Slapp!
Pintu mobil tertutup sempurna saat Alysa dan Arzan telah berada di dalam mobil mereka kembali. Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan Insadong, mereka hanya membeli pakaian lucu untuk putri mereka. Perlahan Arzan mulai menyetir dan melesatkan mobilnya keluar dari arah parkiran.
"Pria tadi itu siapa, Al?" Pertanyaan Arzan spontan membuat Alysa menengok padanya.
"Oh, teman kuliahku dulu," Alysa menjawab dengan tenang. Entah mengapa Alysa cukup takut jika Arzan tahu masa lalunya, laki-laki yang biasa disapa Alana ialah seorang pria yang nyaris saja menikahi Alysa sekitar delapan tahun silam.
Alysa tak lupa dengan Alana. Alysa kenal dengannya saat Alana menjadi kakak tingkat Alysa di jurusan dan satu kampus yang sama. Alana yang mengajak Alysa taaruf sejak Alysa telah lulus. Alysa sama sekali tak mengenali siapa Alana ketika laki-laki itu mengirim proposal taaruf lewat ustazah yang telah lama menjadi guru kajian Alysa.
Setelah proses taaruf hingga dua bulan selesai, proses khitbah pun berlangsung. Alysa mulai jatuh hati saat itu juga pada Alana. Hingga mereka merencanakan pernikahan yang akan diadakan sekitar sebulan lagi setelah khitbah selesai, namun Alana menghilang tanpa kabar apa pun.
Saat itu pun Alysa mencari tahu keberadaan Alana lewat keluarga Alana. Yang Alysa tahu saat itu, Alana memilih pergi keluar negeri. Alana meminta maaf pada Alysa, jika Alana tak bisa melanjutkan pernikahannya. Alana memilih pergi dengan alasan mengejar cita-citanya di sana.
Sejak kejadian itu Alysa tak bisa menahan tangisnya setiap kali ia tak bisa melupakan Alana. Hingga Alysa berhenti kerja dari kantor media penerbitan Bandung, dan memilih kembali tinggal di kota Semarang. Kota kelahirannya, tinggal bersama orangtuanya dan adiknya Nadya, mungkin jauh lebih baik. Begitupun Alysa yakin, ia bisa melupakan laki-laki itu perlahan.
Sejak Alysa bertemu Arzan, saat itulah Alysa mulai dapat membuka hatinya kembali. Namun yang sangat disayangkan, Alysa tak pernah bercerita apa-apa pada suaminya itu. Sementara Arzan selalu menceritakan semua masalah, maupun hal-hal masa silamnya pada Alysa. Yang Alysa tahu, Arzan tak pernah sempat menyukai perempuan lain sebelum ia bertemu Alysa.
Jangankan memikirkan perasaan pada lawan jenis, Arzan selalu fokus belajar saat masih sekolah hingga ia lulus kuliah strata satu. Tak heran lagi suami Alysa itu, selalu menjadi juara kelas dan menjadi siswa atau pun mahasiswa kebanggaan guru dan dosen.
"Gitu, tapi kalau dilihat dari wajahnya, dia sepertinya kenal banget sama kamu. Waktu kamu juga keluar dari toko bareng aku, pria itu kayak ngelihatin kamu mulu, Al. Memangnya siapa namanya?"
"Alana. Yah, wajar ajalah, Mas. Alana itu teman kuliahku. Nah, kebetulan ketemu di toko tadi, aku aja kaget ketemu dia lagi. Mungkin aja—dia juga kaget, aku udah punya suami. Maybe, kan?"
"Loh, kenapa harus kaget? Memangnya si Alana itu belum nikah?"
Alysa mengangkat bahunya tak mengerti. "Aku udah lama nggak pernah ketemu dia, Mas. Ketemunya ya waktu aku kuliah di Bandung. Jadi, mana aku tahu. Dia bisa sampai di Seoul aja, aku juga nggak tahu."
"Hmm ... ya udah, deh. Mas percaya sama kamu. Lagian kamu nggak pernah cerita apa-apa sama aku, Al. Justru aku yang selalu terbuka sama kamu. Lain kali, kalau kamu pengin cerita, entah itu soal temanmu, atau apa aja, deh. Mas siap dengerin, kok. Jangan sampai, ada yang disembunyikan sama suamimu, ya?"
Alysa mengangguk pelan, "Iya, Mas. InsyaAllah."
