Gladys meletakkan baju baju dirinya dan Dave pada tempatnya. Setelah menyusun segalanya, wanitaitu beranjak ke dapur untuk mencuci piring. Asisten rumah tangga mereka sedang sakit dan Gladys juga gabut parah. Jadi dia mengerjakan semuanya untuk mengusir kegabutan tersebut. Kebiasaan Gladys yang takkan pernah hilang bahkan ketika dirinya masih gadis dan sekarang sudah menikah. Wanita itu selalu saja membersihkan bagian bagian terpencil dan membersihkan apapun itu. Gladys sangat rajin dan rapi. Bahkan, ketika suaminya meletakkan handuk sembarangan atau menarik baju yang sudah di lipat dengan asal asalan, dirinya akan marah besar pada pria itu. Mana ada yang tidak kesal karena di perlakukan begitu? Padahal melipatnya sudah rapi. Tapi ya memang, kalau suami gak merusuh kayaknya gak bakalan mencapai kepuasan deh. Bahkan ketika Gladys memarahi suaminya itu, tetap saja Dave merusuh. Padahal kata mamanya Dave, lelaki itu sangat rajin, rapi dan disiplin. Tapi kenapa setelah menikah menjadi bengis begitu? Tidak tau rapi.
Dengan menggelung rambutnya, Gladys memasak air panas untuk Dave. Jika malam begini, lelaki itu gak suka dan tidak bisa mandi dengan air dingin. Ia harus pakai air hangat agar besoknya tidak flu. Walau Gladys belum mencintai dirinya. Tetapi kewajiban sebagai istri wajib ia penuhi. Ia tidak bisa mengabaikan perihal itu.
"Sayang," panggil Dave dari arah ruang tamu. Gladys berjalan ke arah Dave. Menyalami tangan itu lalu mengambil tas, sepatu dan jas suaminya tersebut. Tangannya memegang semua itu lalu meletakkan ke tempatnya semula. Dave memang sangat manja dan kadang membuat Gladys kesal. Tapi sekaligus lucu.
"Mandi, terus sholat setelah itu makan sana. Aku tadi masak sayur kangkung, trus ada ayam goreng sambel terasi juga ada. Banyak tuh seperti yang kamu pesan tadi sama bibi," ucap Gladys melihat suaminya.
"Makasih sayang." Dave diam lalu membuka hologram di depannya. Disana menampilkan beberapa program yang akan ia laksanakan bersama para anggota di kantor. Dave memang perfeksionis. Jika pekerjaan belum selesai, ia tak akan beranjak dari tempatnya. Itu juga yang kadang membuat Gladys sangat marah karena lelaki itu tak bisa sesekali saja mengambil waktu untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Selalu saja sibuk.
"Kalau kamu gak mandi sekarang trus sholat dan makan. Tidur gak usah peluk aku,"
Ultimatum itu mampu membuat Dave terkesiap. Lelaki itu melenggangkan dirinya ke arah kamar mandi dengan cepat cepat seakan diburu dengan hantu dan sejenisnya. Memang perkataan itu kadang manjur untuk Dave agar lelaki itu tidak memforsir dirinya terlalu besar dan kuat. Kasihan Gladys melihat lelah di wajah itu.
"Plus cium sayang. Valid no debat," jerit Dave yang hanya di tanggapi kekehan oleh Gladys.
-/-
Cuaca di luar sangat dingin dan membuat suasana sangat sejuk dan menyenangkan jika berpelukan. Tentu saja dengan guling atau apapun yang bisa di peluk. Namun, seorang Dave yang sangat perkasa dan gagah yang selalu saja di banggakan oleh siapapun yang ada di kantor, memeluk istrinya yang sedang membaca novel.
Menenggelamkan wajah itu dalam d**a wanitanya. Tangan Gladys di jadikan bantal oleh Dave dan tangan itu setia bertengger di pinggang Gladys. Keadaan yang Dave suka dan sangat menyenangkan jika bersama Gladys. Wanita itu bahkan tak pernah protes ketika tangannya di jadikan bantal oleh kepala berat layaknya besi yang dimiliki Dave.
"Sayang," panggil Dave yang di jawab deheman oleh Gladys, "Ngapain tadi di Mall sama Daniel?"
Gladys tertegun lalu menurunkan novelnya. Meletakkan kepalanya di bantal dan menarik tangannya dari Dave. Dave langsung menarik wanita itu dalam pelukannya. Sekarang gantian tangannya lah yang di jadikan bantal oleh Gladys. Tidak mengapa, selama wanitanya senang kenapa tidak? Gladys wangi dan harum sekali.
"Jalan doang. Dia minta temenin beli buku,"
"Berdua aja?"
"Kelihatannya?"
