Tiara berdiri mematung di depan pintu baja tebal itu. Kata-kata Kirana masih berputar kencang di kepalanya, menusuk-nusuk relung hati yang paling dalam. “Satu-satunya nama yang dia sebut bukan namamu tapi namaku.”
Rasanya seperti tanah di bawah kakinya bergeser. Tiara menggenggam tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, kuku-kukunya hampir menancap ke kulit sendiri demi menahan gemetar yang melanda seluruh tubuhnya. Ia adalah dokter, ia biasa menghadapi kematian, melihat darah, menghadapi situasi kritis dengan kepala dingin. Tapi saat ini, di depan pintu tertutup yang memisahkannya dengan suaminya sendiri, rasanya nyali wanita itu diuji habis-habisan.
Apakah benar? Apakah dirinya hanya pelengkap status semata? Apakah hati Satria memang sepenuhnya milik wanita jahat yang baru saja masuk ke dalam sana?
Namun, satu hal yang Kirana lupa. Tiara bukan wanita yang akan mundur hanya karena kata-kata tajam. Ia adalah istri sah Satria Mahaya Maharendra, dan di dalam sana ada suaminya yang terluka. Tugasnya belum selesai. Justru di saat seperti inilah bukti cinta dan kesetiaan harus dibuktikan.
Tanpa mempedulikan tatapan curiga para prajurit yang berjaga di koridor, Tiara melangkah tegap mendekati pintu itu. Tangannya terulur, hendak mendorongnya masuk, namun seorang prajurit bersenjata lengkap segera menghadang.
"Maaf, Ibu Nyonya. Perintah Komandan Kirana, tidak ada siapa pun yang boleh masuk. Situasi di dalam sangat kritis dan rahasia," ucap prajurit itu tegas namun tetap sopan.
Tiara mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata prajurit itu dengan sorot mata tajam seorang dokter yang tidak bisa ditawar. "Minggir. Saya istri Letnan Kolonel Satria. Dan saya juga seorang dokter spesialis bedah. Di dalam sana ada suami saya yang terluka parah. Saya tidak peduli siapa yang memberi perintah. Jika ada risiko nyawa, hak saya sebagai istri dan tenaga medis lebih tinggi dari perintah siapa pun. Apakah kalian berani menanggung risiko jika terjadi kesalahan penanganan hanya karena menghalangi saya masuk?"
Suara Tiara tidak keras, tapi tegas, berwibawa, dan berisi keyakinan yang membuat kedua prajurit itu ragu seketika. Sebelum mereka sempat menjawab atau mencegah lebih jauh, Tiara sudah mendorong pintu baja itu hingga terbuka lebar dan melangkah masuk.
Udara di dalam ruangan itu terasa dingin, beraroma antiseptik, logam, dan bau amis darah yang samar. Ruangan itu sebenarnya adalah ruang istirahat khusus yang disulap menjadi ruang perawatan darurat. Di tengah ruangan, di atas kasur yang disiapkan tergesa-gesa, terbaring sosok pria yang membuat napas Tiara tercekat seketika.
Satria.
Pria itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi wibawa mengintimidasi, tidak ada lagi tatapan tajam yang penuh kekuasaan. Satria terbaring lemah, mata terpejam rapat, wajah pucat pasi beradu kontras dengan keringat dingin yang membasahi dahinya. Sebelah lengan kanannya dibalut perban yang sudah mulai merembeskan cairan merah, dan ada goresan luka memanjang di sisi wajah tegasnya.
Di samping ranjang itu, Kirana sedang sibuk memeriksa infus dan perban dengan gerakan cekatan namun kasar. Saat mendengar langkah kaki masuk, wanita itu menoleh cepat, wajahnya memerah menahan amarah karena larangannya dilanggar.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?!" desis Kirana tajam, segera berjalan menghadang Tiara. "Bukankah sudah kukatakan, kau tidak dibutuhkan di sini? Kau hanya akan mengganggu!"
Tiara tidak bergeming. Ia melewati bahu Kirana seolah wanita itu hanya udara kosong, berjalan lurus menuju sisi ranjang tempat Satria berbaring. Matanya hanya terpaku pada wajah pucat suaminya.
"Saya istri dia, Kirana. Di mana pun dia berada, dalam keadaan apa pun dia, tempat saya ada di sebelahnya," jawab Tiara dingin, tanpa menatap lawan bicaranya. Ia segera mengambil alih pemeriksaan, mengecek nadi yang berdetak cepat namun lemah, lalu melihat kondisi luka di lengan Satria. "Dan lihatlah, kau mengikat perban ini terlalu kencang. Aliran darahnya terhambat. Kau mau dia sembuh atau kau mau lengannya mati rasa permanen?"
Dengan sigap dan terampil, tangan Tiara bergerak. Gerakannya cekatan, lembut, namun sangat presisi hasil bertahun-tahun menjadi dokter bedah yang terbiasa menangani kasus gawat darurat. Ia melonggarkan sedikit ikatan perban itu, memeriksa kedalaman luka, dan menghela napas lega saat menyadari luka itu tidak mengenai pembuluh darah utama atau tulang, meski cukup dalam dan butuh jahitan.
