Bandara Icheon Seoul..
"Hai, assalamualaikum, Arzan, Alysa?" Mika menyambut Arzan dan Alysa yang telah menjemputnya di bagian kedatangan penumpang di bandara.
"Waalaikumsalam," Arzan dan Alysa sama-sama membalasnya.
"Kalian apa kabar? Loh, kok cuma berdua? Aiza mana?" Mika bertanya saat ia melihat pasangan suami istri di depannya itu tanpa membawa putri mereka.
"Aiza lagi main sama Bi Mina, ART di rumah kami. Loh, ini ... Az-rel, ya?" Pandangan Alysa beralih pada anak laki-laki yang kira-kira berumur enam tahun.
"Azril ini, loh. Salah huruf i-nya, Al. Eh, Azril, ayo salaman sama Tante Alysa dan Om Arzan, dong?" Mika menyuruh putra kecilnya yang berdiri di sampingnya itu menyalami punggung tangan Alysa dan Arzan.
"Assalamualaikum. Tante, Om, saya Azjil," sapa Azril setelah menyalami mereka berdua. Meskipun Azril berumur enam tahun, ia belum mahir mengucapkan huruf 'R' dengan sempurna.
"Waalaikumsalam, Azril ... lucu banget, sih." Alysa seraya mencubit pipi Azril dengan gemas.
"Azril, Om tanya, sekarang Azril sudah kelas berapa?" Kali ini Arzan menimpali.
"Kelas 1 SD, Om," Azril menjawab.
"Pintar banget, sih. Mbak Mika cuma sama Azril aja ke sini?" Alysa mengalihkan pandangnya pada Mika kembali.
"Sama Om dan Tante, Al. Tuh, mereka di belakang." Mika menunjuk ke arah Ahmad dan Liana yang tampak berjalan berdua menuju mereka.
Spontan Arzan terkesiap saat menatap kedua orangtuanya yang datang tiba-tiba tanpa memberi kabar sebelumnya padanya. "Papa? Mama? Mbak Mika nggak bilang kalau Papa sama Mamanya Arzan bakal ikut juga?"
"Biar suprised aja!" ujar Mika dengan tawanya menggoda adik laki-lakinya itu.
"Assalamualaikum. Ya Allah ... Arzan, Alysa? Ya ampun ... Mama kangen sama kalian." Liana lekas memeluk putra tunggal dan menantu kesayangannya itu.
"Waalaikumsalam, Ma, Pa. Arzan sama Alysa juga kangen sama kalian. Alhamdulillah, akhirnya Mama sama Papa datang ke sini," kata Arzan. Ia sangat bahagia menyambut kedatangan orangtuanya.
"Menantu kesayangannya Mama, Alysa, kamu tambah cantik aja. Pasti bahagia banget sama Arzan, ya? Makasih ya, Nak? Kamu udah bisa jadi istri yang baik buat anak Mama. Kamu juga bisa selalu ada untuk Arzan. Memang kalian berdua tuh, cocok," ujar Liana yang lagi-lagi memuji Alysa.
"Makasih, Ma," ucap Alysa dengan senyumnya yang mengembang.
"Ya jelas. Alysa bahagia sama Arzan. Arzan udah ganteng, udah saleh, baik, setia, selalu jagain Alysa. Dan terutama, karena Arzan anak tunggal Ahmad. Hehe ... oh iya, mana Aiza? Papa udah kangen sama cucu, Zan," kata Ahmad.
"Aiza lagi di rumah, sama Bi Mina, Pa. Kalau kangen sama Aiza, mending langsung ke rumah Arzan. Yuk, Pa, Ma, Mbak?" Arzan menarik langkahnya kembali mengajak mereka menuju ke arah mobil.
"Zan, biasanya sebutan Kakek dalam bahasa Korea apa? Jangan-jangan Aiza udah kamu biasakan berbahasa Korea," ucap Ahmad lagi.
Arzan terkekeh menatap papanya. "Papa ada-ada aja. Aiza masih kecil, Pa. Ngomong Umi sama Abi aja belum bisa. Apalagi disuruh ngomong bahasa Korea. Sebutan Kakek di sini itu hal-aboeji."
