"Uh, bokongku sakit," keluh Deinn sambil menggosok-gosok bokongnya yang tertutupi celana pendek. "Rasanya seperti bokongku memerah dan siap meledak saking sakitnya."
"Aku juga," sahut Ivan sambil meringis kesakitan. Ekspresi di wajahnya benar-benar lucu. "Bokongku jadi panas setelah dipukul sepuluh kali. Aku tebak setelah ini bokongku akan memar dan membiru!"
"Tepat sekali," timpal Albert sambil ikut mengusap bokongnya. Aku merasa bersalah terhadap ketiganya. Maafkan aku teman-teman, tapi kurasa itu pantas untuk kalian. "Paman Jim benar-benar keterlaluan, dia tidak normal karena memukul kita dengan tongkat baseball miliknya yang sangat mematikan!"
"Ya, ya, dan ini semua gara-gara seseorang." Deinn tiba-tiba berbalik dan melihat ke arahku, membuat aku yang sedari tadi memperhatikan mereka seketika gelagapan dan memalingkan muka ke arah lain.
Oh, jangan memarahiku. Aku hanya sedang mencari keadilan di sini.
"Coba saja Aaron berperan dengan baik, seperti saat dia bersandiwara untuk menunjukkan bakatnya pada kita. Pastilah kita tidak akan dimarahi habis-habisan oleh Paman Jim yang kejam itu!" Deinn berkata.
Aku pura-pura mengusap bokongku dari luar celana, pedihnya masih terasa sampai membuatku ingin menangis. Tapi dibandingkan itu, aku tak tahan dengan kata-kata yang Deinn lontarkan. Apa mereka benar-benar marah padaku?
"Lihat! Kau yang menerima pukulan lebih banyak dari kami pasti lebih merasakan sakitnya, benar 'kan!?" ucap Ivan sambil menepuk bokongku. Aku meringis.
"Sakit, bodoh!" makiku tanpa sadar. Aku langsung melihat ke arah sang pelaku dan memelototinya dengan tajam.
Ivan hanya terkekeh, lalu membalas perkataanku, "Siapa suruh kau merusak rencana yang sudah kita siapkan sejak berangkat dari rumahmu."
Aku mendengkus sebal sebagai balasan, dan memalingkan wajah. Kembali melihat lurus ke depan tanpa berbicara sepatah kata pun. Setelah dimarahi selama kurang lebih dua jam sambil dipukul sebanyak 10 kali—khusus untukku 15, karena aku yang membuat Bibi Beatrix menangis—dengan tongkat baseball Paman Jim, kami pun diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
"Aaron, kau hari ini benar-benar menyebalkan," komentar Deinn sambil berjalan mendahului kami. Ia berbalik badan dan menghadap ke belakang, menatap kami yang sedang dilanda rasa sakit di b****g. Deinn berjalan mundur seperti sebuah bola yang digelindingkan dengan sangat perlahan.
"Kau senang sekali ya menyalahkan orang lain," cibirku sambil melipat tangan di d**a. "Aku akui, tadi aku sudah melakukan kesalahan yang membuat kalian semua kesulitan, dan aku juga sudah menerima hukumannya. Jadi bagaimana? Kalian puas sekarang?"
"Hei, bukan itu maksud kami." Ivan berusaha menghentikanku yang berjalan mendahului mereka. "Aaron ...."
Aku pura-pura tak mendengar. Sambil melewati Deinn yang sudah berjalan seperti biasa dan bergerak cepat menyusulku yang berjalan semakin cepat. Aku berpikir ulang, mungkin aku terlalu kekanak-kanakan menyikapi mereka. Toh, mereka tak ingat apa-apa soal Elena.
"Aaron, apa kau marah?" Deinn yang sudah berhasil menyusul dan menyejajarkan langkahnya denganku pun bertanya. "Hei, jangan anggap ucapanku serius. Yah, walau tidak 100% bohong juga."
