Gladys bangun dari tidurnya, dia menolehkan kepalanya ke samping dan melihat suaminya sudah tertidur pulas dengan wajah di dekat leher Gladys dan tak lupa tangan yang bertengger tepat di perutnya. Gladys meringis pelan saat merasakan ngilu di bagian bawahnya. Dave dengan sifat mengerikannya saat melakukan hubungan seksual memang membuat dirinya kewalahan terkadang. Gladys tidak bisa semudah itu untuk mengimbangi perlakuan yang Dave berikan kepadanya. Dave benar-benar sangat ahli untuk membuat Gladys kehilangan akal sehatnya saat mereka melakukan hubungan tersebut. Gladys menatap suaminya dengan wajah yang sendu. Memikirkan banyak hal tentang hubungan dalam rumah tangga mereka. Walau dirinya belum mencintai Dave secara keseluruhan, namun dirinya tetap berusaha untuk membangun rasa itu agar kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja kedepannya. Gladys awalnya menginginkan sebuah perceraian dalam rumah tangga mereka. Namun lambat laun ada rasa nyaman yang menelusup di dalam hatinya ketika suaminya tersebut memberikan seluruh cintanya untuk ke Gladys. Rasanya ia menginginkan Dave tersenyum saat mereka mencapai sebuah mahligai rumah tangga yang benar-benar indah dengan segala keseluruhan cinta di dalamnya.
Pernikahan itu sebuah pondasi layaknya sebuah rumah. Dimana jika ada satu sisi rumah yang sudah hancur, maka pemilik rumah harus melakukan renovasi terhadap sisi rumah tersebut. Memikirkan cara agar rumah tersebut menjadi layak kembali. Menjadi bagus dengan sisi yang sudah lebih rapi dan terlihat lebih bagus. Sama hanya dengan sebuah pernikahan. Dimana dua orang yang harus memikirkan banyak hal di saat mereka mempunyai banyak masalah dalam rumah tangga yang mereka bina. Memikirkan bagaimana sebuah pernikahan tersebut harus tetap baik-baik saja walau ada pasang surut dalam rumah tangga yang mereka bina. Pasangan yang berada dalam suatu pernikahan harus memikirkan berbagai cara agar sebuah pernikahan tersebut tidak hancur layaknya sebuah rumah yang hanya satu sisinya hancur lalu membiarkannya begitu saja. Namun harus berpikir bagaimana caranya agar satu masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik dan mereka bisa melanjutkan kisah mereka dalam rumah tangga yang mereka bina. Bukan masing-masing karakter memiliki sifat keras kepala. Bukan perkara mudah juga untuk membiarkan diri mengalah dalam satu masalah dan memendamnya sendiri agar masalah tersebut dapat diselesaikan. Gladys paham bahwa pernikahan bukan suatu hal yang mudah untuk di biarkan berlarut dalam masalah masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Gladys bijaksana walau kelakuannya seperti anak-anak. Namun, Dave mempunyai sifat yang sangat baik dan mengerti juga memahami karakter Gladys yang cenderung membenci sesuatu yang benar-benar mengganggunya. Dave mencoba memahami bahwa Gladys belum siap untuk menjadi seorang ibu dan menjadi seorang istri yang sempurna. Dave tidak memaksa kehendak yang dilakukan oleh Gladys. Namun dirinya menyuruh istrinya untuk memikirkan banyak hal untuk keberlangsungan pernikahan mereka. Bukan dengan mendekati Daniel membuat dirinya bingung dengan perasaan yang dimiliki oleh istrinya tersebut.
Gladys beranjak dari tempat tidur dengan melepaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Menyingkirkan perlahan tangan Dave kemudian berjalan tertatih kearah kamar mandi. Benar benar kalau Dave memang selalu ganas jika di ranjang. Gladys merasakan bagian bawahnya benar-benar ngilu jika dia bawa berjalan. Tadi malam saja pemuda itu seperti tidak pernah lelah Padahal baru saja pulang bekerja. Layaknya tidak diberi jatah selama bertahun-tahun, pria itu menghabisinya lebih ganas daripada malam-malam sebelumnya. Apa benar bahwa s*x dengan rasa marah itu lebih mengeluarkan segala emosi yang membuncah dalam sebuah hubungan yang panas.
Gladys menutup wajahnya saat melihat banyak bekas di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar malu saat tadi malam dirinya bahkan tidak segan-segan untuk mengimbangi perlakuan suaminya itu. Entah kenapa belakangan dirinya merasakan keindahan dan kenikmatan yang benar-benar terjadi pada dirinya lebih nikmat daripada malam-malam sebelumnya. Bahkan rasa yang ia punya saat berhubungan dengan Dave tadi malam lebih terasa ringan yang terpancar rasa bahagia yang membuncah dengan perlakuan yang mereka lakukan tadi malam.
