Bibi Beatrix pun menoleh pada suaminya, lantas menganggukkan kepalanya perlahan. Suaminya balas menatap dan menggenggam tangan sang istri, seolah memberi kekuatan kepada istrinya itu.
Mereka suami istri yang romantis, bahkan sebelum Elena menghilang. Aku sangat tak bisa membayangkan keterkejutan mereka saat mengetahui rahasia yang tersembunyi selama empat bulan ini. Andai mereka tahu bahwa mereka selama ini memiliki anak dan anak itu terlupakan karena pengaruh sesuatu tak kasatmata, pastilah sekarang mereka meratapi hilangnya Elena.
Teka-teki ini membuatku tak tahan lagi, lama-lama aku bisa gila. Aku akan mengatakan apa yang kualami pada malam itu kepada orang tua Elena, sampai kemudian Paman Jim menghela napas perlahan dan menatapku dengan tegas, sorot matanya memperlihatkan luka yang sepertinya telah lama dipendam.
Aku tersenyum getir, ini bukan saat yang tepat. Aku harus mendengarkan dulu apa yang ingin mereka sampaikan.
"Istriku ... dia tidak pernah menceritakan mimpinya padaku. Apa yang kualami murni dari diriku sendiri. Pada suatu hari, untuk pertama kalinya mimpi itu dimulai di malam saat aku mengalami kejadian yang benar-benar aneh. Aku ingat saat itu aku tengah tidur berjalan, aku benar-benar tidur dan melangkah lambat ke sebuah tempat yang bukan rumahku. Begitu tiba di sana, aku mendengar seorang gadis kecil berteriak meminta tolong."
"Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi, begitu bangun keesokan paginya ternyata aku berada di teras rumah yang ada di seberang rumahmu ini. Aku kaget dan kebingungan karena istriku juga terbaring di sampingku dengan wajah memerah, buru-buru aku membangunkannya dan kami pergi ke rumah lama orang tua kami."
Paman Jim menahan napas dan mengusap wajah dengan gerakan putus asa. "Anehnya, barang-barang kami semua ada di rumah tak berpenghuni itu dan karena ketakutan kami langsung pindah ke rumah orang tua kami yang sekarang ini."
"Kami begitu takut," sela Bibi Beatrix terhadap cerita Paman Jim. Air matanya menetes. "Seingat kami, kami tak pernah tinggal di seberang rumahmu, Aaron. Kami tak tahu kenapa barang kami ada di sana, itu begitu mengherankan."
"Ya, rasanya seperti kami memang tinggal di sana untuk waktu yang lama, tapi kami tak ingat sama sekali." Paman Jim menghela napas, matanya yang berwarna amber menunjukkan keputusasaan. Dalam kenangan yang berbeda, matanya yang berwarna Amber itu mengingatkanku kepada sesosok gadis kecil yang begitu menggemaskan.
"Kalian dulu memang tinggal di sana," sahutku memancing reaksi mereka, dan sesuai perkiraanku mereka tercengang di tempat.
"Ya, mungkin saja," timpal Paman Jim. Ia menghela napas dengan gusar. "Mungkin saja itu benar. Karena keesokan harinya aku kembali memimpikan gadis itu, dia terus memanggilku dengan sebutan ayah, dan rasanya seperti aku adalah ayah kandung anak itu."
Paman Jim gemetaran, Bibi Beatrix buru-buru menepuk lengannya dan mengusapnya perlahan, berusaha menyampaikan dukungannya kepada sang suami. Kemesraan mereka membuatku jadi ikut terbawa suasana dan hampir menangis di tempat. Aku tersentuh dan terharu.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanyaku sambil mengusap pipi yang basah. Bibi Beatrix tersenyum lembut kepadaku dan mengatakan agar aku tidak menangis, aku harus jadi sosok yang tegar menghadapi hal rumit semacam ini. Meski aku tahu dia pun tak kuasa menahan air mata.
Paman Jim melanjutkan ceritanya. "Dalam mimpiku ... anak yang memiliki warna mata yang serupa denganku itu datang dengan senyuman yang cerah, aku selalu menyambut dan memeluknya dengan hangat. Terkadang dia memanggilku ayah, terkadang dia memanggilku papa. Aku tahu dia hanya bagian dari mimpi-mimpi malamku, tapi aku terus merindukannya."
Paman Jim menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku terlalu asyik bermain dengan anak itu, kami bermain puzzle, bermain masak-masak yang tidak ada rasanya dan lain sebagainya. Dalam mimpi, aku berperan menjadi ayah yang baik untuknya, sampai-sampai aku merahasiakan hal ini dari istriku karena aku senang bermain dalam dunia mimpi," ucap Paman Jim berterus terang. "Tapi aku memilih diam saja sambil menyimpan gadis kecil ini selama beberapa waktu dalam kepingan ingatan yang kusembunyikan."
"Kenapa?" Aku bertanya dengan penasaran yang membuncah di d**a. Kenapa Paman Jim repot-repot menyembunyikannya?