"Haha ... susah juga ya? Langsung panggil Opa aja deh, kalo gitu," jawab Ahmad sembari merangkul pundak Arzan.
"Yee ... kalo panggilan opa di sini beda lagi artinya, Pa. Papa kalau dipanggil Opa, berasa jadi oppa-oppa korea, loh. Itu cocoknya panggilan untuk anak-anak muda laki-laki di sini," timpal Arzan dengan tawanya.
"Kamu nih, ada-ada saja. Papa masih merasa muda, kali," tawa Ahmad.
***
"Ih ... nyebelin banget sih! Bisa-bisanya aku dapat dosen pembimbing macam si cowok nyebelin itu. Hah? Yang katanya sok-sok ngaku dirinya kegantenganlah, mirip oppa-oppa Korea. Ngaca dong! Mirip dan ganteng dari hongkong?! Argh ... nyebelin!" Arista bergerutu sebal ketika ia telah menghentikan langkahnya di sisi koridor dekat taman fakultas.
Pandangan Arista tertuju pada salah satu kafe yang berada di sekitaran taman kampus. Arista menghela napasnya sejenak saat mendapatkan Nadya sedang sendiri berada di salah satu bangku kafe di sana. Lekas Arista menarik langkahnya menuju kafe kampus yang berada di tepi taman itu.
Brakk!
Nadya hanya menatap Arista heran. Sepertinya, Adik iparnya sedang ada masalah dan tidak mood saat ini.
"Kenapa, Ris? Datang-datang nggak ngucapin salam dulu. Malah naruh buku sembarangan. Kaget tahu," kata Nadya.
"Bete! Ya bete banget, hari ini adalah hari paling ngeselin banget buat aku. Huh!" Arista bergerutu sembari ia mulai mendaratkan duduknya di depan Nadya.
"Mau minum dulu? Aku pesenin ya?" Nadya mencoba menawarkan minuman pada adik iparnya itu. Siapa tahu dengan Arista menyeruput sedikit minuman, hati Arista menjadi lumayan tenang.
Arista menggangguk, "Milk Tea aja, deh."
"Bentar, ya? Aku pesenin dulu." Nadya lalu beranjak dari hadapan Arista dan menuju ke arah meja pesanan pelanggan.
Arista sejenak mengitari pandangannya ke arah sekitar taman kampus. Ia pun juga sengaja memegang puncak kerudungnya. Tampak di koridor yang arahnya dekat sekali dengan kafe yang sedang ia kunjungi, ia melihat seorang pemuda yang tentu saja ia kenal.
Laki-laki itu ialah Dery. Tampak saja Dery yang sedang sengaja tersenyum saat Arista tak sengaja menatap ke arahnya. Arista tentu mengernyit heran melihat Dery yang sedang berjalan ingin menuju ke arahnya.
"Assalamualaikum. Nona Arista?" aapa Dery, kini ia telah berdiri di samping Arista.
"Waalaikum," Arista menjawabnya, tentu saja ia tidak berniat sama sekali ikut menghadap ke arah Dery.
"Loh? Kok jawabnya singkat banget? Bukannya harusnya waalaikumsalam, ya?" Dery memberi protes heran.
Arista menolehkan wajahnya pada Dery yang tampak menunggu jawabannya kembali. "Maaf, itu udah aturan dalam Islam. Kalau bagi orang muslim menjawab salam dari non muslim."
"Oh, ribet banget kayaknya, ya agamamu itu, Ris. Banyak banget aturannya. Tapi kamu malah enjoy aja ngejalani aturannya. Good banget tahu!" kata Dery yang sengaja menunjukkan mengangkat jempolnya pada Arista.
"Seribet-ribetnya agama Islam, tetap aja islam itu agama paling mulia. Ah, udah deh, ngejelasin ke kamu juga nggak akan ngerti. Mau ngapain ke sini?"
"Hah? Oh, mau ketemu kamulah. Masa iya, ketemu sama sahabatku paling cantik dan bawel ini nggak boleh?" Dery lagi-lagi berulah dengan senyumnya yang menggoda Arista kembali.
"Dery, sorry, nih ya? Bukannya aku nggak mau ngomong sama kamu. Aku lagi badmood. Jadi, biarin aku sendiri. Ok?" pinta Arista yang memperlihatkan wajahnya yang cukup murung.
Sementara Dery tak mempedulikan permintaan Arista. Ia tetap berdiri di samping Arista. Lalu datanglah Nadya yang sedang membawakan ice milk tea untuk Arista.
"Nih, ice milk tea untuk Adik iparku yang cantik. Ini gratis, aku yang bayarin. Jangan lupa, habisin. Biar nggak stres lagi," kata Nadya yang meletakkan segelas ice milk tea di atas meja di depan Arista.
Dery tampak berdecak saat kedatangan Nadya yang telah duduk tepat di depan Arista. Seraya Dery berkacak pinggang menatap Nadya dan Arista. "Katanya pengin sendiri. Tapi nyatanya malah berduaan sama Kakak ipar."
"Der—"
"Kamu yang namanya Dery? Yang ngakunya jadi sahabatnya Arista? Nggak tahunya cuma mau modusin Arista atau ganggu Arista? Maaf, ya? Aristanya nggak bisa diganggu dulu sekarang. Karena di sini, ada aku yang lagi sama dia." Nadya tiba-tiba memotong perkataan Arista pada Dery.
"Huh! Ya udah, aku mau bilang aja. Kata Pak Hyun Ki, dospem kamu yang sama denganku juga, beliau minta kita bimbingan mulai besok. Waktunya itu terserah, asal jangan sampai lewat jam ba'da duhur, katanya gitu. Dan besok, kalau mau bimbingan, beliau minta anak bimbingannya, udah menyiapkan beberapa paper untuk bahan judul tesis," Dery langsung berkata tentang alasan ia menemui Arista.
"Kok, aku nggak tahu, kalau dospem tesis kita sama?" Arista bertanya seraya melirik heran.
"Kayaknya aku aja selalu mau tahu tentangmu, Ris. Tapi mana pernah kamu mau tahu tentangku? Nggak pernah, kan? Aku aja, yang mau ngobrol sama kamu, alasanmu macam-macam. Kamu itu selalu punya batasan, nggak kayak dulu. Kamu yang bersikap ramah, apalagi waktu kamu menganggapku sebagai teman barumu. Aku senang banget bisa temenan sama kamu. Tapi, kayaknya kamu nggak pernah senang temenan sama aku. Apa karena kita hanya beda agama? Kamu Islam, dan aku Katolik. Sorry, Ris, aku harus ngomong gini. Kalau kamu nggak pernah nyaman berteman denganku, jujur aja. Jadi aku nggak perlu susah-susah, kayak orang t***l yang selalu ngejar kamu. Bahkan sekarang, kamu aja baru tahu kalau dospem kita sama. Kemana aja kemarin? Hmm ..."
Arista justru melirik Dery dengan mengernyitkan dahinya heran. Ia tak menyangka saja jika Dery spontan berucap seperti itu padanya. Ini bukan karena Dery jadi laki-laki yang terlalu gampang bawa perasaan. Hingga Dery merasa jika Arista tak menyukainya.
"Dery ... kamu ngomong apa, sih? Aku bukannya nggak suka temenan sama kamu. Bukan, Der! Tapi kamu harus tahu, dong. Kalau aku ini lagi badmood. Aku, aku hanya ingin ngobrol berdua sama Nadya. Itu aja. Jangan terlalu bawa perasaan, Der," kata Arista.
"Aku pergi, Ris. Sorry, kalau aku ganggu waktu kalian. Aku cuma mau kasi tahu itu aja." Dery langsung saja menarik langkahnya pergi dari hadapan Arista dan Nadya yang hanya menatapnya dari belakang.
"Loh, kok malah pergi? Aku memangnya salah ngomong ya, Nad?" ujar Arista.
"Nggak, kok. Apa mungkin dia terlalu bawa perasaan sama omonganku tadi, Ris? Aku pikir—dia mau gangguin kamu mulu. Bukannya kamu selalu beradu mulut dengan Rafka itu selalu tentang kedekatanmu dengan Dery?" kata Nadya yang memberikan opininya.
"Kami itu hanya teman, Nad. Nggak seharusnya juga aku selalu ngejauhin dia. Malah dianya yang merasa aku tuh temenan, cuma ngebanding-bandingin agama. Duh, tambah badmood kalau gini," Arista bergerutu cemas.
"Ris, minum dulu, gih. Sorry, ya? Aku nggak tahu," kata Nadya. Ia pun menyeruput teh hangatnya sebentar.
***
Bruk!
Dery tampak mendaratkan duduknya dengan cepat di atas sofa ruang tamu rumahnya. Ia lalu berdecak kesal setelah kejadian ngambeknya pada Arista di kampus tadi.
Alana yang juga berperan sebagai kakak sepupunya di keluarganya itu tampak heran menatap adik sepupunya yang sedang menekuk wajahnya.
"Badmood, ya? Kenapa, sih?" Alana bertanya dan seraya mendekat pada Dery.
Alana dan Dery memanglah berbeda agama. Meskipun mereka menjadi saudara sepupu di keluarga besar mereka. Orangtua Dery yang beragama Katolik yang bersaudara kandung dengan papa Alana ialah mama dari Dery. Sejak mamanya Alana menikah, ia ikut pindah ke agama Islam bersama suaminya, papa Alana. Namun meskipun keluarga besar mereka tak beragama sama, hubungan kerabat mereka tetap melekat.
"Tahu! Salah nggak sih, Kak? Kalau aku suka sama sahabat sendiri? Ya—meskipun aku tahu, kalau dia itu beda denganku. Dia Islam, sedangkan Dery Katolik. Tapi dia selalu aja jaga jarak denganku. Apa karena aku beda agama dengannya? Sampai dia nggak suka dekat denganku?" Kali ini Dery membuka sesi curhatannya pada Alana.
Dery sangat nyaman jika ia selalu membuka ceritanya pada kakak laki-laki sepupunya itu. Dery sudah menganggap Alana sebagai kakak kandungnya sendiri, begitupun Alana. Yang ia juga sering saja menemui adik sepupunya itu di rumah pamannya. Dery memang anak tunggal dari pak Lee Yoon yang juga seorang dokter senior di rumah sakit di Seoul. Pak Lee Yoon juga sangat mengenal akrab Rafka, kakaknya Arista yang juga bekerja di rumah sakit yang sama.
"Ini kalau aku boleh ngomong jujur nih, ya, Dek. Bukannya aku mau belain siapa. Mungkin kamu salah paham. Dia bukannya nggak mau berteman sama kamu. Dia jaga jarak, mungkin hanya mau mengikuti aturan agamanya. Dalam Islam, memang dilarang dekatnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Kecuali, ada alasan syar’i. Baru deh, diperbolehkan," Alana mencoba membalas.
"Terus, intinya aku nggak boleh nih, temenan sama perempuan yang beragama Islam? Nah, maksud Kak Alana yang kecuali ada alasan syar’i itu gimana?"
"Kamu boleh temenan sama dia. Boleh, nggak ada yang ngelarang, kok. Tapi, harus paham juga batasannya. Nggak boleh terlalu over deketin dianya, Dek. Ya—dia juga mikirnya pasti kesusahan, waktu selalu dideketin sama cowok yang bukan mahramnya. Dan alasan syar’i itu, banyak macamnya. Di antara penjual dan pembeli, dalam dunia kesehatan, nggak mungkin kalau perempuan tidak bertemu dengan laki-laki, kan? Kalau misalnya, urusan pertemanan syar’i seperti adanya kerja kelompok yang sangat tidak mungkin bisa ditinggal, terus bertemunya di dalam kelas yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, gitu."
"Hh ... berarti aku cuma boleh ketemu sama Arista, kalau kami ada kerja kelompok dan di dalam kelas, doang? Yaelah, ribet banget, sih!" Dery menggerutu lagi.
"Der, seribetnya aturan agama Islam, itu demi kebaikan umatnya juga. Menurut Kakak, aturan Islam itu, ada benarnya juga," ucap Alana.
"Dery sayang sama Arista, Kak. Dery nggak cuma ingin jadi teman atau sahabatnya aja. Tapi sayangnya Dery dan dia itu beda. Apa Dery harus pindah agama aja? Biar Arista mau sama Dery?"
