Kalimat Zufar menggantung di ruang tamu yang baru saja ditinggalkan para tamu Diba'an. Piring-piring kue masih berjajar di meja panjang, sebagian tinggal remah, dan aroma kopi jahe yang tadi dibagikan kepada jamaah belum sepenuhnya hilang. Dari arah dapur terdengar denting gelas yang sedang dicuci, sesekali disusul tawa Rumi yang entah sedang menertawakan apa.
Sarah tidak tertawa. Tangan kanannya menggenggam jemari kecil Naila, sementara tangan kirinya meremas ujung kerudung yang menjuntai di bahu. Matanya berpindah dari Fara ke Zufar, lalu turun ke lantai, seolah di antara motif ubin itu ada jalan keluar yang bisa ia pilih.
"Sarah?" Fara memanggilnya pelan. "Kamu tidak harus menjawab malam ini. Saya hanya ingin kamu tahu, niat saya baik."
"Saya tahu, Bu." Suara Sarah nyaris tenggelam oleh bunyi gelas dari dapur. "Justru karena niat Ibu baik, saya tidak boleh diam."
Zufar mengangkat wajah. Ada sesuatu dalam nada suara perempuan itu yang membuat hatinya mencelos, seperti pasien yang hendak mengabarkan sesuatu yang sudah lama ia simpan.
Naila menarik-narik gamis Sarah. "Bun, Nai ngantuk. Kita pulang?"
"Sebentar ya, Sayang." Sarah mengusap kepala keponakannya, lalu menarik napas panjang, sepanjang orang yang hendak menyelam. "Bu Fara, Zufar, maafkan saya. Saya tidak bisa menerima lamaran ini."
"Kalau karena kalian belum saling mengenal, itu bisa pelan-pelan," sahut Fara cepat. "Ta'aruf dulu, Umik tidak memburu-buru..."
"Bukan itu, Bu." Sarah menggeleng. "Saya sudah bersuami."
Ruang tamu itu mendadak terlalu sunyi. Bahkan denting gelas di dapur seakan ikut berhenti. Fara memandang Sarah dengan mata yang membesar, lalu perlahan duduk di sofa, seperti lututnya tak lagi sanggup menahan tubuh.
"Bersuami?" ulang Fara lirih. "Astaghfirullahal'adzim."
"Sejak kapan, Rah?" Zufar mendengar suaranya sendiri, serak dan asing. "Kamu tidak pernah cerita."
"Belum genap dua minggu." Sarah menunduk. "Kami menikah dengan sederhana, tanpa walimah. Suami saya tidak ingin pernikahan kami diketahui banyak orang, jadi saya pun tidak pernah menyebutnya di kantor."
"Lalu kenapa tadi kamu diam saja waktu Umik..." Zufar menghentikan kalimatnya sendiri. Ia tahu jawabannya bahkan sebelum pertanyaan itu selesai. Sarah tidak diberi celah. Umiknya bicara, ia sendiri menyambar dengan kata setuju, dan perempuan itu hanya sempat menyebut namanya, pelan sekali, seperti orang yang mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka.
"Saya mencari kalimat yang tidak mempermalukan siapa pun," kata Sarah. "Ternyata kalimat seperti itu tidak ada."
Fara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Saya yang salah. Saya mendahului semuanya. Ya Allah, apa yang sudah saya lakukan kepadamu, Nak."
"Ibu tidak tahu," sahut Sarah lembut. "Tidak ada orang yang tahu."
Dari musholla di ujung jalan, suara adzan isya mengalun. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Biasanya Zufar akan segera berdiri, mencari peci, dan berjalan ke musholla sambil bercanda dengan siapa pun yang ia temui di jalan. Malam itu kakinya seperti dipaku ke lantai.
Belum habis adzan, terdengar salam dari arah teras.
"Assalamualaikum! Far, gue udah dateng, jangan ngamuk dulu!"
Genggaman Sarah pada tangan Naila mengencang. Zufar melihat itu dengan jelas, sejelas ia melihat wajah perempuan itu memerah di ambang pintu sore tadi, ketika Sarah ragu melangkah ke halaman untuk menjemput Naila.
Naufal muncul di ambang pintu dengan kemeja batik yang lengannya digulung sampai siku, kunci mobil berputar-putar di jarinya. "Sorry banget gue telat. Eh, siapa sih tadi yang keluar dari sini ngebut banget? Mobil putih. Pas gue mau parkir, hampir nyium bemper gue di depan gerbang. Untung gue sempat nge-rem..."
