Delapan bulan kemudian, di halaman belakang rumah sakit, berdiri sebuah bangunan berdinding kaca.
Ukurannya tidak besar, hanya selebar dua ruang kelas, dibangun dari kaca-kaca bekas yang dikumpulkan warga dan rangka besi dari kios-kios yang dulu dibakar. Di dalamnya, di atas rak-rak bertingkat, berjejer empat ratus dua belas pot berisi tanah yang berasal dari sembilan titik di sebuah hutan pinus, enam puluh tahun yang lalu.
Dan dari dalam pot-pot itu, sesuatu tumbuh.
Kebanyakan masih setinggi jari. Beberapa sudah setinggi lutut. Yang paling tinggi, sebatang pohon yang menurut catatan Profesor Ed adalah jenis yang dulu banyak ditanam di tepi jalan kota ini, sudah mencapai pinggang orang dewasa dan punya sebelas helai daun.
Di atas pintu masuknya ada papan kayu dengan tulisan yang dicat tangan:
RUMAH KACA SEKALA AMALTA
Niar yang mengecatnya. Perempuan itu bekerja di sana sekarang, enam hari seminggu, mencatat tinggi setiap batang, mencatat berapa mililiter air yang diberikan, mencatat daun mana yang menguning dan kenapa.
“Dia akan mengomel kalau tahu namanya dipakai,” kata Niar suatu hari.
“Dia akan pura-pura mengomel,” balas Saka. “Lalu dia akan diam-diam memotretnya.”
***
Akasa dimakamkan di petak paling ujung, di pemakaman yang sama dengan ayah Alinea.
Pada bulan kesembilan, Saka, Alinea, dan Senandika datang ke sana membawa sebuah pot kecil.
Mereka menggali di sisi kanan nisannya, memindahkan batang setinggi jari itu ke dalam tanah, lalu menyiramnya dengan air yang dibawa Alinea dari rumah, air jatah minumnya sendiri hari itu.
“Kau tahu tidak,” kata Saka kepada gundukan tanah itu, “kau pernah bilang jangan kupakai untukmu.”
Ia berjongkok, meratakan tanah di sekeliling batang kecil itu dengan telapak tangannya.
“Aku tidak memakainya untukmu. Aku memakainya untuk yang masih bisa minum, seperti katamu. Ini bukan bayaran. Ini cuma pohon.”
Senandika mengusap matanya dengan lengan seragam.
“Dia akan bilang kau berlebihan,” katanya.
“Aku tahu.” Saka berdiri. “Dia juga akan bilang aku terlalu banyak berpikir dan nanti aku botak.”
Mereka bertiga tertawa di depan makam itu, terlalu keras, sampai seorang penjaga pemakaman menoleh dengan wajah tidak setuju, dan itu justru membuat mereka tertawa lebih keras lagi.
***
Profesor Ed memanggilnya pada suatu malam di bulan kesepuluh.
Rumah tua itu masih sama berantakannya. Terpal abu-abu sudah dipasang kembali menutupi silinder baja di ruang belakang, dan di atas terpal itu sekarang bertumpuk kardus, tumpukan koran, dan sebuah sepeda rusak, karena benda itu tidak akan berguna lagi selama tiga puluh tahun ke depan.
Mereka duduk di kursi kayu di depan rumah, dengan meja bundar di antara mereka, seperti dulu.
“Kau ingat aku bilang ada satu hal yang belum kuceritakan?” tanya Profesor Ed.
“Aku menunggu sepuluh bulan, Prof.”
“Aku menunggu enam puluh tahun.” Lelaki tua itu meletakkan sesuatu di atas meja. “Jadi kita impas.”
Benda itu sebuah buku tulis. Sampulnya sudah kaku dan menguning, sudutnya dimakan usia, dan di bagian depannya tertulis dengan spidol yang warnanya sudah pudar: EDUARD — CATATAN PERCOBAAN.
Saka menatapnya, dan sesuatu di dalam dadanya berhenti bergerak.
