Waktu seolah berhenti berputar saat suara desisan tajam itu terdengar, menusuk ke seluruh penjuru lorong sempit. Detik itu terasa seperti selamanya. Satria terhuyung jatuh ke belakang, punggungnya menghantam dinding batu kasar dengan keras, sementara tubuh Tiara terdorong kuat ke samping, terguling di lantai berdebu menjauh dari kawat pemicu yang mematikan itu. Napas mereka sama-sama tertahan, mata mereka saling bertautan penuh ketakutan dan harapan, menunggu dentuman dahsyat yang akan menghancurkan segalanya.
Namun... ledakan itu tidak datang.
Hanya suara klik kering yang terdengar, diikuti keheningan yang mencekam.
Debu berjatuhan dari langit-langit akibat benturan tubuh Satria, menutupi udara yang sudah pengap itu. Tiara yang terguling bangkit dengan tangan gemetar, matanya langsung mencari sosok suaminya yang tergeletak diam di dekat dinding.
"Mas! Satria!" seru Tiara lirih namun penuh kepanikan, ia berlari merangkak mendekat, melupakan rasa sakit di siku dan lututnya yang tergores batu tajam.
Satria mengerang pelan, tangannya segera menekan luka di lengannya yang kini basah kembali oleh darah segar. Usaha mendorong Tiara tadi telah membuat jahitan yang ia pasang sendiri terlepas. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahinya, namun matanya masih terbuka, masih menatap istrinya dengan lega yang luar biasa.
"Aku... aku kira kita sudah selesai," gumam Satria parau, napasnya pendek dan berat. Ia mencoba tersenyum meski rasa sakit itu menyayat seluruh sarafnya. "Ternyata... itu hanya pemicu peringatan. Bukan bahan peledak penuh. Mereka ingin menakuti, atau mungkin ingin menangkap kami dalam keadaan terluka parah dan tidak berdaya."
Tiara langsung duduk berlutut di sampingnya, dengan cekatan dan terampil ia membuka jaket medisnya, merobek kain bersih dari lengan bajunya sendiri, dan segera menekan kembali luka yang menganga itu. Tangannya bergetar, bukan karena takut pada bahaya di luar sana, tapi karena melihat penderitaan pria yang dicintainya ini.
"Kau gila, Mas? Kau benar-benar gila!" bisik Tiara dengan suara bergetar yang bercampur marah dan haru. Air mata menetes jatuh ke tangan yang sedang membalut luka itu. "Kau mendorongku sekuat tenaga padahal kau tahu tubuhmu sedang hancur seperti ini! Apa kau pikir aku sanggup hidup seandainya sesuatu terjadi padamu? Apa kau pikir aku mau selamat sendirian?"
Satria mengangkat tangannya yang masih bergetar, menyeka air mata itu dengan lembut. Di tengah lorong gelap yang penuh jebakan ini, di saat kekuatan fisiknya hampir habis, justru di sinilah ia merasakan kehangatan yang paling dalam. Cinta wanita ini bukan lagi sekadar rasa sayang biasa, melainkan jiwa yang menyatu dengannya.
"Dan apa kau pikir aku bisa hidup seandainya debu ledakan itu menyentuhmu, Tiara?" balas Satria pelan namun tegas, matanya menatap tajam ke manik mata istrinya. "Tugas seorang prajurit adalah melindungi, dan tugasku sebagai suamimu adalah memastikan kau tetap bernapas, apa pun yang terjadi padaku. Ingat? Kita berjanji akan berjuang bersama sampai akhir. Tapi untuk melakukan itu, setidaknya salah satu dari kita harus tetap berdiri tegak."
Kata-kata itu membuat isak tangis Tiara tertahan. Ia mengangguk perlahan, menyeka air matanya dengan kasar, lalu kembali menatap suaminya dengan tekad yang membara. Ia adalah dokter. Ia tidak boleh lemah. Selama ia ada, Satria tidak boleh jatuh.
"Baiklah. Kalau begitu kau harus tetap berdiri, Mas. Karena aku belum selesai merawatmu, dan kita belum menyelesaikan urusan dengan mereka," ucap Tiara mantap. Ia membantu Satria bangkit, membiarkan lengan pria itu bertumpu berat di bahu kecilnya. "Jalan keluarnya tidak jauh lagi, kan? Cahaya itu semakin terang."
Satria mengangguk, menahan erangan sakit agar tidak terdengar. "Ya. Di ujung sana ada pintu besi tua yang mengarah ke halaman belakang rumah tua itu. Tempat yang dulunya menjadi pos pengamatan rahasia. Di situlah letak titik pertemuan terakhir sebelum masuk ke ruang utama tempat aku menyembunyikan sisa barang Operasi Bayangan."
Mereka kembali melangkah, langkah kaki yang lambat namun pasti. Di sepanjang jalan, pikiran Satria berputar cepat. Kata-kata Kirana masih terngiang jelas di telinganya. Teknologi militer terlarang. Kekuasaan mutlak. Selama tiga tahun ia memendam rasa bersalah karena dianggap gagal menjalankan misi, padahal kenyataannya ia menyelamatkan negara dari ancaman jauh lebih besar. Ia menyadari bahwa kargo itu terlalu berbahaya untuk dimiliki satu pihak saja, terlalu mematikan jika jatuh ke tangan orang yang haus kekuasaan seperti Kirana dan jaringannya.
Dan yang paling menyakitkan, kenyataan bahwa Arga sahabat yang ia percaya nyawanya telah lama menjual rahasia, telah lama berkhianat demi ambisi yang entah apa.
