Warning 21+
"Saya akan melunasi hutang hutang kamu,"
Ucapan itu membuat Aisyah langsung mendengarkan kepalanya menghadap bos besarnya tersebut. Matanya berkaca-kaca melihat wajah busnya yang sangat tampan juga ramah tersebut. Dia bahkan sudah mengagumi bosnya tersebut bertahun-tahun lamanya semenjak ia pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan besar ini. Dave tidak pernah mengatakan hal-hal kasar kepada seluruh stafnya. Dave memperlakukan stafnya sama. Tidak suka memarahi dan membentak orang-orang yang bekerja bersamanya. Memberi tahu dengan jelas kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh stafnya tapi tidak mencerca dengan menggunakan kata-kata kasar yang keluar dari bibirnya. Dave benar-benar menjadi pria yang sangat disegani oleh seluruh perusahaan yang bekerja bersama dirinya.
Termasuk Aisyah, gadis itu menyimpan rasa terhadap Dave yang bener-bener sangat ia kagumi sifat dan ketulusan yang Dave punya. Bahkan untuk berbicara saja dengan wanita, Dave jarang menaikkan oktaf suaranya. Menjaga suaranya agar menjadi lebih halus namun terdengar tegas dan lugas. Hingga Aisyah tahu bahwa Dave bukanlah jodohnya. Pemuda itu menikahi gadis yang baru saja tamat SMA. Aisyah tidak mencercanya karena itu adalah perbuatan buruk yang sangat di benci Allah. Maka dari itu ia hanya memberikan selamat kepada Dave dan istrinya tersebut walau hatinya sangat terluka dan sedih. Aisyah tahu perasaannya adalah sesuatu yang salah jika di teruskan. Maka dari itu ia memilih memendamnya dan mengikhlaskan karena dirinya tau bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya.
"Pak, saya gak salah denger apa perkataan bapak?" tanya Aisyah yang masih ragu dengan ucapan dari Dave.
"Demi Allah saya yakin. Saya akan membantu kamu dalam melunasi hutang hutang yang keluarga kamu punya,"
"Tapi pak, itu banyak sekali. Bagaimana kami melunasi dengan cepat?"
"Kalau kamu masih bekerja disini terus dengan konsisten dan baik juga disiplin dan rapi, saya rasa kamu akan melunasinya dengan baik pula. Lagian, Saya nggak butuh cepat-cepat kamu harus melunasi hutang-hutang itu. Maksudnya hutang hutang untuk saya. Kamu bisa santai membayarnya dengan dipotong gaji kamu perbulannya tapi terserah kamu mau dipotong berapa saya nggak akan menargetkan berapa kamu harus melunasinya setiap bulan. Asal kamu rutin bekerja juga disiplin dan rapi, insyaallah bakalan lunas secara perlahan dan kamu juga nggak bakalan terdesak sampai menangis seperti ini,"
Aisyah kembali menangis mendengar perkataan bosnya tersebut. Rasanya Ia ingin bersujud kepada Dave namun dia tidak mungkin melakukannya karena itu adalah perbuatan yang kurang disukai. Maka dari itu dirinya memejamkan mata lalu menggenggam tangan Dave sembari masih menangis. Dave yang kaget atas perlakuan Aisyah langsung menarik tangannya. Dia menatap Aisyah yang juga ikutan kaget karenanya.
"Maaf pak, saya terlalu senang dan melakukan hal itu. Pak, saya mohon maaf atas perlakuan saya yang tidak beretika pak. Saya mohon maaf," ucap Aisyah yang langsung tunduk dan duduk di bawah Dave. Astaga, sepertinya Aisyah linglung hingga melakukan hal yang tidak pernah di lakukannya.
Dave mengangkat tubuh Aisyah. Dia menatap mata itu sembari tersenyum memandang wajah yang masih polos walaupun umurnya sudah menjelang dewasa. Mengingatkan dirinya akan Gladys yang wajahnya memang masih terlihat mudah sih. Dave tersenyum lalu menepuk pelan kepala Aisyah dan menggumamkan kata-kata untuk menenangkan gadis itu.
