"Ini Pil KB yang kamu mau. Maaf, aku simpan di bawah tempat tidur semalam. Kamu bisa minum karena gak kotor kok. Karena kan kamu rajin membersihkan bawah tempat tidur," ucap Dave dengan senyuman yang seakan dipaksa namun air mata yang terlihat dari matanya itu terpampang dengan jelas. Bagaimana seorang pemimpin di sebuah perusahaan besar hanya bisa menatap sendu dan menahan perasaannya terhadap istri yang telah sah di mata agama dan di mata hukum. Dave memberi kelonggaran terhadap Gladys untuk mendekati siapapun. Dirinya akan menahan diri untuk tidak mengekang istrinya tersebut. Dan tidak akan memaksa mereka berhubungan intim ketika Dave menginginkannya.
"Makasih," lirik Gladys dengan tangan bergetar. Wanita itu sudah meminum pil KB yang biasa ia simpan juga untuk stok di dalam lemari. Gladys kemudian menyimpan pil tersebut di dalam laci lemari pakaiannya. Ia takkan menampakan dirinya meminum pil tersebut di depan suaminya itu. Ia akan berusaha menjaga perasaan suaminya di saat dia akan menata perasaannya juga.
Dave tidur menyamping dengan memunggungi Gladys. Wanita itu merasakan hatinya bergemuruh saat Dave tidak memeluknya erat seperti malam-malam sebelumnya. Dave memunggungi dirinya seakan-akan Gladys tidak ada disana. Gladys menggenggam erat selimut. Ada dua jam lagi untuk Dave pergi ke kantor nya. Memang biasanya pria itu akan tidur untuk sejenak karena akan disibukkan dengan segala file-file yang ada di kantor. Maka dari itu ia akan mengistirahatkan dirinya sejenak untuk menghadapi masalah-masalah yang akan ada di perusahaannya tersebut.
Biasanya dia akan memeluk Gladys agar dirinya bisa tidur dengan nyenyak walau hanya 2 jam saja. Tapi hari ini suasana sangat dingin bahkan kasur yang tadi malam terasa panas sekarang sudah dingin seakan penghuninya tidak ada di sana. Gladys benar-benar menahan isakannya hingga suara itu terdengar oleh Dave.
Dave membalikkan tubuhnya sehingga dirinya bisa melihat istrinya itu sudah menangis dengan tersedu-sedu. Dave kemudian memeluk Gladys dengan posisi keduanya tengah berbaring.
"Maafin aku ya, sayang. Aku marah sama kamu tadi,"
Gladys menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk setengah tubuh suaminya, "Seharusnya aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku buat kamu marah. Tapi aku mohon kamu mengerti bahwa posisi aku tuh bener-bener sulit. Mas, aku lagi berusaha. Berusaha seperti apa yang kamu mau. Seperti apa yang kamu inginkan dari aku. Memang beneran sesulit itu untuk mengubah semua rasa yang dulu pernah aku kasih sama Daniel dan beralih ke kamu. Tapi nggak pernah sekalipun Aku pengin banget untuk selingkuh dari kamu dan aku lari sama Daniel. Aku berharap kamu tetap pertahanin apa yang aku pikirkan untuk sekarang. Aku emang takut suatu saat aku berubah dan aku nggak pernah mau lihat kamu lagi. Maka dari itu aku mohon dukungan kamu. Bukan sekitar kamu marah-marah terus tanpa kamu tahu seberapa besar usahaku untuk mengubah rasa ini jadi cinta untuk kamu,"
Dave mengangguk lalu memeluk istrinya. Menggumamkan kata terimakasih yang teramat. Dia juga akan berusaha sabar dan mengerti di posisi mana istrinya sekarang. Istrinya juga mengalami hal-hal sulit yang nggak bisa diubah semudah itu. Dia harus sabar untuk menghadapi istrinya yang selalu saja uring-uringan yang misalnya.
Demi apapun, dia mencintai Gladys.
-/-
Dan seminggu pun berlalu dengan kegiatan mereka masing-masing. Gladys ya masih sibuk dengan segala tugas-tugas yang ada di kuliah skripsi yang akan dia jalani secara terus menerus. Juga, Dave jangan sering-sering keluar kota untuk menghadapi beberapa rapat yang akan mereka gunakan untuk menyepakati beberapa hal untuk kerja sama mereka.
