahun,” kata Saka.
“Delapan puluh dua.” Algi tertawa pendek. “Berarti aku harus bayar tagihan oksigen juga, dong.”
“Ya.”
“Sialan.”
Mereka terdiam.
“Ka,” kata Algi lagi. “Kalau semuanya memang seperti yang kau bilang… berarti ini salah kami, ya? Salah orang-orang yang hidup sekarang.”
Saka memikirkan jawabannya lama sekali, karena ia tahu jawaban ini akan dibawa lelaki itu sampai tua.
“Profesor Ed pernah bilang, semua itu butuh enam puluh tahun untuk terjadi,” katanya. “Dan sepanjang enam puluh tahun itu ada ribuan kesempatan untuk berhenti, dan tidak satu pun diambil. Tapi dia tidak pernah bilang siapa yang salah. Dia hanya bilang, tidak ada satu orang pun yang merasa dirinya bagian dari masalah.”
Algi menatap gelas kopinya.
“Aku buang sampah sembarangan minggu lalu,” katanya pelan. “Bungkus gorengan. Dari atas motor. Karena aku buru-buru.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?”
“Aku duduk di belakangmu.”
Algi tertawa, dan tawanya berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan.
“Aku tidak bisa menyelamatkan dunia, Ka,” katanya. “Aku ini cuma pegawai. Gajiku pas-pasan. Aku bahkan tidak bisa membetulkan kipas angin di kamarku.”
“Aku tidak minta kau menyelamatkan dunia.” Saka menoleh. “Aku cuma minta satu hal.”
“Apa?”
“Jangan berhenti peduli hanya karena kau merasa terlalu kecil. Itu saja. Karena kalau semua orang yang merasa terlalu kecil berhenti, tidak akan tersisa siapa-siapa.”
Algi menunduk lama sekali.
“Kalau aku mulai peduli,” katanya, “apa yang berubah?”
“Mungkin tidak ada.”
“Nah.”
“Tapi mungkin ada satu orang yang melihatmu dan ikut,” kata Saka. “Lalu satu lagi. Dan enam puluh tahun itu waktu yang sangat panjang, Algi. Kata Profesor Ed, sepanjang enam puluh tahun itu ada ribuan kesempatan untuk berhenti.” Ia menoleh. “Aku tidak minta kau mengambil semuanya. Aku cuma minta kau mengambil satu.”
Algi tertawa pelan, dan tawanya kali ini terdengar lebih seperti helaan napas.
“Kau ini,” katanya. “Kau tahu tidak, kau bicara persis seperti orang tua.”
“Aku dibesarkan oleh orang tua yang sangat keras kepala.”
***
Edu tidak tidur malam itu.
Anak itu duduk di teras sampai subuh, mengajukan pertanyaan demi pertanyaan: bagaimana mesin itu bekerja, berapa dayanya, kenapa harus enam puluh tahun dan bukan lima puluh, kenapa hanya sekali, apakah gulungan tembaganya didinginkan.
Saka menjawab sebisanya, dan sebagian besar jawabannya adalah aku tidak tahu.
“Kalau aku tanya orang tuaku, mereka pasti bilang aku halusinasi,” kata Edu.
“Ya. Karena itu jangan tanya siapa-siapa.”
“Terus aku harus apa?”
Saka menoleh kepada anak kurus berkaus kebesaran dengan obeng di saku celana pendeknya itu, dan menjawab dengan kalimat yang tidak ia rencanakan, kalimat yang muncul begitu saja seperti sudah lama menunggu di ujung lidahnya.
“Kalau kau benar-benar ingin melakukan sesuatu,” katanya, “jadilah orang yang membangun pintunya. Bukan orang yang berteriak-teriak memperingatkan. Yang berteriak akan dianggap gila dan dilupakan besok pagi. Tapi kalau ada satu orang yang menghabiskan seumur hidupnya membangun sebuah pintu, walaupun mungkin dia tidak akan pernah memakai pintu itu sendiri… suatu hari akan ada orang yang lewat di sana dan selamat.”
Edu menatapnya dengan mata yang terlalu terang untuk mata anak yang belum tidur semalaman.
“Namamu siapa?” tanya Saka. “Yang lengkap.”
“Eduard,” jawab anak itu. “Tapi semua orang panggil aku Ed.”
Saka mengangguk pelan, dan tidak berkata apa-apa lagi.
***
Sore harinya, satu jam sebelum waktunya, mereka berjalan ke taman.
Saka membawa kotak baja yang sudah tersegel. Di dalam sekat terakhir yang tadinya kosong, sekarang ada selembar daun. Bentuknya biasa saja, ujungnya sedikit robek, dipungut Saka dari bawah pohon di dekat bangku besi ketiga.
Bawakan aku satu daun. Satu saja. Tidak usah yang bagus.
Langit sore itu jingga, dan di ufuk barat ada gumpalan awan yang tepinya berwarna keemasan.
“Aku tidak tahu harus bilang apa,” kata Algi.
“Tidak usah bilang apa-apa.”
“Aku tidak akan pernah bisa menceritakan ini ke siapa pun. Mereka akan mengira aku gila.”
“Aku tahu. Maaf.”
Algi menggeleng, lalu tiba-tiba memeluknya, kuat sekali, dengan cara canggung khas orang yang tidak biasa memeluk.
“Kau sudah makan bakso sebelum pergi?” tanyanya, dan suaranya pecah di kata terakhir.
“Belum.”
“Ya ampun. Ya sudah, nanti kalau kau ke sini lagi—” Algi berhenti, karena ia tahu tidak akan ada lagi.
Edu menyodorkan sesuatu. Sebuah kertas terlipat empat, ditulis dengan tulisan tangan anak-anak yang berantakan.
“Jangan dibaca sekarang,” katanya.
“Kapan?”
“Terserah. Pokoknya jangan sekarang.”
Arloji di tangan kiri Saka berbunyi. Satu nada rendah, panjang.
“Mundur,” kata Saka. “Dua meter. Lebih jauh lebih baik.”
Mereka mundur.
Saka berdiri di tengah rumput dengan kotak baja di kakinya, memandangi dua orang yang sebulan lalu belum pernah ia temui, di sebuah taman di kota yang sama dengan kotanya sendiri, di bawah langit yang masih biru.
Udara di sekelilingnya mulai bergetar.
“Algi!” teriaknya, tiba-tiba. “Tanam sesuatu! Apa saja! Di halaman indekosmu!”
“Apa?!”
“Tanam sesuatu!”
Dan cahaya itu datang, putih dan padat, dan yang terakhir Saka dengar sebelum semuanya hilang adalah suara seorang lelaki jangkung yang berteriak memanggil namanya di tengah taman, keras sekali, sampai burung-burung di pohon beterbangan meninggalkan dahannya.