Kalimatnya terputus. Kunci di jarinya berhenti berputar. Matanya tertumbuk pada perempuan berkerudung biru yang berdiri di tengah ruang tamu, dan gadis kecil yang setengah mengantuk di sampingnya.
"Om Naufal," gumam Naila sambil mengucek mata.
Zufar menoleh kepada Naila, lalu kepada sahabatnya. "Lo kenal Naila?"
Naufal tidak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, persis seperti orang yang salah masuk rumah dan tidak tahu harus mundur atau maju.
"Bu Fara," kata Sarah, suaranya kini lebih tenang daripada siapa pun di ruangan itu, "ini suami saya."
Fara menurunkan tangan dari wajahnya. "Naufal?"
Di kepala Zufar, potongan-potongan percakapan berhamburan dan menyusun dirinya sendiri. Naufal di ruang dokternya, mengacak-acak rambut sambil mengeluh soal calon istri yang tak pernah ia kenal, yang wajahnya pun masih samar di ingatannya. Naufal di restoran pada pagi hari Maulid, sibuk dengan ponsel, menyuruh semua orang tidak datang ke pernikahannya. Naufal di telepon sore tadi, memilih menemani Alia daripada datang ke Diba'an.
Dan perempuan yang wajahnya samar itu ternyata Sarah. Perempuan yang sujud begitu lama di musholla rumah sakit sampai Zufar khawatir terjadi sesuatu padanya. Perempuan yang memilih melepas pekerjaan daripada melepas jilbabnya. Perempuan yang setiap minggu duduk di ruang tunggu poli anak, memangku Naila, sendirian.
"Jadi selama ini," Zufar memulai, tetapi tidak sanggup menyelesaikan.
"Far, gue bisa jelasin," kata Naufal cepat.
"Nggak sekarang." Zufar sendiri terkejut mendengar betapa datar suaranya.
Fara berdiri. Wajahnya masih pucat, tetapi suaranya sudah kembali menjadi suara seorang ibu yang terbiasa memimpin rapat. "Naufal, antar istrimu pulang. Anak itu sudah mengantuk. Kita bicara lain hari."
Naufal mengangguk seperti murid yang ditegur guru. Ia mendekat dan mengulurkan tangan hendak menggendong Naila, tetapi gadis kecil itu justru melingkarkan lengan ke leher Sarah. Sarah mengangkat keponakannya sendiri, memperbaiki letak boneka di pelukan Naila, lalu berpamitan kepada Fara dengan salam yang nyaris tak bersuara.
"Waalaikumsalam warrahmatullah," jawab Fara. Matanya basah.
Sebelum melangkah keluar, Sarah berhenti sejenak di depan Zufar. "Maafkan aku, Far. Seharusnya aku bicara sejak awal."
"Bukan kamu yang harus minta maaf," jawab Zufar pelan. "Aku yang menjawab sebelum bertanya."
Dari balik jendela, Zufar melihat Naufal berjalan lebih dulu ke mobilnya. Sarah menyusul beberapa langkah di belakang, menggendong Naila yang kepalanya terkulai di bahunya. Naufal membukakan pintu belakang, lalu berdiri canggung di samping pintu itu, tak tahu harus berbuat apa dengan kedua tangannya.
"Bi, tadi ada apa? Kok kayak ada yang jatuh?" Rumi muncul dari arah dapur dengan lap di tangan, Ilham menyusul di belakangnya membawa nampan berisi gelas-gelas kosong.
"Tidak ada apa-apa, Rumi," jawab Fara. "Tolong bereskan piring-piring itu. Bibi mau wudhu dulu."
Rumi memandang wajah bibinya, lalu wajah Zufar, dan dahinya berkerut. Untuk sekali itu ia tidak melontarkan ejekan apa pun. Ilham meletakkan nampan itu di meja, menepuk bahu sepupunya sekali tanpa bertanya, lalu mengambil peci dari meja dan berjalan ke musholla lebih dulu.
Zufar keluar ke teras. Iqamah sudah terdengar dari musholla. Ia berjalan ke sana dengan langkah yang berat, berdiri di saf kedua, dan bertakbir mengikuti imam. Namun sepanjang empat rakaat itu, ia tidak bisa mengingat satu pun surat yang dibaca. Yang terngiang di kepalanya hanya suaranya sendiri, setengah jam yang lalu, mengucapkan setuju untuk menikahi istri sahabatnya.