Aku tersenyum lebar, berusaha meyakinkan kedua orang dewasa di hadapanku. "Oh, iya benar. Mungkin Elena sangat cantik seperti bibi Beatrix dan Paman Jim yang tampan, tapi aku tidak terlalu bisa mengingat detail wajahnya "
Tahan Aaron, tahan. Kau tak boleh gegabah! Ini menentukan reaksi dan dukungan mereka nantinya. Walau aku mengulangi kalimat itu beberapa kali dalam hati, aku tetap merasa gelisah karena duduk di antara mereka.
Dengan tenang dan seakan lupa apa yang mereka tanyakan sebelumnya, aku pun meminta Paman Jim untuk melanjutkan kembali cerita yang masih belum mencapai titik terang itu. Barangkali aku bisa menemukan sedikit lagi petunjuk untuk membantuku memecahkan teka-teki mengenai hilangnya ingatan orang-orang terhadap Elena dan aku yang tiba-tiba bisa kembali mengingat gadis itu dengan jelas setelah mengalami amnesia.
"Ya, aku masih berpikir jika gadis bernama Elena itu aslinya tidak ada, bahwa apa yang kulihat itu hanya imajinasi sesaat dan bagian dari mimpi-mimpi biasa. Jadi jika itu hanya bunga tidur, maka aku tak perlu memikirkannya lebih lanjut dan berakhir membuat perasaan gelisah."
"Kalaupun mimpi, memangnya ada mimpi yang terjadi selama empat bulan berturut-turut setiap harinya, Paman?" tanyaku dengan raut wajah polos dan seakan tak merasa bersalah sebab telah berani menyela cerita.
Biarlah mereka tak suka, biarlah mereka tersinggung.
Toh, tujuanku melakukan semua ini karena aku ingin membuktikan bahwa Elena itu benar-benar ada, dan alasan mengenai keberadaannya yang tidak ada saat ini itu dikarenakan Elena telah diculik oleh segerombolan makhluk hijau jelek dari hutan Lakebark.
Ah, jika mengingat kisah para goblin dalam cerita legenda yang sering diceritakan Nenek waktu kecil itu, rasanya aku seperti mampu membangkitkan keberanian untuk melawan mereka dibandingkan dulu ketika aku belum pernah berhadapan dengan makhluk-makhluk itu. Sekarang aku benar-benar kesal setengah mati terhadap makhluk-makhluk berwarna hijau ini dan aku ingin membalaskan dendam kepada mereka.
Gara-gara mereka, Elena menghilang dari ingatan orang-orang.
Lamunanku pecah setelah Paman Jim berdeham dua kali, dia bersiap untuk kembali melanjutkan ceritanya.
"Sudahlah, lupakan saja kata-katamu tadi," ucapnya sambil menatap kedua mataku. "Aku hanya bingung saja, kenapa aku bisa mengingat gadis itu lebih baik ketimbang anak tetangga yang kerap menyapaku di gerbang desa? Padahal aku belum pernah bertemu sekalipun dengan gadis kecil ini."
Aku diam saja dan tersenyum menanggapi ucapan Paman Jim. Jangan menyela, Aaron. Mari simak dan temukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
Paman Jim mengusap wajahnya dengan kasar dan mendengkus sebelum kembali bercerita, "Ya, ya, aku baru mengetahui nama gadis itu saat dia menangis di tengah hutan sambil terus memanggil-manggilku Papa."
"Setelah itu, aku tak pernah lagi melihatnya dalam mimpi."
Kemudian hening, Paman Jim telah menyelesaikan ceritanya. Dia pun tengah sibuk memikirkan sesuatu dalam pikirannya sekarang, itu tercetak jelas pada raut wajahnya yang menunjukkan kegelisahan dan kegundahan, seperti menyimpan beban yang begitu berat di pundak, hati bahkan pikirannya.
