"Apa maksud kalian?" Telapak tanganku basah, debar di dadaku semakin cepat sampai sakit rasanya. Aku berusaha menghentikan ketakutan yang mengelilingiku saat ini. "Cepat jelaskan padaku!"
"Tenanglah!" Ivan menghampiri dan mengguncangku beberapa kali. "Dengarkan penjelasan kami, dan kau akan tahu jika kau sedang berkhayal!"
"Ya, dengarkan dulu kenyataannya." Albert yang mewakili yang lain untuk bercerita. "Mrs. Beatrix tinggal di sini sejak lama, dulu rumahnya di depan rumahmu tapi dia sudah pindah dan rumah itu dibiarkan kosong. Dari dulu, pasangan suami-istri Rikharnova tidak pernah mempunyai anak."
"Bertahun-tahun menikah, mungkin sekitar sembilan tahun, atau delapan? Entahlah, kami tak terlalu ingat, waktu itu dia bercerita di depan kelas dan di kelas sebelah sedang jam kosong. Suasana jadi begitu berisik, tapi dia tetap bercerita."
"Ya, kau juga ada di sana," cibir Deinn yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak. "Aku hanya memberitahunya, karena dia sudah mulai gila!"
Albert menghela napas panjang dan meneruskan, "Sudahlah. Lalu setelah berbagai pengobatan dan metode mereka lakukan, baik yang herbal atau modern, baru diketahui sebuah kenyataan menyedihkan bagi pasangan suami-istri itu, bahwa suaminya prostat dan mandul."
Aku terhenyak di tempat. Bagaimana bisa? Bukankah Paman Jim adalah pria gagah yang kuat dan perkasa? Dia terlihat baik-baik saja dan tak kurang suatu apa pun! Dia sehat dan bugar karena rutin berolahraga.
Bagaimana mungkin pria kuat itu adalah seseorang yang memiliki cacat pada alat reproduksinya?
"Mereka terlambat mengetahui hal itu, padahal mereka rutin berobat. Selain kabar menyakitkan mengenai kemandulan sang suami, Mrs. Beatrix juga terkejut dan stress saat mengetahui jika rahimnya harus diangkat karena sebuah penyakit yang baru-baru itu menggerogoti. Dokter bilang ada kista seukuran bola pingpong di rahim Mrs. Beatrix dan mereka tidak akan pernah bisa memiliki seorang anak."
Pandangan mataku bergoyang, lututku terasa lemah sehingga tak kuat menahan bobot tubuhku. Aku hampir jatuh jika saja Ivan yang berdiri di dekatku tak siaga dengan segera menangkap tanganku. Aku melepas tangannya dan terduduk di lantai, menangis sambil memegangi d**a yang sesak.
Sakit sekali, begitu menyakitkan. Rasanya seperti teriris sembilu. Aku tak kuasa menahan tangis, aku tak sanggup bertahan lebih lama dari ini.
"Aaron, tenanglah!" seru Ivan, ia membantuku berjalan menuju ranjang dan aku duduk di sana. Ivan menawarkan agar aku berbaring saja, tapi aku menolak dan memilih duduk di pinggir sambil menutupi wajah dengan tangan.
"Oh, bagaimana bisa hal ini terjadi? Elena itu ... dia ... dia!" Aku menarik napas panjang dan menyeka air mata di wajah. Aku kembali meneruskan ucapanku, "Jelas-jelas Elena dilahirkan di desa ini, enam tahun yang lalu, oleh pasangan suami-istri keluarga Rikharnova ... yang rumahnya berseberangan dengan rumahku."
Ivan, Deinn dan Albert tak berani angkat bicara. Mereka hanya diam saat aku terisak di depan mereka, tapi aku tak peduli dengan penampilanku kini.
Kenapa laki-laki tidak boleh menangis?
Kenapa laki-laki dilarang terlihat lemah di depan orang lain?
Tak adil, hanya karena dilahirkan sebagai laki-laki aku tidak boleh menangis dan harus selalu terlihat tegar. Padahal aku menangis karena tak sanggup, aku menangis karena tak mampu lagi menahan perasaan getir selama ini. Rasa sakit di hatiku begitu menyakitkan, tertoreh dalam ... melebihi luka yang terlihat oleh mata.
"Berhentilah menangis, air mata tidak akan mengubah apa pun. Lebih baik kita bermain." Deinn menghampiri dan menepuk-nepuk kepalaku. Albert mengikuti sang adik, ia lalu duduk dan menepuk punggungku sambil tersenyum tipis.
