Ivy lupa, ia menatap kesal kearah vas berbentuk kerang dimeja tepat disebelah tempat tidurnya. Bunga berwarna biru disana sudah layu, sudah saatnya diganti.Dengan sedikit kesal ia menghentakkan ekor siripnya keluar. Mau bagaimana lagi. Ah, Ivy lupa mencari bunga mawar biru, kalian tahu, bunga mawar yang hanya tumbuh di istana Mermaid.
Sebenarnya tidak harus, tapi dari dulu saat Ibunya masih hidup, Ibu Ivy rajin mencari mawar biru untuk hiasan rumah. Jadi itu seperti kebiasaan, ini seperti kewajiban yang tidak wajib dilakukan. -_-
Ivy berenang menuju istana Ociana, disana biasanya banyak bunga mawar biru. Ivy masuk kedalam gelembung mantra dan, ekornya langsung berubah menjadi sepasang kaki. Bagian kakinya ditutupi oleh sirip-sirip yang menutupi seluruh tubuh bagian bawahnya .
Ivy memetik tiga tangkai bunga mawar biru. Bunga mawar biru tumbuh liar disana. Meski liar, bunga itu tetap memiliki banyak penggemar.
"Hey! Ivy!”panggil seseorang. Ivy menoleh, menatap seorang pria yang sudah cukup ia kenal.
"Ohh, hay Jo, apa kabar?”Tanya Ivy tersenyum, pria itu tanpak tidak berubah dari terakhir kali mereka bertemu.
"Lumayan, bagaimana denga mu?”balas Jo sambil tersenyum lebar.
"Ah aku juga baik. Hey aku dengar kau masuk rumah sakit darat, kenapa kau bisa di sini?”Tanya Ivy, berita mengenai Jo yang terluka didaratan menyebar cepat didaerah sekitar tempat tinggal Ivy, terutama karena Jo memang cukup terkenal.
"Oh, ya. Kemarin memang, tapi aku sudah diperbolehkan pulang, lukanya tidak parah,”jelas Jo, ia melirik luka dilengannya, menunjukan bekas jahitan yang tanpak cukup rapat dan baik-baik saja.
“Syukurlah kalau begitu.”ujar Ivy sambil tersenyum.
“Memetik mawar biru lagi eh?”tanyanya, mereka cukup sering bertemu sebenarnya, lebih-lebih ketika Ivy pergi memetik bunga mawar.
"Hm seperti yang kau lihat.”Ivy mengangguk anggukkan kepalanya, menunjukan bunga mawar yang ia petik melalui lirikkannya.
"Ah , maafsepertinya aku harus pergi, aku punya banyak urusan hari ini,”pamit Jo ketika ia tanpak mengingat sesuatu.
"Oh baiklah, dah,”ujar Ivy sambil melambaikan tangan.
"Dah,”balasnya.
Ivy berenang kembali kerumahnya. Menaruh bunga mawar biru itu pada cangkang kerang kosong di dekat tempat tidur. Membuang sisa mawar yang telah layu.
Sepertinya matahari mulai tinggi,waktu yang cocok untuk para Mermaid berjemur. Ivy berenang menuju permukaan. Menghentidakan ekornya santai.
"Ivy!” suara Tiara terdengar didalam kepalanya.
"Oh hy Ra, kau ingin berjemur?” Ivy membalas melalui mind link, mermaid tidak boleh bicara didalam air, itu akan merusak paru-paru mereka, sudah bukan rahasia kalau mermaid memiiki dua alat pernapasan utama, insang dan paru-paru.
Ia berenang mendekat dengan cepat, tersenyum.
Mereka menghentidakan ekornya berbarengan, menuju permukaan dengan santai, saling berputar-putar diair.Mermaid selalu anggun saat berenag.
Duduk santai diatas batu karang besar di atas permukaan laut.
"Ivy kau tahu?”wajah Tiara tanpak semangat sekali pagi ini.
"Hm tidak,”jawab Ivy pura-pura acuh, melirik dengan tidak peduli kearah Tiara.
"Ishhh dengarkan dulu!”ujarnya sambil merenggut kesal.
"Baiklah-baiklah, tentang apa?”Tanya Ivy, dia tidak ingin satu-satunya sahabat terbaik nan cerewet itu marah.
Wajah Tiara kembali cerah, matanya memancarkan kilauan semangat.
“Aku bertemu mateku!!”ujarnya penuh semangat. Ia bergerak menerjang Ivy dengan pelukan erat.
"HAHHHHH! Benarkah?”Ivy terkejut, tentu saja. Mereka sama-sama pulang dengan status masih sendiri kemarin sore. Dan hari ini dia mengatidakan bahwa gadis berekor orange itu sudah memiliki pasangan.
"Iya sungguh, namanya Herry dia seorang mermaid dari wilayah barat,”jawab Tiara sedikit malu-malu.
"AH SELAMAT YAAAA!”teriak Ivy. Bahagia? Tentu saja melihat sahabatnya bertemu dengan pasangan hidupnya. Apalagi yang diunggu oleh makhluk Immortal memangnya? Ketika mereka bertemu matenya kekosongan dalam jiwa mereka akan menghilang.
"Aku harap kau juga segera bertemu dengan matemu Ivy," ucapnya sambil tersenyum lebar. Usia mereka berdua tidak beda jauh, hanaya beberapa bulan saja. Mungkin karena itu juga mereka berdua sangat akrap.
