"Al, Kamu kapan balik ke Indonesia? Ayah kangen sama kamu, juga Nadya, Rasanya rumah sangat sepi nggak ada kamu sama Adikmu lagi. Sejak kalian menikah, kamu udah nggak tinggal lagi sama Ayah. Ayah sama sekali nggak keberatan kalau kalian lebih memilih tinggal lain rumah sama Ayah. Hanya saja ... jarak kalian terlalu jauh dari Semarang, Nak."
Alysa menghela napasnya berat saat ia menelepon ayahnya. Rasanya ingin sekali ia bertemu dengan sang ayah. Alysa paham ayahnya sangat rindu dan merasa kesepian.
"Ayah ... Alysa masih nunggu Mas Arzan, kalau Mas Arzan kerjanya udah agak longgar, insyaAllah Alysa pulang, Yah. Alysa juga kangen sama Ayah," ujar Alysa, ia menahan tangisnya saat mengucapkan kata rindunya pada Kamil, ayahnya.
"Ayah tunggu, Nak. Ayah paham keadaanmu. Apalagi ayah dengar—Adikmu Nadya, mau melanjutkan kuliah S2-nya, ya, di sana?"
"Iya, Yah. Besok Nadya bilang mulai masuk kuliah. Doakan lancar untuk Nadya ya, Yah?"
"Ayah pasti doakan untuk kalian berdua. Kamu baik-baik sama Arzan, Nak. Kamu juga jaga Nadya Adikmu. Dia tetap Adikmu, meskipun Adikmu juga statusnya sudah punya suami, sama denganmu. Ayah juga kangen, loh. Sama cucu Ayah, Aiza. Gimana Aiza, Al? Sekarang Aiza umur berapa? Pasti lagi lucu-lucunya, ya?"
"Iya, Yah. Aiza sekarang umur enam bulan. Lucu banget loh, Yah. Aiza juga pasti kangen sama Kakeknya. Hehe ..." Alysa terkekeh. Ia mencoba mengubah sedihnya dengan tawanya.
"Wah ... Ayah senang dengarnya. Soalnya Ayah sering lihat Aiza di i********: suami kamu, Al. Si Arzan tuh, nggak pernah absen seminggu aja buat nguploud foto Aiza. Ayah jadi kangen berat sama Aiza. Malah tambah lucu cucu Ayah."
"Hehe ... Mas Arzan udah kebiasaan, Yah. Dia tuh, udah aku bilangin, jangan sering uploud foto Aiza di i********:. Nanti lama-lama Aiza juga jadi bayi selebgram, Yah. Nggak kalah populernya sama bayi-bayi artis lainnya."
"Nggak apa-apa, Sayang. Namanya juga orangtua jaman now, istilahnya gitu, kan?"
"Yee ... Ayah tahu juga istilah jaman now, ya? Siapa yang ngajarin, Yah?"
"Nggak ada. Ayah cuma keseringan dengar-dengar sebutan gitu. Jadi Ayah hapal, deh. Eh, Al, Ayah tutup dulu ya? Nanti insyaAllah Ayah telepon lagi."
"Ya udah, Yah. Assalamualaikum." Alysa mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ayah yang telepon, ya?" tanya Arzan saat ia baru saja menghampiri istrinya di dapur rumah.
"Loh, Mas, sejak kapan pulangnya? Ini masih siang, loh. Biasanya sering sore, atau nggak—ya malam." Alysa menatap suaminya heran. Sejak kapan Arzan datang dan berdiri di samping istrinya kini.
"Sengaja nggak makan siang di rumah sakit, Al. Penginnya makan di rumah aja, kangen makan siang masakan istri. Mumpung sekarang lagi jam istirahat."
"Itu mah, maunya Mas Arzan aja. Pengin makan bareng istri di rumah."
"Tahu aja. Eh, barusan Ayah yang telepon, kan, Al? Apa kabar Ayah?" Arzan lekas mengalihkan topik dari makan siangnya.
