"MAS DAVEEEEEEEEE!!!!!"
Teriakan dari istrinya itu membuat Dave langsung turun dari sofa dan meninggalkan gamenya. Biasanya ketika jeritan itu keluar dari mulut istrinya, akan banyak sekali ujaran-ujaran kebencian yang keluar dan membuat Dave merasakan stress yang teramat. Dan kali ini pasti akan terulang masa masa dimana ia akan di omeli secara habis habisan. Setidaknya ia akan menyiapkan telinganya dengan baik nanti.
"Perasaan handuk udah gue letak rapi kok," gumam pria tersebut dengan jalan yang agak takut. Ia takut istrinya akan melemparkan segala hal pad-
PRANGG
Baru saja Dave bersungut dalam hati, eh malahan bener terjadi. Sebuah panci kecil datang ke kaki Dave dan membuat lelaki itu menjadi kaget namun tidak kaget banget. Soalnya udah biasa istrinya marah marah begini setiap hari. Dave selalu saja punya cara efektif membuat istrinya mengamuk memang.
"KAMU TUH SUSAH BANGET APA KALAU AMBIL BAJU SATU?! PELAN PELAN!"
"Udah pelan sayang. Bajunya aja heboh mau jatuh semua juga,"
"APA?!"
Dave mengambil bajunya dan meletakkannya dengan benar. Ia takut kalau istrinya akan mengamuk lebih lebar lagi nantinya. Memang Gladys paling anti dengan rumah kotor, lantai becek dan lengket. Bahkan jujur saja. Setiap hari wanita itu tak akan berhenti mengomel jika suaminya ini selalu saja susah merapikan diri. Contohnya saja, mandi lama dan keluar bukan basuh kaki dulu. Trus ambil baju asal asalan gak tau aturan. Tidur tapi tempat sprei berantakan karena Dave yang rusuh dan susah sekali untuk santai kalau mau tidur. Handuk di letak sembarangan. Makan tidak di rapikan. Sumpah demi apapun! Seorang istri apa seorang pembantu dirinya? Kenapa sih para suami gak bisa santai atau kalau gak bisa bantu bersihin rumah seenggaknya jangan berantakkin maksud Gladys.
"STRES AKUU!!"
Dave hanya menyengir dan sekarang dirinya meletakkan bajunya yang rapi. Meletakkan sepatu barunya juga dengan rapi. Meletakkan handuknya di tempat handuk. Memunguti sampah bekas 'pengamannya' dan meletakkan di tempat sampah. Lalu dia menyengir saat bekas 'pengamannya' itu terletak di bawah tempat tidur.
"DAVE! Kamu dulu gak berantakan banget gini kan?! Sumpah kamu jorok tau gak sih?! Itu cairannya masih ada. Aisshhh!!"
Dave meneguk ludahnya saat sang istri beranjak keluar kamar. Kemudian
BAM
Pintu tertutup dengan dramatisnya. Dave hanya mengelus dadanya saja. Memang belakangan ini dia sangat malas bersih bersih tubuh. Padahal dulu dia tidak seberantakan sekarang. Dia juga tidak pernah sembarangan meletakkan 'barang intim' ini pada sembarang tempat.
Karena pada dasarnya, ia hanya mau istrinya melihat dirinya. Ia hanya mau istrinya menatap dirinya. Memperhatikan dirinya dan melupakan Daniel aka b******k sialan kutu kupret itu. Dave tidak mau kehilangan istrinya. Maka dari itu ia suka mencari perhatian pada Gladys dengan cara seperti ini. Karena sepertinya cara ini cukup efektif untuk membuat Gladys menatap ke arahnya dan mencintainya kembali. Dave lelah jika hanya dia yang berjuang sendirian. Sebenernya Dave tidak suka pakai pengaman ketika melakukan hubungan intim. Hanya saja, Gladys tak mau dan tak siap untuk itu. Gladys tidak mau hamil dulu walau ia sudah semester akhir. Gladys masih ragu untuk hamil. Pertama, cinta yang dirinya rasakan belum sepenuhnya untuk suaminya. Ia masih selalu goyah atas cinta yang di berikan Dave. Bukan perkara gampang membuat dirinya menjadi istri yang baik dan bijaksana dalam mengatasi perasaan antara dirinya dan Dave. Mereka menikah bukan karena keinginan masing masing pihak. Tapi karena kehendak para orangtua yang memaksa mereka berdua menikah.