Ya Allah ... nggak seharusnya aku menutup semua masa laluku pada Mas Arzan. Tapi aku nggak siap untuk cerita. Aku takut Mas Arzan punya perasaan marah, atau tidak menyukai Alana. Padahal dia hanya masa laluku, batin Alysa cemas. Ia menatap fokus ke depan seraya masih memangku bayi Aiza di genggamannya.
***
Cting!
[18.20] Derry Elvano: Hai manis ...
Arista baru saja membaca alquran usai ia melaksanakan sholat magrib setibanya ia di rumah kakaknya. Pesan w******p dari Derry memunculkan tanda notifikasi di ponsel yang Arista letakkan di atas kasurnya. Lekas Arista membuka pesan itu setelah ia merapikan peralatan salat dan alquran yang diletakkan di meja belajarnya.
"Dery? Ngapain sih, kirim pesan ginian? Nggak ada kerjaan banget!" gerutu Arista. Ia langsung meletakkan ponselnya lagi setelah hanya membaca pesan dari Dery.
Gara-gara Dery juga aku sampai ngambek sama Kak Rafka. Lagian bodoh banget, ngapaian aku milih jalan kaki sendirian. Biarpun jadi obat nyamuk Kakakku sekalipun, yang penting nggak kena omelan Kak Rafka, gara-gara aku ketemu sama Dery, batin Arista. Ia menyamankan posisinya di atas kasur. Rasanya sangat lelah telah seharian jalan-jalan keliling Gyeonggi hingga ke kota Seoul. Arista berniat ingin melanjutkan istirahatnya sembari menunggu tibanya salat isya.
Dreet ... Dreet ... Dreet ..., ponsel Arista berdering. Arista lekas mengangkat siapa yang meneleponnya di malam hari.
"Halo?"
"Hai, Ris, kok pesan whatsappku nggak dibalas, sih? Kenapa? Kamu ngambek, soalnya aku kirim kata manis dan emot gitu ke kamu? Memangnya salah, ya? Kenyataannya, kamu kan emang manis."
Lagi-lagi yang menelepon ialah suara Dery yang Arista dengar. Kali ini Arista harus menghela napasnya lagi, ia mencoba meredahkan rasa kesalnya pada laki-laki itu.
"Aku lagi capek, udah seharian nemenin Kakakku jalan-jalan ke Gyeonggi, udah gitu langsung ke Seoul. Jadi, maaf banget, Der. Aku mau istirahat dulu. Ya?"
"Eh, tunggu-tunggu dulu! Lagian aku heran sama kamu, Ris. Kamu masih aja mau jadi obat nyamuk Kakakmu. Aku saranin ya, kamu jangan kelamaan jomlo, deh. Mendingan kamu cari cowok, yang bisa menerimamu apa adanya. Eh, nggak usah apa adanya sih menurutku, kamu kan cantik tuh, cowok mana sih, yang nggak suka sama kamu."
"Der, terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas, aku nggak peduli. Ya udah, aku mati-in aja ya, teleponnya, daaa ...." Arista langsung melempar ponselnya ke atas kasurnya begitu saja. Tanpa peduli jika Dery meneleponnya kembali.
Tok, Tok!
Suara ketukan pintu kamar membuat Arista mengurungkan niat istirahatnya kembali. "Ris, Arista ... ini aku, Nadya," panggil Nadya dari luar kamar.
"Nadya?"
Pelan-pelan Arista beranjak dari ranjang kasurnya dan beralih membuka gagang pintu kamarnya.
"Assalamualaikum," ucap Nadya dengan senyumnya menyapa adik iparnya yang seumuran dengannya itu.
"Waalaikumsalam. Masuk, Nad." Arista mengalihkan posisinya duduk di ranjang kasur bersama Nadya.
"Pasti disuruh Kak Rafka, ya? Aku nggak apa-apa, kok, Nad," ucap Arista yang mencoba menebak niatan Nadya menemuinya kini.
"Alhamdulillah kalau kamu nggak apa-apa, aku yang minta nemuin kamu, Ris. Rafka nggak sama sekali nyuruh aku. Justru, aku minta maaf atas sikap Kakakmu, ya? Nggak usah diambil hati, Ris. Kamu tahu sendiri, sikap Kakakmu kayak gimana. Kalau emosi, dibalas dengan emosi, yang ada malah bukannya makin baik, malah kebalikannya. Yang satunya ngambek, terus yang satunya lagi kesal juga."
"Aku nggak marah sama Kak Rafka. Tadi itu cuma ngambek bentar aja, Nad. Aku kesal, Kak Rafka selalu berprasangka nggak baik tentangku. Aku paham, aku harus lebih hati-hati lagi dalam bergaul. Apalagi sama Dery, laki-laki yang Kak Rafka nggak suka, dia non muslim. Lagian aku juga tahu batas, Nad. Aku nggak mungkin kembali ke pergaulanku yang dulu, sebelum aku hijrah seperti sekarang."
