"Paman dan Bibi, kalian berdua tenanglah. Aku pasti akan menyelamatkan Elena," ucapku penuh tekad. Aku bersungguh-sungguh, aku pasti membawa Elena kembali.
Melihat kebulatan tekadku, Paman Jim dan Bibi Beatrix seketika terpana. Mereka terlihat bangga saat aku mengeluarkan isi hatiku. Berbeda dengan orang-orang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami, Paman Jim dan Bibi Beatrix jauh lebih memahami apa yang aku bicarakan.
"Terima kasih." Paman Jim tersenyum saat aku mengangguk padanya.
Namun, sepertinya aku melupakan sesuatu, bahwa di ruangan itu aku tidak hanya bertiga dengan Paman Jim dan Bibi Beatrix. Di sana masih ada keluargaku dan 3 orang sahabatku yang tengah memandangi kami penuh tanda tanya.
"Siapa Elena?" tanya Albert mewakili yang lain.
"Ya, kalian dari tadi menyinggung nama itu, sampai-sampai kami tak lagi dipedulikan." Ivan menyahut sambil memicingkan matanya tajam. "Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari kami? Sesuatu yang penting, mungkin."
Deinn hanya diam saja seraya mengamati, tanpa berniat ikut campur sesuatu yang dirasanya tak memiliki hubungan dengannya.
Aku hanya melihat ke arah mereka, tapi aku tak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ketika waktunya sudah tiba, mereka akan kuberitahu. Sebab, aku sedang menyusun sebuah rencana jangka panjang dan itu melibatkan mereka bertiga. Aku tak ingin tergesa-gesa, biarlah mereka menganggap aku tak waras atau menganggap aku hanyalah membual.
Aku sudah mengaturnya baik-baik di dalam kepalaku.
"Kami sangat bingung, tanpa sadar aku terus menanyakan siapa anak perempuan itu, dan mengapa dia malah muncul selama ini di dalam mimpi kami." Penjelasan Bibi Beatrix mengalihkan perhatianku dari ketiga sahabatku.
Aku lalu memperhatikan wanita yang masih cantik di usianya yang mungkin menginjak angka 30 tahunan itu. Elena sangat beruntung karena memiliki ibu yang wajahnya cantik, sehingga dia pun mendapat kecantikan yang alami ini dan membuat auranya terpancar dengan mudah.
"Lanjutkan, Bi," ucapku mempersilakan. "Sebaiknya kalian menceritakan terus apa yang mengganjal di hati kalian mengenai mimpi-mimpi itu dan tentang gadis bernama Elena. Itu semua bisa menjadi langkah selanjutnya untukku mencari kebenaran tentangnya."
Bibi Beatrix dan Paman Jim saling bertukar pandang, sebelum akhirnya sang istri mengangguk dan kembali menatapku.
"Baiklah, tapi cerita kami tak banyak, namun jika itu bisa membuatmu menemukan sesuatu tentang anak perempuan itu, tak masalah, kami akan menceritakan semuanya."
Aku tersenyum sebagai jawaban.
Kemudian Bibi Beatrix memulai ceritanya. "Aku masih penasaran kenapa aku dan suamiku mendapatkan mimpi yang sama secara selama beberapa bulan ini. Jika yang mengalami mimpi itu hanya satu orang saja, mungkin aku akan menganggap itu semua sebagai bunga tidur yang harus segera dilupakan."
"Tapi mimpi-mimpi ini ... terjadi kepada aku dan Jim. Aku syok saat mendengar cerita Jim, dialah yang pertama kali bercerita mengenai mimpi itu setelah sebelumnya sempat menanyakan perihal apakah ada anak perempuan bernama Elena tinggal di desa Birdben dan di mana anak itu berada? Kemudian aku bertanya padanya, siapa Elena? Seolah aku tak tahu bahwa aku sebenarnya juga bertemu dengan gadis yang sama di dalam mimpi."
Aku menoleh ke Paman Jim dan memandanginya dengan tatapan menuntut. "Bisa Paman jelaskan?" pintaku mendesaknya.
Paman Jim menghela napas sebelum memutuskan untuk menjawab permintaanku. "Baiklah, aku akan menjelaskan sedikit untukmu, Aaron."
"Waktu itu aku tak tahan menyimpan rahasia ini lebih lama lagi dari istriku. Bagaimanapun juga, aku sudah bersumpah di altar pernikahan untuk tidak berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya. Sampai kemudian aku memutuskan untuk bertanya tentang anak perempuan bernama Elena itu, yang barangkali dia mengetahui apa yang tidak kuketahui."
