"[13] Hangugmal-eul ihaehaji moshani?" ucap laki-laki tersebut kembali pada Arista yang hanya termenung heran menatapnya. "Ehm, sorry? Do you understand the language like this?" Arista mengalihkan pandangnya saat lelaki itu mengubah perkataan koreanya menjadi bahasa inggris.
Sumpah, demi apa? Ada oppa korea di hadapanku sekarang? Keep calm, Ris. Please ..., Arista membatin seraya mengerjap-ngerjap kelopak matanya sebentar.
"Hey ..." Kali ini laki-laki tersebut melambaikan tangannya pada Arista.
"Oh, aku nggak apa-apa, kok. Eh, sorry, i just fine." Arista mulai membuka suara dan perlahan beranjak sendiri seraya mengabaikan uluran telapak tangan dari laki-laki di depannya itu.
"Kamu orang Indonesia?" tanya laki-laki tersebut.
Arista mengangguk pelan, "Kok, bisa bahasa Indonesia? Aku kira kamu orang Korea asli. Soalnya—maaf, wajahnya mirip orang sini."
"Jangan bilang kamu diam mulu dari tadi karena kamu terpesona denganku? Gara-gara wajahku mirip orang Korea, gitu?" Kali ini omongan pemuda itu membuat Arista mengernyit heran. Tumben saja ia bertemu dengan seorang laki-laki yang wataknya kelewat percaya diri.
"Aku tanya apa, jawabnya apaan. Jangan sok GR, deh!" gerutu Arista.
"Memang kenyataannya, bukan? Aku ngomong fakta, loh. Aku kasi tahu ya, cewek yang terlalu gampang terpesona sama ketampanan cowok, itu termasuk cewek yang gampangan."
"Heh! Keep your old speaking! Aku nggak seperti yang kamu kira, ya! Oh, aku pikir ... kamu itu cowok yang ramah, ternyata aku salah. I jit i jigeowo jugetseo!" Arista menarik langkahnya pergi tanpa mempedulikan pemuda tersebut.
"Ihs!" gerutu pemuda tersebut seolah menatap Arista sebal.
Tap, tap, tap!
Arista berjalan cepat sembari bergerutu kesal. "Apaan sih! Bilangnya cewek gampangan, pede banget jadi orang. Dasar menyebalkan!"
"Hey!" Arista menarik napasnya sebal ketika seseorang di belakangnya berani menyentuh bahunya.
Sontak Arista membalikkan badannya ke belakang, "Ada apa lagi, sih!?" Arista menaikkan suaranya hingga satu oktaf dengan penuh rasa kesal.
"Kenapa, Ris? Kamu kayak yang marah gitu. Padahal aku yang nyapa kamu." Arista menggerutu sebal karena salah sangka memarahi orang. Ternyata yang di depannya kini bukanlah pemuda menyebalkan yang berniat menolongnya tadi.
Pemuda yang di hadapannya kini ialah teman sekampusnya, yaitu Dery, laki-laki yang berasal dari Indonesia di kota Bandung. Arista sudah mengenalnya cukup lama semenjak ia berkuliah di Seoul, hingga ia berteman baik dengan Dery. Hanya saja Arista kadang merasa sebal, ketika Dery lagi-lagi menyentuhnya. Sudah beberapa kali Arista mengatakan, jika dalam Islam laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak diperbolehkan bersentuhan. Tapi tetap saja Dery hanya mengiyakan saja, tetapi perkataan Arista tidak diterapkannya.
Dery memang bukanlah laki-laki muslim, namun ia beragama Katolik. Arista memahami jika temannya itu belum begitu bisa memahami larangan dalam Islam. Namun tak bisakah Dery sekali saja mengerti apa yang dikatakan Arista tentang agamanya.
"Sorry, aku pikir orang lain, bukan kamu, Der."
Dery mengangguk paham.
"Lain kali, kalau mau nyapa aku, panggil saja namaku. Nggak usah pakai nyentuh bahuku, bisa, kan? Aku nggak perlu lagi harus berceramah panjang lebar seperti kemarin," Arista bergumam lagi.
"I-iya, paham, kok. Maaf, tadi aku reflek aja. Kamu nggak harus marah lagi, kan?"
"Aku maafkan. Terus, kok bisa ketemu di sini?"
"Aku punya saudara yang baru saja nikah sama orang di daerah Gyeonggi, jadi setelah aku berkunjung ke sana, sekalian aja aku jalan-jalan ke sini. Eh, nggak tahunya aku lihat ada kamu di taman ini juga. Ya udah, aku sapa aja."
Arista hanya mendengus sebal. Dery selalu aja beralasan spontan. "Terus?" kata Arista.
"Aku lihat kamu sedang kesal, tadi waktu aku menyapamu, kamu kira aku siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
"Jangan bohong, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu."