Dan pagi ini Gladys udah duduk manis di bangku kuliahnya. Belum banyak yang datang sih, tapi mungkin di luar udah rame juga. Soalnya banyak yang mungkin masih pacaran, makan bareng gebetan, atau sibuk mondar-mandir untuk cari kesempatan traktir teman-teman yang mungkin baru aja menang balapan. Sedangkan Gladys tengah duduk di bangkunya sambil menyesapi kopi yang yang sudah ia pesan di warung tadi.
"Dys, tugas dari ibu Ingan udah lo selesain?" tanya arah yang baru saja duduk di bangku kelas.
"Ya Tuhannn, lu baru aja duduk dan langsung kasih Bu pertanyaannya bikin gue itu makin mumet tau nggak sih. Ini tugas dari bahasa aja gue belum selesai apalagi tugas Jadi ibu Ingan. Ini kepala kalau misalnya udah dibuka isinya kayaknya gosong semua kali ya. Sumpah! dari semalam gue itu nggak bisa ngerjain apapun tahu nggak sih!"
"Kenapaaaaa??? Suami lo marah lagi? Apaan sih suami lo itu, marah mulu dah!"
"Bukannya marah. Tapi ya begitulah. Gue kan istri yang harus dengerin kata-kata suaminya walaupun kami sering bertengkar. Gue merasakan bahwa diriku itu makin dewasa kalau berurusan sama dia padahal dia lebih tua daripada gue,"
"Ok, I know. But, seriously you have to really understand him and give an explanation of how hard you are to make changes. Ya, lo tau nggak sih gue tuh sebenernya greget banget sama suami lo itu. Tapi di satu posisi gue juga nggak bisa ngomong apa-apa karena- ya karena"
"What?"
"Suami lo itu baiknya nggak ada obat," ucap Ara yang membuat Gladys makin bingung dengan apa yang dia katakan.
" I can't understand. Can you explain to me,"
"Oh, damn. Are you kidding me? You don't know anything about your husband. "
"Nggakk, gue cuman aneh aja sama apa yang lo bilang tadi. Sebelumnya lu enggak suka sama dia. Tapi tiba-tiba gue bilang dia baik nggak ada obatnya. Lo kayak tau banget tentang suami gue,"
Oh, minta Kenapa gue di tiba-tiba ingin marah karena sifat sok tahu Ara tentang suaminya. Padahal kan mereka baru aja ketemu. Perkiraan mungkin mereka baru ketemu 4 kali atau- oh, Gladys lupa. Tapi, entah kenapa ada rasa yang mengganjal setiap Ara mengatakan tentang suaminya. Seakan akan Ara tahu segalanya tentang suaminya itu.
"Noooo, oh my Gosh. Gini, foto Aisyah enggak yang salah satu staf kantor di perusahaan suami lo itu. Kemaren waktu gue nggak sengaja lewatin rumah dia gue dengar banyak banget rentenir yang minta minta uang sama dia seakan akan keluarganya ini tuh bener-bener punya banyak hutang. Trus, nggak lama kemudian gue ngeliat mobil suami lo itu terparkir di depan rumahnya Aisyah. Trus dia kayak bawa koper yang pertama Gue nggak tahu sih isinya apaan. Eh, pas dibuka sama rentenir itu wah gila sih! isinya duit dong,"
Gladys langsung melotot games akan akan tidak percaya dengan perkataan yang dibawakan oleh sahabatnya itu. Soalnya kalau Dave ingin melakukan apapun pasti akan meminta pendapat juga dari Gladys. Tapi ini nggak ada sama sekali ngasih tahu dia apapun itu. Belakangan mereka memang masih biasa-biasa aja cuman rada agak canggung. Tapi, mau bagaimanapun juga kan dia istrinya. Kenapa nggak ada kasih tahu apapun tentang uang tersebut sama dia?
"Trus kira-kira lo tahu nggak uangnya itu berapa banyak. Menurut perkiraan lo aja sih berapa gitu," tanya gadis yang semakin kepo dengan informasi yang diberikan Ara.
"Aduhhhh, Gue nggak tahu pastinya berapa. But, itu banyak banget tapi gue juga merinding liat duit sampai sebanyak itu. Ya, gue tahu sih suami lo itu orang yang kaya banget. Perusahaan dia aja sampai bener-bener terkenal sampai bangettin kan? Sekelas sama Om Joe tuh. Tapi, gue masih heran aja kenapa dia bantu Aisyah? Ya gue tahu sih kalau Aisyah itu orang yang baik dan dia kerja juga di perusahaan suami lo. Tapi, dia bayarin utang utang keluarga Aisyah?"