Paman Jim menggeleng. "Karena aku tak ingin membuat istriku bersedih. Aku selalu berpikir mimpi-mimpi itu datang karena aku dan Beatrix tidak bisa memiliki anak setelah didiagnosa dokter bahwa istriku tak bisa lagi mengandung, jadi aku tak pernah memberitahukannya hingga hari itu," bisiknya dengan suara pelan.
Aku menahan napas, Paman Jim menyembunyikannya dari Bibi Beatrix, dan wanita itu juga menyembunyikan hal ini. Mereka saling menyembunyikan fakta bahwa mereka bertemu dengan anak gadis yang memanggil mereka Papa dan Mama.
"Mimpi yang datang berbeda-beda setiap hari itu membuatku bertanya-tanya, tapi lama-lama kubiarkan karena aku telanjur larut dalam dunia khayalnya. Sampai kemudian, di suatu malam, dalam mimpiku yang seharusnya menyenangkan ... entah mengapa aku berada di sebuah hutan yang lebat. Aku tak tahu mengapa aku ada di sana."
Raut wajah Paman Jim berubah, dia kembali melanjutkan, "Tapi kemudian aku melihat gadis itu, aku berjalan menghampiri dan menyapanya seperti biasa, tapi aku terkejut saat mengetahui jika dia sedang menangis." Wajah Paman Jim memerah. "Ya, dia menangis di hutan itu, sendirian, sambil meminta pertolongan kepada siapapun. Aku berusaha mengajak dirinya berbicara, tapi dia seperti tak mengetahui keberadaanku!"
Emosi Paman Jim membuncah. "Dia berteriak minta tolong, berteriak, "Papa! Papa! Tolong Elena, Papa!" terus begitu sampai aku menangis di sisinya." Tiba-tiba Paman Jim menangis. "Oh, aku tak bisa melakukan apa-apa saat gadis itu mulai memanggil-manggilku dan mengulang-ulang namanya lebih dari tiga kali sampai aku hafal dan mengingat mimpi dan nama itu sampai detik ini."
Aku mengambil kotak tisu di samping Bibi Beatrix, di sana ada rak kecil penyimpanan barang. Biasanya Ibu menaruh tisu basah dan tisu kering di sana untuk persediaan jika ada tamu mampir. Aku membuka kotak tisu dan menyodorkannya kepada sepasang suami istri itu.
Aku tak mengerti kenapa Paman Jim begitu melankolis, mungkin karena fakta bahwa dia adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anak perempuannya.
"Lanjutkan saja ceritanya, Paman," pintaku sopan sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan pria itu. Paman Jim mendongak dan menatap mataku dengan saksama, aku sampai tak tahu harus tersenyum atau tidak padanya. Tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," bisiknya lirih. Sambil memegang tisu di tangan kirinya, Paman Jim menggenggam tangan Bibi Beatrix, dan mulai bercerita kembali. "Mimpi yang kualami itu berlangsung selama empat bulan di setiap malam dan terjadi sekitar ... empat bulan yang lalu."
Empat bulan?! Aku terbelalak, kembali mengingat-ingat kejadian masa lalu. Empat bulan itu berarti dimulai sejak hari di mana bulan purnama tujuh tahun sekali itu berlangsung semalaman. Saat di mana aku kehilangan Elena dan ingatan semua orang yang berhubungan dengan gadis kecil itu.
"Apa Paman ingat awal kejadian dari mimpi pertama?" Jantungku bertalu-talu sesaat setelah aku melontarkan pertanyaan.
Ini tak masuk akal. Jika benar orang tua Elena memimpikan gadis itu secara terus-menerus selama beberapa bulan, berarti itu menandakan bahwa Elena masih hidup di suatu tempat!
Aku mengusap dagu dengan serius, mungkin di antara kalimat yang dilontarkan Paman Jim itu ada beberapa yang bisa dijadikan petunjuk.
"Kemarin malam, gadis kecil itu muncul lagi dalam mimpiku dan memintaku untuk menjemputnya di suatu tempat yang gelap dan asing. Orang awam pasti berpikir dia adalah penjahat, iblis, bahkan—monster, tapi bagiku dia adalah malaikat yang berusaha menghiburku untuk mengisi hari-hariku yang suram karena tidak bisa memiliki anak."
"Paman tak berusaha mencari Elena?" Aku bertanya dengan lembut dan hati-hati, aku terlalu takut menyinggung perasaan laki-laki itu. "Misalnya mencari data anak itu di internet, mungkin?"
Paman Jim menggeleng. "Tidak pernah, karena aku selalu menganggap Elena—gadus kecil itu hanya bunga tidur saja," jawabnya.
Aku menganggukkan kepala dan mulai berpikir keras. Aku pasti melakukan hal yang sama seperti Paman Jim, kemarin aku sempat mencari tahu segala hal tentang Elena. Aku tak bisa mencari namanya di internet karena tak sampai ke desaku (tapi Paman Jim bisa melakukannya karena dia bekerja di kota yang penuh jaringan internet). Aku juga pernah mencari nama Elena Rikharnova di buku kelulusan kami dari taman kanak-kanak, atau bahkan menanyai teman-teman yang akrab dengannya, tapi usahaku tak membuahkan apa-apa.