Mungkin bagi sebagian orang, seseorang yang tak dikenal atau yang tak pernah ditemui di dunia nyata, namun mendadak muncul secara terus-menerus dalam mimpi kita seakan-akan keberadaannya itu sudah tertanam begitu dalam di mimpi, maka itu bisa disebut sebagai mimpi buruk.
A nightmare. Sesuatu yang mengerikan. Yang ditakuti manusia saat terlelap di malam hari.
Sebuah kata yang melibatkan sang pemimpi dengan mimpinya, dan ini bisa menandakan beberapa hal yang semuanya buruk seperti namanya. Yah, aku sudah mengerti terlalu banyak sejauh ini, betapa mengerikannya mimpi-mimpi itu. Namun aku tidak keberatan jika bermimpi tentang Elena, bahkan mimpi buruk sekalipun. Dulu aku sering bermimpi aneh, aku memimpikan kepalaku terbentur dinding saat mandi dan aku pingsan. Begitu bangun, ada wajah mengerikan yang tengah memelototiku dengan matanya yang mengerikan.
Aku takut sekali, itu salah satu mimpi yang kualami akibat mendengar cerita dari Nenek.
Setelah keheningan di antara kami, aku kembali bertanya kepada Paman Jim. "Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Aku bertanya dengan hati-hati.
Paman Jim mengedikkan bahu. "Ya, terakhir kali aku memimpikannya itu kemarin, setelah itu aku tak tahu apakah malam ini akan kembali melihat gadis bernama Elena itu," ucapnya. Paman Jim menambahkan, "Aku memendam mimpi itu tanpa pernah sekalipun mengisahkannya kepada istriku. Aku takut dia tak percaya dan itu hanya akan membuat kondisinya semakin terpuruk."
Kemudian tatapanku beralih kepada Bibi Beatrix, seakan meminta penjelasan darinya. Bibi Beatrix menarik napas panjang sebelum akhirnya dia membuka suara. "Baiklah, sepertinya giliranku bercerita," ucapnya sebagai pembuka.
Aku melihat raut wajahnya, begitu keruh, tatapannya terlihat begitu sendu. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis yang menyiratkan banyak kesedihan. "Ceritaku ... kurang lebih sama seperti Jim, bedanya aku ... aku adalah ibu dari anak perempuan bernama Elena itu." Bibi Beatrix berbisik lirih saat menyebutkan nama sahabatku.
"Aku begitu dekat dengan anak itu, aku mengajarinya banyak hal. Menjahit, memasak, memetik bunga. Aku mengajarinya membaca, mengenali hewan dan tanaman obat. Aku jadi ibu yang sangat dicintai oleh anak itu, dan aku adalah ibu yang begitu mencintai anak perempuannya."
Paman Jim merengkuh Bibi Beatrix saat wanita itu kembali terisak. "Aku ... aku tak pernah menganggap bahwa anak yang kulihat itu bagian dari mimpi, aku selalu menganggap bahwa dia adalah jawaban atas penantian kami selama ini. Dia telah mewarnai hidupku selama empat bulan terakhir dengan hadir di malam setiap aku terlelap."
"Dan seperti suamiku, aku melihat anak itu sedang menangis di tengah hutan sambil terus memanggil-manggilku dengan sebutan Mama. Aku tak berpikir apa-apa atau merasa takut, aku langsung berlari menghambur ke arahnya dan memeluk anak bernama Elena itu."
Air mata Bibi Beatrix tumpah, ia menangis dalam pelukan Paman Jim, menyandarkan kepalanya di sana dan Paman Jim memeluknya dengan erat. Aku langsung tahu jika Bibi Beatrix tak akan sanggup meneruskan ceritanya. Aku jelas tak bisa memaksanya mengingat setiap mimpi yang ia alami bersama sahabatku Elena. Itu pasti menyakitkan untuknya, juga untukku.
Kupikir penjelasan mereka hanya akan berakhir di sana, tapi Paman Jim dengan cepat mengambil alih keadaan. Sambil merangkul istrinya erat, ia menatapku dan mengangguk. Aku membalasnya dengan tersenyum samar.