"Aku nggak tahu namanya siapa. Cuma orang kebetulan nabrak aku, terus orangnya berlagak sombong kepedean gitu."
"Cowok atau cewek?"
"Cowok. Ya udahlah, nggak usah bahas dia lagi. Aku mau balik nemuin Kak Rafka."
"Boleh kuantar?" Dery tersenyum tipis saat menawarkan Arista.
"Nggak usah, Der. Yang ada, kalau Kak Rafka lihat aku jalan berdua sama kamu, Kakakku pasti marah. Dia pasti nyuruh aku jaga jarak."
Dery mengalah. "Kenapa Kakakmu terlalu over protektif banget sama kamu, Ris? Padahal kita hanya teman. Memangnya nggak boleh aku berteman denganmu? Aku paham, kamu pernah bilang, kalau dalam Islam itu antara cowok dan cewek punya batasan untuk bergaul. Tapi, aku kan, hanya berniat jadi temanmu aja, nggak lebih, kok. Salah gitu?"
"Nggak salah, Der. Tapi kamu harus paham apa yang kukatakan. Kamu boleh berteman denganku, tapi aku mohon, tolong jangan sentuh aku dan tolong cukup jaga jarak denganku. Karena aku nggak mau orang-orang kira, aku ini pacarmu."
"What is wrong? if all the people who say you are my girlfriend, I'm not a problem."
Arista justru semakin medengus sebal mendengar perkataan Dery. "[14] Dwaesseo!"
Dery mengernyit heran melihat Arista mulai melangkah pergi jauh darinya. Sudah berkali-kali Arista menjelaskan pada Dery tentang peraturan Islam, namun tetap saja Dery berulah. Laki-laki itu akan selalu berkata seolah semuanya baik-baik saja. Seperti pacaran, Arista mengatakan batasan bergaul di antara laki-laki dan perempuan dalam Islam seperti apa, namun Dery tetap tidak mengerti.
***
Tampak sedari tadi Rafka tak tenang saat pandangannya selalu mengitari ke arah sekitar. Nadya yang berada di sebelahnya mencoba mengelus bahu suaminya itu. "Mas, sebentar lagi pasti balik, kok," ujar Nadya.
Rafka mengembuskan napasnya sejenak. Lalu tatapannya beralih pada Nadya. Rafka sangat khawatir jika adik perempuannya tidak kunjung kembali setelah jalan-jalan semenjak sejam yang lalu. Padahal hari sudah mulai sore. Rafka berniat kembali lagi ke Seoul sebelum larut malam.
"Sudah satu jam lebih. Janjinya hanya jalan-jalan sebentar, Nad. Nanti kalau Arista ada apa-apa, bagaimana? Dia itu perempuan, apalagi Arista masih belum nikah," balas Rafka dengan alis mengerut.
"Arista sudah dewasa, Mas. Dia pasti bisa jaga diri. Nah, itu dia datang!" Nadya menunjuk ke arah Arista yang sedang berjalan sendiri menuju ke arahnya.
Huft! Rafka mendengus sebentar. Mencoba menghilangkan rasa khawatirnya sedari tadi. Hingga Arista menghentikan langkah di hadapan kakak laki-lakinya dan Nadya.
"Maaf, aku telat. Soalnya tadi itu—"
"Kita pulang!" ujar Rafka dan lalu menarik lengan Nadya yang mulai melanjutkan langkahannya. Sementara Arista hanya mendengus sebal mendengar tanggapan kakaknya seperti itu. Nadya juga lekas menarik tangan adik iparnya untuk mengikutinya pergi dari sana.
"Kak Rafka! Aku belum selesai ngomong. Kakak marah?" Rafka menghentikan langkahnya sejak Arista memanggilnya kembali.
Perlahan Rafka berbalik badan dan mendekat ke arah istri dan adiknya itu. "Kamu jangan mengelak lagi, Kakak tahu kamu sama Dery lagi berduaan di taman ini. Sudah berapa kali Kakak bilang sama kamu? Jangan terlalu dekat dengan laki-laki non muslim itu. Kakak bukannya melarang kamu berteman dengannya, cuma kamu harus tahu batasannya gimana, Dek. Dery menyentuhmu, Kakak lihat, kok. Nadya saksinya. Sekarang kamu mau ngelak?"
"Kak, maaf, aku nggak sengaja ketemu sama dia. Dery yang mendekatiku duluan, bukan aku, Kak. Kakak harusnya membelaku, bukan malah menyalahkanku. Aku paham agama, Kak. Aku bukan Arista yang dulu lagi." Arista menarik langkahnya pergi dari Rafka dan Nadya. Tanpa mempedulikan kakak laki-lakinya yang masih kesal padanya.