"Mas," suara Tiara memecah keheningan, ia merasakan ketegangan yang menjalar dari tubuh suaminya. "Apa sebenarnya isi kargo itu? Apa yang begitu berharga hingga mereka rela membunuh, berkhianat, dan menghancurkan siapa saja demi memilikinya? Kau boleh tidak memberitahuku sekarang jika itu rahasia negara, tapi... aku ingin tahu apa yang kita perjuangkan."
Satria terdiam sejenak, menatap wajah lelah namun penuh keberanian di sampingnya. Dulu ia berjanji akan memikul semua ini sendiri demi melindunginya. Namun kini, Tiara sudah terlanjur masuk ke dalam pusaran ini, bukan lagi sebagai istri kontrak, melainkan sebagai mitra sejatinya.
"Itu adalah prototipe senjata pemusnah massal skala kecil," jawab Satria pelan, suaranya berat dan penuh beban. "Teknologi curian yang dikembangkan di laboratorium rahasia militer. Senjata yang bisa melumpuhkan sistem pertahanan seluruh wilayah dalam hitungan detik, tanpa perlu peluru atau ledakan besar. Jika jatuh ke tangan salah, negara ini bisa hancur dalam semalam. Tiga tahun lalu, aku diperintahkan mengamankannya, tapi aku sadar pengirim dan penerimanya sama-sama berniat jahat. Maka aku memalsukan kecelakaan, menghilangkan jejak, dan menyembunyikan barang itu di tempat yang hanya aku tahu."
Tiara menahan napas, kakinya terasa lemas mendengar betapa besarnya beban yang dipikul suaminya sendirian selama ini.
"Dan Kirana... dia tahu itu. Dia tahu nilai barang itu. Dia tahu itu bisa membuatnya menguasai segalanya," tambah Satria dengan nada dingin. "Dan dia benar soal satu hal, Tiara. Dulu aku bertindak semata sebagai prajurit. Aku berani mati, aku berani mengambil risiko apa pun. Tapi sejak ada kau... sejak kau ada di hidupku... aku jadi penakut. Aku takut mati bukan karena sayang nyawaku, tapi karena aku takut meninggalkanmu sendirian menghadapi serigala-serigala ini. Dan rasa takut itulah yang membuatku lebih berhati-hati, lebih cerdik, dan lebih bertekad untuk menang."
Tiara menoleh, menatapnya dengan mata berbinar haru. Ia mengeratkan pegangannya pada pinggang suaminya.
"Rasa takut itu bukan kelemahan, Mas. Itu adalah kekuatan. Karena itu artinya kita saling memiliki, saling melengkapi. Dan selama kita bersama, Kirana atau siapa pun tidak akan pernah bisa mengalahkan kita," ucap Tiara tegas.
Akhirnya, mereka sampai di depan pintu besi tua yang berkarat itu. Cahaya matahari sore yang redup menerobos masuk lewat celah-celah kecil, menerangi debu yang menari-nari di udara. Satria mengeluarkan kunci tua yang tergantung di kalung lehernya, benda yang selalu ia bawa ke mana saja, benda yang menjadi satu-satunya akses ke tempat itu.
Namun, sebelum sempat memutar kunci itu, suara langkah kaki berat terdengar dari atas, dari luar dinding tebal itu. Suara yang sangat mereka kenal.
"Kau pikir kau bisa selamanya lari dari aku, Satria? Kau pikir lorong tikus ini cukup untuk menyembunyikan rahasia besarmu?"
Suara itu milik Arga. Suara yang dulunya penuh persahabatan, kini berubah menjadi nada dingin dan penuh kebencian. Diikuti suara langkah sepatu hak yang terdengar berirama dan angkuh.
"Kau sudah memimpin kami berkeliling cukup lama, Letnan Kolonel," sahut suara Kirana, jelas sekali posisinya tidak jauh dari pintu keluar itu. "Kami tahu kau ada di balik pintu itu. Dan kami tahu kau terluka parah. Keluarlah. Serahkan barang itu, serahkan juga si Dokter Cantik itu, dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu mati dengan cepat dan terhormat."
Satria dan Tiara saling bertatapan. Tidak ada jalan lain. Di belakang mereka lorong sempit yang bisa saja dijebak lagi, di depan mereka musuh sudah mengepung. Tiara merasakan detak jantungnya berpacu cepat, namun ia tidak melepaskan genggamannya pada Satria. Justru ia berdiri di depan suaminya sedikit, seolah bersiap menjadi tameng terakhir.
Satria tersenyum tipis melihat keberanian istrinya. Ia mengusap kepala Tiara sekali lagi, lalu perlahan mengangkat gagang senjata yang terselip di pinggangnya satu-satunya peluru yang tersisa.
"Mereka pikir mereka memegang kendali, Tiara. Mereka pikir kita terpojok," bisik Satria pelan di telinga istrinya, matanya berkilat dengan rencana yang baru saja terbentuk di kepalanya. "Tapi mereka lupa satu hal penting. Ini adalah wilayahku. Ini adalah tempat yang aku bangun, aku rencanakan, dan aku siapkan untuk keadaan terdesak seperti ini. Mereka pikir pintu ini satu-satunya jalan keluar. Mereka salah."
Satria mengarahkan ujung senjatanya bukan ke arah pintu depan, melainkan ke arah dinding batu di sebelah kanan mereka tempat di mana ada retakan halus yang hanya bisa dikenali oleh matanya yang terlatih.
"Siap-siap, Sayang. Kita tidak akan keluar melalui pintu yang mereka tunggu. Kita akan mengubah panggung pertunjukan ini sepenuhnya," ucap Satria dengan suara rendah namun penuh keyakinan.
Namun, sebelum ia sempat menarik pelatuk, suara ledakan kecil terdengar dari arah luar, diikuti jeritan kaget Kirana dan perintah keras Arga. Bukan suara tembakan dari pasukan mereka, melainkan suara pertempuran dari arah lain.