Suara dentuman dan rentetan tembakan yang terdengar dari luar dinding tebal itu mengguncang seluruh lorong, membuat debu dan pasir berjatuhan dari langit-langit. Satria dan Tiara saling pandang, sama-sama kaget dan bingung. Suara itu bukan berasal dari senjata militer standar yang biasa digunakan oleh pasukan Arga, nada ledakannya lebih berat, lebih teratur, dan terdengar sangat terlatih.
"Siapa itu, Mas?" bisik Tiara pelan, tangannya mencengkeram lengan Satria erat-erat. Di matanya terlihat campuran antara harapan dan kekhawatiran. Apakah ini pertolongan, atau justru musuh lain yang datang untuk menguasai segalanya setelah Kirana dan Arga melemah?
Satria mengerutkan kening, telinganya menangkap setiap detail suara pertempuran di luar sana. Sebagai seorang perwira tinggi yang berpengalaman, ia hafal betul pola gerakan dan jenis senjata yang digunakan oleh setiap kesatuan di negara ini. Napasnya tertahan sejenak saat ia mengenali irama tembakan itu.
"Itu... itu kode serangan khusus Pasukan Elit Pengamanan Negara," jawab Satria pelan, matanya membelalak tak percaya. "Satuan yang seharusnya hanya bergerak atas perintah langsung dari Panglima Tertinggi. Bagaimana mungkin mereka ada di sini? Dan siapa yang memanggil mereka?"
Kebingungan itu memuncak di benak Satria. Ia sendiri terputus dari komunikasi pusat sejak dicurigai dan dikepung. Tidak ada yang tahu lokasi persisnya kecuali pengkhianat. Lalu siapa lagi yang memiliki akses dan kekuasaan untuk mengerahkan pasukan setingkat itu ke lokasi terpencil seperti rumah tua ini?
Di luar sana, suara teriakan perintah Kirana terdengar kacau dan penuh amarah, teredam oleh suara benturan benda keras dan langkah kaki yang berlarian.
"Mundur! Mundur ke posisi pertahanan kedua! Siapa yang berani menyerang? Cari tahu siapa pemimpin pasukan itu!" suara Kirana meninggi, hilang sudah sikap tenang dan angkuhnya. Rencananya untuk menangkap Satria dengan cepat dan diam-diam hancur lebur oleh serangan mendadak ini.
Arga berteriak balik, suaranya terdengar panik. "Mereka masuk dari sisi utara! Mereka punya perlengkapan berat, Kirana! Kita terkepung dari luar! Apa kau tidak bilang kita punya sekutu yang mengamankan daerah ini?"
"Diam saja dan bertahan! Kita harus dapatkan Satria dan barang itu sebelum mereka masuk ke dalam!" balas Kirana tajam.
Satria menarik napas panjang, rasa sakit di lengannya seolah terlupakan sejenak oleh teka-teki baru ini. Ia menatap Tiara, dan di detik itu, ia menyadari satu hal: meski situasinya masih berbahaya, kesempatan emas baru saja terbuka di depan mata mereka. Musuh yang mengepung mereka kini justru dikepung oleh pihak lain.
"Mereka sedang sibuk bertempur satu sama lain," ucap Satria tegas, matanya kembali berkilat dengan strategi baru. Ia menggeser posisi tubuhnya, meski kakinya masih gemetar menahan sakit hebat. "Ini satu-satunya peluang kita, Tiara. Kita tidak bisa menunggu di sini selamanya. Entah pasukan di luar itu kawan atau lawan, kita harus keluar, kita harus masuk ke ruang utama rumah tua itu, dan kita harus mengamankan barang Operasi Bayangan itu sebelum siapa pun mendapatkannya."
Tiara mengangguk mantap, tangannya kembali menopang tubuh suaminya dengan kekuatan yang tak terduga dari sosok sekecil dirinya. Ia menyadari betul taruhan nyawa yang mereka ambil. "Aku siap, Mas. Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Ingat, kau tidak sendirian."
Kalimat sederhana itu kembali menghangatkan hati Satria. Di tengah dunia yang penuh tipu daya, pengkhianatan, dan ambisi, hanya wanita inilah yang berdiri tegak di sisinya tanpa syarat apa pun. Cinta yang tumbuh dari pernikahan perjanjian kini menjadi satu-satunya penopang jiwanya.
Satria kembali mendekatkan kunci tua itu ke lubang di pintu besi berkarat di hadapan mereka. Dengan putaran halus, mekanisme tua itu berbunyi klik panjang, menandakan pintu yang tertutup puluhan tahun itu akhirnya terbuka kembali. Bau debu, kayu lapuk, dan udara pengap langsung menyergap indra penciuman mereka.
Perlahan pintu itu terdorong terbuka, memperlihatkan lorong pendek yang mengarah langsung ke lantai dasar rumah tua itu. Suara pertempuran di luar semakin keras, namun di dalam sini suasana terasa sunyi dan mencekam, seolah bangunan tua ini menyimpan ribuan rahasia kelam yang diam-diam mengawasi kedatangan mereka.
Mereka melangkah keluar dari terowongan bawah tanah itu, berdiri di ruang tengah yang luas namun kosong, penuh dengan puing-puing bangunan dan sisa-sisa peralatan militer tua yang berkarat. Cahaya matahari sore masuk melalui lubang-lubang di atap yang rusak, membentuk berkas cahaya yang menari-nari di udara berdebu.
"Ini adalah pusat komando sementara kami dulu," bisik Satria, matanya mengamati setiap sudut ruangan itu dengan rasa rindu dan pedih bercampur aduk. "Di sini kami merencanakan segalanya. Di sini aku mengambil keputusan untuk menyembunyikan barang itu dan memalsukan kecelakaan."
