"Tidak, tidak, tidak! Ini pasti hanya mimpi! Mimpi buruk di siang hari! Mustahil aku berhalusinasi! Karena itu tidak mungkin!"
Aku keluar dari kamar mandi dan kembali kepada mereka dengan wajah pucat pasi. "Aku tidak gila," ucapku, mulai membahas sesuatu yang kami saksikan beberapa saat yang lalu. "Itu hanya mimpi buruk."
"Oh, ya? Kalau begitu coba jelaskan kenapa kau sampai menggenggam bangkai tikus yang sudah membusuk?"
Aku menatap tajam Deinn yang duduk berseberangan denganku, aku sempat melihat sirat ketakutan di matanya, tapi beberapa saat kemudian ia sudah membalas tatapanku dengan sengit.
"Aku tidak berhalusinasi, mustahil aku bermimpi buruk siang-siang begini," ucapku setengah mendesis. "Pasti saat aku lengah tadi, ada seseorang yang iseng menukar boneka pria jahe milikku dengan bangkai tikus itu!"
"AARON!" Ivan membentakku, aku mematung seketika. Aku seperti berada dalam ketakutan hebat yang memelukku dengan tiba-tiba.
"Berhenti mengatakan sesuatu yang bodoh, Aaron! Mana mungkin kami melakukan hal buruk semacam itu kepadamu!"
"Bohong! Kenapa boneka milikku mendadak lenyap dan berubah jadi bangkai tikus dalam sekejap!?" balasku sengit. Emosiku benar-benar tersulut saat ini. "Sudah pasti kalian menukarnya saat aku lengah! Kalian tidak senang melihatku bernostalgia dengan Elena!"
Deinn yang semula duduk di lantai tiba-tiba saja berdiri, dan secepat kilat menampar pipi sebelah kiriku. "Kau benar-benar bodoh, dan kau pantas menerimanya," ucap adik Albert itu. "Kau menuding kami melakukan hal kotor hanya karena kami tak suka melihatmu berhalusinasi tentang gadis khayalanmu? Bodoh, kau benar-benar bodoh, Aaron."
Aku menarik napas dan menahannya dengan d**a yang membusung naik. "Teruslah mengatakan aku bodoh, Deinn. Teruslah mengatakannya. Aku jelas tak sedang berhalusinasi, karena Elena itu sosok yang nyata. Dia memang ada," jelasku kepada Deinn, kepada yang lainnya juga.
"Elena Rikharnova adalah anak kandung Mrs. Beatrix dengan Mr. Jim yang dilahirkan hampir enam tahun yang lalu. Mereka sangat menyayangi putri mereka satu-satunya dan aku selalu ke sana untuk bermain dengannya."
Aku menatap Deinn, lantas menunduk lalu memandangi Albert dan Ivan secara bergantian. "Dia nyata, Elena adalah sahabat terbaikku juga sahabat baik kalian. Kita akan selalu berlima sampai kapanpun itu." Setelah mengucapkannya, aku pergi mengambil sapu dan membuang bangkai tikus di pojok kamar menggunakan serok sampah.
Aku mengambil pewangi ruangan dan menyemprot ke tempat di mana bangkai itu terlihat terkapar tidak berdaya. Kini kamarku sudah lebih bersih dan wangi. Tak ada lagi aroma tak sedap yang berasal dari bangkai tikus yang menjijikkan itu.
"Kau benar-benar membuat kami bingung," komentar Deinn sambil berdecak lidah. "Hanya orang tak waras yang menyebut bangkai tikus sebagai sebuah boneka."
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, geram mendengar perkataan menyakitkan dari orang-orang yang aku percayai.
"Elena itu nyata, tak mungkin aku mengada-ada tentang keberadaannya. Dia anak perempuan satu-satunya dari keluarga Rikharnova, aku tahu karena aku dan Elena tumbuh bersama sejak kecil."
Aku memandang ke luar jendela, menatap pemandangan yang terlihat jelas dari dalam kamar. Ingatanku menerawang jauh, sejauh hatiku yang terasa hampa sejak kepergian Elena malam itu.