"Saat kubertanya, Beatrix sampai mematung di tempat, aku mendapati ekspresi itu seakan melihat orang yang baru saja mendengar berika duka dari kerabatnya. Ketika aku bertanya, Beatrix justru membalikkan pertanyaanku dan bertanya kembali, apa yang kuketahui soal Elena dan darimana aku mengenal anak perempuan itu."
"Apa Paman langsung menceritakannya?" Aku menyela cerita Paman Jim dengan pertanyaan. Pria bertubuh kekar itu mengangguk sekali.
"Ya, tentu saja aku langsung bercerita kepadanya. Mula-mula aku ragu, aku takut istriku menganggap aku tak waras lagi. Namun Beatrix tak memandangiku seolah melihat sesuatu yang aneh, dia justru menatapku dengan tatapan penasaran dan kepercayaan yang kuat."
"Oleh karena itu, aku berusaha mempercayainya dan akhirnya aku bercerita bahwa selama ini aku telah bermimpi aneh, dan itu terjadi selama empat bulan berturut-turut. Mimpi tentang aku adalah ayah dari anak perempuan bernama Elena Rikharnova."
Bibi Beatrix meraih tangan Paman Jim dan menggenggam jari-jemari yang besar itu seakan ingin menyampaikan dukungannya kepada sang suami.
"Bagaimana menurutmu Aaron?" tanya Bibi Beatrix. "Kami datang ke sini karena kami ingat terhadap apa yang kau katakan saat berada di rumah kami tadi. Dan kami penasaran, apa kau mengetahui Elena? Mengingat ciri-ciri yang kau sebut itu benar-benar merujuk kepada gadis ini."
Aku diam sejenak, dan menatap Bibi Beatrix dan juga Paman Jim secara bergantian. Aku lalu bangkit dan hendak mencari Ibu ke dapur, tapi kemudian Ibu datang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dengan semangkok kue cokelat kering yang terlihat lezat.
"Aku tak tahu apa yang sedang kalian bicarakan, tapi tak enak rasanya jika terus memandangi kalian yang berbicara tanpa henti sementara kami kalian abaikan." Ibu kemudian tertawa, seakan itu adalah kalimat yang lucu. "Pasti kalian semua haus. Ayo, semuanya duduk dulu dan minum sambil makan kue yang hangat," ucap Ibu mempersilakan sebelum akhirnya kembali ke dapur.
Tanpa disuruh pun, ketiga sahabatku dengan segera menghampiriku dan duduk di sofa. Tubuhku yang jauh lebih kurus dibandingkan Albert dan Ivan pun seketika tergencet, apalagi Ivan dan Albert sama-sama memiliki badan yang tinggi dan besar. Deinn sendiri memilih duduk di sofa kosong sebelah Paman Jim. Uh, aku jadi iri.
"Bergeserlah sedikit!" gerutuku sambil mendorong Ivan dan Albert ke sisi yang lain.
Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekitar. Paman dan Bibi tak ada, pun begitu dengan Nenek yang sebelumnya berdiri di belakang kami. Aku rasa mereka sudah pergi dari sana semenjak aku tak segera menjawab pertanyaan Albert di awal tadi.
Ayah juga tak ada, mungkin dia sudah pergi bekerja mencari kayu bakar untuk persediaan musim dingin nanti. Aku melihat kue cokelat yang dibuat Ibu dan s**u cokelatnya masih panas karena uapnya mengepul, itu menandakan bahwa Ibu sejak tadi ada di dapur dan tidak bersama kami di ruangan ini. Jadi yang setia mendengarkan percakapanku dan pasangan Rikharnova adalah Deinn, Albert dan Ivanoff.
"Wah, kuenya enak!" komentar Deinn ceria. Aku tak pernah melihat anak itu memasang ekspresi bahagia, dia itu minim ekspresi. Yang kutahu, dia hanya senang mengeluarkan ekspresi saat marah dan ketakutan. Dan semuanya adalah ekspresi wajah yang datar.
Namun, kali ini Deinn terlihat senang, matanya melengkung dan dia memakan kue dengan lahap. Bertambahlah kini orang yang menyukai kue buatan ibuku selain aku.