Aku kembali berpura-pura mengabaikan Deinn yang mulai menjelaskan bagaimana aku harus bertindak sewaktu berada di kediaman guru kami. Deinn menyebut bahwa seharusnya aku mengambil langkah pertama yang baik sebelum mulai berbicara dengan ekspresi serius kepada Mrs. Beatrix.
Dia tak tahu saja aku memang sengaja melakukannya. Mungkin mereka mengira aku hanya bermain-main saja, dan menganggap aktingku terlalu buruk.
"Kau tidak boleh mengatakan sesuatu di luar teks yang sudah kita latih sebelumnya," jelas Deinn. Aku meliriknya sekilas. "Kau tadi jahat sekali dengan mengatakan mereka memiliki anak yang mirip mereka. Kau sudah menorehkan luka yang dalam di keluarga Rikharnova, padahal kami sudah memberitahu bahwa mereka tidak bisa mempunyai anak."
Aku masih mendengarkan Deinn yang berbicara dengan segala keseriusan yang ia miliki. Kami berempat sedang ada di jalan pintas yang berada di dekat hutan Lakebark, ini jalan yang sering kami lalui jika ingin bermain ke tempat rahasia kami.
"Lalu setelah Mrs. Beatrix terkejut, barulah kita tertawa dan meminta maaf karena sudah mengerjainya!"
Kami lalu berhenti di depan pohon raksasa dengan ranting yang banyak. Pohon itu begitu rindang, sehingga panas matahari tidak bisa menyengat kami jika kami sedang duduk di bawahnya. Inilah markas kami berlima, dulu sebelum Elena menghilang dari dunia ini dan terlupakan.
Bahkan ini tetap menjadi tempat favorit kami untuk berkumpul, huh? Walau sekarang hanya ada kami berempat yang akan menguasainya. Aku kemudian mendongak dan menatap dedaunan rimbun milik satu-satunya pohon berukuran besar yang masih berada di kawasan desa.
Deinn berjalan mendahuluiku, lalu berbalik dan tahu-tahu dia sudah berkacak pinggang sambil mengarahkan telunjuknya padaku. "Aaron!" panggilnya setengah membentak. "Sebenarnya kau itu mendengar apa tidak?"
Aku mengerjapkan mata dua kali. "Memangnya apa yang kaukatakan?""
"Argh!" Deinn terlihat menggila, ia mengacak-acak rambutnya. "Kau benar-benar menguji kesabaranku hari ini!"
Aku merotasikan mata mendengar ucapan sahabatku. "Sudah kukatakan, aku tidak pernah berpura-pura. Elena itu sungguh ada, bukan ilusiku. Dia anak suami-istri keluarga Rikharnova yang tadi kita temui!" ucapku, untuk yang kesekian kalinya.
Aku berusaha memancing ingatan mereka tentang malam menakutkan. "Kalian ingat yang kukatakan kepada Bibi Beatrix tadi? Elena menghilang di malam bulan purnama. Aku tidak tahu apa kalian berdua ...," tunjukku kepada Deinn dan Albert. "berpatisipasi dalam kegiatan itu, tapi aku ingat jika Ivan adalah orang yang memimpin upacara di mana orang-orang desa berkumpul di tengah hutan Lakebark."
Deinn terlihat pusing mendengar penjelasanku. "Woah, wah. Tunggu sebentar," ucapnya sambil membuat gestur agar aku berhenti berbicara. "Aku dan kakakku di dalam hutan Lakebark yang terlarang itu? Tidak, tidak, terima kasih pujiannya."
Aku menggeleng dan lekas menarik tangan Ivan. "Kalian harus percaya padaku. Aku melihat sendiri saat orang-orang desa yang duduk di depan panggung, menggila ketika Ivan memulai upacaranya," jelasku dengan menunjukkan ekspresi wajah yang tegas. Aku yakin mereka akan mengingat Elena kali ini.
"Hei, jangan libatkan aku dengan kegilaanmu." Ivan melepaskan diri dari cengkeraman tanganku. "Katamu, kami ada di hutan Lakebark malam-malam. Apa kau yakin yang kau lihat itu kami?" tanyanya serius.