"Baik. Ayah kangen sama kita. Apalagi kangen banget sama Aiza, katanya kamu itu nggak pernah absen ng-uploud foto Aiza di i********:. Ayah jadi lihat foto Aiza terus di akun profilmu, Mas."
"Bagus, dong. Dengan banyaknya foto anak kita, Ayah nggak bakal lupa sama cucunya. Intinya, tiap kali aku ng-uploud fotonya Aiza, bagai aku rajin kasi kabar, kalau Aiza baik-baik aja. Jadi, Ayah nggak perlu khawatir, deh."
"Mas, kenapa nggak sekalian aja, akun i********: Mas ganti nama jadi Aiza? Habis fotonya Aiza ... mulu." Lagi-lagi Alysa memberi protes pada suaminya itu.
"Hah? Ide bagus juga, Al. Niatku sih, pengin bikin akun i********: anak kita. Huriyah Aiza, bagus, kan?" Arzan spontan menggoda istrinya dengan niatan lamanya itu. Membuat akun i********: untuk bayi Aiza.
Alis Alysa tertaut sebal saat Arzan memberitahukan niatnya. Alysa sengaja menggoda suaminya dengan mengeluarkan pisau alat masaknya. Pisau yang ia pegang sedang dibuat mengiris bawang.
"Mas, Aiza itu nggak bakal aku izinin jadi bayi selebgram. Mas ingat, kan? Followers i********: Mas Arzan bertambah banyak, sejak Mas Arzan rajin banget ng-uploud foto anak kita. Pokoknya, aku nggak mau tahu ya? Mas jangan coba-coba beneran punya niatan buat akun untuk Aiza. Anak kita itu masih bayi, Mas. Nggak sepantasnya."
"Umi, jangan galak-galak gitu, dong. Nanti nggak cantik lagi, loh." Arzan mencoba meredamkan kekesalan Alysa dengan menggodanya.
Namun Alysa tak menggubris godaan suaminya sama sekali. "Biarin nggak cantik. Toh, udah jadi istri Mas Arzan, kok. Mas, paham kan, apa yang aku omongin tadi?"
"Ngerti, Al. Mas cuma becanda. Udah deh, ngiris bawangnya hati-hati. Jangan sambil kesal gitu. Bahaya, Sayang." Arzan ngeri menatap istrinya memainkan pisau yang dibuat untuk mengiris bawang dengan emosi.
"Mas, sih. Ya udah, Mas bukannya mau makan siang, kan? Ngapain masih di dapur? Nggak mau nunggu makanan siap saji di meja makan?"
"Nggak ah, Mas itu sayang istri. Apa-apa yang istri kerjakan, Mas harus bantulah. Masa iya, Mas biarin istri masak di dapur sendirian? Eh, Bi Mina mana? Bukannya Bi Mina yang sering bantuin kamu masak?" Arzan melongo heran saat ia tersadar istrinya masak seorang diri tanpa pembantu yang ia gaji bekerja untuk mengurus rumahnya. Biasanya bi Mina yang selalu bantu Alysa masak ataupun mengerjakan urusan rumah.
"Bi Mina lagi izin keluar. Dia mau ke bank, buat transfer bulanannya untuk anaknya yang sekolah di Jogja, Mas. Jadi, biar aku aja yang masak sendiri. Lagian udah biasa masak sendiri tanpa Bi Mina. Toh, dulu di rumah sama Ayah, aku yang masak untuk Ayah dan Nadya."
Arzan mengangguk paham, "Terus, kamu lagi masak menu apa aja, nih? Oh ya, Aiza tidur ya, Al?"
"Aiza udah bobok sekitar setengah jam yang lalu. Aku cuma masak soto ayam, tempe goreng, tumis makaroni, sama ngulek sambal. Mas tunggu aja di meja makan, ya? Sebentar lagi makanannya siap saji, kok. Ini udah hampir selesai."
"Kedengarannya enak banget tuh, khas Indonesia asli. Ya udah, deh. Benar nih, ya? Nggak ada yang mau Mas bantu?" tanya Arzan lagi. Alysa hanya menggeleng pelan menjawab sang suami.