"Aku juga berharap seperti itu.”Ivy membalas senyumannya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.
..........................................
"Mate mine.”suara itu membuat sang gadis tersentak.
Ivy memutar pandangannya. Dimana dia? Gelap....
Disini sanggat gelap ....
Ivy mencoba mengerakkan kedua tangannya. Namun seperti ada tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Apa ini? Ia melirik ekornya. Ini daratan? Ekornya berubah menjadi sepasang kaki.
Hingga kemudian tubuh Ivy menegang merasakan sepasang tangan kokoh memeluk pinggangnya.
"Ka-kau siapa?" Tanya Ivy pelan, tubuhnya bergetar takut. Tangan-tangan itu tanpak begitu kokoh dan kuat.
"Aku milikmu sayang,” balas sosok itu tepat di samping telinga Ivy,nafas panasnya menyetuh daun telinga gadis itu, memberikan sensasi merinding.
"Ya sayang rasakan itu.”sepertinya pria itu tau apa yang Ivy rasakan, ia tanpak tenang dan tidak terganggu dengan Ivy yang ketakutan setengah mati.Tubuh Ivy kembali menegang merasakan rasa panas pada daun telinganya.
"Ap-apa-apa yang kau lakukan?” Ivy ketakutan rasa panik menyerangnya dengan lebih parah. Merasakan bibir pria itu menghisap lehernya meninggalkan bekas memerah panas di sana, Ivy semakin takut. Apa dia akan dimakan?
"Siapa kau? Kumohon lepaskan aku,”mohon Ivy lirih, tubuhnya melemas, dia takut dan panik membuat gadis itu semakin sulit berpikir.
"Tenanglah sayang, jangan takut aku tidak akan melukaimu,”bisiknya dengan suara pelan, terdengar begitu lembut seperti tiupan angin. Namun bukannya tenang Ivy malah semakin ketakutan merasakan sensasi bibirnya di area telinga, tengkuk dan lehernya.
"Huhhh,rasa waktu kita bersenang-senang harus ditunda,”ucap sosok itu dengan nada kecewa, ia menghela nafas disamping kepala Ivy.
"Tapi tenanglah sayang, aku pasti akan melanjutkan kegiatan kita,”lanjutnya kemudian, seolah Ivy akan kecewa karena pria itu meninggalkannya.
Seperti disentakkan mata Ivy tiba-tiba terbuka. Ivy menoleh ke kiri dan ke kanan. Ini Di kamarnya...Benar-benar dikamarnya, buka ruangan gelap tempat ia terikat dengan sepasang kaki. Tubuh gadis itu bergidik ngeri.
Apa tadi ia bermimpi?
Mimpi itu terasa begitu nyata. Ivy menyetuh lehernya tunggu ada sedikit rasa kasar di sana.Ivy segera mengambil cermin kecil di samping tempat tidur. matanya membelalak lebar, mata gadis itu menangkap tanda merah terpampang jelas di lehernya.
Apa ini???
Ivy segera memindahkan seluruh rambutnya ke salah satu sisi lehernya untuk menutupi bekas memerah itu.Matahari mulai tenggelam Ivy segera naik ke atas permukaan. Ivy lupa Ia memiliki janji dengan Tiara.
Gadis itu lupa bila Tiara ingin memberi tahukan sesuatu. Semalam gadis itu me-mind linknya.
Ivy berenang cepat ke atas permukaan. Kemudian Ivy berenang masuk kedalam gua tempat biasa Ivy dan Tiara duduk bersama.
"Ivyyyyyy!”suara teriakan meleking sahabatnya menyabutnya tepat setelah wajahnya muncul dari dalam air. Tanpaknya sang sahabat sedang tidak sabaran.
"Ada apa Ara?” Tanya Ivy setelah memperbaiki letak rambutnya.
"Harry dia...dia...dia akan melamarku di depan orang tua ku Ivy!”serunya berteriak senang, senyuman dibibinya tanpak begitu lebar dan bersemangat, matanya memancarkan binar-binar bahagia.
"Benarkah?!”Tanya Ivy terkejut. Ivy segera duduk di batu lantai goa di sebelah Tiara. Membiarkan ekor keduanya tetap berada didalam air.
"Sungguh, aku tidak bohong, dia melamarku tepat didepan kedua orang tuaku semalam,"ujarnya semangat, matanya berbinar, ekornya mengibas-ngibaskan air dengan kegirangan.
"Aaaaa selamattttt!!”ujar Ivy tidak kalah bahagia, dia tertinggal jauh, sahabatnya sebentar lagi akan hidup bahagian dengan Matenya, sedangkan Ivy bahkan belum bertemu dengan siapapun matenya nanti.
"Sebentar Ivy.” Tiara menatap wajah Ivy dengan penuh Tanya. Ivy menyegit melihat Tiara menatapnya. Tiara menyingkirkan beberapa helai rambutnya. Menampkan leher beserta tanda merah aneh di sana.
“Ivy lehermu kenapa?”tanyanya penasaran, tanda itu aneh, seperti bekas gigitan, ubur-ubur? Atau kepiting?
"Ak-aku tidak tahu,”balasnya yang semakin membuat Tiara mengernyit bingung.
"Bagai mana bisa kau tidak tahu?”tanya lagi. Yang benar saja, tanda itu begitu kentara.
"Entahlah Tiara, begitu Ivy terbangun tanda ini sudah ada di lehernya.”balas Ivy apa adanya.