Dave diam dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pemikiran yang tak sepantasnya di berikan untuk istrinya tersebut. Namun, mengingat betapa Daniel mencintai Gladys dan Gladys juga sedikit mempunyai rasa pada pemuda itu, membuat dirinya menjadi khawatir jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Bukannya dirinya curiga pada istrinya ini. Karena Dave tahu bahwa Gladys takkan mungkin melakukan selingkuh padanya. Dave percaya pada Gladys karena- Ah, pikiran negatif itu tiba tiba saja membuat dirinya membenci apa yang di pikirannya.
"Kamu bisa gak jangan keseringan jalan sama dia?"
"Kenapa?" tanya Gladys dengan menautkan alisnya heran.
"Ya aku gak suka aja. Aku tau kamu belum cinta sama aku, tapi aku harap kamu juga paham kalau aku mau kamu juga belajar mencintai aku. Suami kamu ini," ucap Dave dengan suara yang sangat lembut dan mampu membuat Gladys tersenyum mendengarnya. Dirinya tau betapa Dave sangat mencintai dirinya. Walau Gladys sendiri belum bisa sepenuhnya mencintai Dave juga. Karena memang bukan hal mudah untuk mencintai seseorang yang bahkan baru kita kenal. Apalagi Gladys dan Dave menikah karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua mereka. Dave setuju saja saat papanya meminta dirinya untuk melamar gadis itu. Namun, ia tak menyangka juga sifat sifat yang ada pada Gladys.
-/-
Kaki Gladys bergerak cepat saat ia merasakan kalau waktu akan segera tiba dimana dirinya akan terlibat cekcok dengan pak Botak yang selalu saja membuat dirinya dongkol. Entah apa yang merasuki dirinya hingga ia telat dan meninggalkan segala kepentingan kuliahnya. Ini karena Dave yang meminta waktu Gladys untuk melayaninya.
Ingin mengumpat tapi suami sendiri. Ingin menolak tapi itu kewajiban istri.
Memang dunia tak adil untuk wanita ya?
Saat tangannya akan segera membuka pintu, suara teriakan kencang sudah mengalun pada seisi ruangan membuat dirinya menelan ludah dengan keras. Entah karena memang ketakutan atau apa, nyatanya menelan ludah membuat tenggorokannya terasa sangat sakit. Bahkan bisa di jamin sekarang perutnya mulas karena ketakutan yang melanda dirinya sekarang. Pak Asa terkenal dengan mulutnya yang pedas dan cara mengajarnya yang tegas. Entah apa yang terjadi di dalam hingga para mahasiswa dimarahi habis-habisan oleh pria yang sudah berumur 50 tahun itu. Bahkan Gladys yang sejatinya adalah mahasiswa kesayangannya sering juga dimarahi oleh pak Asa. Bagaimana dia bisa memaklumi sekarang bahwa mahasiswa kesayangannya telat-telat untuk pertama kalinya di pelajaran miliknya.
Gladys membuka secara perlahan pintu tersebut. Seluruh atensi yang ada di dalam ruangan melihat dirinya. Gladys entah sudah berapa kali meneguk ludahnya sambil membaca segala macam doa bahkan doa makan, doa tidur, dan segala doa yang lainnya. Ia hanya ingin selamat dari amukan dosen yang sangat menyayanginya itu. Namun, yang namanya pengajar tetaplah pengajar. Walau Gladys anak kesayangannya, gadis itu tetap dapat pelototan tajam dari pria paruh baya itu.
"GLADYS ADIWANGSA MAHASISWA SISTEM INFORMASI YANG SEKARANG TELAT?! BAGAIMANA TIDURMU?! NYENYAK ATAU TIDAK?!”
Demi apapun Gladys rasanya ingin menangis saja. Bahkan saat ini kakinya sudah bergetaran dengan kuat ada tumpuan yang bisa menumpu tubuhnya. sangking takut yang melanda dirinya, gadis bahkan lupa bawa kaos kakinya warnanya nya selang seling. Gladys berniat akan mengurangi kasih sayangnya terhadap Dave.
"Saya kira kamu budek atau gimana Gladys? Bagaimana dengan tidurmu? Apakah nyenyak sampai tidak terganggu dan bahkan kamu tidak menghidupkan atau mendengarkan alarm. Bagus sekali! Kalian semua saya hukum,"
Dan begitulah, kuis dadakan di akhiri dengan rengekan seluruh mahasiswa malas.