"Kalau ada apa-apa, panggil Mas aja ya, Sayang? Mas tunggu di meja makan dulu, ya?"
"Iya, udah sana ... bentar lagi aku siapin makanannya," ujar Alysa. Ia hanya menatap Arzan sekilas saat suaminya itu telah beranjak beralih ke arah meja makan yang letaknya berdekatan dengan dapur rumah.
***
Keesokan harinya di Korea University, Arista baru saja tiba di kawasan gedung kampus yang ia pijaki. Seraya berjalan menuju ke arah gedung pascasarjana. Pandangannya tampak menyapu di sekelilingnya yang banyak sekali warga kampus yang berlalu lalang. Meskipun pakaian Arista tak sama dengan mahasiswi Korea pada umumnya, namun Arista tetap nyaman mengenakan pakaian syar’i-nya.
Gamis merah jambu dengan berpaduan warna cardigan panjang biru langit. Juga kerudung pasmina menutupi d**a dengan warna polkadot yang menyematkan kesan elegan penampilan Arista di pagi itu. Beberapa menit Arista berjalan pelan di sekitar koridor, langkahnya pun terhenti saat pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang ia ingat.
"Dia bukannya ... oh iya, cowok nyebelin yang sempat nabrak aku kemarin. Kok, dia malah di sini? Ketemu sama Dosenku lagi, ngapain coba? Hmm ... mencurigakan." Perlahan kaki Arista menarik langkahnya lagi. Kaki Arista cukup mendekat ke arah dosen yang sedang mengobrol bersama laki-laki yang menyebalkan yang ia ingat sebelumnya.
"Thank you sir, because the professor, I can get a job here. I will work better and can make the professor proud of my performance," ujar pemuda itu seraya berjabat tangan dengan laki-laki paruh baya yang menjadi dosen Arista.
"Yes, good joined into a teacher here Mr. Hyun Ki. Hopefully you can be more convenient to be here."
"You're welcome, Prof," ujar pemuda yang disebut sebagai Hyun Ki. Arista jelas mendengar obrolan mereka dan apalagi saat dosennya memanggil pemuda itu Hyun Ki.
"Well, His name is Hyun Ki? Good enough. Tapi tunggu! Maksudnya bergabung menjadi pengajar di sini? Dia mau ngajar? Jadi Dosen gitu?" Arista mengernyit heran saat pandangannya ia lemparkan kembali pada pemuda yang bernama Hyun Ki itu. Pemuda itu melanjutkan langkahnya pergi tanpa tahu Arista berada di sana.
"Arista!"
Arista spontan menoleh ke asal suara yang memanggilnya. "Nad-ya? Duh, sorry, kamu diantar sama Kak Rafka ke kampus?"
Nadya yang baru saja tiba di koridor gedung pascasarjana, ia pun mendekati Arista dan mengangguk pelan.
"Tuh kan, Sorry banget, Nad? Aku kira kamu masih besok masuk kuliah. Jadi aku nggak bisa bareng kamu, deh. Pasti Kak Rafka marah, ya?"
"Hehe ... ngapain marah, Ris? Bukannya udah kebiasaan berangkat lebih pagi ke kampus naik subway? Dianterin sama Rafka aja, kamu nolak."
Arista tersenyum, "Iya sih, lebih enak aja pakai subway, Nad. Nggak ada polusi, dan nggak gampang macet. Eh, besok-besok kalau kamu berangkat ke kampus, nanti bareng aku aja. Kita naik subway bareng. Masa iya kamu diantar pakai mobil mulu sama Kak Rafka. Bosen tahu."
"Ok, deh. Siapa sih, yang mau nolak permintaannya Adik ipar? Aku sih, iya aja. Asal Kakakmu ngizinin."
"Pasti ngizinin lah, Nad. Kan—ada aku. Kak Rafka pasti mau, kok. Oh iya udah, aku ke kelas dulu, ya, Nad? Nanti ketemu lagi. Assalamualaikum." Arista menarik langkahnya pergi setelah Nadya membalas salamnya. Sementara Nadya melanjutkan langkahnya kembali ke arah kelasnya.
