"Aku baik-baik saja, kalian tak perlu khawatir." Aku lagi-lagi tersenyum, memperlihatkan betapa tenangnya aku saat ini. Bisakah aku terlihat baik-baik saja sedangkan sahabatku sedang menghilang tanpa kabar di luar sana?
Kulihat Ivan terlihat ragu dengan jawabanku. "Sungguh? Kau yakin?" tanyanya. Aku rasa Ivan menjadi sedikit lebih peduli denganku di dunia tanpa Elena ini. "Sebelumnya kau juga bertingkah seolah kau baik-baik saja, tapi kemudian kau malah menyebut-nyebut bangkai tikus sebagai boneka pria jahe."
"Ya, kau juga bersikeras menunjukkan foto lama kepada kami, menyebut di sana ada gadis yang kau maksud. Tapi kami semua sama sekali tak melihatnya di manapun, bahkan di foto itu." Deinn menambahkan ucapan Ivan. Ah, Deinn. Kau selalu mengatakan kalimat pendukung Ivan. Kau mulai terlihat sepertinya, bukankah kita adalah sahabat?
Kami semua saling bertukar pandang. Aku lantas tertawa canggung, mereka pasti menganggapku tak waras setelah apa yang kulakukan hari ini. Jika aku ingin rencana itu berhasil, setidaknya aku harus bersikap seakan Elena tak pernah ada dan apa yang kulakukan sebelumnya hanyalah sebuah halusinasi yang kualami.
"Aku kenal Elena saat melakukan perjalanan empat bulan yang lalu." Sekarang yang bisa kulakukan untuk membuat mereka mengerti hanyalah dengan cara berbohong. Aku tahu ini salah, tapi justru cara inilah yang bisa kulakukan untuk membuat semua orang ingat dengan Elena.
Berbohong tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan menambah kerumitan di masa mendatang. Aku harap pilihanku kali ini tepat.
"Bukannya kau bilang kalian merupakan teman masa kecil?" tanya Deinn penuh selidik. Sepertinya dia tak mempercayai kebohonganku
"Ya, kau bilang dia juga teman kami." Albert bahkan ikut menimpali.
Aku menelan saliva susah payah. Ah, aku harus bagaimana sekarang? Ternyata memang sulit sekali berbohong kepada mereka. "Aku hanya berpura-pura saja tadi. Seperti orang-orang di atas panggung biasanya, mereka memainkan drama untuk bersenang-senang, bukan?"
Aku lalu tertawa menanggapi perkataanku sendiri. Seakan aku sedang memainkan sebuah peran yang k****a di sebuah naskah drama. "Aku ingin jadi seorang aktor! Lihat aksiku!"
Aku segera menirukan beberapa gerakan dari film kungfu (bela diri China) yang pernah kutonton. Yang pemerannya adalah seorang legendaris dari film kungfu yaitu Bruce Lee. Yah, walaupun aku tidak pernah menonton filmnya sampai habis. Tapi ceritanya seru juga.
"Ciahh, wattaw!" Aku berputar dan melayangkan tendangan di udara bebas. Gerakan lincah yang disusul gerakan meninju udara kosong beberapa kali dengan ekspresi yang begitu serius.
Deinn, dan Albert terlihat terkesima dengan gerakan bela diri Asia yang kuperlihatkan. Kumohon, kumohon! Percaya dengan kebohonganku kali ini! Kalau kalian percaya, aku akan terus melakukannya ke depan! Aku tidak ingin kalian menggagalkan rencanaku.
Ivan lalu bertepuk tangan dengan heboh saat aku mengakhiri gerakanku dengan meloncat tinggi di udara dan berputar sambil menendang ke samping. Astaga, aku benar-benar keren. Padahal aku hanya memperagakan apa yang pernah kulihat.
Beruntung aku pernah menonton dua film Asia yang memperlihatkan kungfu, jadi teman-temanku akan mempercayai ucapan tentang aku yang ingin menjadi seorang aktor. Omong-omong, mungkin aku bisa mencobanya lagi di masa depan.
Ya, kebohongan ini akan kupertahankan demi rencana jangka panjangku.
***
"Hebat, darimana kau belajar gerakan hebat tadi?" Ivan bertanya, aku menatapnya dan melihat matanya yang berbinar cerah. Aku bersyukur karena Ivan percaya dengan kebohongan kecilku, sepertinya dia sudah melupakan tentang kegilaanku hari ini.