Kirana berdiri mematung di belakangnya, menahan marah yang meluap-luap. Ia tidak menyangka wanita yang dianggapnya lemah dan cengeng ini justru bersikap lebih berwibawa, lebih tenang, dan lebih mengerti apa yang harus dilakukan darinya. Dan yang paling menyakitkan bagi Kirana melihat betapa alami dan pasnya posisi Tiara di sana. Di sisi Satria. Seolah takdir memang menempatkan wanita itu di tempat yang seharusnya.
"Dia terkena serangan mendadak saat patroli perbatasan," suara Kirana terdengar sarkas dan getir, berusaha merusak suasana. "Kelompok pemberontak yang selama ini kita buru. Mereka menargetkan dia secara khusus. Kau tahu kenapa, Tiara? Karena Satria adalah yang paling berbahaya. Dan musuh-musuhnya tahu, satu-satunya cara melumpuhkan dia adalah dengan mengancam apa yang dia anggap berharga. Dulu itu aku tapi sekarang mungkin kau yang akan jadi sasaran mereka."
Tiara berhenti bergerak sejenak, namun ia tidak menoleh. Ia terus membersihkan sisa darah di wajah Satria dengan kapas basah, gerakannya begitu lembut seolah sedang menyentuh benda paling rapuh di dunia.
"Kalau begitu, makin jelas alasan saya ada di sini," jawab Tiara pelan, namun penuh penekanan. Ia menoleh, menatap Kirana tepat di manik mata wanita itu. "Kalau saya jadi sasaran, berarti saya penting baginya. Dan kalau saya penting, berarti tempat saya di sini, melindungi dia sama seperti dia melindungi negara. Kau bilang kau tahu dia baik, kau sudah lama bersamanya... tapi lihatlah dia sekarang, Kirana. Dia terluka, dia kesakitan. Apa yang kau lakukan? Hanya mengawasi dan menakut-nakuti aku. Sedangkan aku? Aku mengobatinya."
Wajah Kirana memerah padam, siap meledak dalam amarah, namun tiba-tiba suara berat dan parau terdengar memotong percakapan tajam mereka.
"Tiara..."
Seketika kedua wanita itu terdiam serentak, menoleh cepat ke arah ranjang. Satria mulai menggerakkan kelopak matanya yang berat. Perlahan namun pasti, mata hitam pekat itu terbuka, menatap buram ke arah atas.
"Satria" bisik Kirana cepat, segera mendekat dan menyentuh bahu pria itu dengan wajah penuh kepedihan pura-pura. "Kau sadar? Syukurlah. Aku di sini. Aku ada di sampingmu."
Namun, mata kabur Satria seolah mencari sesuatu. Kepalanya bergerak sedikit ke samping, menjauhi sentuhan Kirana, hingga pandangannya jatuh tepat pada wajah Tiara yang sedang menatapnya cemas. Ada kilatan kelegaan yang sangat jelas melintas di manik mata itu. Wajah keras itu sedikit melunak, bibirnya bergerak lagi, mengucap nama itu dengan suara parau namun jelas dan tegas.
"Tiara... kau ada di sini..."
Jantung Tiara berdegup kencang, campuran antara bahagia, haru, dan rasa sakit yang mendalam. Kata-kata Kirana tadi... bohong. Sepenuhnya bohong. Saat sadar, nama yang disebut Satria adalah namanya, bukan nama wanita itu.
"Ada, Mas. Saya ada di sini," jawab Tiara lembut, membiarkan panggilan sayang itu lolos begitu saja, tidak peduli ada orang lain di sana. Ia menggenggam tangan besar dan kasar itu, meremasnya pelan memberi kekuatan. "Tenang saja. Lukanya tidak berbahaya. Saya akan menjahitnya. Saya akan merawatmu. Kamu aman sekarang."
Di samping mereka, wajah Kirana berubah menjadi pucat pasi lalu menjadi merah padam karena malu dan marah yang tak terlukiskan. Dihina dan dikalahkan begitu saja di depan mata kepalanya sendiri. Pria yang ia puja, pria yang ia anggap miliknya, saat terlemah dan paling jujur, justru memanggil nama wanita lain wanita yang ia cemooh sebagai istri kontrak.
Satria mencoba tersenyum meski menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia berusaha mengangkat tangannya yang sehat untuk menyentuh pipi Tiara, namun kekuatannya belum kembali. "Maaf... mengganggu harimu. Kau harusnya... di rumah sakit... menyelamatkan orang lain... bukan aku."
"Kamu juga manusia, Mas. Kamu juga butuh diselamatkan," jawab Tiara tegas sambil mengambil peralatan medis dari tas yang dibawanya sendiri, bersiap melakukan penjahitan luka di sana juga. "Dan ingat janjiku. Saya dokter yang akan mengobati lukamu, apa pun bentuknya. Sekarang diamlah, jangan bergerak. Ini mungkin akan sedikit sakit."
