Suasana yang sebelumnya terasa menegangkan mendadak hening saat aku yang telah berganti pakaian duduk di ruang tamu bersama dengan bibi Beatrix dan suaminya, paman Jim. Aku duduk di tengah-tengah mereka berdua dengan rasa canggung.
Padahal aku tak pernah berada dalam kondisi ini sebelumnya.
Tunggu, aku pernah! Rasanya itu saat wanita asing yang tiba-tiba masuk ke rumah kami dan menceritakan hal-hal aneh berbicara padaku di meja makan. Aku ingat, ingatanku menghilang saat itu. Aku tak ingat apa-apa lagi tentang cerita miliknya, hanya saja ceritanya punya kekuatan yang membuatku teringat dengan kejadian di masa lalu.
Ingatanku kembali seketika saat wanita itu bersuara.
Sungguh, aku masih belum mengerti apa yang kedua orang tua Elena ini katakan sebelumnya. Gadis itu? Apa yang mereka maksud adalah Elena? Kenapa tiba-tiba? Kenapa tadi saat kami membahas Elena di rumah mereka, pasangan suami-istri itu justru marah kepada kami? Ini sangat membingungkan, tapi aku ingin mendengar sekali lagi ucapan mereka.
Mereka ingin mendengar penjelasanku tentang gadis itu, dan kuyakin maksudnya adalah tentang Elena. Aku masih merasakan perasaan menggebu-gebu saat di rumah orang tua Elena, kini mereka ada di sini dan meminta penjelasan dariku. Bukankah hanya aku (setidaknya untuk saat ini) yang memiliki ingatan tentang gadis kecil itu? Aku kembali bertanya-tanya, selagi mereka belum angkat bicara dan mulai menjelaskan lebih rinci lagi mengenai apa yang mereka katakan sebelumnya.
Aku duduk dengan perasaan gelisah, begitu aku duduk di antara mereka, mereka tak kunjung buka suara sejak beberapa saat yang lalu, ini sangat membingungkan. Aku juga ingin mendapatkan kejelasan di sini, kuharap mereka bisa segera mengubah kecanggungan ini dan berbicara terus terang kepadaku. Sebab aku sendiri tak tahu pasti apa yang ingin mereka bicarakan.
Aku hanya tahu jika mereka ingin membicarakan tentang gadis itu, yang kutangkap maksudnya adalah Elena, sebab sepertinya mereka memang mengarah ke sana. Kecanggungan yang terjadi di antara kami sungguh membuatku merasa tak nyaman di ruang tamuku sendiri. Aku kembali melihat mereka yang tampak kesulitan memulai ceritanya
Ah, kenapa mereka tidak langsung bicara saja, ya? Akan lebih baik jika mereka langsung membahas tentang Elena, atau gadis yang sebelumnya mereka ungkit itu?
"Aaron, ke dapur sebentar!" Aku menegakkan tubuh saat ibu memanggilku, aku melihat kedua orang tua Elena ikut menegakkan badannya. Mataku bertemu dengan mata bibi Beatrix, tapi aku segera meninggalkan ruang tamu.
"Tolong bantu Ibu membawakan nampan kue itu ua," ucap ibu lembut sambil mengangkat nampan yang di atasnya ada tiga cangkir teh beserta tekonya dengan hati-hati. Aku menurut dan membawakan kue, lantas mengekor di belakang Ibu.
"Ah, maaf sudah repot-repot!" Bibi Beatrix berdiri dan membantu Ibu memindahkan gelas ke atas meja, sementara Ibu hanya tertawa dan bergurau.
"Oh, tenang saja! Anggap saja rumah sendiri!" Dan kedua wanita itu tertawa sembari membicarakan hal-hal tentang pakaian dan aksesoris di kota besar.
Begitu selesai dengan tugasku, aku duduk di depan paman Jim yang terlihat kikuk dari gaya duduknya.
Aku kembali memperhatikannya. Ini sungguh aneh, bukan sekali dua kali saja aku bertanya, tapi ini karena mereka tiba-tiba saja datang dan seperti ingin membicarakan tentang gadis yang kuungkit di kediaman keluarga Rikharnova sebelumnya, itu jelas Elena, kan!?
Oh, aku selalu bersikap kekanak-kanakan jika sudah menyangkut gadis itu. Aku masih belum terima jika hanya aku yang memiliki ingatan ini, sedangkan orang tua Elena seperti enggan membicarakan tentang gadis itu lebih lanjut.
Tapi kenapa mereka justru mendatangiku?
Ada sesuatu yang terjadi saat aku dan tiga orang temanku berada di rumah mereka untuk menanyakan Elena (sebenarnya teman-teman ingin aku berpura-pura saja, tapi berujung gagal karena aku menjejali orang tua Elena dengan berbagai pertanyaan dan menekan mereka) dan aku masih ingat betul dari awal sampai akhir.