"Aku melihatnya saat pertunjukan di China, ada panggung megah di tengah kota. Drama musikal, tapi memperkenalkan bela diri negara itu." Aku tersenyum dengan meyakinkan untuk memperkuat kebohongan yang aku lancarkan.
"Jadi kau benar-benar ke China, ya? Kenapa kau terus mengelak tadi!" Deinn protes padaku, aku menepuk-nepuk tangannya dan menunjuk diriku dengan percaya diri.
"Ayolah! Aku ingin memberi kalian kejutan. Bagaimana kegilaanku hari ini? Apakah berjalan sukses?"
Ivan, Deinn dan Albert menganggukkan kepala dengan serempak. Aku sampai terkesima melihat reaksi mereka. Oh, sepertinya rencanaku ini berjalan dengan baik.
"Kau benar-benar tidak waras! Kami sampai berpikir kau gila sungguhan!" jelas Albert, kami tertawa menanggapi ucapannya.
"Aku tidak gila, aku hanya memerankan tokoh fiksi dari cerita yang pernah k****a sewaktu singgah di perpustakaan di salah satu sudut toko buku di Beijing. Aku berusaha memerankannya, menyamar menjadi seorang laki-laki gila melakukan balas dendam karena telah kehilangan sahabat baiknya dalam sebuah pertempuran!"
Oh, lancar sekali aku berbohong. Lihat bagaimana terkesimanya ketiga sahabatku ketika mendengar aksi yang kulakukan hanya untuk memberi mereka sebuah kejutan.
"Tapi ... tapi, kukira kau benar-benar menganggap Elena itu nyata—"
"Dia memang nyata!" potongku tiba-tiba. Aku tersadar telah menyela perkataan Albert dan segera mengkoreksinya. "Elena dalam cerita fiksi di toko buku itu tidak nyata, tapi sosok bernama Elena benar-benar ada. Aku hanya meminjam namanya saja untuk menguatkan peranku sebagai pria yang kehilangan sahabatnya. Itu saja."
"Totalitas seorang aktor," sahut Ivan sambil bertepuk tangan. Deinn dan Albert ikut memberi tepuk tangan sambil memujiku berulang kali. Ah, aku jadi malu. Ternyata berbohong menyenangkan juga.
"Lalu, di mana kalian berdua bertemu?" Albert mengajukan pertanyaan. Aku berdeham sebelum menjawab pertanyaannya.
"Dengan Elena Rikharnova? Waktu itu, kami berkenalan di pesawat, dalam perjalanan menuju kota Beijing. Kebetulan nama keluarganya juga Rikharnova, makanya di awal kupikir dia itu anak Mrs. Beatrix yang selama ini hilang."
Teman-teman kembali bertepuk tangan, rasanya bajuku semakin longgar dan hidungku memanjang. Jika kebohongan ini terus dilanjutkan, bisa-bisa aku main film. Hehehe.
"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah Mrs. Beatrix dan kita kejutkan dia dengan peran yang dimainkan oleh Aaron." Tiba-tiba Ivan memberi usul yang mengejutkan. Jantungku mendadak berdegup kencang.
"Pergi ke ... ke rumah Mama Elena—ah, maksudku rumah Mrs. Beatrix, guru kita?" tanyaku, yang mendapat anggukan kecil dari Ivan.
"Iya, menurut kalian bagaimana?" Ivan menanyakan pendapat dua temanku yang lain. "Jika terjadi sesuatu, kita hanya perlu menjelaskan kalau Aaron saat itu sedang bermain peran!"
"Boleh-boleh saja."
"Ide bagus, dan setelah itu kita minta pada Mrs. Beatrix untuk membuka ekstrakurikuler drama di sekolah kita!"
Di saat teman-teman mulai sibuk membicarakan peran yang akan mereka ambil jika ekstrakurikuler drama sudah ada di sekolah, aku di sini malah panas dingin, telapak tanganku basah oleh keringat. Keguguran mendera seluruh tubuhku.
Oh, bagaimana ini? Mereka benar-benar berpikir aku adalah calon aktor dan mereka ingin mengikuti jejakku dengan masuk ke organisasi seni peran.
Ini terlihat bagus, tapi tidak bagus juga. Rasanya seperti melihat teman-temanku menjadi sosok mereka yang kukenal dulu.
