Daniel dan Gladys makan di kantin yang sedang ramai ramainya. Keadaan kantin memang sangat ramai biasanya. Namun hari ini agak renggang deh kayanya. Soalnya biasanya anak teknik bakalan mejeng di kantin sistem informasi. Tapi hari ini tidak ada satupun anak teknik yang datang. Ada apa ya? Apa mereka baru saja insaf dan mencari mangsa baru? Misalnya anak fakultas kedokteran gigi. Kalau gadis dari sana sih emang nggak diragukan lagi. Anak fakultas kedokteran gigi emang terkenal isinya para bidadari yang selalu saja menjadi incaran para lelaki. Terutama anak teknik yang kekurangan betina di kelas. Pasti anak FKG selalu saja menjadi incaran utama walau keseringan di tolak sih.
Tangan Gladys mengambil gorengan tempe dan memakannya ketika dirinya sudah mencelupkan gorengan hangat itu ke dalam piring yang berisikan sambal cabai. Dave juga memakannya sambil tatapannya tak lekang dari istrinya tersebut. Gladys yang melihatnya mengangkat alis dan memperhatikan bagaimana Daniel menatapnya layaknya dirinya adalah manusia yang sangat cantik dan sangat di sanjung olehnya.
"Bisa nggak kalau liat gue biasa aja?" tanya Gladys dengan nada yang sangat datar.
"Nggak bisa tuh. Lo cantik banget sih. Gimana gak gemes?" ucap Daniel dengan cengengesan. Gladys hanya menatapnya datar dan tidak mempedulikan bagaimana Daniel menatapnya lagi.
Hari belakangan ini memang agak mendung. Kalau mau saja, Gladys ingin tidur di kamar dengan guling juga selimut yang akan membuatnya nyaman sekaligus bahagia. Bagaimana tidak? Guling dan selimut yang di gunakannya adalah pemberian hadiah dari Key. Teman SMA nya dulu. Sekarang kabarnya mereka sudah mempunyai satu anak laki laki yang tampan. Gladys ingin melihatnya namun terhalang oleh jadwal kuliah yang benar benar padat dan membuat Gladys ingin sekali menangis ketika tugas dan UAS datang bersamaan di waktu yang seharusnya bisa di gunakan untuk istirahat.
Apalagi kalau sudah pelajarannya Pak Asa. Gladys harus siap untuk maju dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nya. Menjadi anak kesayangan oleh dosen bukan menjadikan Gladys santai-santai saja. Dirinya bahkan bisa disuruh-suruh apapun itu oleh dosen kesayangannya itu. Dasarnya memang dosen tukang nyuruh juga sih. Gladys kadang kesal dengan paksa yang selalu saja menyuruhnya ini dan itu bahkan menjawab semua pertanyaan yang diajukannya. Padahal di ruangan itu terdapat 35 mahasiswa atau mahasiswi yang bisa menjawab pertanyaan pertanyaan dari Pak Asa. Namun haruskah Gladys yang terus-menerus menanggung beban dari pertanyaan-pertanyaan itu?
"Kok lo tambah lama tambah cantik ya?" ucap Daniel tiba-tiba yang membuat Gladys kaget. Sebenarnya Daniel kerap kali memberikan pujian pujian terhadap Gladys. Namun setiap pujian itulah yang membuat Gladys kaget. Bagaimana tidak? Daniel mengatakannya dengan nada yang benar-benar tulus dan terkesan memuji terlalu berlebihan. Kadang Gladys agak merasa kikuk saat bersama Daniel.
"Hidup lo misteri banget,"
"Maksudnya lo apaan?"
Daniel menatapnya sendu. Entah Kenapa tatapan itu membuat Gladys merasakan bahwa betapa besarnya rasa cinta Daniel terhadapnya. Namun, tembok itu terlalu tinggi untuk dinaiki bakal untuk ditembus. Bagaimana bisa mereka menghianati Tuhan mereka hanya untuk cinta yang bahkan belum tentu selamanya. Tuhan adalah segalanya. Dan jika mereka menghianati masing-masing Tuhan mereka, kehidupan pasti bukan ada baiknya secara terus menerus. Ada kalanya mereka akan menjadi manusia yang sangat jahat di mata manusia lainnya. Cinta beda agama mana bisa untuk dilakukan. Kalau bisa, mereka mungkin tidak akan mengalami hubungan seribet ini. Dimana mereka hanya menyembunyikan perasaan satu sama lain. Gladys memang belum tentu menyukai Daniel. Atau lebih tepatnya mencintai pemuda itu. Namun ada satu titik kecil di hatinya yang menyanyikan Daniel selalu ada untuknya disaat dia merasakan sedih ataupun merasa sendiri. Itu juga yang membuat dirinya merasa nyaman dengan Daniel. Tapi rasa nyaman itu tidak mungkin dia lebih kan menjadi sebuah cinta. Perasaan mereka adalah sebuah kesalahan yang jika diteruskan akan menjadi petaka yang benar-benar akan menghancurkan mereka.