“Buka halaman terakhir,” kata Profesor Ed.
Tangan Saka gemetar ketika membalik lembarannya. Kertasnya rapuh, beberapa halaman lepas dari jilidannya. Di halaman terakhir yang terisi, ada tulisan tangan anak-anak yang berantakan, ditulis dengan pena yang menekan terlalu keras.
1 Oktober 2023.
Hari ini Bang Saka pergi. Dia hilang di taman, ada cahaya, Bang Algi teriak-teriak sampai suaranya habis.
Aku tidak akan cerita ke siapa-siapa. Tidak ada yang akan percaya, dan kata Bang Saka yang berteriak-teriak itu cuma dianggap gila.
Jadi aku akan membangun pintunya saja.
Kalau nanti aku sudah tua dan aku bertemu dia lagi, aku tidak akan bilang apa-apa dulu. Aku takut kalau dia tahu, dia jadi tidak mau masuk ke pintunya. Nanti saja kalau dia sudah pulang.
Saka menutup buku itu.
Ia tidak bisa bicara. Ia hanya duduk di sana, menatap meja bundar, sementara seluruh delapan belas tahun hidupnya disusun ulang di dalam kepalanya.
“Kau,” katanya akhirnya. “Kau Edu.”
“Aku Edu.”
“Waktu kau jadi guru pengganti Fisika di sekolahku—”
“Aku sudah menunggumu empat puluh delapan tahun waktu itu.” Profesor Ed tersenyum, dan matanya menghilang di balik kerutan. “Kau masuk kelas dengan wajah bosan dan langsung duduk di bangku ketiga dari belakang. Aku hampir jatuh, Saka. Aku harus lari keluar kelas. Kau ingat? Anak-anak menertawakanku karena tulisanku tiba-tiba jadi tidak keruan lalu aku lari begitu saja.”
“Aku ingat,” bisik Saka. “Akasa selalu menceritakan itu.”
“Aku muntah di belakang sekolah hari itu.” Profesor Ed tertawa pelan. “Enam puluh tahun aku menyiapkan diri untuk melihat wajah itu lagi, dan begitu wajahnya benar-benar muncul, aku lari.”
“Kenapa Profesor tidak pernah bilang?”
“Karena kalau kau tahu bahwa semua ini sudah pernah terjadi, kau mungkin merasa tidak punya pilihan. Dan orang yang merasa tidak punya pilihan tidak akan pernah benar-benar memilih.” Lelaki tua itu menatapnya. “Aku ingin kau masuk ke pintu itu karena kau memutuskannya sendiri. Bukan karena aku bilang kau sudah pernah melakukannya.”
Saka mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Enam puluh tahun, Prof,” katanya. “Profesor menghabiskan enam puluh tahun untuk sebuah pintu yang tidak Profesor pakai sendiri.”
“Kau yang menyuruhku.”
“Aku empat belas tahun lebih muda darimu waktu itu.”
“Kau delapan belas tahun. Aku empat belas.” Profesor Ed mengangkat bahu. “Dan kau benar. Itu satu-satunya nasihat yang pernah kudengar seumur hidupku yang ternyata benar sampai ke ujungnya.”
Ia menyeruput tehnya.
“Ah, satu lagi. Kakakmu itu, Algi.”
“Dia bukan kakakku.”
“Terserah.” Profesor Ed melambaikan tangannya. “Dia meninggal tahun 2078, umur tujuh puluh tujuh. Aku sempat menjenguknya empat kali sebelum itu. Dia tidak pernah lupa. Sampai tua dia masih bercerita tentang seorang anak yang menangis karena air keran, dan semua orang mengira dia sedang mengarang.”
Saka menunduk, dan air matanya jatuh ke meja bundar itu.
“Ah, dan pohon di halaman indekosnya,” lanjut Profesor Ed. “Dia menanamnya malam itu juga. Katanya ada orang gila yang menyuruhnya menanam sesuatu. Pohon itu bertahan empat puluh satu tahun. Aku sempat melihatnya waktu masih kecil. Besar sekali.”