Gladys tersenyum sebentar lalu menarik nafasnya pelan. Dia akan menanyakan pada Dave secara baik-baik nanti. Dia tak mau mereka bertengkar lagi hanya karena masalah atau kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Dia akan menanyakanmungkin untuk menebus hutang hutang Aisyah.
Aisyah, gadis yang sebenarnya tipe idaman banget oleh Dave. Dulu katanya mereka sempat satu sekolah namun Dave tidak mengenal Aisyah. Maksudnya, Aisyah itu tergolong manusia yang introvert. Maka dari itu Dave tidak mengenalinya. Bahkan waktu pertama kali Aisyah mengatakan bahwa Dave pernah menjadi kakak kelasnya, Dave kaget dan langsung merasa bahwa dirinya memang benar-benar tidak mengenal Aisyah. Tapi sekarang karena itu juga Aisyah bisa masuk ke perusahaan Dave. Namun strategi yang dilaksanakan oleh perusahaan. Atau bahkan Aisyah langsung ditantang dengan ujian yang begitu berat agar dia langsung naik posisi jabatan lebih tinggi daripada karyawan baru biasa.
Gladys baru sadar kalau suaminya itu terlalu baik dengan Aisyah. Maksudnya- puisi baik sama orang tapi kayaknya sama Aisyah terlalu baik banget tau enggak sih. Gladys heran dengan kebaikan yang diberikan Dave kepada Aisyah. Dia agak sedikit curiga kalau Dave udah kenal Aisyah tapi pura-pura nggak tau aja karena masih memahami posisi Gladys sebagai istrinya. Ya bisa aja mereka sebelum itu udah mantanan tapi pura-pura enggak tahu aja supaya menutupi semua hal itu dari Gladys.
Sial! Kenapa sekarang pemikiran Gladys penuh dengan Dave dan Aisyah. Oke, Gladys sedikit cemburu oleh Aisyah yang ternyata sudah sangat dekat dengan suaminya. Ya bagaimana bisa orang muda itu untuk memberikan uangnya secara cuma-cuma untuk membayar hutang dari orang yang Bahkan dia lupa sendiri bahwa pernah ada Aisyah di hidupnya sebelum dia menjabat sebagai seseorang yang penting di sebuah perusahaan. Beneran deh, pemikiran Gladys saat ini benar-benar bercabang banget. Daripada cemburu sepertinya gadis sedikit marah saat Aisyah lebih dekat dengan suaminya.
"Muka lo kok merah gitu sih,Dys? Eh, jangan bilang gak cemburu sama Aisyah?" selidik Ara dengan mata yang sedikit di picingkan pada Gladys.
"App-apaan sih! Nggak! Gue cuma mikir aja Kenapa suami gue itu deket banget sama Aisyah. Ya Dave bukan sama orang-orang yang bisa percaya sama seseorang gitu loh. Kayak, sekarang dia butuh usaha bener-bener usaha banget untuk percaya sama orang. Sedangkan waktu dia cerita sama gue, dibilang dia nggak kenal sama Aisyah. Kenalannya waktu gue nikah aja. Itu gue sebenarnya curiga sama Dave tau nggak sih. Kayak ada yang dia tutupin dari gue," ucap Gladys gagap dengan perasaan yang dia musnahkan.
"Are you kidding me?" tawa Ara lalu menepuk pelan bahu sahabatnya itu, "Dys, i know you so well. I mean, lo itu nggak terlalu suka kepo sama urusan orang. Ya walaupun Dave ini adalah suami lo. Tapi, belakangan ini kayaknya lo terlalu ada sesuatu sama Dave deh. Maksudnya dulu nggak sampai sekepo ini untuk tahu tentang Dave. Kayak Ya lo peduli nggak peduli sama urusan dia sekecil apapun itu kan? Tapi Kenapa hari ini lo banyak banget tanya? Oh My Gosh! You feel love him,"
"Noooo, I'm not! Maksudnya gue tuh. Aduhh gimana ya jelasinnya sama lo. Gue sebenarnya cuma ngejalanin peran sebagai seorang istri yang baik aja,"
"Heiiii," Ara menoyor pelan kepala Gladys seakan mengingatkan pada wanita itu apa yang terjadi pada dirinya, "Nada lo dari tadi tuh kayak ngegas. Fix ini sih cemburu namanya,"
"Cemburu sama siapa?"