"Pil KB gue mana ya?" tanya Gladys dengan membuka kotak kotak yang berada di cermin kamar mandi. Biasanya dirinya tak akan kan lupa untuk meletakkan obat tersebut di lemari kaca kamar mandi.
"Mas!" panggil Gladys dengan suara yang kuat dan membuat Dave bangun seketika. Matanya menatap tubuh istrinya yang masih polos dan hanya tertutup oleh sehelai handuk. Dave menarik nafas panjang dia mencoba untuk menarik istrinya tersebut ke dalam pelukannya. Namun Gladys langsung menghindar dari tangan tersebut.
"Dimana kamu letakkan pil KB aku?" tanya Gladys dengan suara yang tegas dan sarat akan kemarahan.
Dave yang mendengarnya langsung memasang wajah datar kemudian mendecih sarkas, "Gak bisa kamu nampung spermaku biar berkembang dalam rahim kamu itu? Apa semenjijikkannya kamu mengandung anak aku sampai kamu harus banget ketergantungan dengan obat sialan itu?"
Gladys menatap jengah Dave lalu menunjuk perutnya, "Ini, aku bakalan siap menampung anak itu jika memang waktunya tiba dan disaat aku juga menginginkannya. Tapi sekarang banyak hal yang harus aku kerjakan dan aku impikan. Kamu kasih aku anak tapi disatu sisi lain aku belum bisa menerimanya. Aku masih butuh waktu untuk mempunyai seorang anak. Bukan karena aku mau sesuka diri aku ataupun nggak mau hamil dari kamu. Mental aku belum sekuat itu untuk menerima seorang anak dalam hidup aku. Aku masih muda dan masih menginginkan kehidupan yang bebas. Jadi Aku harap kamu paham kenapa aku nggak mau punya anak terlebih dahulu untuk sekarang. Toh nanti kita bakal punya anak tapi kan nggak harus cepat-cepat juga,"
"Jadi begitu maksud kamu? Maunya kamu pacaran dengan Daniel dan melupakan aku?"
"Nggak gitu! Maksud ak-"
"Muak aku sama kamu. Bisa enggak kamu melupakan orang yang udah mau menghancurkan hubungan rumah tangga kita. Dys, aku ini suami kamu. Seharusnya orang yang harus Kamu turuti itu aku karena aku surga kamu. Tapi kenapa kamu harus ngelakuin hal ini untuk aku? Bebas? Kamu mau apa dengan kebebasan yang kamu inginkan itu? Kebebasan seperti apa yang kamu inginkan? Dengan menjalin hubungan dengan pria pria lain dan setelah puas baru kamu mau hamil anak aku? Mikir nggak sih Kamu setiap kamu minum obat sialan itu setelah kita berhubungan intim? Aku sakit hati tau nggak sih, Dys. Seakan akan kamu itu nggak mau menerima aku sebagai suami kamu secara utuh bahkan nggak mau menerima anak yang bakalan kamu kandung dengan darah dagingku. Apa kamu paham seberapa sakitnya hatiku saat kamu melakukan itu di depan mataku sekalipun. Tega kamu melakukan itu untuk aku disaat kamu udah menjadi istri aku secara sah baik itu dalam agama maupun dalam hukum. Tapi emang dasarnya kamu suka sekali dengan Daniel jadi nggak menghiraukan perasaan aku ya nggak sih?"
Gladys menarik nafasnya dalam-dalam dan mencampakkan segala apapun yang ada di depannya. Dirinya bener-bener marah di saat dia tengah berusaha setengah mati untuk menghadirkan rasa cinta itu dalam rumah tangga yang mereka jalani sekarang. Kenapa setiap kali mereka bertengkar namun Daniel selalu hadir dalam kehidupan mereka, permasalahan mereka. Padahal Gladys juga sudah melakukan segala cara untuk menjauhkan Daniel dari dirinya. Memang dirinya salah tidak memberi tahu bahwa dia sudah menikah. Tapi apa harus dia yang menerima segera kecaman yang diberikan oleh suaminya tersebut kepada dirinya? Dia juga punya hati untuk merasakan rasa sakit yang diberikan suaminya tersebut pada dirinya. Bukan semudah itu untuk merasakan jatuh cinta. Bukan semudah itu untuk membangun sebuah perasaan. Apalagi dengan awal peristiwa yang nggak bagus sama sekali. Gladys belum sanggup untuk menerima segala rasa itu namun dia sedang memperjuangkan rasa tersebut.