"Insyaallah, nanti ketika kamu sudah lunas sekarang hutang kamu. Kamu akan saya naikkan pangkat kamu ke tempat yang lebih bagus nantinya. Asal kamu tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara para staf yang ada di sini. Dan tetap disiplin dan berkelakuan baik juga bertutur kata baik maka saya akan menaikkan pangkat kamu menjadi lebih baik juga. Aisyah," Dave melihat mata gadis itu yang sudah sangat sembab. "Kamu tau, Allah maha pengasih dan penyayang. Segala sesuatu yang kamu pikirkan ini atau yang kamu alami ini baik itu buruk maupun sesuatu keberuntungan. Allah tahu dan paham apa yang seharusnya kamu dapatkan di kehidupan ini. Ketika kamu merasakan kesedihan, Allah tahu kamu akan keluar dari kesedihan itu sendiri. Dan jika kamu diberikan kebahagiaan, maka Allah tahu ini adalah sesuatu kuasa yang diberikan kepada umatnya agar kamu tahu rasanya bersyukur. Maka dari itu kamu harus tetap kuat untuk menjalani kehidupan ini. Saya akan membantu melunasi utang utang kamu asalkan kamu melakukan kebaikan kepada saya dan kamu juga menjadikan diri kamu sesuatu yang berharga di perusahaan ini," ucap Dave secara tulus dan menyentuh relung hati terdalam Aisyah.
Demi apapun ia sangat bersyukur telah ditemukan oleh orang baik seperti Dave. Dirinya benar-benar bersyukur bisa mengenal orang sebaik bosnya tersebut. Hingga senyuman itu menyajikan akhir mereka bertemu pada hari itu. Besok Dave akan bertemu oleh orang yang banyak hutang keluarga Aisyah.
-/-
"Darimana aja kamu pulang lama begini?"
Suara dingin itu Dave tahu dari mana asalnya. Ia memandang sebentar lalu memasukkan sepatunya di dalam rak sepatu. Membuka dasi nya lalu campakkan di tempat tidur.
"Aku tanya kamu darimana Mas?"
"Kenapa? Apa peduli kamu?"
"Kamu suamiku. Wajar kan aku nanya sebagai istri yang khawatir suaminya kenapa napa di luar sana. Hujan di luar deras dan aku takut kamu ke-"
"Masih anggap aku suami kamu?"
"Apasih? Nggak jelas tau gak?! Aku nanya karena khawatir sama kamu yang gak ada kabar sama sekali. Kamu kira aku gak khawatir? Mas! Aku udah berpikiran jelek aja dari tadi karena kamu bahkan gak angkat telepon aku. Kamu tau aku takut kejadian dulu terjadi lagi disaat kamu gak ada yang tahu lagi kecelakaan?! Kamu tau gak sih itu masih buat aku trauma! Paham gak sih mas?" lirih Gladys yang membuat Dave tertegun dan langsung membalikkan tubuhnya.
"Oh yang itu. Gimana gak tau, kamu kan pacaran sama Daniel pada hari itu,"
"MAS! AKU GAK PACARAN SAMA DANIEL!"
"Tapi kamu dekat sama dia dan bahkan gak angkat telepon suami kamu ini. Kamu tau apa tentang aku disaat aku pengen kamu ada untuk aku. Gak ada yang kamu tau tentang aku dan itu buat aku hancur. Asal kamu paham!"
Gladys menggeleng tak paham dengan pemikiran suaminya itu. Dia juga tengah berusaha untuk membangkitkan rasa cintanya untuk Dave. Namun sebuah ungkapan yang baik yang diterimanya, tapi malah perkataan buruk dan penuduhan yang tidak berdasar yang ditujukan kepadanya. Apakah kesalahan yang dia buat itu menjadikan suaminya tidak terlalu percaya lagi kepadanya. Gladys tengah mati-matian membangun rasa cinta itu untuk suaminya. Tapi jika ucapan suaminya seperti ini, bagaimana bisa dia melanjutkan perjuangan untuk membangun rasa itu.
Memang Gladys sudah merasa pernikahan ini adalah sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya maupun orang tua Dave. Karena tak ada rasa sama sekali di dirinya untuk suaminya tersebut. Perasaan itu sudah hilang karena tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya tersebut. Dia juga tidak menginginkan sebuah pernikahan tanpa rasa. Dia juga memang tidak mencintai suaminya, oh maksudnya belum. Namun Kenapa suaminya tersebut memberikan tuduhan palsu kepadanya. Gladys menahan rasa yang masih ada untuk Daniel. Memberikan rumah tangga mereka menjadi bagus dan baik-baik saja. Gladys tidak berpacaran dengan Daniel walaupun ia sangat merindukan kejadian-kejadian di masa lalu yang membuat dirinya merasakan sebuah hidup yang berbeda. Tapi Gladys juga tahu diri bahwa dia sudah menikah.
"Jahat kamu mas! Aku benci sama kam- Mmpph"
Dave mendengus geli lalu tersenyum sarkas. Mendorong Gladys dan mencium wanita itu dengan brutal. Gladys kembali mencium Dave dengan meletakkan tangannya di leher suaminya tersebut. Menaikkan tubuhnya dalam gendongan Dave dan mencari bibir pemuda itu untuk ia hajar dalam ciuman panas yang mereka lakukan sekarang.
