Adibah tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk di balik kemudi mobil putih kecilnya yang terparkir di dekat gerbang rumah Fara, kedua tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Mobil itu jarang ia bawa ke kantor. Malam ini ia membawanya hanya karena sudah berjanji menjemput Sarah dan mengantarnya pulang.
Zufar setuju. Semua keputusan Umik adalah yang terbaik.
Kalimat itu berputar di kepalanya seperti kaset yang pitanya kusut. Ia mencoba mengingat apakah ada nada ragu dalam suara Zufar, sedikit saja, sesuatu yang bisa ia pegang. Tidak ada. Laki-laki itu menjawab dengan tenang, sama tenangnya ketika ia berpapasan dengan Adibah beberapa menit sebelumnya dan menyuruhnya berhati-hati di jalan.
Di halaman, seseorang berjalan membawa kantong sampah ke arah gerbang. Adibah buru-buru mengusap pipinya dengan ujung jilbab, menyalakan mesin, lalu menginjak gas lebih dalam daripada yang ia maksudkan. Mobil itu melesat keluar gerbang, nyaris menyerempet sebuah mobil abu-abu yang hendak menepi. Klakson panjang terdengar di belakangnya. Adibah tidak menoleh.
Jalanan malam itu ramai oleh orang-orang yang pulang dari acara Maulid di masjid-masjid. Lampu-lampu hias masih menyala di beberapa gang, dan dari pengeras suara di kejauhan masih terdengar lantunan sholawat. Biasanya suara itu menenangkan Adibah. Malam ini, setiap bait justru terasa seperti tangan yang menekan luka.
Ia tidak sadar seberapa cepat ia melaju sampai lampu di perempatan berubah kuning, lalu merah. Kakinya terlambat pindah ke pedal rem. Ban berdecit panjang. Mobilnya berhenti hanya sejengkal dari sebuah sepeda motor yang membawa seorang bapak dan anak kecil berpeci di boncengannya.
Bapak itu menoleh dengan wajah kaget, lalu marah. "Mbak! Lihat-lihat, Mbak! Ada anak kecil ini!"
"Maaf, Pak," bisik Adibah, meski kaca jendelanya tertutup dan suaranya tidak mungkin terdengar. "Maaf, maaf."
Anak kecil itu memandangnya dari balik bahu ayahnya, matanya bulat dan polos. Ketika lampu berubah hijau dan motor itu melaju, Adibah masih gemetar. Kedua tangannya tak mau berhenti bergetar di atas setir. Ia membayangkan apa yang akan terjadi seandainya ia terlambat satu detik saja, dan perutnya terasa diaduk.
"Astaghfirullah," ucapnya berulang-ulang. "Astaghfirullahal'adzim."
Ia menyalakan lampu sein dan menepi di depan sebuah masjid yang pintunya masih terbuka. Adzan isya baru saja selesai berkumandang. Adibah turun dari mobil dengan lutut yang lemas, mengambil wudhu, dan masuk ke saf perempuan yang hanya berisi tiga orang ibu-ibu.
Ia menahan diri sepanjang sholat. Namun pada rakaat terakhir, ketika keningnya menyentuh sajadah, pertahanannya runtuh. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi sajadah yang harum oleh pewangi lantai.
Ya Allah, aku yang salah. Aku yang membiarkan rasa ini tumbuh tanpa izin-Mu. Dia tidak pernah menjanjikan apa pun. Kalau memang dia bukan untukku, jauhkan aku dari berharap. Jangan biarkan aku membenci perempuan yang tidak bersalah. Ucap lirih dalam hati Adibah.
Selesai salam, ia duduk lama di pojok masjid. Seorang ibu menyentuh bahunya dan menyodorkan selembar tisu tanpa bertanya apa-apa. Adibah tersenyum dan berterima kasih. Kebaikan kecil dari orang asing itu justru membuatnya ingin menangis lagi.
Ketika akhirnya ia kembali ke mobil, satu keputusan sudah terbentuk di kepalanya. Ia tidak sanggup bertahun-tahun lagi duduk di depan ruangan Bu Fara, mengatur jadwal pertemuan calon menantu atasannya, mengetik undangan pernikahan yang bukan untuknya. Ia harus pergi, dengan cara yang baik, sebelum hatinya berubah menjadi sesuatu yang tidak ia kenali.
Sesampainya di rumah, ibunya membukakan pintu dan langsung menatap matanya yang sembab. "Kenapa, Nak?"
