Yang pertama datang, lagi-lagi, adalah bau.
Kering. Logam. Debu yang dipanaskan. Dan di baliknya ada sesuatu yang tipis dan asam, seperti bau ruangan yang terlalu lama tidak dibuka jendelanya, kecuali bahwa di sini tidak ada jendela yang bisa dibuka di seluruh kota.
Saka terjatuh berlutut di lantai logam, dan tubuhnya langsung menolak. Ia terbatuk-batuk, tersengal, menghirup dan tidak mendapat cukup, menghirup lagi dan tetap tidak cukup.
Sebulan. Hanya sebulan paru-parunya menikmati udara yang sesungguhnya, dan sekarang ia harus belajar lagi bernapas di rumahnya sendiri.
“Saka!”
Tangan-tangan menariknya. Ada suara ibunya yang berteriak, ada suara ayahnya yang memanggil namanya berulang-ulang, ada Darius yang berlutut di sampingnya dan menempelkan sesuatu ke dadanya.
Dan ada seorang lelaki tua berambut putih setengah botak yang berdiri di belakang mereka semua, tidak bergerak, dengan kedua tangan menutupi mulutnya sendiri.
“Prof,” kata Saka, serak, di sela batuknya. “Kotaknya.”
“Persetan dengan kotaknya,” bisik Profesor Ed, dan untuk pertama kalinya sejak Saka mengenalnya, lelaki tua itu menangis.
***
Kotak baja itu dibuka pukul empat pagi di laboratorium bawah tanah rumah sakit.
Darius memakai sarung tangan dan masker, seperti biasa, tapi tangannya bergetar sehingga ia harus berhenti dua kali sebelum bisa menekan segel pertama.
Klik.
Bau tanah hutan naik dari sekat itu dan memenuhi ruangan.
Perawat yang berdiri di pintu menutup mulutnya. Salah seorang teknisi yang usianya sudah lima puluhan mundur selangkah, dan ketika Saka menoleh, lelaki itu sedang menangis tanpa suara.
“Ya Tuhan,” kata Darius. “Ini… ini baunya seperti apa, sih? Kenapa rasanya seperti sesuatu yang pernah kuingat padahal aku belum pernah menciumnya?”
“Itu bau hujan,” kata Profesor Ed. “Bau tanah yang hidup. Nenek moyangmu mengenal bau itu selama ratusan ribu tahun. Tubuhmu ingat, walaupun otakmu tidak.”
Mereka bekerja sembilan hari sembilan malam.
Dari satu sendok tanah, mereka menumbuhkan koloni demi koloni di cawan-cawan kaca. Dari koloni itu mereka mencari satu yang mereka butuhkan: sesuatu yang, ketika diletakkan berdampingan dengan filamen necrofungus psilocybelis di bawah mikroskop, membuat filamen itu berhenti tumbuh, mengerut, lalu larut.
Pada hari kelima, mereka menemukan tiga kandidat.
Pada hari kedelapan, dua di antaranya gugur.
Pada hari kesembilan, pukul dua siang, Darius mengangkat wajahnya dari mikroskop dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik penuh.
“Mati,” katanya akhirnya. “Filamennya mati. Semua.”
***
Yang pertama menerimanya adalah Zade.
Lelaki itu sudah masuk fase kedua sejak tiga minggu lalu, diikat di ranjang paling ujung, matanya seputih susu. Darius bilang kemungkinannya nol. Saka tetap meminta.
“Kenapa dia lagi?” tanya Darius.
“Karena dia satu-satunya yang bisa memberi izin untuk dirinya sendiri,” kata Saka. “Dia sudah menyerahkan barang itu kepadaku dengan sadar. Aku tidak mau memakai orang yang tidak bisa memilih.”
Selama satu jam di hari ketiga setelah suntikan pertama, jamur di dalam tubuh Zade mati, dan lelaki itu kembali.
Ia sadar. Ia tahu siapa dirinya. Ia bahkan tahu tanggal berapa hari itu.
“Kerusakannya sudah terlalu jauh,” kata Darius pelan kepada Saka, di luar kaca. “Jamurnya mati, tapi sarafnya sudah hancur. Ini tidak akan bertahan.”
Saka masuk. Ia berdiri di belakang garis kuning, seperti dulu.
“Ternyata benar,” kata Zade. Suaranya kecil sekali. “Kakakmu benar.”
“Ya.”
“Berapa orang yang akan selamat?”
“Belum tahu. Semoga banyak.”
Zade menutup matanya. “Katakan pada dokter itu, tulis namaku di catatannya. Nama lengkapnya. Aku tahu aku tidak berhak minta apa-apa. Tapi aku ingin ada satu catatan di dunia ini yang menyebutkan bahwa aku pernah berguna sekali saja.”