"Hei, kuenya benar-benar enak!" puji Ivan tiba-tiba. Aku langsung merotasikan mata. Andai Ibu ada di sini, mungkin dia akan memeluk Ivan dan Deinn, serta membiarkan kedua anak ini memakan habis stok kue cokelat milikku yang ada di lemari.
Di saat semua orang menikmati kue dan minuman yang disajikan, aku justru sibuk dengan alam pikiranku.
Aku masih menggenggam kertas gambar buatan Elena dan kembali mengusap permukaan kertas itu dengan lembut. Meski gambar itu tak terlihat seperti manusia, tapi aku tahu ... aku bisa membayangkan wajah gadis kecil itu.
Gadis berambut emas dalam gambar anak-anak yang terbuat dari krayon ini sedang memakai sebuah gaun yang memiliki corak bunga matahari yang selalu identik dengan Elena, sebab itu adalah bunga kesukaannya. Bahkan gambar ini juga menunjukkan warna gaun itu, sama persis seperti aslinya.
Aku yakin, orang yang menggambar di kertas ini adalah Elena. Tak salah lagi, ini juga merupakan gaun yang dipakai oleh gadis kecil yang dilihat pasangan suami istri Rikharnova selama beberapa bulan lamanya. Itu jelas sebuah petunjuk!
Elena berusaha membuat orang tuanya ingat kepadanya dengan cara muncul di mimpi mereka, dan orang tuanya akan selalu ingat padanya sehingga dia tidak akan mudah dilupakan begitu saja.
Di ruangan yang penuh gelak tawa karena Ivan melakukan sebuah atraksi konyol memakan tiga kue sekaligus ... aku akan memastikan bahwa teman-temanku juga bisa mengingat Elena. Sama seperti aku dan yang lain.
Dan sekali lagi, aku akan mencari tahu tentang siapa sebenarnya dalang di balik penculikan anak-anak di desa Birdben setiap tujuh tahun sekali. Apa mungkin goblin yang melakukannya sekaligus sosok di balik peristiwa mengerikan yang telah menghantui desa ini sejak lama?
Atau justru ada makhluk lain yang tidak kami ketahui?
Semua pertanyaan ini menunggu jawaban yang pasti, dan akulah yang harus memecahkannya satu per satu.
***
"Gambar ini menunjukkan sebuah petunjuk, ini adalah gaun yang selalu Elena gunakan di saat-saat tertentu. Ini gaun kesayangannya, dibelikan saat musim panas oleh ayah yang sangat dia kasihi." Aku mengembalikan suasana yang serius di ruangan yang dipenuhi gelak tawa orang-orang.
Albert dan Ivan seketika menoleh, seperti menuntut penjelasan dariku. Sedangkan Deinn, Paman Jim dan Bibi Beatrix menatapku serius, seakan memintaku untuk segera menceritakan semua yang kuketahui. "Elena selalu menceritakan betapa dia sangat menyayangi orang tuanya. Oleh karena itu, kenangan di gaun dengan motif bunga matahari ini begitu besar dan berarti untuknya."
"Hei, siapa yang sedang kaubicarakan?" Ivan berusaha menghentikanku, tapi Paman Jim segera melayangkan tatapannya yang penuh ancaman kepada Ivan, sampai membuat anak itu menunduk karena ketakutan. Aku yang lega melihatnya lantas kembali bercerita.
"Dia memang memakai gaun ini di saat tertentu saja, tapi bukan berarti dia tak suka, justru ini adalah gaun kesayangannya. Padahal Elena sendiri banyak memiliki gaun dan perhiasan yang jauh lebih cantik dibandingkan gaun berwarna biru tua ini, tapi Elena bersikeras bahwa dia menyukai gaun ini melebihi apa pun di dunia, karena gaun dengan motif bunga matahari ini adalah hadiah dari orang tua yang sangat ia sayangi."
Tangis Bibi Beatrix pun pecah.
Sambil berusaha menenangkan Bibi Beatrix yang menangis, aku mulai menceritakan apa yang aku ketahui mengenai kejadian yang menyebabkan Elena menghilang kepada pasangan suami-istri yang sedang menangisi sosok yang telah membuat mereka kebingungan selama ini. Ibu yang datang dari dapur sambil membawa nampan berisikan semangkuk kue cokelat pun melihatku tengah memeluk Paman Jim dan Bibi Beatrix.
Seperti yang bisa kutebak, Ibu terlihat kebingungan melihat situasi yang terjadi di depan matanya.
"Tak apa, Bu, bukan hal besar." Aku berusaha menenangkan wanita yang telah melahirkanku.