Aku ingat bagaimana Elena berteriak meminta bantuan padaku, ingat dengan mata yang menitikkan air mata putus asa saat tak seorang pun menolong, ingat dengan kegelapan hutan yang kami masuki setelah nekat kabur dari tempat yang mengerikan.
Saat-saat yang menyakitkan, karena aku tak bisa menyelamatkan sahabatku.
***
"Cepat, Len! Kita harus lari lebih cepat!" Aku memberi perintah kepada sahabatku, meneriakinya untuk menambah kecepatan kedua kaki yang kami miliki. Tidak hanya aku saja yang saat itu berlari dengan sikap yang begitu tergesa-gesa. Ada Elena yang berlari di sebelahku, dia adalah sahabatku sejak lama.
Aku membawanya ikut serta dalam pelarian malam yang mengerikan, kami berdua lari dari makhluk-makhluk legenda desa yang begitu mengerikan. Aku tak bisa menebak apakah makhluk-makhluk itu masih ada di belakang kami, mengejar seolah kami berdua adalah buronan tingkat tinggi.
Ingatan itu kembali muncul, memaksa otakku untuk memutarnya lagi bagaikan kaset yang belum pernah digunakan sebelumnya. Dadaku ikut sesak, napasku menjadi tak beraturan. Aku dan Elena harus kemana lagi?! Semua sendi di tubuhku terasa sakit, seakan minta dilepaskan dan beristirahat tanpaku. Namun saat itu, aku tak bisa berhenti, meski sangat ingin. Aku begitu lelah dan haus, tapi keselamatan kami jelas nomor satu.
"Ayo! Lari lebih cepat lagi, Len!" Aku melihat diriku dalam ingatan, diriku yang beberapa bulan lalu berlari bersama Elena dan menarik tangan gadis itu dengan kuat. Aku benar-benar menyesal karena telah menyakiti sahabatku dengan cengkeraman tangan yang kuat, aku saat itu tak sadar telah menggenggam kenvang pergelangan tangan mungilnya Elena.
"Tu-tunggu, Aaron!" Elena meminta waktu sejenak. Aku berhenti sesaat, memberikan kesempatan kepada Elena untuk menarik napas panjang dan memeriksa tubuhnya. Gadis itu mendadak meringis kesakitan.
"Elen, ada apa?!" tanyaku panik. Aku tak tahu mengapa gadis itu terlihat seperti kesakitan, mungkin karena perbuatanku yang terus menarik tangannya, meski tahu jika kami tetap akan terlambat sampai di desa. Atau mungkin Elena sakit dikarenakan ada batu-batu kecil yang menusuk telapak kakinya? Entahlah, aku tak terlalu ingat saat-saat itu. Aku terlalu fokus menghindar dari kejaran para goblin.
Aku tahu, aku sudah berlaku kasar terhadapnya, aku memaksanya berlari tanpa melihat dulu kondisi Elena yang tak mengenakan sandal. Tapi sungguh, aku benar-benar panik saat itu, dikejar makhluk mengerikan adalah mimpi buruk yang paling menyeramkan, bahkan indra pendengaranku seakan ditulikan untuk beberapa saat, membuatku tak bisa peka terhadap bunyi-bunyian yang muncul, termasuk ringisan kecil yang keluar dari mulut Elena.
Saat itu aku tak peduli terhadap apa pun, selain tujuan kami yang ingin segera tiba di desa. Tapi hal itu malah membuatku menyakiti sahabatku. Andai waktu bisa terulang kembali, sungguh aku ingin meminta maaf padanya.
"Sudah merasa baikan?" Aku bertanya kepada Elena, seraya mengedarkan pandangan ke sekitar dengan siaga. Kita tak akan pernah tahu musuh utama muncul darimana.
"Kita harus cepat atau mereka akan menangkap kita!" seruku terdengar panik, bahkan aku tak berani menoleh ke belakang. Takut jika menemukan makhluk itu sudah dekat dan siap menangkap kami.