Ia menunjuk ke arah sebuah dinding batu besar di ujung ruangan, dinding yang tampak sama rata dan kokoh dengan bagian lain, namun ada ukiran simbol khusus yang hampir pudar terhapus waktu.
"Di balik dinding itulah ruang penyimpanan utamanya. Di situlah letak kargo itu," jelas Satria. Ia berjalan tertatih mendekati dinding itu, Tiara selalu berada di sampingnya, tangannya tidak pernah lepas memegang lengan suaminya untuk menjaga keseimbangan.
Namun, langkah mereka terhenti saat suara langkah kaki pelan namun pasti terdengar dari lantai atas, menuruni tangga kayu yang berderit. Langkah kaki yang tidak tergesa-gesa, langkah kaki seseorang yang datang bukan untuk bertempur, melainkan untuk menyaksikan hasil akhir.
Satria segera menarik Tiara bersembunyi di balik tumpukan peti kayu besar yang sudah rusak. Ia mengintai dengan hati-hati, jantungnya berdebar kencang. Siapa lagi yang ada di sini selain pasukan Kirana dan pasukan misterius di luar?
Dari balik tiang penyangga utama, muncul sesosok tubuh berperawakan tegap, mengenakan seragam militer lengkap dengan tanda pangkat yang sangat tinggi lebih tinggi bahkan dari pangkat Satria sendiri. Wajah itu terlihat tua namun berwibawa, penuh garis-garis pengalaman, dan ada senyum tipis yang terukir di bibirnya saat matanya menatap lurus ke arah dinding tempat ruang penyimpanan itu berada.
"Jadi kau akhirnya sampai juga di sini, Satria," suara berat dan serak itu bergema memenuhi ruangan kosong itu, membuat darah Satria seolah berhenti mengalir. Ia mengenali suara itu. Suara yang selama ini ia hormati, ia percaya, dan ia anggap sebagai ayah kedua baginya. Jenderal Aditya orang yang menugaskan Satria pada Operasi Bayangan tiga tahun lalu.
Tiara merasakan tubuh Satria menegang kaku di sampingnya. Ia menatap wajah suaminya yang memucat, penuh keterkejutan dan rasa sakit yang mendalam.
"Jenderal... dia... dia ada di sini?" gumam Satria pelan, suaranya bergetar. "Dia yang memberiku perintah. Dia yang bilang misi itu demi keamanan negara. Aku kira dia sudah pensiun dan berada jauh dari semua ini..."
Jenderal Aditya berjalan maju perlahan, matanya menelusuri sekeliling ruangan seolah sedang meninjau aset miliknya sendiri.
"Kirana dan Arga memang bodoh. Mereka hanya alat yang serakah dan tidak sabaran," gumam Jenderal itu sendiri, sambil tersenyum sinis. "Mereka mengira merekalah dalang utamanya. Mereka mengira aku ada di balik layar mendukung ambisi mereka. Padahal... aku hanya membiarkan mereka bergerak agar kau, Satria, mau keluar dari persembunyianmu dan membawa aku ke sini. Ke tempat ini."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Semuanya terhubung sekarang. Kirana, Arga, pengejaran, tuduhan pengkhianatan terhadap Satria... semuanya adalah bagian dari rencana besar Jenderal Aditya untuk memancing Satria keluar dan menunjukkan lokasi barang berharga itu. Orang yang paling dipercaya ternyata adalah otak di balik semua kejahatan ini, orang yang duduk di puncak hierarki militer, orang yang memiliki kekuasaan untuk menggerakkan pasukan termasuk pasukan elit yang baru saja menyerang pasukan Kirana di luar sana.
"Dan sekarang... kau sudah membuka jalan masuknya untukku, Letnan Kolonel," suara Jenderal Aditya terdengar semakin dekat ke tempat persembunyian mereka. "Dan kau membawa serta kunci pembuka terakhirnya... istrimu yang cantik dan cerdas itu. Aku mendengar dia cukup hebat membuatmu bertahan hidup sejauh ini."
Satria menatap Tiara dengan mata penuh penyesalan dan kemarahan yang meluap-luap. Rencana besar musuh ternyata jauh lebih rumit dan mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan. Mereka tidak hanya mengincar barang itu, mereka sudah memanipulasi hidupnya selama bertahun-tahun, dan kini Tiara terperangkap di dalamnya lebih dalam lagi.
Di luar, suara tembakan mulai mereda. Pasukan Kirana dan Arga pasti sudah dikalahkan atau ditangkap oleh pasukan elit yang sebenarnya bekerja di bawah perintah Jenderal Aditya. Sekarang, tidak ada lagi sekutu, tidak ada lagi jalan keluar. Di dalam ruangan itu, hanya ada Satria yang terluka parah, Tiara istrinya, dan dalang utama yang memiliki kekuasaan mutlak serta pasukan siap pakai di luar pintu.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Satria merasakan genggaman tangan kecil Tiara menguat, memberinya kekuatan yang tak terlihat. Wanita itu menatapnya dengan tatapan yang bukan ketakutan, melainkan tekad baja.
"Kita tidak akan menyerah, Mas. Tidak peduli seberapa tinggi pangkatnya, tidak peduli seberapa besar kekuasaannya," bisik Tiara dengan suara berbisik namun tegas. "Dia mungkin punya pasukan, dia mungkin punya rencana. Tapi dia tidak punya apa yang kita punya: kebenaran, dan cinta yang saling melindungi."
Satria menarik napas dalam, mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya.