Tiga
Sssssstttttt Ssssssttttt Ssssttttt
Ada yang bergerak. Ada orang di belakangnya. Feelingnya meneriakan tanda bahaya .
Ivy menghentakkan ekornya dengan kuat dan cepat. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Berusaha menjauh dari tempatnya berada sebelumnya.
Setelah nyarasa sudah cukup jauh Ivy menoleh kebelakang. Tidak ada siapapun di belakangnya. Hanya rumput laut yang berdiri dan bergerak-gerak karena ombak-ombak kecil. Perasaan nya sedikit tidak tenang saat ini. Ada yang menggagu fikirannya entah apa itu.
Ssssttttt Ssssstttttt Sssttttt
Suara sesesorang berenang dengan cepat terdengar di belakangnya.
Siapa itu?
Apa ada orang lain selain Ivy disini? Batinnya tidak tenang.
Ivy menoleh kembali ke belakang. Otaknya meneriakan tanda bahaya namun masih samar-samar.
Sssssstttttttt
Suara itu terdengar lagi.
“Siapa di sana ...?” Mind Link Ivy kirimkan untuk orang berada disekitar areanya. Namun tidak ada balasan.
Ivy mengerakan ekornya perlahan-lahan. Bergerak mencari tahu ada siapa disana. mengerakan bola matanya waspada Ivy kesana kemari mencoba mencari tahu apa ada orang lain. Menyusuri setiap celah-celah batu karang juga rumput-rumput laut tinggi di sekitarnya.
Tubuhnya tersentak. Ada yang menyentuh ekornya. Dengan refleks ia menghentakan ekornya cepat untuk menjauh. Ivy menoleh kebelakang.
Mata Mermaid itu membelalak lebar sebuah bayangan bergerak cepat kearahnya. Terlihat seperti sedang mengejarnya. Mata merah itu bersinar terang membuat ketakutannya bertambah berkali-kali lipat di banding sebelumnya. Jantung terus memompa dengan cepat. Bayangan itu semakin dekat membuatnya panik setengah mati. Ivy semakin mempercepat laju ekornya.
Bayangan itu semakin dekat, juga semakin jelas.
Dia bukan mermaid...
Ivy dapat melihat sepasang sayap besar di punggungnya, apa dia Hybirds? Tapi apa mungkin? Hybirds tidak bisa bergerak selincah itu di dalam air.
Ivy menghentakkan ekornya lagi mempercepat laju renangnya. Bayangan hitam itu terus mengikutinya, mata merah itu menatap setiap pergerakannya dengan tajam. Tidak mebiarkan sedikit saja celah pergerakannya dilewatkannya.
Ia semakin dekat
semakin dekat......
……………………………………………
Damian tidak bisa menahan dirinya lagi. Wajah aroma itu tersimpan dalam pikirannya dengan sangat dalam dan melekat, membayangi Damian disetiap kegiatanya. Dia tidak tahan, tubuh itu, gadis itu adalah ratunya, Matenya. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia benar-benar tidak sabar.
Ah ya, dia hrus membawa gadis itu secepatnya, mengikat gadis itu denga kedua lengannya.
Miliknya.
Miliknya hanya untuknya.
Jadi Damian putuskan untuk mendatanginya malam itu dalam mimpinya.
Memberitahukan padanya bahwa dia sudah dimiliki oleh orang lain. Namun sepertinya dia belum mengerti. Gadis itu menutupi tanda darinya, menutupinya dengan rambut indah itu. Meskipun itu sia-sia rambutnya akan menyingkir dengan sendirinya ketika ia berenang.
Gadis bodoh.
Keputusan damian sudah bulat, ia akan menjemput sang mate secepatnya.
Dan nyarasa keberuntungan memihak pada sang Demon kali ini. Gadisnya pergi ke area hutan rumput laut di dekat parit Ograf. Daerah dengan keadaan yang cukup tamaram. Hanya sedikit cahaya yang bisa menembus sampai kesana. Dan dengan nekatnya ia berenang sendirian disana.
Damian segera bergerak kearah hutan dasar laut itu. Dia bisa bernafas didalam air,berkat kekuasaannya para mahluk Immortal dengan suka rela memberikan kelebihan-kelebihan mereka pada Sang Penguasa. Salah satunya bisa bernafas di dalam air, pergerakannya juga tidak kalah lincah dengan para Mermiad.
Damian mengikutinya, bermain-main sedikit dengan gadis cantiknya. Menakuti dengan suara-suara, membuat Mermaid cantiknya menjadi lebih waspada. Melihat ekspresi lucu itu membuat Damian ingin tertawa, pasangan hidup sang Demon begitu menggemaskan.
Memperhatikan wajah waspadanya. Dia begitu manis. Damian perlu bersyukur pada alam yang menjodohkannya dengan Mermaid. Para Mermaid memiliki paras yang begitu memikat. Kulit mereka memang sedikit pucat, namun tidak sepucat para vampir. Para Mermaid rutin berjemur agar kulit mereka tidak terlihat sangat pucat.
Dia menghentidakkan ekornya dengan kuat dan cepat. Damian terkekeh dalam hati melihat ketakutan yang terlihat jelas didepan sana. Mata pria itu bersinar dalam lautan tamaran. Damian tahu pasti hal itu akan semakin menakuti matenya. Tapi tidak apalah, sedikit menujukan sisi seramnya pada sang mate. Mata Damian menatap tajam setiap pergerakan sang korban. Semakin dekat ...
Semakin dekat....
Dan....
Greeepppp
Dia menangkap lengan gadis itu. Gadisnya memberontak sekuat mungkin mencoba melepaskan diri. Mengigit tangan si sosok hitam hingga berdarah namun tangan itu tetap mencengkram lengannya, bahkan semakin erat.
Ivynya ketakutan. Namun perlahan sosok hitam itu mulai menunjukan sosok aslinya, dia bukan seekor monster seperti apa yang ada dibenak Ivy sejak tadi. Sesosok pria, siapa pria ini? Dia bukan Hybirds. Matanya berbeda?
Ivy ingin berteriak. Tapi ini di dalam air. Jika Ivy nekat membuka mulut air akan langsung masuk. Dan itu mencegah suara Ivy keluar.
Pria itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga gadis itu, tubuh Ivy gemetar ketakutan, mencoba untuk lepas berkalil-kali namun terus saja gagal.
"You are mine,”ucapnya.
Setelah itu semuanya gelap, disisa-sisa kesadarannya masih berfungsi, Ivy merasankan tubuhnya dibawa naik keatas permukaan. Pria itu menggendongnya keluar dari laut. Kemudian tubuhnya diterpa angin.
Tunggu! dia membawa Ivy terbang? Kemana?