-/-
"Sumpah! Gue gak tau lagi harus gimana. Nggak tahu lagi harus mikirin apa. Karena asal kalian tahu kalau gue barusan aja telat dan dimarahi sama dosen kesayangan gue dan berakhir gue harus mengulang pelajaran dan kasih ke dia soal-soal yang tadi dikerjakan. Kalian tahu nggak sih otak gue itu udah ngebul pakai bangetin. Dan kayaknya bakalan kebakar setelah ini tau gak? Gue mau nangis aja sekarang ya Tuhan," rengek Gladys dengan memotong-motong siomaynya secara brutal. Rasa amarah dan dongkol kalau itu terus-terusan lagi di satu di kepalanya. Rasanya ia ingin marah kepada siapapun yang ada di depannya namun ia tahu itu adalah tindakan yang bodoh. Tapi kalau tidak dilampiaskan juga membuat dirinya ingin sekali meledak sekarang juga. Demi kerang ajaib, Gladys akan menangis jika diberi kesempatan sekarang juga.
"Sumpah! gue juga nggak tahu kenapa lo bakalan bisa telat sekarang. Biasanya tuh, Lo bakalan kalau datang paling lama dan paling banter itu 10 menit sebelum kelas dimulai. Tapi entah kenapa sekarang udah jadi sering terlambat deh kayaknya. Di pelajaran pak Asa ini baru sekali. tapi ini kok malah berkali-kali dia kayaknya di dosen-dosen lainnya. masalahnya sampai jadi kayak gini?"
"Ya elah. Lagian lo sih Kenapa sih bisa bisanya terlambat? Tuh dosen mungkin lagi banyak pikiran makanya dia jadi kayak gitu,"
"But not angrily. I have a lot of stress to do. I want to rest in peace on my bed !!! " teriak Gladys yang hanya di berikan kekehan oleh Ara. Gadis itu akhirnya memberikan jus mangga yang telah disiapkan oleh bibi kantin.
"Nih minum dulu jus mangganya. Biar kepala lo tu nggak sumpek dengan segala problematika dari dosen kesayangan lo itu." cibir Ara, "Jujur sih gue sebenarnya agak kaget juga waktu itu dosen marah-marahin lo dengan segala kemarahan yang udah kayaknya lama dia pendiam. Trus kebetulan ada lo di depan dia. Dia langsung menguapkan segala amarah dia sama lo. Makannya tadi kelas sempat ricuh juga sih karena dosen kesayangan lu itu ke marahin lo. It's like Impossible, " kekeh Ara sambil meminum minum jus jambu bijinya.
"Apa bener kalau misalnya Pak Asa bakalan cerai sama istrinya? Soalnya gue dengar berita itu diduga udah jadi viral di kampus ini,"
"Gue rasa begitu. Sempet dengar kabar juga kalau bininya itu selingkuh. Kasihan pak Asa. Susah susah cari duit eh malah di selingkuhin,"
"Ya, begitulah. Gak ada yang namanya tulus yang benar-benar tulus di dunia ini,Ra. Gue aja nggak pernah ngerasain itu bahkan bertahun-tahun hidup. Gue hanya tahu kalau gue punya ayah dan bunda yang sayang sama gue. Lebih dari itu gue nggak paham lagi sih segala kemelut dunia ini. Pusing kalau kita harus baik bener-bener baik sama orang-orang yang di sekitar kita. Gue kalau buat baik juga enggak mengharapkan orang itu juga baik sama gue. Tapi ya kalau dia punya otak dan pikiran, mungkin dia bakalan baik sama gue tanpa gue minta atau tanpa gue singgung. Ya nggak sih?" kata Gladys yang sering banget bijak dalam hal apapun. Ya kadang juga sih bobrok.
"Maybe, I should believe your words. Di dunia ini cari ketulusan bener bener kayak jarum dalam jerami. Eksistensi orang tulus sekarang udah berganti sama orang-orang yang munafik. Gue berharap kalau orang-orang munafik tuh jaman sekarang ingat dosa. Jangan ingat mereka ke klub mulu. Gue aja takut kalau misalnya gue munafik sama orang lain. Ya karena menurut gue kalau misalnya lu enggak bisa baik sama orang lain, nggak usah pura-pura baik di depan orang lain. membangun diri di depan orang lain dengan perilaku yang 180 derajat berbeda ada dari kebiasaan kita, gue rasa itu malah menyiksa kita nggak sih? yaps, i mean pada akhirnya kita enggak diperlakukan atau disukai dengan perilaku memang dari diri kita. Kita dicintai berdasarkan akting yang kita lakukan di depan dia"
"That's right, girl. You learn a lot from me, " kekeh Gladys dan memakan gorengannya. Gorengan tempe khas Bu Inul yang mampu membuat Gladys sangat senang dengan memakannya saja. Tak lupa dengan es teh manis dingin atau sekedar jus mangga. Gladys akan merasakan nikmatnya hidup hanya dengan makanan itu. Karena memang seenak itu makanan dari Bu Inul.