"Ya, kalau ada apa-apa, cepat panggil Ibu atau Ayah!" Dan kemudian Ibu beranjak dari ruangan di mana aku, kedua orang tua Elena, beserta para sahabatku berkumpul. Melihat Ibu yang pergi tergesa-gesa membuatku penasaran dengan satu hal.
"Sebenarnya aku punya pertanyaan," ucapku memecah keheningan. Bibi Beatrix mendongak dan menatapku. "Mengapa ibuku harus berbohong kepada semua orang tentang aku yang menghilang selama 4 bulan terakhir?"
"Maksudmu apa, Aaron?" Ivan bertanya dengan nada menyelidik. Albert dan Deinn hanya diam menunggu jawaban.
Aku menoleh dan menatapnya. "Ya, selama ini kalian telah dibohongi. Ibuku berbohong kepada kalian dengan mengatakan aku pergi ke luar negeri sejak 4 bulan yang lalu, bahkan Bibi Beatrix yang merupakan wali kelas di sekolah pun membenarkan kebohongannya itu, sehingga tampak nyata di benakku."
Aku kembali mengalihkan pandangan kepada Bibi Beatrix.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku sambil memasang suara yang memelas. "Tolong, jelaskan padaku, Bi. Kenapa kau justru satu suara dengan ibuku? Padahal keluargaku sendiri tahu bahwa selama ini aku tak pergi kemana-mana. Karena aku sibuk memulihkan ingatanku di rumah."
"Tunggu—" Ivan menggantungkan kalimatnya. "Jadi, selama ini kau tidak pergi ke China untuk belajar, melainkan ada di rumah sepanjang waktu!?"
Aku mengangguk dan membuang napas panjang dengan ekspresi putus asa. "Sayangnya, itulah kebenarannya, Van. Kalian semua dibohongi, karena aku tak pergi kemana-mana. Aku hanya di rumah saja, mendekam seharian di dalam kamar."
"Maafkan aku! Saat itu, aku tak tahu harus melakukan apalagi saat nenekmu datang dan mengancamku agar aku setuju berbohong dengan ibumu," ucap Bibi Beatrix sambil menangis sesenggukan. "Nenekmu ingin membantuku menghapus mimpi-mimpi yang dianggapnya buruk!"
Paman Jim dengan segera menarik Bibi Beatrix yang masih tertunduk lemas ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang akan menenangkan wanita itu.
Namun, satu-satunya yang terjadi padaku setelah mendengar kejujuran Bibi Beatrix adalah kebekuan yang mengergapku seketika hingga aku larut dalam pikiran yang kosong. Jadi, sosok yang menambah buruk ingatanku saat itu adalah nenekku sendiri?
Aku hanya tak habis pikir, Nenek adalah dalang di balik kebohongan ini?
"Tolong, maafkan aku," ucap Bibi Beatrix membuyarkan lamunan dan mengembalikanku ke kenyataan yang menyakitkan. Harus berapa kali rasa sakit kurasakan agar aku bisa kembali bertemu dengan sahabatku?
Bibi Beatrix segera mengusap matanya yang sembap, terlihat jejak-jejak air mata membentuk sungai kecil di bawah matanya. "Aaron, bisakah kau ceritakan sekali lagi kepada kami mengenai gadis bernama Elena?" tanyanya tiba-tiba, terdengar seperti sebuah permintaan yang sama sekali tidak sulit kulakukan.
"Bibi ingin mendengarnya lagi?" Aku bertanya untuk memastikan. Pembicaraan kami sejak beberapa jam terakhir ini tak ada habisnya, ya?
"Ya, tapi tolong, ceritakanlah dengan lebih lengkap, beritahukan semua yang kau ketahui tentang anak itu, seperti kesukaannya, apa saja yang tidak disukainya. Kami ingin tahu jika Elena adalah benar-benar anak kandung kami ...."
Keputusasaan yang terpancar di kedua mata Bibi Beatrix mengingatkanku padanya, membuatku langsung teringat dengan janjiku sendiri.
"Ya, Bibi. Elena adalah anak kandung kalian, dia bagian dari keluarga Rikharnova." Lalu aku segera menceritakan segalanya tentang Elena.
Tak mengapa jika aku harus menceritakannya 100 kali lagi, atau sebanyak apa pun yang mereka inginkan, asalkan mereka bisa kembali mengingat Elena, itu sudah cukup berarti untukku.