"Ris! Arista! Kok malah marah? Kakak kan—cuma bilangin yang benar!" panggil Rafka yang hanya bisa menatap adiknya yang telah berjalan melewatinya.
"Sabar, Mas. Mas jangan terlalu keras dong, sama Arista. Mas tahu sendiri kalau Arista itu gampang baperan. Dinasehati dikit aja, malah ngambek nggak keruan. Harusnya, Mas kasi tahu Arista dengan pelan-pelan. Nggak usah pakai emosi juga," kata Nadya yang mencoba menenangkan suaminya itu.
"Aku nggak bermaksud marah sama Arista. Tadi aku juga sempat kebawa emosi juga lihat kelakukan adikku. Aku hanya takut, Arista salah bergaul. Apalagi sama yang bukan mahramnya, non muslim lagi. Sudah berkali-kali aku coba nasihati, tapi tetap saja Arista bertemu dengan laki-laki itu."
"Kalau omongannya Arista yang benar? Laki-laki itu yang mendekat ke Arista duluan, padahal Arista sudah menolak?"
"Sayang, kamu tahu darimana? Kalau misalnya laki-laki itu yang mendekat duluan, harusnya Arista bisa bersikap lebih judes dan menghindar. Tapi kamu lihat sendiri, kan? Arista malah mau aja diajak ngobrol." Lagi-lagi Rafka hanya merasa kesal.
Ia ingat beberapa menit yang lalu dirinya yang sedang berjalan-jalan di sekitar taman malah menemukan adik perempuannya sedang berduaan dengan laki-laki yang Rafka kenal juga. Dia Dery, Rafka hanya mengenalnya karena Dery ialah anak dari seniornya yang menjabat sebagai dokter di rumah sakit yang sama.
Arista hanya bercerita jika ia hanya sekadar berteman dengan Dery yang juga teman satu kampus dan sejurusan yang sama. Rafka tak menyukai Dery, karena saat ia melihat gerak-gerik Dery yang mendekati adiknya itu seolah-olah ia menunjukkan sikap rasa suka pada Arista. Rafka sama sekali tidak akan menyetujui jika adiknya harus terjebak cinta dengan laki-laki non muslim seperti Dery.
"Mas, udah nggak usah marah-marah terus, nanti Arista malah tambah ngambek sama kamu. Nanti biar aku aja yang coba ngobrol sama Arista, ya?" Rafka pasrah menyanggupi perkataan Nadya. Perlahan ia hanya menatap adik perempuannya itu yang telah berjalan jauh dari pandangan.
"Yuk, pulang?" Nadya mencoba menggait lengan suaminya dengan senyuman. Akhirnya mereka mulai beranjak pergi dari taman itu.
***
Seoul, South Korea
Hingga tiba Arzan dan Alysa di Insadong, salah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul. Mereka berdua berjalan beriringan bersama Aiza putri mereka, yang masih tertidur di pelukan Alysa. Pelan-pelan Aiza bergerak-gerak kecil memegang kain kerudung Alysa. Rupanya Alysa tersadar jika putrinya telah terbangun saat ia berada di tengah pusat keramaian bersama sang suami.
"Mas, Aiza bangun," ujar Alysa. Seraya mencoba memperbaiki posisi Aiza dari pelukan. Kelopak mata putri kecilnya telah terbuka saat Aiza menyapu pandangan ke sekitar.
"Masyaallah. Anak Abi sudah bangun? Sini, biar Abi saja yang gendong, Umi." Arzan perlahan mengambil alih Aiza dari pelukan Alysa.
Pelan-pelan ia mencoba menggendong putri kecilnya itu dengan senyuman yang merekah. Jika dilihat-lihat—Aiza mirip sekali dengan Arzan. Alysa sangat ingat saat setelah ia melahirkan Aiza di Semarang. Dua bulan di kota Semarang saat kehamilan Alysa telah memasuki usia enam, Alysa sengaja pulang ke Indonesia. Ia ingin melahirkan di kota kelahirannya di Semarang, dan bertemu dengan ayahnya yang tinggal sendiri. Sementara Arzan mengambil cuti setelah Alysa melahirkan.
(Flashback)
"Alhamdulillah ... anak kita udah lahir, Aiza lucu ya, Mas?" ujar Alysa saat ia tidur di sisi bayi Aiza dan di sisi kirinya terdapat Arzan yang ikut tiduran.
"Iya. Mirip Abinya, loh. Hehe ...." Arzan merenyahkan tawanya.
"Ya. Banyak orang yang bilang gitu, sih. Nggak apa-apa, aku cuma nyediain tempat mengandung dan ngelahirin Aiza."
"Hehe .... Aiza cantik, sama kayak Uminya juga, loh. Meskipun lebih mirip Abinya. Semoga Aiza jadi anak yang saleha dan selalu sayang sama Umi dan Abi." Pelan-pelan Arzan mencium pipi bayi kecilnya yang tertidur pulas.