***
"Mas Arzan, mau berangkat ke rumah sakit lagi?" Alysa bertanya saat ia mendekat pada suaminya yang baru saja mengambil jaket tebal yang digantung di belakang pintu kamar mereka.
Arzan menoleh dengan senyumnya sejenak. "Nggak, Mas lagi mau keluar sebentar. Kamu jaga Aiza aja di sini, Al."
"Aiza udah bangun, kok, Mas. Lagian ada Bi Mina yang lagi main sama Aiza. Mas mau keluar kemana?"
"Jangan bilang—kamu mau ikut?" Arzan menebak keinginan Alysa. Yang tebakannya itu membuat Alysa mengangguk dengan senyuman seolah memohon pada Arzan.
"Mas mau jemput Mbak Mika di Bandara."
Alysa menatap suaminya dengan heran. Sejak kapan Arzan tak bercerita apa-apa tentang Mika yang tiba-tiba datang ke Seoul. "Kok ..."
Belum sempat Alysa melanjutkan kalimatnya, Arzan lekas memotong. "Aku saja baru diberi kabar dua jam yang lalu setelah pulang kerja. Maunya sih, nggak cerita sama kamu sekarang, biar jadi kejutan aja, kalau Mbak Mika mau nginap di sini selama kegiatannya selesai di Seoul."
"Memangnya Mbak Mika ada kegiatan apa di sini? Terus, Mas Ali kok nggak ikut?"
"Mbak Mika itu mantan model terkenal yang sudah go internasional dari Turki dulunya. Pindah ke Indonesia aja Mbak Mika tetap ditawari jadi model di sana. Tapi Mbak Mika yang nolak, setelah menikah sama Mas Ali, Mbak Mika lebih memilih buka usaha toko busana muslimah dan sekarang malah jadi desainer pakaian muslimah gitu. Makanya diundang ke Seoul, karena desain-desain pakaian muslimah buatan Mbak Mika sudah masuk ke negeri ini," Arzan menjelaskan.
"Mbak Mika sekarang jadi desainer go internasional, dong, Mas? Karyanya aja langsung diterima baik di Korea. Mas Ali kok nggak ikut juga?"
"Mas Ali nggak bisa nemenin karena banyak pekerjaan yang nggak bisa ditinggal di kantornya, Al. Makanya Mas Ali juga sempat nitip Mbak Mika untuk menginap di sini. Jadi, kamu nggak merasa kesepian lagi, deh, selain jagain Aiza sama Bi Mina, juga ada Mbak Mika yang sama kamu." Arzan sesekali menyimpulkan senyumnya sembari mengenakan jaket tebalnya sebentar.
"Aku ganti baju dulu, ya, Mas? Mau ikut nyambut Mbak Mika." Alysa hampir saja membalikkan badannya. Lalu spontan jemari Arzan menarik lengan istrinya.
"Al, pakai jaket sama kaos kakimu aja. Kamu udah pakai gamis sama kerudung gini, kok. Nggak perlu ganti," pinta Arzan saat Alysa menoleh lagi padanya.
"Ini gamis dan kerudung rumahan, Mas. Aku juga belum make up tipis, loh. Nggak mungkin banget, kalau aku keluar rumah dengan keadaan kayak gini, Mas," Alysa memprotes permintaan suaminya dengan pelan.
Arzan tertawa lepas mendengar perkataan istri tercintanya itu, "Al, sejak aku ketemu kamu sebelum kita menikah aja, aku lihat—kamu nggak pernah pakai make up. Terus, kenapa aku bisa jatuh hati sama kamu? Kamu itu cantik apa adanya, bukan karena ada apanya."
Alysa terkekeh mendengar gombalan yang sering kali Arzan tujukan padanya setelah mereka menikah. Memang sejak dulu Alysa selalu memakai bedak tabur dan sedikit lipglos jika kemana saja. Tanpa memakai make up yang baru saja ia kenakan semenjak Alysa telah bekerja di Jakarta beberapa tahun silam.