Dave memasukkan tangannya ke dalam baju istrinya. Menarik sesuatu dari dalam dan membuat Gladys memekik kaget. Dave mengangkat tubuh itu lalu meletakkannya ke ranjang besar mereka. Gladys bisa melihat betapa bergairahnya Dave saat menatap tubuh atasnya yang sudah terlepas dari apapun. Dave sangat terlatih untuk membuka segala hal apapun yang mengganggu aktivitas mereka. Bahkan sekarang Dave telah meloloskan celana dan segala hal lainnya di bawah sana. Dengan sifatnya yang mudah terpancing. Dave langsung meraih tubuh Gladys hingga Gladys tersentak saat merasakan Dave di dalam sana. Pikirannya kacau seketika. Gerakan perlahan itu mampu membuat kepalanya serasa berat hingga sesuatu dari dalam sana mendesak ingin keluar. Gladys mengangkat tubuhnya sedikit ke atas dan mengeluarkan sesuatu hingga kepalanya sekarang terasa ringan.
Namun sepertinya itu belum menjadi suatu hal yang cukup untuk Dave. Pria itu melakukannya lagi hingga Gladys bahkan hampir tak sanggup mengimbangi permainan yang dilakukan oleh Dave. Seluruh tubuhnya sudah pasrah di bawah Kungkungan suaminya tersebut. Dia sudah pasrah akan di gambreng secara brutal dan sampai malam menjelang oleh Dave.
"I don't think I'm done dealing with your body yet," ucap Dave yang perlahan menghentikan gerakannya dan membuat istrinya frustasi karena dia telah hampir sampai pada rasa itu kembali.
"Dave, please move," lirih Gladys dengan frustasi. Dave memandang wanita yang di bawahnya itu dengan tatapan yang sangat b*******h. Tubuh istrinya menggelinjang kesana kemari membuat lekukan tubuh itu membuatnya kembali bernafsu. Namun ia akan menahannya dengan meletakkan jarinya di pusat tubuh istrinya tersebut.
"Say my name, baby" lirih Dave dengan tangan yang mempermainkan diri Gladys. Wanita itu sudah hampir gila karena Dave menyiksanya dengan begini. Rasanya ia ingin segera Dave bergerak dan menyelesaikan semuanya. Membuatnya terlepas dari siksaan yang suaminya beri ini.
"Don't you want to say my name? "
"Ahhh, Dave Please move quickly!"
"I want to hear you beg me again, baby,"
"Oh, damn you Dave! "
Dave tersenyum manis lalu mencium istrinya dengan perlahan. Menyalurkan segala rasa dalam rangkuman bibir tersebut. Ia ingin mengatakan betapa ia sangat mencintai Gladys. Betapa ia menginginkan Gladys dan betapa ia berharap Gladys kembali mencintai dirinya dan membuat Keluarga bahagia bersamanya. Berdua bersama dirinya sampai tua. Sampai menjelang mereka menutup matanya. Dave ingin Gladys selalu menatapnya, mencintai dirinya dan selalu ingin bersamanya. Bukan hanya dia saja yang menginginkan kebersamaan ini. Tapi keduanya, keduanya ingin bersama dan membangun keluarga kecil nan bahagia berdua saja. Tanpa ada Daniel bersama mereka. Tanpa ada orang lain misalnya pihak ketiga diantara mereka. Dan Dave berharap bahwa mereka mempunyai anak yang banyak dan hidup dengan keluarga kecil yang bahagia.
Dave kemudian bergerak karena Gladys yang sudah benar benar di batas frustasi. Dave baru paham bahwa wanita yang dulunya sangat malu malu itu sekarang lebih mudah b*******h bahkan jika di sentuh dengan sentuhan sederhana saja. Dave tersenyum kecil mengingat bahwa untuk pertama kalinya mereka berhubungan setelah setahun menikah. Iya! Dave harus menahan selama itu. Demi Tuhan rasanya setiap malam Dave menginginkan Gladys mau berhubungan dengan Dave. Namun ia tidak memaksanya hingga Dave mengalami kecelakaan lalu lintas.
Disitu Gladys mengatakan ingin melakukan apapun yang Dave mau asal Dave cepat sembuh. Dan Dave melakukannya dengan menipu wanita itu. Dave dengan sifat kurang ajarnya mengajak Gladys yang polos berhubungan untuk pertama kalinya.
"I love you, my little wife,"
Dan malam panas itu berakhir dengan helaan nafas dan pelukan hangat di jam 2 pagi.