"Ternyata legenda itu benar," bisik bibi Beatrix dengan lirih. Matanya kembali berkaca-kaca. "Apa yang sudah kulakukan?"
Bibi Beatrix lalu menutupi wajahnya dengan tangan, menyembunyikan matanya yang tak hentinya menjatuhkan air mata kesedihan. Paman Jim langsung membawa bibi Beatrix ke pelukannya.
"Legenda tentang segerombolan goblin yang muncul setiap bulan purnama?" tanyaku.
Situasi dengan cepat berubah, ekspresi bibi Beatrix terlihat tegang dan Paman Jim terlihat marah. Aku meneguk saliva dengan cepat. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?
"Kau ... tahu darimana tentang legenda desa ini?" tanya Paman Jim, nada bicaranya terdengar menusuk. Aku begitu ketakutan, tapi aku harus memberanikan diri menjawab pertanyaannya.
"Nenek yang menceritakan semuanya, itu seperti dongeng sebelum tidur," jawabku datar, berusaha tenang meski tanganku gemetaran semenjak tadi. Aku takut, Paman Jim terlihat seperti ingin mengirimkanku ke neraka jika aku berbohong padanya.
Namun tidak, ia yang mulanya menatapku tajam berangsur tenang. Ekspresinya kembali seperti biasa.
"Sudah kuduga. Orang tua di desa ini jelas menyembunyikan sesuatu dari kita," bisik Paman Jim dengan suara rendah, berharap tidak didengar oleh orang yang dimaksud.
Aku melirik Albert, Deinn dan Ivanoff yang berada satu ruangan denganku. Mereka terlihat kebingungan mendengar pembicaraan kami, tapi mereka harus tetap di sini dan mendengar kenyataan sebenarnya.
"Malam bukan purnama itu selalu terjadi tujuh tahun sekali," ucap Paman Jim, ia mulai bercerita apa yang dia ketahui. Aku menanti-nantikan hal ini, terutama karena Paman Jim lahir dan besar di desa.
"Ketika malam itu tiba, para penduduk desa ini akan pergi ke hutan Lakebark untuk menggelar ritual penyembahan. Maksudnya adalah untuk melindungi desa dan membuat desa aman dari bahaya hewan liar seperti beruang gunung atau singa."
"Awalnya tak ada persembahan apa pun dalam ritual ini, tapi akan selalu ada anak perempuan atau anak bayi yang menghilang tiba-tiba. Kemudian mereka akan dilupakan oleh semua orang, bagaikan tak pernah ada."
Paman Jim terlihat begitu serius ketika bercerita, membuatku yang mendengarkan ceritanya mengingat kembali betapa mengerikannya malam itu.
"Ketika anak-anak itu menghilang, desa akan aman selama tujuh tahun mendatang. Namun ketika tiba harinya, penduduk desa akan kembali menggelar ritual di hutan terlarang itu dan membiarkan anak-anak mereka dibawa oleh para goblin."
Hening, Paman Jim berhenti sejenak dari ceritanya. Ia menatapku dengan tatapan serius. "Aaron, katakan," ucapnya tiba-tiba. "Apa yang kau lakukan malam itu?"
Aku melirik Paman Jim dan Bibi Beatrix secara bergantian, aku takut jika mereka tak akan mempercayai apa yang kulihat pada malam bulan purnama itu. Aku melirik ketiga temanku, mereka tak tahu apa-apa mengenai peristiwa itu.
"Tak apa, Aaron. Ceritakan saja. Apa pun yang keluar dari mulutmu, kami akan mempercayai semuanya." Bibi Beatrix berkata dengan lembut, air matanya sudah mengering dan dia tidak terlihat sedih lagi seperti sebelumnya.
Aku menggigit bibir bawah, ragu. Apakah ini berguna untuk penyelidikan kasus menghilangnya Elena di hutan Lakebark?
"Aaron, ceritalah! Kami penasaran, sebenarnya apa yang kalian bahas dan apa yang terjadi dengan malam itu?"
Aku menatap Ivan, sorot matanya usil seperti biasa. Ini benar-benar sahabatku, bukan makhluk apa pun yang menyerupainya. Ivan selalu ingin melihatku menangis ketakutan, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ceritaku nanti.
Aku menarik napas panjang, bersiap berkata jujur.
"Malam itu aku diajak pergi oleh keluargaku, ke suatu tempat yang ternyata adalah hutan Lakebark yang terlarang." Aku memutuskan untuk berterus-terang, tak ada jalan lagi selain ini. Aku harus mengungkapkan fakta sebenarnya.
"Aku melihat banyak orang berpakaian hitam-hitam, setelah kupikir lagi itu adalah jubah dengan tudung untuk menutupi kepala dan wajah mereka. Di tengah hutan terdapat panggung dan di depannya terdapat barisan tempat duduk."
Aku menceritakan apa yang kulihat malam itu.