Tentu, kebohonganlah yang membuat mereka bersatu seperti mereka yang kulihat sekarang ini.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Rikharnova, aku tak ikut dalam pembicaraan teman-temanku. Di saat mereka sibuk membahas drama yang ingin diperankan, aku justru sibuk dengan rencana yang harus kuubah beberapa untuk menghindari kekeliruan.
Baguslah mereka mengira aku yang bertingkah aneh tadi karena sedang memainkan sebuah drama. Sekarang mereka malah memintaku melakukannya di depan orang tua Elena.
Sungguh, jalan ini begitu asing. Aku baru tahu jika mereka tinggal di sini, jika saja Albert tak menjelaskan mengapa mereka memilih tinggal dekat gerbang barat desa.
Aku teringat saat-saat di mana aku kehilangan Elena.
Tak peduli seberapa jauh desa tempat tinggal kami, aku dan Elena harus tetap berlari untuk segera mencapainya. Kami terus berlari, tak memedulikan suasana hutan yang semakin mencekam dan gelap. Intinya saat itu, kami hanya ingin pulang ke rumah.
Jujur, waktu itu aku benci gelap. Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka yang kasatmata. Segala sesuatu yang terjadi pada malam itu membuatku gila karena dirundung rasa takut. Namun sekarang, yang kutakutkan hanyalah dilupakan semua orang.
Yang menjadi penguatku di saat-saat berat ini hanyalah tekad untuk membawa kembali sahabatku. Detik-detik di mana aku kehilangan Elena.
***
"Akh!" Elena terpekik, tepat sebelum ia jatuh terjerembab karena kakinya tersangkut di akar pohon yang menyembul keluar dari dalam tanah. Waktu itu aku lupa memperingatkan Elena.
"Kau tak apa, Len?!" Aku yang saat itu panik justru lebih mengkhawatirkan kemunculan goblin—karena bisa saja makhluk itu sudah ada di belakang kami—ketimbang memperhatikan Elena yang terluka. Justru aku kembali memaksanya, "Ayo, Len, kita harus cepat! Kita bisa aman di desa!"
Aku membantu Elena berdiri, teringat dengan degupan cepat jantungku yang terus berpacu seiring waktu kami yang menipis. Suasana mendadak terasa mencekam, rasanya seperti dicekik tangan tak terlihat. Yang menjadi prioritasku saat itu hanyalah cara agar bisa kembali ke desa hidup-hidup. Aku benar-benar tak ingin tertangkap.
Aroma tak sedap tercium disusul teriakan keras Elena tepat di sebelah telingaku. "AARON! MEREKA DATANG!"
Kami lengah, bahkan kami belum sempat meneruskan pelarian saat para goblin sudah berhasil menemukan kami dan menghadang jalan kami di depan. Aku meraih tangan Elena secepat mungkin dan menyeretnya untuk berbalik arah. Kami tak bisa terus ke depan karena makhluk-makhluk itu tak memperbolehkan kami lewat.
Karena kecerobohanku, kami kembali melewati jalan di mana terdapat akar yang menyembul dari dalam tanah dan akar itu berhasil membuat kami tersandung. Elena yang jatuh untuk kedua kalinya kembali berteriak dan meringis kesakitan.
Aku benar-benar menyesal, di saat berbahaya seperti itu, mengapa kesialan malah menyapa kami?
Waktu semakin cepat berlalu, aku kembali berdiri dan membantu Elena bangkit. Kami sudah siap lari lagi saat tiba-tiba saja para goblin muncul dan menarik kaki Elena.
"AARON!"
"ELENA!"
Aku menjulurkan tangan, berusaha meraih Elena yang terus berteriak meminta pertolongan. Waktu itu, sempat-sempatnya aku mengeluh ketika mendengar teriakan Elena. Aku menyebut-nyebut tentang kemunculan beruang jika gadis itu tetap berteriak di tengah hutan.
Sekarang aku ... benar-benar merindukannya.
Aku ingat betul rupa para goblin yang menculik sahabatku. Di bawah cahaya bulan yang bersinar menerangi malam ... kedua mataku melihat mereka dengan jelas.