Kedua, Gladys masih mau menikmati masa mudanya yang kesana kemari. Memang bukan dalam cakupan liar dan sebagainya. Hanya saja, ia masih mau nongkrong tanpa ada teringat waktu akan anak. Kalau suami, ia masih bisa mengatasinya. Tapi kalau anak, tidak mungkin dia hiraukan.
Dave hanya mengelus senyum saja saat istrinya berkata demikian. Ia hanya bisa tertawa dan tersenyum saat istrinya menolak untuk mengeluarkan di 'dalam'. Bahkan pernah Dave tidak sengaja melakukannya walau hanya sedikit, Gladys langsung menyuruh dirinya berhenti dan wanita itu langsung meminum pil anti hamil. Ia menyediakannya dan meletakkan di nakas terdekat. Membiarkan Dave melihat apa yang di lakukan istrinya. Hati Dave sakit seakan di remat remat. Dave ingin memiliki anak. Tapi jika Gladys belum setuju karena masih sibuk tidak masalah. Atau dia belum mencintai Dave, Dave akan berusaha membuat wanita itu mencintai dirinya. Namun memang Gladys yang selalu blak blakkan. Meminum pil KB di depan Dave dan membuat Dave seakan merasa bahwa dirinya hanyalah pengaggu saja dalam hidup Gladys.
Bukan perkara mudah meredakan emosi yang selalu ingin ia lampiaskan. Hanya saja, ia takut Istrinya tak nyaman atas perilaku yang dirinya lakukan. Bukan sekedar menunda kehamilan. Istrinya itu juga suka dekat mantannya. Bagaimana bisa Dave nyaman atas apa yang di lakukan Gladys. Gadis itu seakan akan tak menghormati perasaan Dave. Hanya memikirkan perasaan dirinya. Dave tidak suka dengan Daniel. Pemuda itu bahkan suka menelponnya sampai larut malam hanya untuk basa basi. Gladys tak mengatakan kalau dia sudah menikah. Hanya Ara dan para orangtua yang tau hal ini. Selebihnya mereka sama sekali tidak tau permasalahan yang di hadapi Gladys.
Mencintai tidak semudah yang di bayangkan. Banyak hak yang harus di jadikan bahan pertimbangan. Bukan semuda membalikkan telapak tangan saja. Mencintai harus punya dua sisi. Namun, setelah berapa tahun ini, sisi itu tak pernah muncul. Itu menganggu dan membuat Gladys susah bergerak. Dirinya terikat oleh Dave pemuda yang bahkan tidak bisa menjadikan dirinya mencintai atau merasa damai bersamanya.
Formalitas pernikahan ini saja kadang membuatnya frustasi. Dirinya juga menginginkan sebuah cinta di pernikahan. Namun memang hati bukan suatu hal yang dapat di ubah dengan seenaknya. Sebuah perasaan memang ada di dalam hati yang tak dapat di ukir dengan nama orang lain sesuka hati.Ada kalanya Gladys merasa jenuh dengan Dave karena memang mereka menikah tanpa ada perasaan mendalam. Oh ralat. Hanya Dave yang sangat mencintai dirinya dan Gladys hanya menerima rasa itu. Rasa yang sangat ingin ia hapuskan.
Gladys memasak air panas. Membuka tudung saji lalu meletakkan berbagai macam makanan yang sudah ia masak tadi agar di makam oleh suaminya itu. Ada sup ayam, sambal terasi, ikan asin dan ada banyak lainnya yang mungkin saja bisa membuat Dave mau makan. Kadang Dave tidak mau makan jika memang makanannya tidak sesuai selera makannya. Karena Dave jarang bisa makan sesuatu yang kadang menggiurkan orang orang namun tidak dengan dirinya. Misalnya, dia bisa makan ayam namun tidak bisa makan daging. Kadang Gladys kasihan melihat Dave yang tersiksa tidak bisa makan namun dipaksa oleh koleganya yang baru mengenal dirinya. Memaksa makan daging yang disediakan di restoran oleh koleganya.