"Benar kata Deinn, lebih baik kita bermain agar Aaron bisa melupakan kesedihannya." Albert menyetujui usulan sang adik. Ia lalu meminta pendapatku. "Bagaimana menurutmu, Aaron? Kau tak masalah jika kami bermain di sini?"
Aku kembali mengusap pipiku yang basah. Wajah dan hidungku memerah. "Tentu," jawabku dengan suara serak, seperti tak minum berhari-hari. "Kita akan bermain di sini."
Ivan turut menghampiri dan berdiri di sebelah Deinn. Aku dikelilingi sahabat-sahabat terbaikku, hanya kurang seorang.
"Pertama-tama, kau usap dulu air mata di pipi. Kau tampak jelek sekali," sindirnya sambil tertawa setelah memasang ekspresi wajah yang konyol, dia bermaksud menghiburku dan mencairkan suasana. Kami lantas tertawa bersama-sama, meskipun tawaku tak akan bisa sekeras mereka bertiga.
"Baik, sudah kuputuskan kita akan bermain monopoli saja!" Aku lalu meloncat turun dari ranjang setelah meminta Deinn dan Ivan untuk menyingkir, lalu berkata, "Aku akan ambil kotak mainan lamaku, rasanya dulu aku sempat menyimpan monopoli itu di bawah ranjang sebelum ibuku melenyapkan semua mainan yang tak lagi kumainkan."
Aku berjongkok dan menengok ke bawah ranjang, di sudut terdalam kolong terdapat sebuah kotak besi berukuran besar. Senyumku mengembang seketika. Itu kotak mainanku, semua mainan lama kusimpan di dalamnya.
Aku ingat pernah menyimpan harta berharga peninggalan Elena di sini, sebuah boneka pria jahe warna merah dan topi buah stroberi. Aku ingat pernah menolak hadiahnya itu, tapi berakhir dengan Elena yang menangis keras. Karena tak ingin membuatnya menangis lebih lama lagi dari ini, akhirnya boneka itu kusimpan dalam kotak besi.
Bukannya aku tidak suka, hanya saja boneka itu terlihat menyeramkan saat malam hari, jadi akan lebih baik jika boneka itu disimpan di tempat yang aman daripada aku terus bermimpi buruk karena melihatnya. Mungkin boneka jahe yang diberi oleh Elena saat ulang tahunku ini bisa mengingatkan teman-temanku akan dirinya.
Aku meraih kotak besi di kolong ranjang dan menariknya keluar, aku sampai menempelkan badan ke lantai seperti kadal merayap agar memudahkanku mengambil kotak besi itu.
"Kau sedang apa?" Ivan bertanya, ternyata ia sudah berada di sebelahku, ikut memasukkan badannya ke bawah ranjang.
"Tangan kurusmu tak bisa menariknya sendirian, harusnya kau panggil aku." Ivan membantuku menarik kotak besi yang berat itu hingga keluar dari kolong ranjang.
Aku menepuk-nepuk tutup kotak, menyingkirkan debu yang menempel.
"Wah, kotak yang aneh, terlihat misterius," komentar Deinn. Ia dan kakaknya berjongkok di dekatku dan Ivan.
Setelah selesai membersihkan kotak itu dari debu, aku membukanya perlahan-lahan. Kotak besi ini sudah cukup tua, tak menggunakan kunci dan gembok untuk menguncinya. Cukup merapatkan tutupnya maka kotak ini sepenuhnya aman, ini pemberian kakekku yang sudah lama meninggal.
Beliau pergi ke surga saat usiaku menginjak lima tahun. Yah—dua tahun bukan waktu yang singkat.
Ketika kubuka kotak itu, debu seketika beterbangan di sekitar kami berempat. Aku dan Ivan yang paling dekat dengan kotak langsung terbatuk-batuk karena debu-debu menyebalkan itu.
"Wah, seperti kotak harta karun!"
Aku menyetujui komentar Deinn, kotak besi di depan kami ini adalah kotak antik yang sangat berharga. Terdapat ukiran di pinggirnya dan di dalam terdapat bantalan warna merah. Benar-benar sebuah kotak harta yang berharga.