Makhluk-makhluk hijau berkepala botak itu menarik pergelangan kaki Elena, kiri dan kanan. Elena tidak diam, dia terus melakukan perlawanan yang bisa ia lakukan. Karena tak mungkin melepaskan diri dari makhluk itu, akhirnya Elena pasrah saat para goblin membawanya masuk ke bagian terdalam hutan.
Elena tak lagi berteriak minta tolong.
"TIDAK! JANGAN PERGI ELENA! KEMBALI!" Aku berteriak sambil mengikutinya yang diseret tanpa belas kasih oleh segerombol makhluk yang hidup dalam kegelapan.
Aku melihat kedua mata Elena menunjukkan kekosongan. Hampa, seperti tubuh tanpa jiwa.
Elena kehilangan kesadaran dirinya karena terlalu takut menghadapi goblin yang selalu menjadi mimpi buruknya, merekalah makhluk yang dipanggil orang-orang desa sebagai bentuk perlindungan dari kutukan yang dilakukan dalam sebuah ritual pemujaan yang gila dan sesat.
"ELENA! ELENA!"
Aku terus berteriak memanggil namanya, berjuang keras meraih tangan mungilnya, tak lagi memikirkan rasa sakit di telapak kakiku yang tertusuk sesuatu yang tajam. Aku hanya ingin menolong Elena!
Dengan tenaga yang tersisa, Elena kembali berteriak, "Tolong aku, Aaron!"
Sahabatku menangis, aku harus segera menyelamatkannya. "Pegang tanganku, Len!"
Sedikit lagi, sebentar lagi tanganku berhasil meraih Elena.
Kecerobohanku saat itu membuatku kembali tersandung akar pohon. Kini, aku kehilangan kesempatan untuk meraih tangan yang sedikit lagi bisa kuselamatkan.
Elena kembali memanggilku.
Aku bangkit dan mengejar Elena kembali, ia terus berteriak dengar air mata yang berderai di pipi. Tapi aku hanya memiliki sedikit tenaga yang membuatku tertinggal beberapa belas langkah darinya. Elena tertelan oleh kegelapan hutan.
"ELENA!!!" Aku meneriakkan namanya keras-keras. "KEMBALI!"
"KEMBALIKAN ELENA!!!"
Dadaku mulai tersengal-sengal. Mustahil aku bisa mengejarnya dengan kondisi hampir ambruk dan kelelahan. "Kembalikan Elena padaku ...." Ini semua belum berakhir. Aku akan membawa Elena kembali.
Bodohnya aku, waktu itu langsung berbalik arah dan kembali ke desa menggunakan jalan sebelumnya. Tak ada lagi goblin yang menjagai jalan itu.
Aku hanya pura-pura saja saat mengatakan bahwa aku tak peduli jika harus meminta pertolongan penduduk desa untuk mencari sahabatku, faktanya aku membutuhkan bantuan mereka, aku hanya ingin Elena selamat.
Aku gagal menyelamatkan sahabatku. "Maafkan aku, Elena! Maafkan aku yang bodoh ini!"
Yang kulakukan hanyalah menyalahkan diri dan melarikan diri. Aku benar-benar seorang pecundang yang menakutkan. Akibat jiwa pengecut inilah, aku sampai mengalami amnesia dan teman-teman yang berubah sikap.
Jelas bukan ini yang kuinginkan. Seandainya saja aku bisa kembali ke malam bulan purnama yang misterius itu, maka mungkin saja aku bisa mengubah takdir buruk yang menimpa Elena dan membuangnya jauh-jauh.
"Aaron, kenapa? Kau menangis?"
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, dan melihat bahwa tiga sahabatku tengah memandangiku dengan ekspresi yang bertanya-tanya. Aku tak sadar telah menangis, benar-benar memalukan.
"Bukan apa-apa, hanya kemasukan debu." Aku menunduk dalam-dalam. Apa aku masih bisa menghadapi Elena setelah gagal menyelamatkannya? Aku hanya seorang penakut yang lemah dan tak pandai.
Aku menggosok mata dengan cepat, ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Waktu itu aku memutuskan pergi dari hutan saat Elena dibawa para Goblin, dan aku melihat ... wajah ketakutan Elena yang menangis dengan air mata yang berlinang.
Sungguh, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Bahkan mungkin saja, Elena juga tidak akan pernah melupakanku.
Aku benar-benar pengecut, memalukan sekali. Aku harap aku bisa kembali ke masa lalu agar bisa menyelamatkan Elena.