"Kami sama-sama menyembunyikan hal ini, kami tak pernah membahasnya dan menganggap semua itu hanyalah mimpi indah yang bisa kami dapatkan. Namun kemudian, pada suatu hari semua itu terungkap ke permukaan saat kami berdua tak sengaja menemukan sesuatu yang asing terselip di antara barang-barang kami di antara rak buku dan tumpukan majalah lama."
Aku mendengarkan cerita Paman Jim sambil membayangkannya dalam pikiran. Oh, aku berhasil memvisualisasikannya. Aku seakan melihat sepasang suami istri yang tengah membersih-bersihkan rumah di hari Minggu lalu menemukan sesuatu yang menggemparkan.
"Kami menemukan foto-foto lama kami, tak hanya selembar dua lembar saja, tapi ada banyak. Seakan itu sudah ada di sana sejak lama, kami mengambilnya dan mulai memperhatikan foto itu satu per satu."
"Kami tertawa keras saat melihat foto-foto itu. Saat itu adalah hari pernikahan kami, meski menikah di sebuah gereja kecil di London, namun kami tak menyesal ataupun bersedih. Kami sangat bahagia sampai melupakan mimpi yang membebani kami."
Aku mengangkat tangan, seolah mengerti yang kulakukan, Paman Jim langsung mempersilakanku buka suara. "Bukankah masing-masing dari kalian diam dan merahasiakannya?" tanyaku.
Paman Jim menggeleng. "Kami sempat bertukar cerita satu kali, tapi bukan cerita lengkapnya. Hanya pada bagian di mana kami memimpikan sesuatu dan terus memimpikan hal itu setiap malam. Ternyata di bagian itu kami sama-sama mengalaminya."
Pertanyaanku sudah terjawab dan aku pun mempersilakan Paman Jim melanjutkan kembali ceritanya.
"Semua foto-foto lama itu pun kami simpan di sebuah album foto yang kebetulan kami temukan di antara tumpukan majalah lama tak jauh dari sana. Ketika membuka album tua itu, baik aku maupun Beatrix sama-sama terkejut dan kehabisan kata-kata. Itu jelas bukan album foto, isinya jelas bukan gambar-gambar yang kami buat."
"Gambar apa itu?" tanyaku cepat, memotong cerita Paman Jim. Aku terlalu penasaran, sampai-sampai aku lupa bahwa menyela pembicaraan orang lain itu tidak sopan.
Bibi Beatrix menjawab cepat. "Itu merupakan album yang berisikan kertas gambar yang ditempel. Dan itu jelas dibuat oleh anak-anak," jawabnya sambil mengeluarkan sebuah album foto berukuran kertas HVS dari dalam tas selempangnya yang tidak terlalu besar. Aku tak tahu bagaimana cara Bibi Beatrix memasukkan album berwarna cokelat tua itu ke dalam tasnya.
Aku menerima album itu dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, di dalam sini ada sesuatu yang bisa dijadikan sebuah petunjuk mengenai hilangnya ingatan semua orang tentang Elena.
Aku tak lagi peduli dengan d**a yang sakit dan tangan yang terasa begitu dingin. Aku hanya ingin memastikan bahwa dugaanku tentang Elena itu tidak salah!
"Begitu kami melihat halaman pertama album ini, aku langsung menangis keras dan Jim menjatuhkan sapu yang dipegangnya. Kami syok, tak percaya, sebab di gambar pertama album tua itu, ada nama gadis yang muncul dalam mimpi kami berdua. Namanya terpampang begitu jelas, dan bersanding dengan nama kami berdua."
Seolah terhubung satu sama lain, Bibi Beatrix menoleh kepada Paman Jim yang juga membalas tatapannya.
"Di gambar itu tertulis ... PAPA JIM, ELENA DAN MAMA BEATRIX AKAN BAHAGIA SELAMA-LAMANYA."