Aku tidak bisa menemukannya sama sekali, seolah semuanya memang sengaja diatur agar tak seorangpun bisa mengingat Elena, tapi aku sangat yakin jika hal ini terjadi karena adanya ilusi misterius yang membuat Elena harus dilupakan dari dunia ini. Daya magis dari ilusi itu menghilang dariku sehingga kini aku bisa mengingat Elena dengan baik.
Namun, semua barang yang berhubungan dengan Elena hanya bisa terlihat olehku. Atau kepada siapapun yang mempercayai keberadaannya.
Aku lantas melirik Bibi Beatrix. Benar, selain aku masih ada orang yang penasaran dengan keberadaan Elena, atau si anak perempuan dalam mimpi misterius mereka. Cerita Paman Jim benar-benar membuatku yakin jika yang dilihatnya itu adalah Elena, sahabatku yang hilang dibawa makhluk kegelapan hutan Lakebark. Kuperhatikan sedari tadi, Bibi Beatrix sepertinya masih membiarkan Paman Jim bercerita. Dia ingin ikut menyuarakan isi hatinya, tapi suaminya yang terlihat masih menyimpan kegelisahannya membuat dia tak ingin mengusik lelaki yang ia nikahi beberapa tahun lalu.
"Jadi ... Paman menganggap Elena tak ada?" Aku kembali bertanya untuk sekadar memastikan keterangan dari pria itu.
Paman Jim terlihat ragu sebelum menjawab, "Tidak—ah, maksudku aku percaya jika gadis dalam mimpiku itu nyata."
Aku menunggu kelanjutan kalimat itu.
Paman Jim melirik istrinya. "Tapi aku tak bisa percaya bahwa anak itu ada di alam nyata berdampingan denganku. Aku takut jika tak ada anak yang seperti dia di desa kecil ini—atau di kota tempatku bekerja. Rata-rata anak-anak perempuan di ibukota memiliki rambut yang lurus, tidak bergelombang seperti anak itu. Mereka juga memiliki warna mata yang berbeda-beda, tapi warna mata anak ini ... matanya berwarna amber."
"Amber?" tanyaku. Paman Jim mengangguk.
"Dia memiliki warna mata yang sama denganku ... tapi matanya jauh lebih indah."
Aku tertegun sesaat karena kembali teringat senyuman Elena yang kerap menghantuiku dan membuat hatiku dipenuhi kerinduan. Aku menyetujui ucapan Paman Jim bahwa Elena memang memiliki mata amber yang sangat indah. Ketika bertatapan dengan gadis kecul itu, kau akan berhadapan dengan bola-bola kaca yang menatapmu dengan antusias dan sukacita. Oh, betapa aku sangat merindukan kemilau indah mata sahabatku.
"Ya, mata Elena memang indah," gumamku sambil menenggelamkan diri ke dalam lamunan. "Hidungnya begitu mungil, bibirnya tipis dan merah muda, kemilau rambut emasnya lembut bagaikan sutra, suara tawanya bagaikan lonceng yang membuat hati gembira ...."
Tiba-tiba tanganku ditepuk pelan oleh seseorang sehingga membuatku sadar dan kembali dari alam bawah sadar—oh, ternyata itu tangan Bibi Beatrix. Aku tersenyum malu karena sudah ketahuan melamun dan langsung meminta maaf kepada dua orang dewasa di hadapanku.
Dalam hati aku berjanji untuk tidak melamun lagi di saat yang tidak tepat. Apalagi sepertinya tadi aku sempat menggumamkan sesuatu yang membuat roman muka Bibi Beatrix dan Paman Jim berubah menjadi kebingungan. Hm, tapi apa, ya? Aku lupa.
"Aaron, kau tadi bilang apa?" tanya Bibi Beatrix dengan lembut, aku mengangkat bahu tak tahu.
Aku sendiri tak ingat apa yang baru saja kukatakan, bagaimana bisa aku mengatakannya lagi?
Sepertinya aku memiliki hilang ingatan sementara. Kadang-kadang aku bisa lupa terhadap apa yang baru saja kukatakan.
"Ah, saya ... hanya mengatakan bahwa Elena itu sangat cantik," ucapku setelah berhasil mengingatnya sedikit. Rasanya aku memuji gadis kecil itu, tapi untuk jelasnya aku tidak ingat seperti apa.
"Kau tadi mengatakan kalau gadis itu berbibir tipis dan merah muda. Hidungnya juga mungil," sahut bibi Beatrix.
Apa aku tadi mengatakan semua itu? Mungkin saja, karena aku tak ingat apa-apa sekarang. Aku berusaha menahannya, aku tidak boleh membuat kesalahpahaman.
Teman-teman masih menganggapku tidak waras. Setidaknya, aku harus menahan agar tidak berbicara sembarangan. Aaron, kuatkan hatimu!