"Cepat ambil monopoli di dalamnya," titah Ivan. Ia lalu mengobrak-abrik kotak mainan lamaku tanpa permisi, tapi aku tak mempermasalahkannya karena itu hanya mainan lama. Justru lebih baik diobrak-abrik, agar lebih cepat ditemukan.
Saat Ivan mencari-cari monopoli untuk kami mainkan, aku justru mencari boneka pria jahe pemberian Elena. Aneh, aku belum melihatnya. Padahal boneka itu memiliki warna yang mencolok, mustahil tidak bisa kutemukan. Atau jangan-jangan aku keliru? Ah, tidak. Aku yakin menyimpan boneka itu di sini.
"Sudah ketemu." Ivan menarik keluar papan permainan yang dicarinya sejak tadi. "Aaron, cepatlah. Kita main."
"Duluan saja," balasku. Saat ini aku sedang sibuk mencari boneka pemberian Elena. Lalu aku mendengar Deinn bicara, "Baiklah, kami main lebih dulu tanpamu."
Aku tak bisa menemukan boneka itu di dalam kotak, padahal aku sengaja mengeluarkan beberapa benda di dalamnya untuk melihat lebih dalam lagi, tapi aku tetap tak melihatnya. Aku mendadak was-was, apa jangan-jangan hadiah pemberian Elena turut menghilang?
"Ah, ini dia!" Aku tersenyum senang saat berhasil menemukan boneka pria jahe warna merah itu. Letaknya di sudut terdalam kotak. Pantas saja aku tak bisa menemukannya dengan mudah tadi!
"Ada apa, Ron?" tanya Deinn.
Aku menggenggam boneka pemberian Elena erat-erat dan berbalik badan. "Lihat," ucapku sambil menghampiri teman-teman. "Ini boneka pemberian Elena!"
Deinn yang memperhatikanku lebih dulu terkejut. Bahkan Ivan dan Albert yang sedang bermain pun seketika menghentikan permainan mereka dan menatapku. Aku hanya tersenyum senang karena tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang kurasakan saat menemukan harta berharga peninggalan sahabatku.
"Akhirnya kutemukan. Kalian ingat? Ini adalah boneka pemberian Elena saat ulang tahunku kemarin. Dia begitu manis, aku tak bisa menolak hadiahnya, meski ingin sekali membuangnya saat itu."
Aku lantas duduk di sebelah Ivan, masih memperhatikan boneka pria jahe dengan pandangan berbinar-binar. Kudengar Ivan di sebelahku terbatuk-batuk. Aku mendongak dan melihat ke dalam matanya.
"Kau tak apa?" Ivan melempar pertanyaan. Keningku mengerut keheranan.
"Apanya? Aku baik-baik saja," balasku. "Justru kau yang kenapa. Apa kau sedang batuk?"
Pertanyaanku dibalas gelengan lemah oleh Ivan. Aku menghela napas lega dan menepuk-nepuk pundaknya. "Syukurlah kau tak apa. Kupikir kau sedang batuk, makanya aku pikir aku bisa memberimu obat pereda batuk andalanku."
Aku kemudian menggulirkan mata ke arah lain, kulihat Deinn dan Albert tengah menatapku dengan ekspresi serius. "Ada apa?" tanyaku sambil tersenyum canggung. "Kalian tak apa?"
"Kami baik."
"Ya, justru kau yang sepertinya membutuhkan bantuan di sini."
Keningku kembali mengerut mendengar ucapan kakak-beradik itu. "Kalian membicarakan apa? Aku tak mengerti," balasku sambil memasang wajah bingung.
Deinn memicingkan mata. "Kau harus segera ke dokter, Ron. Keadaanmu benar-benar parah," ucapnya, terdengar seperti bualan gila di telingaku.
"Hentikanlah, aku tak mengerti arah pembicaraan ini." Aku membalas dengan sengit, boneka pria jahe masih kugenggam erat. "Lebih baik kalian ingat-ingat lagi tentang Elena. Boneka ini adalah hadiah pemberiannya dan kalian jelas-jelas melihatnya saat gadis itu memberikannya padaku."
Albert yang duduk di sebelah kiriku—dan Ivanoff duduk di sebelah kanan—sontak mengejutkanku saat tiba-tiba saja ia menaruh tangannya di pundakku. Aku menoleh dari Deinn kepadanya, Albert.
"Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu selama 4 bulan terakhir. Kami hanya percaya jika kau memang pergi ke luar negeri, karena di sana ada banyak hal aneh yang bisa saja terjadi kepada seseorang, maka tak aneh jika kau kembali dalam keadaan seperti ini."