"Amin ...." Alysa hanya menyimpulkan senyumannya. Ia tak kuasa menahan tangis bahagia karena Allah telah memberikan seorang anak.
"Sayang, selfie, yuk? Jarang banget foto bertiga kayak gini. Mumpung Aiza lagi anteng, nih," pinta Arzan yang bersiap-siap mengeluarkan ponselnya.
"Dari kemarin, Mas udah selfie sama anak. Tadi pagi juga udah, masih belum puas? Mau aku tunjukin nih, berapa banyak foto selfie yang mas Arzan uploud di i********: sama Aiza? Hmm ...."
Arzan menghela napas pasrah. Memang benar semenjak setelah istrinya melahirkan, Arzan selalu mengajak putri kecilnya berselfie dan menguploud fotonya di akun i********:. Bukan hanya foto selfie dirinya bersama Aiza dan Alysa saja, namun banyak foto-foto Aiza yang ia uploud ke i********:. Termasuk Arzan punya niatan untuk membuat akun i********: milik Aiza putri kecilnya itu. Namun untung saja belum ia buat, dan Alysa belum tahu niatnya. Jika tahu, bisa-bisa Alysa tak menyetujui akun i********: Aiza yang dibuat oleh sang suami.
Arzan mulai menyengir menatap ekspresi kesal istrinya itu. "Ya nggak apa-apalah, Sayang. Lagian anak sendiri. Sah aja, kalau aku ingin publik tahu, Arzan dan Alysa sudah punya bayi cantik seperti Aiza. Hehe ...."
"Ya ampun .... Mas ... publik, sanak keluarga, teman-teman Mas dan aku, udah tahu semua, kok. Lama-lama putri kita juga yang terkenal, jadi bayi selebgram. Tahu rasa, Mas."
"Astagfirullahallazim ... nggak gitu juga, Sayang. Aku cuma mau foto lagi bertiga. Nggak bakal aku uploud lagi, kok. Beneran, Ya?" Lagi-lagi Arzan merayu Alysa.
Alysa hanya pasrah mengikuti kemauan suaminya yang entah sejak kapan rajin sekali menguploud foto-foto Aiza dan dirinya ke i********:. Biasanya sejak sebelum mereka menikah, Alysa sangat jarang melihat foto-foto Arzan yang berada di profil i********: suaminya itu. Yang ada hanya kebanyakan quote-quote dan video islam saja yang terpampang. Dan semenjak mereka menikah, Arzan baru saja rajin meng-publish foto-fotonya bersama Alysa dan kali ini juga Aiza ke akun i********:.
***
"Umi, kayaknya itu lucu, deh." Arzan menunjuk ke arah topi bayi yang berbentuk panda yang terpajang di balik etalase salah satu toko yang mereka lewati. Sambil menggendong Aiza, Arzan mengajak Alysa masuk ke dalam toko pernak-pernik bayi tersebut.
"Eh, iya. Lucu banget, Mas. Beli ini aja, ya? Aiza pasti suka. Cie ... tumben, pintar banget milihnya," ujar Alysa saat memegang topi panda seraya ia kenakan di kepala Aiza.
"Umi kira—Abi nggak bisa milih barang-barang apa aja yang cocok buat anak? Bisa kali."
"Haha ... gitu aja baper, Mas. Udah ah, cepetan bayar langsung ke kasir aja." Alysa memberikan topi panda itu ke tangan sang suami. Arzan pun langsung beralih ke arah kasir untuk membayar topi yang ingin ia beli untuk Aiza.
"Assalamualaikum. Alysa, ya?" suara yang memanggil Alysa itu membuat Alysa langsung menoleh ke belakang.
"Waalaikumsalam. Loh, Alana?" Alysa menjawab, ia begitu terenyak mengetahui siapa seorang laki-laki yang memanggilnya dari arah belakangnya.
"Apa kabar, Al?" Laki-laki yang bersapa Alana itu bertanya kembali. Dia adalah seorang teman kuliah Alysa di Bandung. Alana yang pernah hadir di masa lalu Alysa dan hingga Alysa memilih pergi dan kembali ke kota asalnya.
"Baik."
"Kamu—sama siapa?"
"Sama suami, Lan. Maaf, aku harus pergi, nggak enak kalau suamiku lihat. Assalamualaikum." Alysa menarik langkah pergi melewati Alana yang telah menjawab salamnya.
Alysa sudah menikah? Batin Alana. Ia sempat tersenyum menatap Alysa yang sedang berjalan bersama Arzan dan juga bersama anak mereka.
***
Translate Korea Languange:
1. Apakah kau mengerti maksudku?
2. Terserah kamu!