"Aku udah bersihin semuanya. Kamu jangan marah lagi ya sayang. Aku juga stres," ucap Dave dengan memeluk Gladys dari belakang sambil tersenyum dan mengecupi leher istrinya tersebut. Dave benar benar sangat manja hingga kadang Gladys kewalahan menghadapinya. Namun ia juga tak menolaknya karena itu adalah hak suaminya walau kadang ia tak menyukainya.
Sayanggg, jangan marah lagi ya. Sumpah kadang aku lupa,"
"Bukannya lupa, emang sengaja," cengir Dave yang hanya diberi tatapan datar oleh Gladys.
Gladys tahu itu. Gladys paham akan hal dimana Dave selalu saja mencari perhatian dirinya. Namun tetap saja . Tetap saja rasa itu tak datang. Tetap saja rasa itu hanya menjadi angan saja. Kadang Gladys khawatir dengan keadaan rumah tangganya yang seperti ini. Gladys hanya mau ia mempunyai keluarga kecil bahagia dan sederhana. Namun memang sulit sekali menumbuhkan rasa cinta untuk Dave. Ia hanya mendedikasikan dirinya sebagai seorang istri yang baik. Namun, rasa itu tetap saja hanya angan belaka.
Gladys melepaskan pelukan Dave dan menyuruh suaminya itu duduk di bangkunya. Mereka akan makan dan seharusnya sekarang jadwal makan malam. Namun sepertinya sudah terlewat karena Dave yang lama membersihkan kamarnya.
Gladys menuangkan nasi pada piring Dave. Menuangkan beberapa sendok sayur dan lauk pauknya. Kemudian ia duduk dan mulai mengangkat tangan akan berdoa.
"Kampus kamu bakalan ada event sayang?" tanya Dave di sela sela makan mereka. Gladys mengangguk dan tetap fokus pada makanannya.
"Ada biaya yang harus Mas lunaskan tidak?" tanya Dave
"Mas, aku bisa bayar sendiri semuanya. Kamu cukup bantuin aku. Aku gak mau ngerepotin kamu lagi,"
"Loh, kamu istri mas. Ya wajar dong kalau misalnya mas bantuin kamu dan tugas memang memberi nafkah kamu,"
"Tapi ini kegiatan kampus ya nggak ada urusannya sama rumah tangga. Kalau kamu mau membiayakan aku, kamu kasih aja aku uang untuk makan, ongkos kampus dan lain-lainnya. Kalau misalnya masih dalam cakupan event seperti ini, biar aku aja yang bayar. Aku masih sanggup kok dari uang yang Mas kasih setiap minggu. Dan jangan kirim uang banyak banget ke rekening aku. Tabung aja biar buat kebut-"
Dave menggebrak mejanya dan berlalu dari sana meninggalkan istrinya karena terlalu muak dengan segala ucapan yang di lontarkan oleh istrinya. Ia malas membahas hal beginian karena pada akhirnya mereka akan ribut dan bertengkar. Lalu? Dave akan menerima sikap dingin dari istrinya. Padahal kalau di pikir secara logika bukan dirinya yang salah. Gladys salah namun tak memikirkan Dave sama sekali yang mengkhawatirkan dirinya. Malah diam dan tak berniat meminta maaf pada suaminya. Kadang Dave merasa miris namun ia harus kuat dalam menjalani rumah tangganya. Istrinya masih sangat muda. Hidupnya masih belum terlalu terpikirkan oleh cinta kata Gladys.
Namun Dave tahu, Gladys sedang bersama orang lain yang Gladys cintai. Masih bersama orang yang kiranya akan menghancurkan rumah tangganya dan Gladys kelak. Dave takut kalau misalnya pemuda itu nekat mengambil Gladys, mereka akan berpisah dan kemungkinan besar akan terjadi begitu. Keinginan Dave hanya satu sekarang. Semoga saja Gladys tak kepikiran untuk selingkuh dari Dave. Karena jujur saja, Dave sangat dan teramat mencintai Gladys. Ia takut kalau wanitanya akan pergi dari hidupnya.