Aku mengangguk mantap. "Ya, aku yakin. Dan dua di belakangmu itu ... kurasa mereka adalah Deinn dan Albert," jawabku penuh percaya diri.
"Walau aku pemberani, tapi menjadi pemimpin upacara dalam hutan Lakebark malam-malam? Aku tak segila itu. Jadi, terima kasih." Ivan menepuk-nepuk pundakku sambil memasang ekspresi wajah yang menunjukkan keprihatinan.
"Kami tahu kau terlalu banyak menghirup udara penuh polusi selama tinggal di luar negeri, dan mungkin itulah yang menyebabkan otakmu jadi sedikit terganggu akhir-akhir ini."
Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat, bingung harus apa lagi untuk meyakinkan mereka bahwa aku bersungguh-sungguh. Mereka masih menganggap ucapanku sebagai sebuah lelucon. "Kalian tidak mengerti," ucapku setengah berbisik.
"Memang, karena itu buatlah kami mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan," sahut Deinn sambil berkacak pinggang. "Setelah kita semua berpamitan dengan keluarga Rikharnova, kau kembali menjadi Aaron yang bersikeras bahwa gadis khayalanmu itu nyata."
"Aaron, kami mengerti kau kesepian setelah berpisah dari kami bertiga, tapi itu bukan alasan yang cukup untuk menjelaskan keanehanmu hari ini."
Albert menghampiri, lalu mengambil tanganku, menggenggamnya erat seperti seorang ibu yang mendoakan kebaikan untuk anak kesayangannya. "Lebih baik kau pulang dan istirahat, kita bisa bermain lagi nanti. Mau, ya?" bujuknya padaku.
Aku lelah diperlakukan seperti orang sakit jiwa, orang yang kehilangan ingatan, dan bahkan diperlukan seperti anak kecil yang harus diberi pengertian dahulu sebelum mulai melakukan sesuatu.
"Kalian tidak mengerti ... kalian tidak mengerti yang kuinginkan." Aku melepas tangan Albert dan mundur perlahan-lahan. Aku menatap teman-teman dengan pandangan terluka. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja. "Kalian tak bisa mempercayai ucapanku," ucapku lirih.
"Bagaimana bisa kami percaya sedangkan kami saja tak kenal dengan gadis bernama Elena itu!"
"Kalian mengenalnya!" teriakku sambil memelototi ketiganya. Aku tak sadar telah membentak teman-temanku. "Kalian mengenalnya dengan baik, sama sepertiku mengenal kalian ...."
"Tapi kami tak pernah melihatnya! Atau bahkan bertemu dengan gadis itu!" Deinn balas berteriak padaku sampai urat di lehernya terlihat, dia sepertinya tak senang saat aku berteriak kepada kakaknya, Albert.
"Sudahlah, Aaron." Ivan maju dan mendekatiku. Kini aku dikelilingi mereka bertiga. "Berhenti memancing ingatan kami tentang gadis yang bahkan penampilannya saja tak kami ketahui selain dari apa yang kau sebutkan di depan Mrs. Beatrix tadi."
"Ya, kurasa kalian benar," jawabku kurang bersemangat. "Aku harus pulang dan beristirahat untuk menjernihkan pikiran, ada banyak hal yang terjadi hari ini."
Aku lalu tersenyum seraya memandangi mereka satu per satu, memperlihatkan senyuman tipis milikku yang menyembunyikan banyak luka. Kesedihan dan rasa sakit ini telah membuat luka yang dalam di hatiku, saat tak ada seorang pun yang mempercayai ucapanku.
Aku lelah mengungkit kenangan saat kami masih lengkap berlima. Aku lelah mengupayakan agar mereka bisa mengingat Elena kembali. Rasanya sia-sia dan buang-buang waktu.
"Aku pulang dulu," ucapku dengan suara pelan. Aku lalu berpamitan dengan ketiganya.
"Perlu kami antar? Atau Deinn yang mengantarmu ke rumah?" tawar Ivan, ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. Aku menggeleng sebagai penolakan.
"Tidak usah," tolakku halus. "Aku bisa pulang sendiri ke rumah. Terima kasih tawarannya."