"Iya, aku percaya sama kamu, Ris. Aku juga udah bilang sama Rafka, kalau nggak seharusnya dia selalu suuzan sama Adiknya sendiri. Aku percaya, kalau kamu udah berubah. Kamu pasti tahu batasan-batasan pergaulan dengan laki-laki itu seperti apa. Ya udah, kalau gini kan, masalah udah clear, nggak perlu ada yang kesal atau ngambek lagi, kan?"
"Iya. Oh iya, Nad. Kapan kamu mulai masuk kuliah?"
"InsyaAllah lusa, aku mulai kuliah. Jadi Adik tingkatmu, loh. Hehe ...." Nadya menyengir. Jelas saja Arista yang sebentar lagi akan menggarap tesis tugas akhir magister di semester ke tiga. Sedangkan Nadya baru saja akan masuk ke perkuliahan magister.
"Ya, nggak apa-apa kali. Yang penting kita bisa sama-sama terus di kampus. Terus, kamu ambil jurusan apa, Nad?"
"Kesehatan dan ilmu gizi. Ya ... sesuai ekspetasi dari gelar sarjana kesehatan yang kusandang."
"Hmm ... udah kuduga, kok. Belajar yang pintar loh, Dek. Jangan malas terus, biar lekas lulus." Tawa Arista yang seraya menggoda Nadya.
"Ciee ... sok-an bilang kayak gitu. Sebentar lagi kan, Adik iparnya Nadya bakalan menghadapi tesis. Semangat loh, kamu yang harus lebih giat belajarnya. Biar lekas menyandang gelar magister. Udah gitu, siapa tahu bentar lagi, ada yang ngelamar Arista, bukannya cita-cita Arista kepengin banget nikah muda kayak Kakaknya, ya?" Kali ini Nadya tertawa lepas menggoda balik Arista.
"Amin ... deh, kalau memang benar ada yang ngelamar aku, Nad. Kamu sengaja banget, menggoda kayak gitu."
"Pengin menggoda Adik ipar aja. Hehe ...."
"Giliran aku yang tanya, nih. Kapan Kakak iparku yang cantik ini, kasi ponakan untuk Adik iparnya?"
Tawa Nadya terhenti. Ia sama sekali tak menyangka jika Arista akan menggodanya dengan pertanyaan soal anak padanya. Padahal sudah dua tahun Nadya ingin sekali hamil lagi. Sedih rasanya ingat saat Nadya pernah keguguran waktu dua tahun silam.
"Doakan aja, siapa tahu ... tahun ini kamu dapat rezeki, dapat ponakan baru dariku. Ya, kan? Udah, ah, tidur dulu. Jangan lupa nanti bangun, bangun tahajud sama murajaah sampai subuh. Aku ke kamar dulu, ya? Assalamualaikum." Nadya membiarkan Arista sendiri di kamar, setelah ia keluar dari pintu kamar Arista.
"Waalaikumsalam," balas Arista dengan senyum tipisnya.
***
Hingga tiba keesokan harinya, pagi itu Nadya sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Nadya sengaja tak meminta bantuan pekerjaan rumah dengan seorang pembantu. Ia ingin mengurus rumahnya sendiri. Nadya ingin sekali meniru seperti Alysa yang selalu mengurus rumah sewaktu ia masih tinggal bersama ayah di Semarang. Nadya yakin jika ia bisa mandiri.
Setelah selesai salat subuh, Nadya langsung beralih ke dapur seraya menyiapkan masakannya yang akan ia hidangkan untuk suami tercintanya Rafka dan adik iparnya Arista.
"E'hem, sibuk banget kayaknya. Nyiapin sarapan buat aku, ya?" ucapan Rafka membuat Nadya menoleh ke asal suara. Ternyata suaminya itu telah berjalan mendekat ke arahnya. Rafka telah berpakaian rapi dengan ransel yang ia sandang untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Nadya menyimpulkan senyum menyambut suaminya itu. "Duduk dulu, Mas. Aku ambilkan nasi sama lauknya, ya?" ujar Nadya sembari mengambilkan nasi dan beberapa lauk yang ia siapkan untuk Rafka.
"Nih." Nadya meletakkan piring yang telah berisi itu di depan suaminya yang duduk sambil tersenyum menatap istrinya yang penuh perhatian padanya.
