Keheningan kembali merayap masuk ke dalam ruangan yang dingin itu, namun kali ini keheningan itu terasa lebih berat, seolah udara di sekelilingnya berubah menjadi tebal dan sulit dihirup. Kata-kata Satria masih bergema di telinga Tiara, menusuk jauh ke dalam kesadarannya. Ada pengkhianat. Seseorang yang sangat dekat, seseorang yang mereka percayai sepenuhnya, ternyata adalah mata-mata yang memberi makan informasi kepada musuh. Dan yang paling mengerikan, target utama mereka kini bukan lagi hanya Satria, tapi juga dirinya dan rahasia besar yang disimpan keluarga Maharendra.
Tiara menatap wajah suaminya lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu ruangan yang redup, ia bisa melihat jelas betapa lelahnya pria itu. Di balik seragam kebesaran yang selalu rapi dan berwibawa, di balik pangkat Letnan Kolonel yang disandangnya sebagai salah satu perwira tertinggi, tersembunyi beban yang jauh lebih berat daripada sekadar memimpin pasukan atau menjaga keamanan negara. Satria harus berjuang melawan musuh yang terlihat, sekaligus waspada terhadap orang-orang yang tersenyum di sisinya.
"Mas," bisik Tiara pelan, jari-jarinya yang halus menyentuh sisi wajah Satria, menghapus sisa keringat dingin yang masih menempel di sana. "Kamu tidak perlu menanggung ini sendirian lagi. Dulu mungkin kamu biasa berjuang sendiri, tapi sekarang ada aku. Ingat janji kita? Kita berdua menghadapi apa pun yang datang, bersama-sama. Kalau bahaya mengancamku karena bersamamu, maka bahaya itu juga akan kuhadapi sebagai bagian dari tugasku menjagamu."
Satria mengangguk pelan, matanya yang berat menatap wanita di sampingnya dengan sorot rasa syukur yang mendalam. Genggamannya pada tangan Tiara semakin erat, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu benar-benar ada di sana, nyata dan tidak akan pergi ke mana pun.
"Aku tahu, Tiara. Justru karena itu aku takut," jawab Satria dengan suara serak, napasnya masih agak pendek akibat rasa sakit di lengan dan dadanya. "Kekhawatiran terbesarku bukan lagi nyawaku sendiri. Sejak kau masuk ke dalam hidupku, kelemahan terbesarku bukanlah musuh di medan perang, melainkan ketakutan kehilanganmu. Dan pengkhianat itu tahu betul hal itu. Mereka tahu bahwa cara paling ampuh untuk menjatuhkanku adalah melalui kamu."
Tiara tersenyum tipis, senyum yang penuh ketegaran dan keberanian. Ia mendekatkan wajahnya, berbicara dengan nada rendah namun tegas, seolah sedang mengucapkan sumpah setia di hadapan langit.
"Biarkan mereka tahu. Justru itu akan menjadi keuntungan kita. Mereka berpikir aku adalah kelemahanmu, tapi mereka keliru. Sebagai dokter, aku terlatih menghadapi bahaya, terlatih berpikir jernih di tengah kekacauan, dan terlatih menyelamatkan nyawa di saat-saat paling kritis. Dan sebagai istrimu... aku adalah kekuatan terbesarmu, Mas. Jangan pernah ragu soal itu."
Satria mencoba tersenyum, meski rasa sakit masih mengerutkan sedikit keningnya. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mulai berusaha mengubah posisi tubuhnya agar lebih nyaman, meski ia tahu ia masih harus beristirahat total selama beberapa hari ke depan.
"Kau memang wanita yang luar biasa," gumam Satria pelan. "Kadang aku bertanya-tanya, apa yang sudah kulakukan di masa lalu hingga dipertemukan dengan wanita sekuat dan sebaik dirimu. Kirana... dia salah besar menilai dirimu. Dia mengira kau lemah karena kau pendiam, karena kau tidak suka berteriak atau memamerkan kekuasaan. Dia tidak tahu, bahwa ketenangan dan kelembutanmu adalah senjata yang jauh lebih tajam daripada pisau apa pun yang pernah ada di pasukanku."
Tiara tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk lembut, lalu kembali memeriksa perban di lengan Satria untuk memastikan tidak ada pendarahan ulang. Di dalam hatinya, ia sadar betul bahwa situasi ini semakin rumit. Kirana bukan sekadar wanita yang cemburu atau ingin merebut Satria; ada kemungkinan besar wanita itu terlibat dalam jaringan gelap ini. Sikapnya yang selalu hadir di mana saja, pengetahuannya yang terlalu mendalam mengenai jadwal dan pergerakan Satria, serta caranya berusaha memisahkan Tiara dari suaminya... semua itu mulai membentuk satu pola yang mengerikan.
Namun, Tiara tahu ia tidak boleh gegabah. Tuduhan tanpa bukti hanya akan membuat posisi mereka semakin sulit, apalagi mengingat pengaruh dan kedudukan Kirana di lingkungan militer. Semuanya harus dipelajari, diamati, dan disusun dengan cermat, persis seperti saat ia mendiagnosis penyakit pasien yang rumit.