Sepasang suami-istri Rikharnova mengucapkan kalimat itu secara bersamaan, seolah ingin menambah keterkejutanku yang terperangah di tempat. Genggamanku pada album foto yang mereka berikan kian mengerat, aku pun memberanikan diri membukanya.
"Ini ...." Aku menggantungkan kalimatku. Suaraku tertahan di tenggorokan, sebelumnya terdengar seperti cicitan tikus kecil yang tak berdaya melihat banyaknya jebakan yang tersedia untuk menangkapnya. Aku yakin suaraku tadi bergetar begitu lirih seperti sang tikus kecil.
Aku tak mempercayai sesuatu yang baru saja kulihat.
"Ini ... ini 'kan tulisan tangan Elena," gumamku pelan. Mataku tak mungkin berbohong, aku yakin ini tulisan Elena biasanya. "Tak salah lagi ... ini benar-benar tulisan Elena."
Tiba-tiba ingatan lama ketika aku gagal meraih tangan Elena di malam itu kembali terlintas. Aku menjatuhkan album besar itu dan langsung berdiri dengan cepat. Pikiranku keruh seketika, tak bisa berpikir jernih karena aku tak yakin apakah aku tengah bermimpi atau hanya berhalusinasi.
Aku terlalu dilingkupi perasaan bersalah kah sehingga aku membayangkan tulisan itu nyata?
"Aaron?" Bibi Beatrix memanggilku, ia mengambil album yang baru saja kujatuhkan. Aku tak bisa berkata-kata saat wanita itu menatapku dan bertanya, "Aaron, ada apa?"
Aku mundur perlahan saat tangan Bibi Beatrix berusaha menangkapku. Aku menatapnya seakan melihat sesuatu yang begitu menakutkan.
"Astaga wajahmu pucat sekali," komentarnya tiba-tiba. Tapi aku tak memedulikan hal itu.
Aku merasakan sesuatu yang begitu menyakitkan menyerang kepalaku. Rasanya mengerikan, dan tiba-tiba saja ingatanku bersama Elena bermunculan bagaikan panah yang siap ditembakkan ke arahku. Panah-panah itu melesat cepat ke arahku tanpa sempat kumenghindar darinya.
"Ti-tidakk!" Aku mundur perlahan
Suara derap langkah kaki terdengar. "AARON!"
Aku menggeleng cepat. "TIDAK! Kumohon pergilah!" Aku menjambak rambutku hingga jari-jari tanganku memutih. Sakit di kepalaku membuatku tak bisa berpikir jernih. "PERGI DARI SINI! JANGAN KALIAN AMBIL ELENA DARIKU!"
Aku melihat Elena tersenyum padaku. Tapi sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi mengerikan. Air mata bercucuran di wajahnya.
"Aaron, tolong aku," bisiknya lirih di depan mataku.
Aku menggeleng cepat, lalu berjalan mundur perlahan-lahan.
"Aaron, ada apa denganmu!" Paman Jim berteriak padaku. Tapi aku tak peduli. Aku bahkan tak tahu seperti apa ekspresi laki-laki itu saat ini. Aku hanya ingin pergi dari sana sekarang juga!
Aku segera berlari menuju pintu keluar tanpa aba-aba. Terus berlari dan mengabaikan teriakan orang-orang.
"Tunggu! AARON!"
"Kembalilah!"
Mereka terus berteriak memanggil namaku, sedangkan aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah sore hari itu.
Aku benar-benar syok. Apa yang sebenarnya kulakukan?
Terus berbohong atau mengaku saja bahwa Elena adalah anak kandung Paman Jim dan Bibi Beatrix? Bagaimana cara meyakinkan mereka bahwa aku tidak gila sama sekali?
Ini menyakitkan dan sangat membingungkan.
Elena, aku harus bagaimana sekarang?
Haruskah aku berterus-terang atau aku tetap menyimpanmu dalam ingatanku seorang?
Aku sungguh tak tahu, Elena.