Tapi Gladys tahu betapa besar rasa Daniel terhadapnya. Mereka kenal sudah lama. Dari kelas 2 SMA. Dimana pada saat itu gladis merasakan kehidupannya berubah. Ada Daniel yang mengenalkannya pada warna baru kehidupan. Dimana dulunya yang ia tahu hidup itu hanya hitam dan putih saja. Tapi ternyata dunia itu luas dengan berbagai warna yang tersedia yang diciptakan oleh semesta. Gladys dia saat mengenal dunia lebih jauh lagi. Namun yang terus menerus datang menghampirinya. Ia juga terjebak oleh rasa yang seharusnya tidak ia berikan kepada orang lain. Dirinya terjebak oleh rasa yang akan temboknya lebih tinggi dan sulit untuk ditembus. Dan dirinya juga harus merasakan kepahitan saat orang tuanya menolak kehadiran Daniel dalam kehidupan mereka.
Gladys terjebak oleh perasaan perasaan yang seharusnya ia rasakan namun terhalang oleh banyak berbagai pihak. Bahkan Tuhan sekalipun tidak mungkin mengizinkan dia untuk mencintai Daniel lebih dalam lagi. Namun perasaan perasaan cinta yang dulu dia rasakan kepada Daniel harus dirinya berikan kepada suaminya yang sekarang. Perasaan bahagia bersama Daniel harus dia kembalikan kepada suaminya. Dave lebih berhak mendapatkan cinta itu daripada Daniel. Namun perasaan memang tidak mungkin bisa dipaksa bukan? Setelah 4 tahun menikah pun belum ada rasa sebesar itu yang ada pada dirinya. Gladys hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Namun untuk mencintai Dave, dirinya masih kalah dalam urusan tersebut.
"Gladys, gue tau kalau kita terlalu gak bisa sama sama. Tapi bisa nggak izinin gue untuk merasakan perasaan lo yang bahkan gue tau lo pendam sendiri. Gue pengen merasakan perasaan itu sama lo. Gue mau lo ada disaat gue merasakan kembang api di dalam diri gue. Setiap sama lo perasaan gue benar benar gak bisa di kontrol. Gue selalu pengen sama lo, Dys. Izinin gue ya,"
-/-
Dave baru saja menyelesaikan rapatnya yang sangat-sangat tegang. Banyak sekali klien hari ini. Bahkan Dave lupa bahwa hari sudah menjelang malam. Dave segera memakai jasnya dan merapikan rambutnya kemudian mengambil tasnya untuk bergegas pulang ke rumah. Ia sudah tidak sabar untuk menemui istrinya tersebut. Apa istrinya sudah makan malam atau belum. Atau istrinya sedang asyik menonton drama Korea yang selalu saja menyalahkan eksistensi Dave yang ada di dekatnya.
Gladys kalau sudah menonton drama tidak ingin diganggu bahkan dipanggil sekalipun dia akan marah. Wanita itu bahkan memaki siapapun yang mengganggu dirinya menonton. Kadang Dave heran, Kenapa sih istrinya itu selalu saja menonton drama Korea daripada Indonesia? Ya, seharusnya sih udah tau jawabannya. Mungkin seluruh Indonesia sudah tau jawaban pasti mengapa orang orang lebih suka menonton drama Korea daripada Indonesia. Banyak sekali adegan drama yang ada di Indonesia. Sampai beribu ribu episode bahkan tidak sampai juga klimaksnya. Agak aneh memang. Oh, aneh sekali sih. Dunia sinetron Indonesia mengalahkan tembok raksasa China panjangnya. Dave bahkan suka garuk garuk kepala saat menonton sinetron Indonesia. Semua alur cerita yang mudah di tebak dan bahkan terkesan tidak masuk akal.
Masa nikahnya sama siapa. Tiba tiba dia bukan anaknya. Tiba tiba ada kembarannya. Dan segala macam hal lainnya yang bahkan benar benar tidak masuk akal. Makannya itu sebabnya orang Indonesia lebih memilih drama Korea di banding drama Indonesia yang lebih sangat drama sekali. Bahkan Dave tidak sanggup menonton TV dan memilih membuka channel luar negeri saja daripada channel Indonesia. Bukannya meremehkan eksistensi perfilman Indonesia. Banyak cerita yang bagus dengan sudut angle kamera yang lebih bagus dan ciamik. Namun entah kenapa sinetron aneh yang di edarkan? Buat pusing saja.