Elena menepuk-nepuk telapak kakinya yang menghitam karena banyak menginjak batu dan tanah, aku memaklumi pegal yang dirasakan olehnya karena dia sangat jarang berolahraga. Tentu lari adalah olahraga paling sulit bagiku, mengingat seluruh perhatian hanya berfokus pada pemandangan yang ada di depan.
Saat itu, seperti waktu istirahat yang diidam-idamkan semua pekerja di kantor atau di perusahaan lainnya. Setelah rasa lelah menguras hampir seluruh tenaga yang masih tersisa, setelah mencoba kabur bersama Elena dari makhluk-makhluk jelek dengan tampang yang sangat mengerikan, aku memilih untuk diam di tempat dan menajamkan pendengaran terhadap sekitar.
Sebelumnya, aku tak bisa mendengar apa pun. Kali ini aku dapat mendengar suara-suara asing di hutan, mulai dari derap langkah kaki yang terdengar semakin dekat, dan suara geraman yang membuatku merinding.
Makhluk-makhluk bergigi tajam yang sedang mengejar kami terdengar semakin dekat, mereka berusaha menangkapku dan Elena. Aku dilanda ketakutan yang hebat saat itu. Membayangkan tangan-tangan kurus dan hanya terbalut kulit berwarna kehijauan yang sebentar lagi akan menangkap kami hidup-hidup, membuat rasa takutku menjadi semakin tak terkendali.
"Aaron, aku takut." Elena memanfaatkan waktu istirahat kami untuk kembali menangis sesenggukan. Aku tak bisa menyalahkan rasa takutnya karena aku juga mengalaminya.
Tak pernah kubayangkan mati di sana, jauh di dalam hutan terlarang yang begitu menyeramkan baik saat dilihat siang atau saat malam. Aku tak ingin jauh dari orang tuaku, begitu pula yang Elena rasakan. Aku takut mimpi buruk terjadi dan nyawa kami terenggut begitu saja dalam sekejap.
Dan yang lebih menyedihkannya lagi adalah hilang dan dilupakan semua orang, seperti yang dialami oleh mereka yang ada dalam cerita yang selalu Nenek katakan. Tak akan ada karangan bunga atau orang yang akan menangisi kematian kami jika kami sampai berakhir di sini tanpa melakukan apa-apa.
Begitu hilang bersama makhluk kegelapan, maka orang itu akan lenyap dalam ingatan semua orang.
"Ayo, cepat! Cepat pergi dari sana!" Aku berteriak saat menonton ingatan masa lalu tak langsung itu. Andai aku bisa ikut campur dalam ingatan yang telah terjadi, mungkin aku bisa memaksa Elena untuk berlari lebih cepat seolah kami memiliki kekuatan super.
Kami pasti bisa melarikan diri dan Elena pasti tidak akan tertangkap.
Aku begitu ketakutan, yang kulakukan untuk menyembunyikan rasa takutku saat itu hanyalah dengan mengeratkan genggaman tanganku kepada Elena. Dia melakukan hal yang sama denganku, menguatkan genggaman tangannya agar kami tak terpisahkan.
Kami mulai berlari lagi, dengan tangan yang saling menggenggam dengan erat. Aku tak bisa berhenti gemetaran sejak awal pelarian kami, fakta di mana Elena tak bisa berhenti menangis dan mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang parau semakin menambah kepanikanku. Sejak kami memutuskan lanjut berlari, Elena sempat merengek kesakitan.
Tidak hanya sekali dua kali saja, tapi setiap 10 detik. Saat itu, rengekan dan tangisannya berhasil membuatku frustrasi. Namun kini, aku rindu mendengar suaranya, sosoknya, air mata bahagianya. Semua tentangnya, aku benar-benar merindukannya.
Andai saja orang-orang dewasa yang bodoh itu tidak kami tinggalkan pingsan di sana, mungkin saja aku dan Elena masih bisa pulang ke rumah dengan selamat, dan aku tak perlu kehilangan Elena.