Dengan terang-terangan, Paman Jim menunjukkan ketidaksukaannya kepada kami saat tadi aku begitu bersikeras bertanya dengan membahas tentang masalah paling sensitif untuk mereka (yang ada di dunia ini) bahwa keduanya tidak akan bisa mempunyai seorang anak, tapi aku justru datang dan mengejutkan mereka dengan apa yang kukatakan bahwa keduanya sebenarnya punya anak.
Wajar saja mereka marah, aku pun mengerti sekarang. Hanya saja saat itu aku tidak mengerti dengan alasan mereka harus menghukumku dan teman-teman dan berakhir dengan kami yang dimarahi sampai b****g kami dipukuli hingga sakit dan pedih rasanya.
"Aaron, Ibu tinggal dulu ke belakang, ya?"
Aku menoleh dan mengangguk. Ibu lantas berpamitan dengan Paman Jim dan Bibi Beatrix yang berkata akan kembali lagi untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. Sekarang kedua wanita itu sepertinya akan mulai berbicara panjang lebar lagi, tapi ternyata tidak. Ibu langsung pergi meninggalkanku di antara kedua orang yang kukenal baik dengan suasana yang terasa begitu canggung.
Kenapa mereka berdua terlihat begitu gugup? Justru akulah yang khawatir di sini!
"Aaron, maaf jika membuatmu terkejut dengan kedatangan kami yang tiba-tiba." Bibi Beatrix buka suara, aku sampai menahan napas karena takut salah menangkap yang akan mereka katakan selanjutnya. Sebuah kalimat yang akan menjawab kegelisahanku akhir-akhir ini.
"Kami ingin bertanya padamu tentang gadis yang sempat kau singgung tadi di rumah kami." Bibi Beatrix yang duduk di sebelah kiri menatapku dengan tatapan bersalah, aku langsung menundukkan kepala, cemas.
"Maafkan kami karena telah menyakitimu. Kau pasti membenci kami karena itu," timpal Paman Jim yang duduk di sebelah kananku.
Aku tersenyum dan menggeleng, aku tidak mungkin sampai hati membenci mereka hanya karena itu. Mereka adalah orang tua Elena, keduanya adalah Papa dan Mamanya Elena, sahabatku. Mana mungkin aku membenci mereka tiba-tiba dan tanpa alasan?
Memang, kejadian siang tadi benar-benar mengejutkan kami, bahkan aku dan teman-teman harus berakhir dengan rasa sakit di b****g kami yang memerah. Aku masih merasakan sakitnya pukulan itu sampai sekarang.
Tiba-tiba aku teringat dengan ekspresi Paman Jim ketika dia memukuliku dan isak tangis Bibi Beatrix yang menggaung di kediaman mereka. Rasanya seperti ada kesedihan dan keputusasaan yang mereka sembunyikan dari kami, tapi entah apa.
Aku saat itu tak peduli dengan keadaan mereka, karena aku lebih fokus menghadapi rasa takut dan kebingungan yang melandaku dengan begitu hebatnya, makanya aku baru menyadarinya setelah bertemu mereka lagi sore itu. Bahkan aku kini sedang duduk bersama mereka yang duduk di sisi kiri dan kananku.
Kalau kuingat kembali, Paman Jim memukuli kami menggunakan tongkat baseball miliknya. Ternyata di dunia yang melupakan Elena ini berbagai hal masih tetap ada. Aku ingat Elena pernah bercerita bahwa dulu ketika ayahnya masih remaja, ia bertemu dengan beberapa orang yang kemudian menjadi sahabatnya. Kebetulan mereka menyukai olahraga yang sama, akhirnya Paman Jim dan teman-temannya pun membentuk sebuah tim dan menjadi pemain andalan tim baseball sekolah mereka.
Uh, tak mengherankan jika pukulan baseball ayah Elena itu masih begitu kuat seakan sedang berada dalam sebuah pertandingan dan mengharuskannya memukul sebuah bola yang melesat ke arahnya. Harus kuakui jika bakat yang dimiliki seseorang itu akan tetap ada meskipun telah belasan bahkan puluhan tahun berlalu. Ya, itu karena aku masih bisa merasakan sakit pada bagian yang dipukul oleh Paman Jim yang menggunakan tongkat baseball sebagai alat hukumannya.
Benar-benar menyebalkan, padahal saat itu aku juga ingin menangis tapi aku terlalu malu melakukannya jika aku harus menangis di depan teman-teman. Ivan pasti akan langsung mengejekku.
"Kami benar-benar minta maaf," ulang bibi Beatrix sekali lagi. Sepertinya dia berpikir jika aku masih menyimpan dendam terhadapnya dan juga sang suami. Aku memperhatikan dalam-dalam ekspresi wajahnya yang seperti orang yang mengetahui sesuatu yang hebat tapi sengaja menyembunyikannya rapat-rapat. Itu wajah yang menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah yang membuatku tak tega melihatnya.
"Sebenarnya kami datang ke sini karena merasa ini bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan darimu," ucap Paman Jim dengan serius. Saking seriusnya, aku sampai menatapnya dengan tatapan tak percaya, aku menunggunya berbicara lagi selama beberapa saat tapi dia tak kunjung buka suara lagi.