Perlahan Nadya mengambil gelas dan mengisikan gelas itu dengan air putih. Spontan Rafka menyentuh jemari istrinya itu. "Cukup, sayang," ucapnya saat Nadya memberikan gelas yang berisi air putih itu pada suaminya.
"Pagi banget kerjanya, Mas? Bukannya biasanya jam tujuh ya, berangkatnya? Ini masih jam enam, loh."
"Ada pasien yang harus aku operasi. Jam setengah delapan. Makanya aku berangkat pagi-pagi, biar di jalanan nggak macet," kata Rafka sembari menyendokkan makanan ke dalam rongga mulutnya.
"Terus, pulangnya sore atau malam?" Nadya bertanya lagi.
"Tergantung, kalau urusan kerjaannya selesai, mungkin sore baru pulang. Kenapa?"
"Aku—mau ngajak kamu ke Dokter kandungan, Mas."
Rafka menghentikan aktivitasnya sejenak saat mendengar ungkapan istrinya, "Untuk?"
"Periksa aja, bukannya kita udah dua tahun nggak punya anak. Jadi, aku hanya ingin memastikan aja, kalau kita berdua itu sehat. Aku takut aja, sejak aku keguguran waktu itu, bisa jadi ada penyakit lainnya, makanya sampai sekarang aku masih belum bisa hamil lagi."
"Hus! Istigfar sayang, kamun jangan mikir kayak gitu. Ingat, anak itu amanah yang Allah beri. Kalaupun kamu masih belum hamil lagi, mungkin Allah belum memberikan amanah itu untukmu dan untukku. Jangan suuzan sayang, nggak baik. Kamu harus berprasangka baik pada Allah. Aku yakin, insyaAllah Allah akan memberi kita anak. Mungkin nggak sekarang."
Nadya menghela napasnya berat, "Tapi—nggak ada salahnya kalau kita ikhtiar, Mas? Bukannya Mas yang selalu bilang padaku. Hanya periksa saja, kok. Mau ya, Mas? Siapa tahu sebentar lagi, Allah kasi petunjuk."
Lagi-lagi Nadya merayu suaminya. Hingga Rafka menghela pasrah, ia pun mengangguk menyetujui permintaan istrinya itu.
"Alhamdulillah, makasih ya, Mas?" Nadya spontan menggenggam jemari Rafka. Rasanya nyaman sekali ketika Nadya berjarak dekat di sisi suaminya itu.
"Tapi, nggak sekarang juga. Nanti deh, aku telepon kamu, kalau aku ada jam kosong, aku jemput kamu ke rumah sakit. Ya?"
"Eh, jangan, Mas. Aku bisa jalan sendiri, kok. Mas kabari aku aja, jam kosongnya kapan. Nanti aku bisa nyusul Mas langsung ke rumah sakit," elak Nadya. Nadya sengaja enggan selalu merepotkan suaminya yang selalu mengantar dan menjemputnya kemana saja. Kali ini Nadya ingin jalan sendiri tanpa suami.
"Sayang ... sama siapa kalau nggak sama aku? Bukannya aku yang selalu mengantar dan menjemputmu kemana pun? Aku nggak keberatan, kamu itu istriku, aku berhak bertanggung jawab padamu, Nad," pinta Rafka. Ia tak mau jika istrinya nekat jalan sendirian menemuinya di rumah sakit yang jauh lokasinya dari rumah mereka.
"Aku paham, Mas. Tapi aku nggak mau aja jadi istri yang manja. Jadi istri yang selalu merepotkan suami. Lagian Mas nanti capek loh, harus bolak-balik ke rumah dan rumah sakit."
"Nggak, sayang. Aku nggak sama sekali capek kalau sama kamu. Kamu istriku, maka kamu harus mau menuruti perkataan suamimu. Selagi masih ada aku yang selalu sama kamu, kamu nggak usah merasa merepotkan suami. Kecuali, aku kerja di luar kota. Baru deh, aku nggak bisa nganterin sama jemput kamu. Mau, ya? Nanti aku jemput."
"Ya udah, deh. Nggak nurut apa kata suami, nanti aku malah dosa," ujar Nadya seraya pasrah mengikuti kemauan Rafka.
"Hehe ... iyalah, suami kamu itu udah baik banget, masa masih nggak mau bersyukur? Harusnya alhamdulillah. Bukannya merasa merepotkan suami. Pokoknya, kamu jangan jalan sendirian tanpa mahram. Ingat loh, kamu hanya boleh jalan keluar rumah sama suami, atau Arista, atau Kak Alysa, boleh. Kecuali sendirian, aku nggak bakal ngizinin."