"Mas ... nggak berniat gombal ke aku, kan?" ucap Alysa.
"Pakai yang seperti biasanya. Bedak dan lipglos, oke ... istrinya Arzan yang cantik? Kita udah telat beberapa menit loh, jemput Mbak Mika."
Alysa mengangguk paham dan menerima permintaan suaminya. "Tunggu sebentar, ya? Nggak sampai sepuluh menit, kok. Janji."
"Aku tunggu kamu, kalau sampai sepuluh menit lebih dandannya. Aku tinggal, loh. Kamu kebiasaannya gitu, bilang nggak sampai lima menit aja, bisa sampai lima belas menitan," Arzan bergerutu.
"Janji, sayang. Aku makai jaket, kaos kaki, bedak tipis-tipis, sama lipglos. Sesuai permintaan suamiku, kok. Ya?" Alysa sengaja mencolek hidung mancung Arzan dengan jahil dan lalu segera beralih ke lemari pakaian. Sementara Arzan hanya menghela napasnya seraya tersenyum menatap istrinya. Arzan memilih beranjak keluar kamar dan menunggu Alysa di luar kamar.
***
Arista baru saja selesai menghadiri jam perkuliahannya. Lalu ia langsung beralih ke ruang akademik saat ingin tahu siapa yang menjadi dosen pembimbing tesis yang akan ia kerjakan sebentar lagi.
"The supervisor is a lecturer who has recently taught on this campus. His name is Mr. Hyun," ujar salah satu akademik yang sering dipanggil bu Naura yang berhadapan dengan Arista.
"Mr. Hyun? Who is he? Instead yesterday i ask professor kim jaeng to be a supervisor to me. but now? why even be replaced?" Arista memprotes mengapa bu Naura seenaknya saja membatalkan profesor Kim Jaeng untuk jadi pembimbingnya. Siapa Hyun saja, Arista tidak kenal.
"Sorry, this can not be replaced again. professor kim jaeng ask one of the become a student mentor to be replaced on Mr. Hyun. anyways not a problem with Mr. Hyun, he's smart, and he can also guide your thesis well." Arista terdiam saat bu Naura tetap bersikeras dengan keputusannya yang tak bisa lagi Arista protes.
"Annyeong haseyo, Mrs. Naura. sorry to bother your time. this, i want to restore the data of a student thesis guidance i pleaded yesterday," ujar seorang pemuda yang berada di belakang Arista. Pemuda itu memberikan berkas file pada bu Naura.
"Gomawo, Mr. Hyun," balas bu Naura dengan senyuman ramah.
Arista tentu saja mengernyitkan kening saat bu Naura memanggilnya dengan Mr. Hyun. Apa Bapak-Bapak di belakangku ini yang akan jadi pembimbingku? Namanya Mr. Hyun. Spontan Arista melirik ke arah belakangnya.
"Hah?" Arista semakin ingin menahan napas sebalnya saat tatapannya bertemu dengan pemuda menyebalkan yang ia kenal.
Hyun Ki? Tadi ketemu di koridor aja, profesor memanggilnya Hyun Ki. Dia jadi pengajar baru di sini. Tapi dia yang akan jadi pembimbingku? Arista membatin saat ia mengalihkan pandangannya lagi ke semula.
"Arista, this is Mr. Hyun. Mr. Hyun will be the supervisor of your thesis later," ujar bu Naura pada Arista yang tampak frustasi setelah melihat laki-laki itu lagi.
Sementara Hyun Ki hanya menatap Arista sekilas. Ia menyunggingkan senyumnya saat Arista telah duduk membelakanginya kembali. "Hi, glad to meet miss Arista back. Mrs. Naura, her name Arista? Welcome to become one of the students of my guidance. yes already, I'll leave her to you." Hyun beranjak pergi.
Mampus! Ini benar-benar mimpi buruk! Lagi-lagi Arista bergerutu dalam hatinya.
***