Ia meninggal keesokan harinya, menjelang sore.
Darius menuliskan namanya di halaman pertama laporan itu, di kolom yang ia beri judul: Sukarelawan pertama.
***
Ibu Saka menjalani sepuluh hari yang paling buruk dalam hidupnya.
Rasa haus itu kembali sekaligus, seperti utang sembilan belas hari yang ditagih dalam satu kali. Perempuan itu menggigil, mengigau, dan pada malam ketiga ia menangis meminta pilnya kembali dengan cara yang membuat Saka harus keluar dari kamar karena tidak sanggup mendengarnya.
Ayahnya tidak pernah keluar dari kamar itu. Tidak sekali pun, selama sepuluh hari.
Pada hari kesebelas, Darius mengambil darahnya lagi.
Dan pada hari kedua belas, dokter itu datang ke rumah mereka, membawa selembar kertas, dan menaruhnya di meja makan.
Bersih.
Ibu Saka membaca kata itu, lalu meletakkan kertas itu, lalu berjalan ke dapur dan mulai memasak, dan seluruh keluarga itu tahu bahwa itulah caranya menangis.
Dari empat belas orang di ruang bawah tanah, lima masih berada di fase pertama.
Kelima-limanya selamat.
Sembilan sisanya tidak, dan Darius menuliskan kesembilan nama itu di halaman yang sama, di kolom yang lain, karena ia bilang laporan yang hanya memuat keberhasilan adalah laporan yang berbohong.
***
Mereka tidak melapor ke pemerintah lebih dulu. Profesor Ed melarang keras.
“Laporan pertama kita hilang. Laporan kedua dijawab dengan surat audit,” katanya. “Kalau kita menyerahkan ini ke satu meja, ia akan mati di meja itu.”
Maka mereka melakukan yang sebaliknya.
Darius menggandakan seluruh catatannya, seluruh foto mikroskop, seluruh isi cip data milik Sekala, dan mengirimkannya ke setiap klinik, setiap puskesmas, setiap rumah sakit kecil yang nomornya ia punya, di dalam dan di luar kota.
Pak Hadi mencetak ringkasannya di sekolah, malam-malam, dengan mesin cetak tua yang sudah lama tidak dipakai. Alinea dan Senandika membagikannya dari rumah ke rumah di ujung kubah, dari pintu ke pintu, kepada orang-orang yang selama ini menerima seratus butir pertama secara gratis.
Pada minggu ketiga, kios-kios di sisi selatan kubah dibakar warga sendiri.
Pada minggu kelima, wali kota berdiri lagi di atas mimbar alun-alun, berkeringat lagi, dan mengumumkan larangan peredaran pil pengatas rasa haus dalam bentuk apa pun.
Perusahaan itu membantah semuanya. Mereka menyebut laporan Darius tidak ilmiah, menyebut Profesor Ed ilmuwan pensiunan yang kecewa, menyebut kematian dua puluh sembilan orang di sebuah fasilitas tanpa jendela sebagai fitnah. Tapi kantor mereka di kota ini tutup pada bulan kedelapan, karena tidak ada lagi satu orang pun di ujung kubah yang mau menerima apa pun dari tangan mereka.
Tagihan oksigen tidak dihapus. Saka tidak pernah berbohong soal itu kepada siapa pun.
Yang berubah hanya satu: usulan penundaan setahun bagi keluarga berpenghasilan paling rendah akhirnya disetujui, setelah tujuh ribu tanda tangan dikumpulkan dari rumah ke rumah oleh anak-anak sekolah yang seharusnya sedang belajar Fisika.
Itu bukan kemenangan. Itu hanya retakan kecil di tembok yang sangat tebal.
Tapi retakan tetaplah retakan.
***
Saka mendatangi Alinea di rumahnya pada suatu sore, membawa sesuatu yang dibungkus dua lapis plastik bening.
“Apa itu?”
“Kau yang minta.”
Ia membuka bungkusnya, dan meletakkan selembar daun kering berujung robek ke telapak tangan gadis itu.
Alinea tidak bergerak selama beberapa detik. Kemudian jemarinya menutup perlahan, dan ia menempelkan daun itu ke pipinya sendiri, lalu ke keningnya, seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu ke tempat yang paling aman.
“Dingin,” bisiknya. “Dan ada garis-garis halusnya.”
Ia menangis lama sekali sore itu, dan Saka duduk di sebelahnya sampai selesai, seperti yang selalu dilakukan seseorang yang tidak lagi ada di dunia ini untuk mereka berdua.