Mobil abu-abu itu melaju pelan di jalan yang mulai lengang. Naila tertidur di pangkuan Sarah di kursi belakang, bonekanya terselip di antara lengan, napasnya halus dan teratur. Sarah memandangi lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu di balik kaca, sementara Naufal menyetir dengan kedua tangan di kemudi, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Sudah lima belas menit tidak ada yang bicara.
Ponsel di dasbor menyala. Layarnya memantulkan cahaya biru ke langit-langit mobil, cukup terang untuk dibaca dari kursi belakang.
1 pesan dari Alia
Alia : Sudah sampai di rumah temanmu? Jangan pulang terlalu malam ya.
Sarah memalingkan wajah ke jendela. Naufal meraih ponsel itu dan membaliknya, layar menghadap ke bawah, dengan gerakan secepat orang yang memadamkan api.
"Aku nggak tahu kamu kerja di kantor Umiknya Zufar," katanya akhirnya. Suaranya parau.
"Kamu tidak pernah bertanya aku bekerja di mana."
Naufal menelan ludah. Jawaban itu tidak diucapkan dengan marah, tetapi justru karena itulah terasa lebih tajam. "Kenapa kamu nggak bilang ke mereka kalau kamu sudah menikah?"
"Malam setelah akad, kamu bilang tidak usah cerita ke orang-orang. Biar sederhana saja." Sarah mengusap rambut Naila yang menempel di kening. "Aku menurutinya."
Naufal tidak membantah. Ia memang pernah mengatakan itu, di teras rumah kontrakan ini, sambil memandangi ponselnya dan bukan wajah perempuan yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
Rumah kontrakan itu kecil, berpagar besi rendah, terletak di sebuah gang yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah sakit. Sarah memilihnya dua tahun lalu, ketika kontrol Naila mulai sering dan ia lelah berganti-ganti angkot. Naufal memarkir mobil di mulut gang. Sarah turun lebih dulu dengan Naila di gendongannya, dan Naufal menyusul dengan tas kecil berisi botol minum dan kerudung cadangan yang tertinggal di jok.
Sarah membawa Naila ke kamar yang dindingnya penuh bintang tempel. Di samping jendela, pot kecil berisi mawar putih masih berbunga, seperti biasa. Ia membaringkan keponakannya, melepas sandal kecilnya, menyelimutinya, lalu mencium keningnya lama.
Ketika ia kembali ke ruang depan, Naufal masih berdiri di dekat pintu, memegang tas kecil itu seperti tamu yang belum dipersilakan duduk.
"Taruh saja di kursi," kata Sarah.
Naufal menurut. Kasur tipis yang selama dua minggu ini menjadi tempat tidurnya masih tergelar di sudut ruangan, bantalnya miring, selimutnya terlipat asal. Di meja kecil di sebelahnya ada sepiring nasi yang ditutup tudung saji, seperti setiap malam.
"Mas," panggil Sarah. Itu pertama kalinya ia memanggil Naufal dengan sebutan itu di depan wajahnya, dan Naufal menoleh dengan kaget. "Aku mau bicara sebentar. Setelah itu aku mau tidur. Aku capek."
"Iya."
"Dua minggu ini aku berdiri di ambang pintu itu setiap malam." Sarah menunjuk pintu depan yang catnya mulai mengelupas. "Menunggu lampu mobilmu masuk gang. Kadang sampai jam satu, kadang sampai aku ketiduran di kursi. Aku pikir, seorang istri memang seharusnya begitu. Menunggu imamnya pulang."
Naufal membuka mulut, tetapi Sarah mengangkat tangan sedikit, memintanya menunggu.
"Mulai malam ini aku tidak akan menunggu lagi. Pintu tidak akan kukunci dari dalam. Kamu punya kunci sendiri. Kalau kamu pulang, pulanglah. Kalau tidak, aku tidak akan bertanya." Suaranya bergetar sedikit, lalu kembali tenang. "Besok aku akan minta maaf kepada Bu Fara di kantor. Dan kalau kamu ingin bicara tentang kita, bicaralah ketika kamu sudah siap jujur. Bukan sebelum itu."