Mungkin saja televisi di rumah rumah orang sudah terlalu tidak dipakai lagi karena isi cerita yang sudah membosankan dengan alur yang mudah ditebak. Semoga saja perfilman Indonesia menjadi lebih baik nantinya.
Dave yang baru saja keluar dari ruangannya melihat Aisyah yang sedang menangis sambil memegang ponselnya. Dave langsung menghampiri perempuan itu dan melihat bagaimana bengkaknya wajah Aisyah. Dave kaget dan langsung menepuk pelan pundak Aisyah. Wanita berhijab itu kaget dan langsung menghapus air matanya. Dia merapikan kembali hijabnya lalu menundukkan kepalanya saat melihat bosnya itu sedang menatapnya dengan sendu.
"Ada apa Aisyah? Apa kamu lagi ada masalah berat?" tanya Dave yang langsung di beri senyuman paksa oleh Aisyah.
"Nggak pak. Saya gak papa," jawaban khas wanita manapun.
Dave tersenyum lalu menyuruh Aisyah duduk di salah satu sofa di ruangan tersebut. Mereka jaga jarak dengan Dave di seberang sofa lainnya. Dave tau bahwa Aisyah adalah gadis yang sangat taat agama. Maka dari itu dia ingin menjaga hati dan kelakuan dirinya agar Aisyah merasa nyaman ketika bicara dengannya.
"Ada apa Aisyah? Apa yang terjadi sama kamu sampai kamu menangis gitu? Ada masalah yang gak bisa kamu atasi atau bagaimana?" tanya Dave membuka percakapan setelah dua menit tak ada suara siapapun untuk menghidupkan suasana yang sangat dingin ini.
Aisyah menangis tersedu-sedu. Kini pikiran itu berkecamuk kembali kepada dirinya, " Orangtua saya berniat menjodohkan saya dengan seorang saudagar kaya namun sudah memiliki istri namun tidak memiliki anak. Orangtua saya terlilit hutang yang harus dibayarkan kepada orang tersebut. Namun Saya hanya sebagai akhlak untuk menghasilkan keturunan dan itu membuat saya berpikir apakah saya pantas mendapatkan hal itu? Saya tidak pernah menginginkan sebuah pernikahan kan yang melandaskan jika cinta antara satu sama lainnya. Dan kalau sudah begini Saya harus bagaimana Pak? Saya bingung harus melunasi utang-utang yang orang tua saya ambil dari pria itu," ucap Aisyah dengan suara yang bergetar hebat.
"Orangtua kamu hutang banyak seberapa dan bagaimana bisa hutang sebanyak itu?"
"Sebenarnya bukan orang tua saya yang berhutang, pak. Tapi kakak laki-laki saya dan istrinya juga kakak kedua perempuan saya yang sekarang entah kemana. Mereka melarikan diri setelah menggadaikan rumah beserta sawah yang ayah saya punya. Mereka tidak memiliki hati nurani dengan meninggalkan banyak hutang hari demi hari diketuk rumahnya dengan keras oleh debt colector yang benar-benar kasar. Ayah Saya bahkan pernah dibanting di pintu karena kami benar-benar tidak memiliki uang untuk membayarnya,"
"Apakah gaji di perusahaan saya kurang untuk mencicil hutang kalian,"
"Kurang pak," Aisyah kembali menangis. "Uang tersebut saya gunakan untuk pengobatan ibu dan ayah saya. Mereka berdua sudah sangat tua dengan tubuh yang sudah lelah untuk bekerja. Saya hanya bisa mencukupi untuk kehidupan kami sehari-hari tapi untuk membayar hutang, kami tidak sanggup itu membayar sebanyak yang mereka mau. Maka dari itu, pria itu datang kerumah dan mengatakan bahwa menarik saya sebagai istrinya namun hanya untuk meminjamkan rahim saya untuk menampung keturunannya. Saya merasa direndahkan sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan saya sampai saya umur 27 sekarang. Bagaimana bisa saya menjalani kehidupan dengan rumit ini pak? Saya bener-bener bingung harus mencari uang dimana. Tapi di satu sisi saya tidak ingin ayah dan ibu saya terancam oleh para orang-orang jahat itu. Mereka sudah lelah dengan anak-anak mereka yang durhaka dan sekarang mereka harus menghadapi orang-orang itu. Saya bingung pak. Saya nggak tahu lagi harus berbuat bagaimana,"
"Saya akan melunasi utang utang kamu,"