***
Saka membaca surat dari Edu malam itu, sepuluh bulan setelah menerimanya.
Isinya hanya satu kalimat, ditulis dengan pena yang menekan terlalu keras.
Bang, kalau nanti kita ketemu lagi dan aku sudah jadi kakek-kakek yang menyebalkan, tolong tetap dengarkan ceritaku, ya.
***
Pak Hadi meminta Saka datang ke sekolah pada suatu Sabtu pagi.
Di aula, ada sekitar tujuh puluh anak duduk di lantai, dari kelas satu sampai kelas tiga, dan di depan mereka ada sebuah meja dengan pot kecil berisi batang setinggi jari.
Saka bercerita selama satu setengah jam. Tentang bau tanah hutan. Tentang air yang keluar dari batu tanpa ada yang membayar. Tentang langit yang berwarna biru dan penuh titik cahaya pada malam hari. Tentang sungai yang bisa dilihat dasarnya.
Ketika ia selesai, seorang anak laki-laki di barisan depan mengangkat tangannya.
“Kak,” katanya. “Apa gunanya menceritakan semua itu? Tempatnya sudah tidak ada. Waktunya juga sudah lewat. Kalau diceritakan pun, keadaan sekarang tidak akan berubah.”
Saka menatap anak itu, dan untuk sesaat ia merasa sedang berdiri di dua tempat sekaligus: di aula sekolah ini, dan di sebuah kursi kayu di depan rumah berantakan, delapan belas bulan yang lalu, ketika ia mengucapkan kalimat yang persis sama kepada seorang lelaki tua yang sedang berusaha memberitahunya sesuatu.
Ia tersenyum.
“Tak ada cerita yang tak pantas didengarkan, Nak,” katanya.
***
Malam itu Saka mampir ke rumah kaca sebelum pulang.
Lampu di dalamnya sudah dimatikan. Ia berdiri sendirian di antara rak-rak, di antara empat ratus dua belas pot, mendengar suara yang tidak pernah ada di kota ini selama enam puluh tahun terakhir: suara daun yang bergesekan pelan karena kipas ventilasi.
Ia menengadah.
Di permukaan kaca atap, uap dari tanah yang disiram sore tadi mengembun. Butiran-butiran kecil berkumpul di sana, saling menempel, membesar, sampai salah satunya menjadi terlalu berat untuk bertahan.
Butiran itu jatuh.
Menghantam punggung tangannya. Dingin.
Saka menatap tetes air itu untuk waktu yang sangat lama, sampai matanya panas dan pandangannya kabur.
“Hujan,” katanya, kepada siapa pun yang mungkin mendengar, kepada seorang anak lelaki bermata cokelat yang selalu menertawakan rintihnya, kepada seorang kakak yang berjanji akan selalu pulang, kepada seorang lelaki jangkung yang berteriak memanggil namanya di sebuah taman enam puluh tahun yang lalu.
“Kecil sekali. Tapi hujan.”
Dunia ini tidak sembuh malam itu. Langit di luar kubah masih merah, air masih ditakar dalam mililiter, dan oksigen masih ditagih tiap bulan kepada setiap kepala yang berusia di atas dua puluh tahun.
Tapi di dalam sebuah bangunan kaca di halaman belakang rumah sakit, empat ratus dua belas batang kecil sedang tumbuh dari tanah yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Kami tidak bisa mengembalikan waktu. Tidak ada satu pun manusia yang bisa.
Tapi kalau kami membawanya kembali, sedikit demi sedikit, segenggam demi segenggam, dari mana pun kami masih bisa mengambilnya, maka suatu hari nanti, di kota ini, akan ada seorang anak yang tidak perlu bertanya kepada kakeknya seperti apa rupa sebuah pohon.
Anak itu tinggal keluar rumah, dan melihatnya sendiri.
TAMAT