Di luar ruangan itu, di balik bayangan koridor yang remang-remang, sosok yang tadi mendengarkan percakapan mereka dengan napas tertahan perlahan menjauh. Langkah kakinya cepat namun senyap, menghilang di balik belokan lorong menuju ruang administrasi markas. Jantungnya berdebar kencang, bukan lagi karena rasa takut semata, melainkan karena rasa panik yang mulai berubah menjadi kebencian membara.
Satria mulai curiga. Dia tidak sebodoh yang aku kira, batin sosok itu bergemuruh, tangan terkepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Dan wanita itu... Tiara, dia ternyata jauh lebih berbahaya daripada sekadar dokter atau istri kontrak yang bisa diusir begitu saja. Dia masuk terlalu dalam. Dia memegang hati Satria, dan sekarang dia ikut memegang kendali. Jika dibiarkan, mereka berdua akan menjadi akhir dari segalanya.
Sosok itu berhenti sejenak di depan pintu ruang kerja kosong, melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada siapa pun, lalu mengeluarkan perangkat komunikasi kecil dari saku seragamnya. Wajah yang tadi pucat kini berubah dingin dan penuh perhitungan.
Rencana harus dipercepat. Satria tidak boleh sembuh dan tidak boleh punya waktu untuk mengumpulkan bukti lebih banyak. Dan si dokter cantik itu... dia harus disingkirkan secepatnya, sebelum dia sadar siapa musuh sesungguhnya yang sedang tidur di dekat mereka, pikirnya lagi, mata menyala penuh niat jahat. Mereka pikir perang baru saja dimulai? Tidak. Bagian paling kejam baru akan mereka rasakan. Aku akan membuat mereka saling curiga, saling menyakiti, hingga ikatan cinta yang mereka bangun itu hancur lebur menjadi debu.
Kembali ke dalam ruangan perawatan, Tiara baru saja selesai mencatat kondisi Satria di buku catatan medis darurat. Ia berniat memanggil perawat untuk memantau keadaan suaminya sementara ia pergi mengambilkan air dan obat-obatan tambahan dari tas medisnya yang tertinggal di mobil. Namun, saat ia beranjak berdiri, tangan besar Satria kembali menahan pergelangan tangannya.
"Jangan pergi terlalu jauh," pinta Satria pelan, nadanya memohon meski ia berusaha terlihat tenang. "Aku merasa... ada sesuatu yang tidak beres di sini. Rasanya mata-mata itu sedang menunggu celah sekecil apa pun saat kita terpisah."
Tiara tersenyum lembut, mengusap punggung tangan itu menenangkan. "Aku hanya ke depan sebentar, Mas. Pintu ini tidak akan kututup rapat, dan aku akan berbicara terus sepanjang jalan agar kau tahu aku masih di sini. Aku dokter, ingat? Aku tahu cara menjaga diri sendiri. Dan kau... kau harus tetap waspada, tapi beristirahatlah sebentar. Tubuhmu butuh energi untuk sembuh."
Satria akhirnya melepaskan genggamannya dengan berat hati, mengangguk pasrah. Tiara melangkah keluar ruangan, namun indra penglihatannya dan pendengarannya terasah sepenuhnya. Di lorong yang sepi dan agak gelap itu, ia merasakan hawa dingin yang berbeda. Seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan, mengikuti setiap langkah kakinya dengan saksama.
Saat ia berjalan melewati sudut koridor yang sedikit tersembunyi, sesuatu yang berkilauan di lantai menarik perhatiannya. Sebuah lencana kecil berwarna perak, bergambar lambang khusus pasukan elit yang hanya dimiliki oleh petugas tingkat tinggi. Benda itu tergeletak begitu saja, seolah baru saja jatuh dari saku seseorang yang berjalan terburu-buru.
Tiara berlutut perlahan, mengambil benda itu dengan hati-hati. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat ukiran nama kecil di bagian belakang lencana itu. Nama itu bukan nama sembarangan. Itu adalah nama orang yang paling dipercaya oleh Satria, orang yang selalu ada di sisinya bahkan lebih lama daripada Kirana, orang yang dianggap seperti saudara sendiri.
Darah Tiara mendidih bercampur rasa dingin yang luar biasa. Apakah mungkin? Apakah orang yang selama ini dianggap paling setia itu sebenarnya adalah otak di balik semua kejahatan ini? Atau ini hanya jebakan untuk menanamkan kecurigaan?
Di ujung lorong yang gelap, bayangan seseorang terlihat sekilas bergerak cepat menghilang, meninggalkan Tiara yang berdiri terpaku memegang bukti kecil namun mematikan itu. Dunia rasanya berputar. Musuh bukan hanya dari luar, tapi ternyata jauh lebih dekat daripada yang pernah mereka bayangkan. Dan saat ia berbalik kembali menuju ruangan Satria, matanya menangkap sosok yang berdiri diam di ujung pintu Kirana, dengan senyum misterius yang entah kenapa kali ini terlihat jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.