Ia mengucap salam dan masuk ke kamar Naila. Pintunya tidak ditutup rapat.
***
Naufal duduk di kasur tipisnya dengan lampu ruang depan yang tetap menyala. Ponselnya bergetar sekali lagi. Ia membalik layarnya. Pesan kedua dari Alia, menanyakan apakah ia sudah sampai rumah. Ia mengetik, "Sudah, aku sudah di rumah," lalu berhenti pada kata terakhir. Rumah siapa? Ia menghapus seluruh kalimat itu dan meletakkan ponsel di lantai tanpa membalas apa pun.
Ia teringat malam-malam selama dua minggu ini. Ia berangkat sebelum subuh dengan alasan kantor, padahal kantornya baru buka pukul delapan. Ia pulang lewat tengah malam setelah mengantar Alia, atau sekadar duduk di mobil di parkiran sebuah minimarket sampai ia yakin semua orang di rumah ini sudah tidur. Setiap kali ia masuk, lampu ruang depan selalu menyala dan sepiring makanan selalu tertutup tudung saji. Ia tidak pernah menyentuhnya. Pagi harinya piring itu sudah hilang, berganti piring lain pada malam berikutnya.
Matanya kemudian tertumbuk pada selembar kertas yang ditempel di dinding dekat dapur dengan selotip bening. Tulisannya rapi, huruf-huruf kecil yang condong ke kanan. Jadwal Naila. Obat pagi sesudah sarapan, obat malam sebelum tidur, kotak-kotak kecil yang dicentang satu per satu untuk setiap hari dalam sebulan. Di bagian bawah tertulis jadwal kontrol setiap Kamis di poli anak, dan nama dokternya: dr. Zufar Aliman. Naufal membaca nama itu dua kali. Dua minggu ia tinggal di rumah ini, dan ia baru tahu bahwa sahabatnya sendiri yang merawat anak yang tidur di kamar sebelah.
Ia juga teringat satu malam ketika ia salah membuka pintu. Ia mengira itu pintu kamar mandi, dan cahaya lampu ruang depan jatuh ke dalam kamar berbintang itu, tepat ke wajah Sarah yang tertidur sambil memeluk Naila. Perempuan itu mengerjap silau. Naufal buru-buru menutup pintu dan tidak pernah membicarakannya.
Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, ia sekarang bisa melihat Sarah duduk di atas sajadah di samping jendela, di dekat pot mawar putih. Kepalanya tertunduk. Suaranya pelan, tetapi rumah itu terlalu kecil untuk menyembunyikan doa.
"Ya Allah, kalau aku memang beban baginya, ringankan dia dariku. Tapi kalau aku masih Engkau izinkan menjadi istrinya, lembutkan hatinya untuk pulang. Bukan untukku, ya Rabb. Untuk anak yatim yang tidur di sampingku ini."
Naufal menunduk. Sesuatu yang panas naik ke matanya, dan ia malu sendiri karenanya. Sejak akad diucapkan, ia menganggap dirinya korban dari perjodohan yang tidak ia pilih. Malam ini, dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia mendengar bahwa ada orang lain di rumah ini yang merasa dirinya beban.
Ia berdiri dan membuka tudung saji di meja kecil. Nasi putih, sayur bening, dan dua potong tempe goreng yang sudah dingin. Ia duduk dan memakannya pelan-pelan, sampai butir terakhir. Rasanya hambar karena sudah berjam-jam tersaji, tetapi ia tetap menghabiskannya.
Setelah itu ia mencuci piringnya sendiri di dapur yang sempit, meletakkannya di rak, lalu berdiri lama di depan pintu depan. Ambang pintu itu tampak biasa saja, berlantai keramik retak dengan keset lusuh bertuliskan selamat datang. Naufal tidak pernah membayangkan seseorang pernah berdiri berjam-jam di sana karena dirinya.
Malam itu ia tidak tidur. Menjelang subuh, ketika adzan terdengar dari masjid di ujung gang, ia tidak menyalakan mobil. Ia berwudhu dan berjalan ke masjid itu, untuk pertama kalinya sejak ia pindah ke rumah ini.