Apa yang lebih menyakitkan dari tak dipercayai seseorang? Menurutku adalah; tidak dipercaya oleh orang yang sangat kita percayai, sedangkan kita sudah saling mengenal dengan baik.
Rasanya sangatlah menyakitkan, saat teman-teman tetap tidak bisa menerima apa yang kukatakan.
Mereka menganggapku berbohong, berhalusinasi dan mengada-ada. Mereka lebih mempercayai kebohongan yang kukatakan ketimbang kebenaran yang aku coba perlihatkan. Bagaimana bisa aku bertahan dengan ini semua?
"Hati-hati di jalan," bisik Deinn sambil memelukku, aku mengangguk.
"Kalian juga," jawabku. Aku lalu tersenyum padanya dan pada dua temanku yang lain. Hari ini aku dan Deinn mengalami beberapa hal yang membuat kami sempat tak akur.
Padahal Deinn yang kukenal adalah anak yang tidak banyak bicara. Dunia tanpa Elena telah mengubah semua orang, kecuali aku.
***
Aku pulang dalam keadaan seperti orang linglung, aku masih tidak bisa mempercayai apa yang telah kulalui akhir-akhir ini.
Aku kehilangan ingatan, lalu mendapatkannya kembali, tapi teringat dengan Elena yang diculik makhluk kegelapan dari hutan Lakebark dan sekarang aku membuat orang tua Elena menangis dan enggan mendengar ucapanku tentang mereka yang memiliki anak.
Teman-teman tak mempercayai semua yang kukatakan, aku telah jujur dan tak menyembunyikan apa pun dari mereka, tapi mereka langsung percaya saat aku berbohong dengan mengatakan aku hanya bersandiwara sebelumnya.
Sedangkal itukah rasa percaya dalam persahabatan kami?
Aku berjalan terseok-seok ke rumah, tanpa tenaga dan semangat. Aku kehilangan harapan tentang menyelamatkan Elena dengan dibantu oleh orang lain. Aku yang sekarang tentu saja tidak bisa melakukannya seorang diri, aku hanya anak laki-laki berusia tujuh tahun.
Apa yang mungkin kulakukan untuk menyelamatkan Elena?
Aku menatap rumahku dari kejauhan, sebentar lagi aku sampai, dan di sana aku bisa menjernihkan pikiran dan perasaan. Akan kutelan pertanyaan-pertanyaan ini seorang diri, sampai aku bisa menjawabnya nanti.
"Aku pulang." Kebiasaanku ketika tiba di rumah, aku yang berjalan menunduk sedari tadi segera membersihkan kaki di teras sebelum masuk ke dalam rumah.
"Aaron," panggil seseorang dengan suaranya yang lembut. Aku kenal pemilik suara ini, itu karena tadi aku dan teman-teman sempat berkunjung ke rumahnya dan membuat masalah. Suaranya berasal dari dalam rumah.
Aku menengadahkan wajah perlahan dan langsung terkejut saat mendapati sudah ada beberapa orang di ruang tamu, menunggu kedatanganku.
"Paman Jim ... Bibi Beatrix," ucapku dengan suara bergetar karena takut. Apa mereka akan melaporkan perbuatanku kepada Ayah dan Ibu?
"Apa yang Bibi dan Paman lakukan di sini?" Aku menatap bingung pasangan suami-istri Rikharnova yang beberapa saat lalu kutemui, aku bahkan masih bisa merasakan b****g yang berdenyut nyeri setelah mendapat pukulan Paman Jim menggunakan tongkat baseball miliknya.
"Aaron, maaf atas perbuatanku tadi," ucap Paman Jim penuh penyesalan. "Aku sungguh menyesal. Tapi ada yang ingin kami tanyakan padamu, ini tentang gadis yang tadi kau bicarakan di rumah kami."
"Bisakah kau meluangkan waktu dan membicarakannya dengan kami di rumahmu?"
Aku lagi-lagi terbelalak, terkejut mendengar ucapan lelaki dewasa itu. Apa yang terjadi di sini? Apa maksud dari ini semua?