"Sebenarnya apa yang Paman dan Bibi sembunyikan dariku?" Aku bertanya sambil pura-pura merajuk dengan membuat ekspresi cemberut di wajah. Aku terbiasa memanggil mereka Paman dan Bibi karena mereka ada hubungan kerabat jauh dengan nenekku.
"Kalian di sana tadi bertingkah seakan aku orang asing, kalian tak mengenal gadis yang kubicarakan padahal aku sudah menjelaskan seperti apa ciri-ciri gadis itu, tapi kalian malah tidak mau mendengarkan."
Aku berdiri, melipat tangan di d**a dan memasang ekspresi tidak suka. Aku lalu berbalik dan menatap Paman Jim dan Bibi Beatrix secara bergantian. Oh, aku harus tegas demi mendapatkan informasi!
Tiba-tiba saja Bibi Beatrix menangis. Bukan isakan lirih yang kecil, tapi dia langsung menangis dengan suara keras! Oh, ini salahku. Lagi-lagi aku membuat Bibi Beatrix bersedih dengan ucapan dan tingkah lakuku.
Aku hanya teringat dengan Elena, saat Bibi Beatrix menangis dia terlihat sama persis dengan gadis kecil yang kulihat wajahnya dalam setiap mimpi malamku. Wajah dan hidung memerah, pipinya pun ikut memerah. Tak diragukan lagi jika dia adalah ibu kandungnya Elena. Meski hilang dalam ingatan sekalipun, seorang ibu tetaplah ibu untuk anak-anaknya.
Sambil ditenangkan suaminya, Bibi Beatrix pun menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas. Jadi aku hanya diam mengamati Paman Jim yang berusaha menenangkan istrinya, kali ini dia tidak terlihat marah padaku seperti sebelumnya.
Mulanya aku tak berniat meminta maaf, dan memilih mengabaikan keduanya karena sudah membuatku kesal dan penasaran. Sampai kemudian, mereka menyebutkan namanya. Paman Jim menyebut nama Elena Rikharnova dengan suara jernih dan jelas, sehingga aku bisa mendengarnya.
"Tenanglah, kita akan coba tanyakan tentang Elena padanya, ya."
Aku terbelalak mendengarnya. "Elena! Kalian ingat Elena?!" Aku langsung menghambur di antara mereka dan menatap keduanya dengan tatapan menuntut. Paman Jim menatapku dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ya, karena itu tolong dengarkanlah." Begitu Paman Jim berucap seperti itu, aku langsung duduk dengan manis. Aku akan menunggu mereka bercerita tanpa berniat menginterupsinya sama sekali, jadi aku hanya diam sambil memasang wajah serius.
Setelah tenang, Bibi Beatrix mulai bercerita. "Setiap malam, selama empat bulan terakhir ini, aku selalu bermimpi tentang seorang gadis kecil yang menggemaskan," ucap Bibi sambil menatap dalam mataku. "Gadis itu memiliki rambut pirang bergelombang yang sangat cantik."
Bibi Beatrix menyentuh tanganku dan melanjutkan ceritanya, "Rambut gadis itu terlihat seperti emas yang berkilauan. Dan fisik gadis itu, mulai dari matanya, bibir, hidung dan cuping telinganya terlihat seperti aku dan suamiku tapi dalam bentuk seorang anak perempuan yang bahkan tidak kuketahui namanya."
Tangan Bibi Beatrix yang semula ada di atas tanganku pun menjauh, sekarang ia menggenggam erat tangan Paman Jim. "Awalnya aku menganggap kemunculan gadis tak kukenal dalam mimpi itu dikarenakan adanya sebuah kerinduan dalam hati, karena aku begitu menginginkan kehadiran seorang anak untuk melengkapi kehidupan pernikahan kami." Bibi Beatrix kembali menatapku. "Tapi ternyata bukan aku saja yang mengalami mimpi berturut-turut itu."
Aku menahan napas untuk sesaat, seperti jeda yang juga terjadi saat Bibi Beatrix kembali melanjutkan tangisannya yang sempat terhenti. Apa maksud dari mimpi berturut-turut selama empat bulan? Jadi Bibi Beatrix dan Paman Jim m memimpikan gadis yang sama? Aku tak mengerti, semakin kupikirkan aku semakin tak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi aku harus tetap mendengarkan cerita mereka sampai akhir.
"Aku dan suamiku sama-sama memimpikan sosok yang sama. Elena ... ya, gadis itu bernama Elena."
Aku refleks menutup mulut, tercengang. Ini benar-benar di luar dugaan. Keduanya bertemu dengan Elena di dalam mimpi masing-masing. Bukan seminggu, tapi empat bulan lamanya.
Mungkin inilah alasan mereka datang mencariku, sebab mereka bermaksud menanyakan perihal Elena lebih jauh kepadaku yang sudah dianggap gila karena menyebut sosok yang tak pernah ada di desa Birdben yang jauh di pelosok ini.
Aku akan membongkar rahasia ini tak lama lagi. Sudah kupastikan. Elena, tunggulah, kebenaran akan terungkap dan aku akan menyelamatkanmu.