"Capek aku sama kamu! Kelakuan kamu, ucapan kamu, semua gak berdasar!"
"Apanya yang gak berdasar? Emang bener kan? Setiap malam kirim pesan sama Daniel. Mengatakan banyak hal sama dia. Fast respon saat menerima pesan. Tapi pesanku? Kamu liat aja gak minat,"
"Tau darimana kamu aku kayak gitu? Kamu gak tau apa apa tapi banyakkan menuduh yang nggak-nggak Dave! Selalu begitu kan?"
"Kamu yang memang kayak begitu kan? Dys, aku capek kalau kamu deketin dia terus! Kamu paham gak sih-"
"KAMU JUGA PAHAM POSISI AKU GAK SIH DAVE?! AKU TERPAKSA NIKAH SAMA KAMU!!!!!!"
Teriakan itu membuat Dave merasakan hatinya benar-benar meringis dilambangkan oleh istrinya seakan-akan adalah suatu hal yang sudah lama ia pendam dan sekarang baru dia keluarkan disaat emosinya sudah benar-benar memuncak. Dave tersenyum lalu menyuruh Gladys memakai bajunya.
"Kamu pakai baju dulu ya. Sholat dan istighfar. Allah bersama kamu dan kamu minta tolong sama Allah supaya di berkahi apapun yang kamu pikirkan dan kamu jalani sekarang," Dave membuka selimutnya dan memakai celana pendek yang sudah terkapar di lantai dengan mengenaskan, "Mas mau mandi dulu. Mau subuhan. Kamu udah mandi junub?"
Gladys menggeleng dengan ujung hidung yang memerah.
Dave tersenyum lalu mengecup kening istrinya, "Mas mandi dulu ya. Habis itu kamu. Biar bisa jamaah sama sama subuhnya," ucap Dave lalu melipir ke kamar mandi.
Gladys menahan isakannya dengan menggenggam erat handuknya. Tubuhnya lantas terjatuh karena lemas. Dia salah mengatakan itu pada suami yang bahkan selalu menjaganya dan sabar terhadapnya.
"Cinta, kenapa kamu gak hadir walau dia udah sesempurna itu di matamu," lirih Gladys dengan patah hati yang teramat sakit di rasakannya.
Sedangkan di dalam kamar mandi Dave melihat dirinya yang kacau. Tertawa. Menertawai dirinya yang bahkan sampai usia pernikahan memasuki empat tahun, belum bisa membuat sang istri jatuh cinta padanya. Menerimanya dengan baik. Mencintai dirinya dengan tulus. Dan mau membangun rumah tangga yang indah dan penuh dengan kebahagiaan bersama anak-anak mereka kelak. Dave merasa gagal sebagai suami yang hanya bisa marah dan diam kala istrinya menangis atas pernikahan yang mereka jalin.
"Salah aku kayaknya ya, Dys. Salah aku yang gak bisa buat kamu melihat betapa ketulusannya hati aku untuk kamu. Salah aku juga ya nggak bisa membimbing kamu untuk mencintai aku secara tulus dan berlapang hati. Aku gagal jadi suami yang bisa kamu banggakan dan kamu idam-idamkan selama ini. Aku nggak bisa menjadi suami yang bisa kamu cintai dan yang kamu tunggu setiap harinya. Kamu hanya menjalankan tugas sebagai seorang istri namun hati kamu bukan tepat untuk aku. Aku hanya mau kamu yang menjadi bidadari Surgaku, Dys. Aku gak mau yang lain dan hanya kamu. Tapi Kenapa susah itu kamu untuk membuka hati kamu buat aku? Apa aku belum bisa menjadi imam yang baik buat kamu makanya kamu nggak bisa cinta sama aku?"
Tangisan itu tak dapat dicegah. Air mata itu keluar dengan perasaan hati yang sakit. Dave merasakan bahwa hatinya benar-benar hanya tertuju pada seorang gadis muda yang dulu ia temui. Gadis muda yang sekarang menjadi seorang istri yang sangat ia cintai. Namun, ternyata dia tahu bahwa cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Apalagi cinta sepihak yang hanya dia sendiri yang merasakannya. Harus dua pasangan yang merasakan perasaan itu. Bukan hanya dirinya saja yang berjuang.
Dave ingin menyerah namun di satu posisi dia tidak bisa melepaskan Gladys begitu mudah karena cinta yang ia rasakan teramat besar untuk istrinya. Dia bahkan menginginkan istrinya tersebut yang mengubah hati dan pikirannya hanya untuk Dave.
Dan hanya nama Dave