Spontan Alana menengok dengan alis terangkat sebelah. Ia heran dengan adik sepupunya yang memiliki pikiran sejauh itu. "Dek, pindah agama itu, bukan hal yang main-main. Jangan ngasal kalau ngambil keputusan. Pindah agama cuma gara-gara cinta doang? Buat apa? Toh, kalau dianya udah nggak ada perasaan lagi sama kamu, terus kamu malah mau pindah agama asalmu kembali? Itu namanya, sama aja permainkan agama," Alana mengucap tegas saat adiknya menyimak perkataannya.
"Ya, tapi kan—"
"Dery ... jangan pernah mempermainkan agama hanya karena perasaan cinta di hati kamu. Kamu boleh pindah agama Islam, asal bukan karena berniat mengikuti nafsu cinta yang sedang kamu rasakan sekarang. Ya udah, Kakak pergi dulu, ya? Nggak enak sama Alika, ponakanmu itu selalu aja rewel kalau Kakak tinggal sama Mama di rumah." Alana beranjak dari sofanya. Ia berniat ingin segera bertemu dengan anak perempuannya yang masih balita.
Sejak istri Alana meninggal setelah Alika dilahirkan, Alana tidak pernah berniat mencari pengganti almarhumah istrinya. Usia Alika yang masih lima tahun, membuat Alana semakin menyita waktu kegiatannya selain ia bekerja.
Dery menghela napasnya, "Kakak nggak mau nikah lagi, sih. Makanya kesusahan jagain Alika, kan kasian sama Tante, Kak. Udah usianya makin tua gitu, masih aja Kakak suruh jaga Alika di rumah. Memangnya Kakak nggak merasa kesusahan?"
Alana terkekeh mendengar ungkapan Dery. "Apaan sih, Dek. Ya udah, deh, permisi dulu ya? Jangan galau lagi, ah!" Alana menarik langkahnya pergi dari Dery.
***
Cting!
Rafka terkesiap saat ponselnya berbunyi. Ia yang sedang berada di ruang kerjanya—lekas membuka notifikasi w******p ponselnya. Ia melihat pesan voice note masuk dari nomor Alysa.
[13.30] Kakak Ipar Alysa: "Raf, kalau kamu udah pulang kerja, jangan lupa, kamu sama Nadya main ke rumah, ya? Di sini kedatangan tamu dari Indonesia, loh. Dan Kak Alysa juga udah nyiapin masakan yang spesial buat kalian. Jangan lupa, datang. Kakak nggak sempat VC Nadya, soalnya takut mengganggu kuliahnya."
Rafka mengulas senyumnya setelah mendegar suara Alysa. "Ada-ada aja Kak Alysa. Lagian tamu dari Indonesia itu siapa? Bikin penasaran aja," ujarnya.
Sementara di rumah Alysa dan Arzan. Tampak Mika, Azril, Ahmad, dan Liana sedang berkumpul bersama di ruang tamu. Sedang Alysa, ia baru saja keluar menemui keluarganya kembali bersama suaminya. Kali ini Alysa sedang menggendong putri kecilnya, yaitu Aiza.
"Wah ... Aiza? Aiza, Pa. Lucu banget, sih, cucu Mama," ujar Liana yang lalu mengambil alih Aiza dari rangkulan Alysa.
Aiza masih tertawa gemas saat digendong oleh neneknya. "Masyaallah ... cucu Kakek, cantik juga, ya. Sama kayak Mamanya," kata Ahmad.
"Bunda, Azjil boleh kan, tidul sama Adek Aiza? Boleh ya, Bunda...?" Azril seolah memohon pada Mika karena ia senang bertemu dengan Aiza.
"Jawabannya Bunda serahkan sama Tante Alysa aja, ya, Sayang? Kasian kalau Dek Aiza tidurnya keganggu nanti, loh," kata Mika.
"Azjil janji, nggak akan gangguin Dedek Aiza, Bunda," ucap Azril lagi.
Mika tersenyum menatap putra kesayangannya itu. "Azril, boleh kok, mau tidur sama Dek Aiza, kan? Nanti tidur sama Dedek Aiza, juga sama Tante Alysa, ya?" Alysa lekas menjawab permintaan ponakannya.
"Yeee ... Azjil bisa tidul sama Dek Aiza .... Holee!" Azril tertawa senang dan lalu pelan-pelan mencium pipi Aiza yang masih berada di rangkulan Liana.
***