Aku begitu egois dan gegabah, aku menyadari kecerobohan yang membuatku tak bisa lagi bertemu dengan Elena. Bahkan, gadis itu dilupakan oleh semua orang.
Harus bagaimana lagi aku membangkitkan ingatan mereka terhadap Elena? Bahkan setelah memperoleh ingatan ini kembali, aku menyadari ada banyak hal yang berbeda dengan yang bisa kuingat.
Misal seperti orang tua Elena yang tak bisa memiliki anak, sampai perubahan sifat tiga orang teman baikku. Aku tak mengerti, apa ini pengaruh malam bulan purnama itu?
Argh, kenapa baru sekarang aku menyadarinya?! Ini jelas-jelas sebuah petunjuk dari Yang Maha Kuasa, bahwa sebagai manusia akan jauh lebih baik jika melarikan diri dan tertangkap makhluk kegelapan, dibandingkan mati bersama para pengikut ajaran sesat yang sedang sekarat di dalam hutan.
Dan ini sesuatu yang baru. Fakta yang berhasil kutemukan, bahwa ketika aku dan Elena berlari di bawah sinar bulan, kami berdua tak melihat para goblin mengejar atau menghadang jalan kami di depan.
Itu karena mereka tak senang dengan cahaya bulan yang menyinari tubuh mereka secara langsung, tapi saat malam bulan purnama itulah mereka semua baru bisa keluar dari persembunyian mereka.
Jelas ingatan yang tersembunyi selama ini begitu berharga, karena ini merupakan suatu petunjuk yang mengarahkanku kepada Elena.
Aku pasti akan menemukan gadis itu, dan aku akan memulainya dengan membuat heboh semua orang.
Aku memejamkan mata, memikirkan matang-matang rencana yang akan kulakukan untuk satu sampai dua hari ini. Sebenarnya ini cukup berisiko, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk membuat orang-orang ingat dengan Elena.
"Aaron, hei, Aaron!"
Aku membuka mata dan mengerjap-ngerjapkannya sesaat. Aku tak ingat jika di ruangan itu aku tidak sendiri.
"Kau kenapa? Hari ini kau benar-benar aneh sekali." Ivan berkomentar, ia menatapku dengan wajah yang terlihat khawatir. Aku tersenyum, bahkan sifat Ivan pun di dunia tanpa Elena ini berbeda dengan Ivan yang kukenal dulu.
Apakah dunia yang kukenal telah berubah atau merekalah yang berbeda dari ingatan terakhirku?
"Aku tak apa, hanya syok saja karena tadi memegang sesuatu yang sangat menjijikkan." Aku tersenyum dan menepuk pundak Ivan. Deinn menghampiri dan merangkulku, aku menoleh padanya.
"Ada apa?" tanyaku. Deinn mengendikkan bahu.
"Entahlah, kami hanya merasa kau begitu aneh. Kau banyak berubah empat bulan terakhir ini."
Aku masih berusaha mempertahankan sikap tenang agar teman-teman tidak curiga, aku tersenyum kepada mereka. Tentu saja aku banyak berubah selama empat bulan ini, itu karena orang-orang yang kukenal berbeda dengan mereka yang melihatku hari ini.
Dunia yang kutempati sekarang berbeda dengan yang kuhuni sebelumnya. Ada hal yang tak biasa di sini, akan kupastikan semuanya dari awal. Apa ini ada hubungannya dengan malam bulan purnama yang terjadi beberapa bulan yang lalu?
Dari yang bisa kuingat, Nenek pernah mengatakan jika orang-orang yang menghilang itu akan dilupakan oleh orang terdekat di sekitarnya. Tidak hanya keluarga, tapi juga teman-temannya pasti akan melupakan mereka.
Semakin lama menghilang, maka semakin pudarlah ingatan orang-orang terhadapnya.
Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa aku tidak bisa membuat teman-temanku ingat dengan Elena, karena sudah empat bulan berlalu sejak kejadian malam itu yang membuat Elena menghilang dari kehidupan kami.