Sepanjang proses penjahitan dan perawatan, Satria tidak sekali pun melepaskan genggamannya pada tangan Tiara. Matanya terus menatap wajah istrinya, seolah takut jika ia berkedip sedikit saja, wanita itu akan menghilang. Sementara itu, Kirana berdiri kaku di sudut ruangan, menahan tangis dan kemarahan yang siap meledak. Ia sadar, momen ini adalah kekalahan terbesarnya. Bukan hanya kalah dalam hati Satria, tapi kalah dalam hal yang paling ia banggakan: kemampuan mengerti dan mendampingi pria itu.
"Kau boleh pergi, Kirana," suara Satria terdengar berat namun dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita itu. "Terima kasih sudah menolongku sampai sejauh ini. Tapi sekarang istriku yang akan mengambil alih. Kau punya tugas lain di markas, bukan?"
Itu adalah usiran halus namun tegas. Kirana menggigit bibirnya hingga terasa perih, menatap penuh kebencian ke arah punggung Tiara yang tenang itu. "Baiklah, Komandan. Saya permisi. Tapi ingat... musuh belum selesai. Dan wanita lemah ini... dia beban terberat yang kau miliki. Suatu saat nanti, kau akan menyesal telah memilihnya."
Dengan langkah berat dan penuh amarah tertahan, Kirana melangkah keluar dan membanting pintu itu sedikit keras, meninggalkan mereka berdua sendirian.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini hening yang berbeda. Hening yang hangat, penuh pengertian, dan rasa percaya yang mulai tumbuh.
Setelah semua selesai, Tiara duduk di pinggir ranjang, memandangi wajah suaminya yang kembali terpejam karena kelelahan namun kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dan damai. Tangan kekar itu masih erat menggenggam tangannya seolah takut melepaskan.
"Terima kasih..." bisik Satria pelan, matanya sedikit terbuka menatap wanita di sampingnya. "Terima kasih sudah datang. Maafkan kata-kata Kirana. Dia... dia punya dunianya sendiri, dan dia tidak mengerti kita."
Tiara tersenyum lembut, mengusap punggung tangan kasar itu dengan ibu jarinya. "Saya tahu. Saya tidak peduli apa kata dia atau siapa pun. Saya tahu kenyataannya. Saat kau butuh, kau memanggil saya. Dan saya ada di sini."
Satria menghela napas panjang, menatap langit-langit ruangan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang berat, sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
"Tiara..." suaranya terdengar lebih serius dan rendah. "Serangan hari ini bukan sekadar patroli biasa. Mereka tahu rute saya. Mereka tahu persis di mana saya berada. Ada pengkhianat di dalam lingkaran terdekatku. Ada mata-mata yang memberi tahu setiap gerak-gerikku."
Tiara menegakkan punggungnya, jantungnya berdebar kencang lagi. "Maksudmu ada orang yang bekerja sama dengan musuh?"
Satria mengangguk pelan, wajahnya kembali menegang. Matanya menatap tajam ke arah pintu tertutup tempat Kirana pergi tadi.
"Ya. Dan bukti-bukti yang kumiliki selama ini mengarah pada satu nama...nama yang tidak pernah kuduga akan berkhianat. Seseorang yang selama ini kupercaya dengan nyawaku sendiri. Seseorang yang selalu ada di sisi kiriku, sama seperti kau sekarang ada di sisi kananku."
Darah Tiara serasa berhenti mengalir. Siapa? Siapa yang berani berkhianat? Apakah Kirana? Atau ada orang lain yang lebih dekat lagi?
"Siapa, Mas?" tanya Tiara hampir berbisik, rasa takut akan jawaban itu mulai merayapi hatinya.
Satria menoleh kembali, menatap Tiara dengan sorot mata yang penuh peringatan dan permohonan perlindungan.
"Belum bisa kusingkapkan sekarang. Bahaya terlalu besar. Tapi satu hal yang harus kau ingat mulai detik ini jangan percaya siapa pun, Tiara. Bahkan orang yang terlihat paling setia pun bisa menusuk dari belakang. Dan aku takut mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan apa yang mereka inginkan sekarang bukan lagi nyawaku. Tapi rahasia yang dibawa keluargaku, dan sekarang... juga kau."
Satria menarik tangan Tiara mendekat, menggenggamnya di atas dadanya, di tempat jantungnya berdetak.
"Kau harus kuat, Tiara. Karena mulai sekarang, musuh bukan hanya datang dari luar pagar, tapi mungkin juga orang yang kita peluk, orang yang kita percaya. Dan perang sesungguhnya baru saja dimulai. Perang untuk mempertahankan nyawa, kehormatan, dan ikatan cinta kita."
Di luar ruangan, di balik bayang-bayang dinding yang gelap, sepasang telinga sedang mendengarkan segalanya dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengucur deras. Pengkhianat itu mendengar segalanya. Dan keputusan berbahaya pun segera diambil. Satria mulai curiga. Dia harus dihabiskan, sekarang juga. Dan wanita itu Tiara dia harus lenyap sebelum dia menjadi lebih kuat dan berbahaya.