"Capek, Bu," jawab Adibah sambil tersenyum. "Acaranya ramai."
Dari ruang tengah, Ayah menoleh dari layar televisi dan bertanya apakah ia sudah makan. Adibah mengangguk, meski sejak siang tak sesuap pun masuk ke mulutnya, lalu cepat-cepat masuk ke kamar sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.
Di kamarnya, ia tidak langsung berganti pakaian. Ia membuka ponsel dan, seperti kebiasaannya setiap malam selama hampir dua tahun terakhir, membuka sebuah blog puisi bertampilan sederhana. Tulisan terakhir di sana bertanggal berminggu-minggu lalu, sebelum kedua tangan pemiliknya lumpuh di rumah sakit. Di bawahnya berderet komentar dari satu akun yang sama, akun dengan nama samaran yang Adibah buat sendiri, semuanya menanyakan kabar dan menunggu puisi berikutnya. Malam ini ia mengetik satu komentar lagi, lalu menghapusnya. Ia tidak punya kalimat penghibur untuk siapa pun, bahkan untuk adik yang tidak pernah sudi memanggilnya kakak.
***
Rumah Fara baru benar-benar sepi menjelang pukul sepuluh malam. Ilham dan Rumi sudah pulang setelah membereskan piring, dan para pembantu sudah masuk ke kamar mereka di belakang. Fara duduk di ruang tengah dengan Al-Quran terbuka di pangkuan, tetapi matanya tidak bergerak dari halaman yang sama.
Zufar duduk di sampingnya. Untuk beberapa lama mereka hanya diam, mendengarkan detak jam dinding.
"Umik pernah bilang tidak akan menjodoh-jodohkanmu," kata Fara akhirnya. "Malam ini Umik melanggar kata-kata Umik sendiri. Dan lihat akibatnya. Umik mempermalukan seorang istri di rumah kita sendiri."
"Umik tidak tahu."
"Itu yang membuat Umik malu, Far. Umik tidak tahu, tapi Umik bicara seolah-olah tahu segalanya." Fara menutup mushafnya pelan. "Besok Umik akan meminta maaf kepada Sarah dengan pantas."
Zufar mengangguk. Ia meraih tangan ibunya dan menciumnya lama.
"Umik mau tanya satu hal," lanjut Fara. "Kenapa tadi kamu bilang setuju?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi Zufar tidak segera bisa menjawab. "Karena Umik ingin," katanya akhirnya.
"Itu bukan jawaban laki-laki yang hendak menikah. Itu jawaban anak kecil yang takut dimarahi." Fara mengusap pipi putranya. "Umik tidak mau punya menantu yang dinikahi karena Umik ingin. Umik mau kamu menikah karena kamu yakin, karena Allah."
Nama itu sudah ada di ujung lidah Zufar. Tetapi wajah ibunya terlalu lelah malam itu, matanya masih merah oleh rasa bersalah, dan Zufar tidak sanggup menambah satu beban lagi ke pundaknya. Ia hanya berkata, "Zufar mengerti, Mik."
Di kamarnya, Zufar membuka dompet dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat empat. Kertas yang Sarah berikan di teras rumahnya, berisi sayyidus sholawat dan sayyidud du'a, ijazah dari Kyai Imam Bukhori. Ia membacanya pelan, lalu tertawa getir sendiri. Perempuan yang mengajarinya amalan itu ternyata istri sahabatnya, dan ia baru saja menyatakan bersedia menikahinya.
Ia teringat nasihatnya sendiri kepada Naufal di ruang dokter. Kita tidak pernah tahu takdir kita, membiarkan semuanya mengalir adalah pilihan kita. Malam ini ia melihat sendiri ke mana sesuatu yang dibiarkan mengalir bisa bermuara. Naufal membiarkan perjodohannya mengalir, dan seorang perempuan menunggu sendirian. Ia sendiri membiarkan permintaan Umiknya mengalir, dan hampir saja melukai tiga hati sekaligus.
Tiga hati. Zufar terdiam ketika menyadari ia menghitung hati yang tidak hadir di ruang tamu itu. Adibah sudah pulang lebih dulu. Setidaknya, pikirnya, Adibah tidak perlu mendengar kekacauan malam ini.
Ia melipat kembali kertas itu, menyelipkannya ke dompet, lalu berwudhu. Sampai lewat tengah malam, Zufar duduk di atas sajadah, membaca sholawat itu baris demi baris sampai lidahnya tidak lagi tersandung.