"Iya suamiku, siap! Udah, cepetan makan, ah. Malu tahu, ada yang lihat kita, tuh!" Nadya memberi kode pada Rafka ke arah sisi kanannya.
Spontan Rafka menengok ke arah yang Nadya tunjukkan. Ternyata Arista berada di antara mereka tanpa Rafka sadar. Arista langsung mendaratkan duduknya di depan Nadya. Seraya ia mengambil piring dan nasi bersama lauk yang siap saji. Nadya juga sembari menyiapkan gelas air minum untuk Arista.
"Makasih, Nad," kata Arista saat mengambil gelas berisi air yang Nadya sodorkan padanya.
"Kok, pada diam? Lanjut aja ngomongnya, aku nggak bakal ganggu kalian, kok. Kan—udah halal, jadi mau ngomong, mau ngapain aja, ya terserah kalian. Selamat makan." Arista mulai melahap menu sarapannya. Sementara Rafka dan Nadya hanya bengong menatap Arista.
"Ris, kamu pengin nikah, nggak?" Rafka bertanya yang spontan membuat Arista memelankan kunyahannya dan beralih menoleh ke arah kakaknya.
"Maksud, Kakak? Semua orang pasti kepengin nikah, Kak. Pertanyaan Kakak aneh, deh," Arista menjawab. Lalu ia meneguk sedikit air putihnya seraya menunggu perkataan Rafka selanjutnya.
"Iya, Kakak tahu. Maksudnya itu, Kakak punya teman, dia itu lulusan doctor termuda di Jakarta. Sekarang teman Kakak itu sempat bekerja mengurus proyek bangunan gedung-gedung gitu. Istilahnya profesinya arsitektur. Dulunya waktu lulus S3 di UI, dia malah langsung ditawari pekerjaan di Seoul. Umurnya juga lebih tua dia setahunlah dari Kakak."
"Terus? Apa urusannya sama Arista? Oh, aku tahu! Jangan bilang—Kak Rafka berniat ngejodohin Arista sama teman Kakak itu?" Arista kembali bisa menebak niatan kakak laki-lakinya itu.
"Dengerin Kakak dulu, Ris. Namanya itu Adnan. Dia juga keturunan orang Korea, loh. Di sini juga ada keluarga dari Papanya. Orangnya cakep, nggak kalah cakepnya sama boyband-boyband Korea yang sering kamu tonton. Apalagi dia muslim, orangnya juga saleh. Sering ikut kajian Islam dulunya sama Kakak, ibadahnya juga rajin, nggak pernah bolong berjemaah di masjid. Adnan juga anti banget sama cewek yang bukan mahramnya."
"Maksud Kakak, si Adnan itu nggak suka sama cewek? Transgender, dong?"
"Astagfirullahallazim, nggak gitu, Dek. Dia itu anti sama yang bukan mahramnya, nih ya, prinsipnya nggak mau pacaran, maunya ya langsung nikah aja, kalau dia suka sama cewek. Adnan sangat benci sama cewek-cewek yang selalu memuji ketampanannya, Dek. Dia memang cowok blasteran, Korea dan Indo."
"Whatever!" Arista tampak cuek angsa menanggapi perkataan kakaknya.
"Niat Kakak baik, loh. Penginnya ngenalin kamu ke dia. Soalnya dia tipe-tipe cowok yang kamu inginkan. Pria yang wajahnya blasteran Korea, muslim, saleh, pintar, baik juga," ujar Rafka lagi.
"Udah ngenalin, terus ngapain?" Arista bertanya.
"Siapa tahu, Adnan mau ngajak kamu taaruf, Ris. Coba aja dulu kenalan. Siapa tahu cocok. Ya, nggak?" sambar Nadya yang ikut senang menanggapi obrolan suaminya dan Arista.
"Duh, pada ngomong ngawur kalian. Ya kalau niatnya baik, cuma mau ngenalin ke aku doang, ya monggo. Nggak perlu Kakak ngejelasin semua identitasnya si Adnan itu padaku. Yang jelas, aku nggak mau ya, kalau sampai Kak Rafka nyoba nyuruh Papa buat ngejodohin aku sama si Adnan itu. Ya udah, deh. Aku berangkat kuliah dulu, Assalamualaikum." Arista menenggak air putihnya hingga tandas. Lalu ia beranjak setelah bersalaman pada Rafka.
"Waalaikumsalam. Hati-hati jalannya, Dek!" panggil Rafka yang hanya mendapat jawaban iya dari Arista.
***