Ucapan Albert terdengar tak masuk akal. Aku tiba-tiba merasa kesal, karena mereka tetap tak mempercayaiku bahkan setelah aku menunjukkan beberapa bukti kepada mereka berempat. "Kupikir kalian sahabatku," desisku tajam.
"Kami memang sahabatmu," balas Albert lagi. Ia meremas pundakku, tapi segera kusingkirkan tangannya dari sana.
"Tak ada sahabat yang tak mempercayai sahabatnya dan mengatakan sesuatu yang menyudutkanku."
Sungguh, aku kecewa terhadap mereka. Bisa-bisanya mereka menuding aku berbohong, mereka pikir aku sudah gila.
"Heh, kau sejak tadi terlihat seperti korban, ya?"
Aku mendongak dan mataku langsung bertemu dengan sepasang mata biru milik Deinn.
"Berhenti mengucap hal konyol yang bodoh. Sekalipun kami tak pernah melihat sosok itu. Dia tak pernah ada dalam hidup kami, bahkan boneka yang kau sebut-sebut itu juga tak ada!" Deinn menunjukku dan berkata dengan nada yang berapi-api.
Aku tersulut emosi. "Konyol! Dasar pembohong!"
Aku lalu mengangkat tinggi-tinggi boneka pemberian Elena. Lalu mengedarkannya di depan wajah teman-temanku yang tak mempercayai ucapanku tentang boneka ini.
"Coba kutebak, kau kehabisan obat PTSDmu sehingga penyakit delusimu kambuh."
"Heh, kau konyol sekali, Aaron. Singkirkan benda itu.
"Berhenti mendekatkan benda menjijikkanmu kepada kami!"
Aku benar-benar tersulut emosi. "Kalian yang tidak waras! Kalian buta, ya!? Jelas-jelas di sini ada boneka pemberian Elena! Padahal sudah kuminta kalian mendeskripsikan apa yang kalian lihat tapi kalian justru mengatakan sesuatu yang menyakitkan!"
Deinn bangkit berdiri dan berjalan menghampiri, tahu-tahu aku sudah dipukul olehnya. "Sadarlah, Aaron! Sadarlah! Kau membuat kami merasa bersalah!"
Aku mengusap pipi yang menjadi korban keganasan Deinn dan mencibir tindakannya. "Aku begini karena ketidakpercayaan kalian padaku."
"Padahal aku hanya ingin memperlihatkan boneka pria jahe warna merah ini kepada kalian." Aku mengangkat bangkai tikus ke hadapan Deinn yang sontak mundur ketakutan.
Beberapa detik kemudian aku sudah berteriak histeris. "AH, APA INI!?" Aku langsung melempar bangkai tikus tanpa kepala itu ke sudut kamar dan menatap tanganku yang tidak bisa berhenti gemetar.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" bisikku lirih. "Boneka itu menghilang ... padahal jelas-jelas yang kugenggam sejak tadi adalah boneka pria jahe ...."
Albert yang sejak tadi diam kembali menepuk pundakku. "Kami benar-benar minta maaf karena sudah membuat perasaanmu memburuk, tapi apa yang Deinn katakan itu benar," ucapnya. "Kau benar-benar harus pergi ke psikiater, Ron."
Aku berbisik lirih, "Kenapa begitu?"
Terdengar hela napas lelah dari seseorang, Ivanoff. "Karena kau terus saja menyodorkan bangkai tikus dan berkata seolah-olah benda menjijikkan itu adalah pemberian berharga dari gadis dalam khayalanmu."
"Makanya kami diam saja saat kau menatap bangkai hewan itu dengan mata berkaca-kaca. Saat pembicaraan dimulai pun, kau terus saja menggenggam bangkai tikus yang baunya menyengat."
Aku menatap kedua tangan dan ucapan Ivan seakan menamparku dengan kenyataan. Mereka berkata benar, ada aroma busuk yang tertinggal di sana, bahkan terdapat noda darah di sela-sela jari tanganku.
Perutku seperti diremas-remas oleh tangan yang tak kasatmata. Seketika aku bangkit dan berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan semua sarapanku pagi ini.
Sesuatu yang kupikir adalah boneka pemberian Elena ternyata adalah bangkai tikus yang menjijikkan. Aku buru-buru membersihkan tangan dan melihat ke cermin.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?