"Aku disuruh Ibu untuk berdiri di belakang mimbar, seperti orang yang siap untuk berpidato. Ibu juga menyerahkan beberapa lembar kertas usang agar aku bisa membacanya keras-keras. Aku tak tahu isinya apa, karena aku tak berani melihatnya. Yang kutahu itu hanyalah kertas usang dengan bahasa yang tidak kupahami," ucapku lirih. "Lalu kemudian aku dipaksa membaca semua tulisan itu."
Aku masih mengingat kejadian malam mengerikan itu seolah baru saja kualami kemarin. Semuanya begitu membekas sampai-sampai aku tak bisa meneruskan ceritaku.
"Apalagi yang terjadi setelah itu?" tanya Bibi Beatrix, dia seperti mendesakku untuk terus bercerita.
"Saat itu, aku melihat orang-orang naik ke atas panggung." Aku melirik Ivanoff yang terlihat tenang di sebelah Deinn. "Aku tak tahu mereka siapa, tapi lama-lama aku menyadari bahwa aku mengenal salah satu di antara mereka."
"Siapakah itu?" tanya Paman Jim. Sepertinya Paman Jim tak ingat apa-apa malam itu, padahal aku tahu bahwa dialah yang menggandeng tangan Elena di hutan.
"Ivanoff," jawabku cepat.
"HAH, AKU?!" Ivanoff berseru kaget, wajahnya memerah. Ia terlihat tidak terima. "Kau gila ya, Ron!? Kau pikir aku mau pentas di panggung yang ada di kedalaman hutan Lakebark?"
"Tapi kau jelas ada di sana," balasku lirih. Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Oh, tuhan, aku tak bisa menahan air mata ini lagi. "Aku sangat takut. Aku juga tak percaya dengan mataku. Namun aku bersungguh-sungguh, itu adalah kau, Ivan!"
"Saat itu, kau memimpin orang-orang di belakangmu. Jubahmu yang paling mencolok dan berbeda dari yang lain. Ornamen pada jubahmu lebih mewah dan misterius, kau bahkan sampai memakai riasan mata berwarna ungu yang tidak perlu hanya untuk kepentingan ritual!"
Ivanoff menatapku dengan tatapan seakan melihat hantu. Baru kali ini aku mendapati dia memasang ekspresi seperti itu.
"Kau pasti berpikir aku gila, tapi aku mengingatnya dengan jelas! Mulutku tiba-tiba membaca tulisan di kertas usang yang menggunakan bahasa yang belum pernah kupelajari sebelumnya, tapi di situ aku membacanya dengan fasih!"
"Kau memimpin mereka dan berputar-putar di atas panggung, kau membuat mereka yang duduk di depanmu bertingkah aneh!"
Aku berdiri, tak kuasa menahan kekesalan yang sudah kupendam selama berbulan-bulan. Mereka semua harus mengetahuinya, tentang malam itu.
"Aku tak henti-hentinya membaca kalimat sialan itu, dan kalian mulai bersikap aneh. Kalian berteriak, menangis bahkan tertawa di tempat duduk kalian. Kalian mencakar, merangkak bahkan melakukan hal yang benar-benar tidak wajar! Kalian semua kerasukan sampai menangis darah!"
Aku melihat ekspresi terkejut terlihat di wajah bibi Beatrix, sementara Paman Jim hanya memandangiku dengan datar.
"Aku tak bisa berhenti membaca tulisan itu, aku seperti tak bisa melakukannya. Aku ingin tapi aku tidak bisa!" Nada bicaraku naik sedikit, aku terbawa emosi.
"Saat mereka bertingkah semakin aneh, aku semakin berteriak lantang, mengeluarkan kata-kata yang tidak kupahami apa artinya. Aku sangat takut. Aku melihat kalian semua tumbang dengan darah mengalir di mata, kemudian aku pingsan selama beberapa saat."
Aku menarik napas panjang, amarah dan isi hatiku sudah berhasil kukeluarkan semuanya. Aku kemudian duduk lagi dan menatap semuanya satu per satu, lalu melanjutkan ceritaku. "Aku berusaha menyelamatkan keluargaku dengan mencari-cari keberadaan mereka. Aku juga mencari sahabatku, Elena. Aku tahu bahwa dia ada di barisan orang-orang itu. Ketika kutemukan, Elena sedang tak sadarkan diri dan aku berusaha membangunkannya."
Masih teringat jelas rasa takut di kedua mata Elena.
"Kemudian aku memutuskan kabur dari tempat itu dan pulang ke desa. Sebelumnya aku sempat menandai pohon yang kulewatu, sehingga aku bisa kembali kapan saja." Aku ragu menceritakan bagaimana cara Elena menghilang dan seperti apa Goblin menculiknya. Namun, aku merasa tidak boleh menyembunyikan rahasia apa pun lagi.
"Dalam pelarianku dan Elena, kami bertemu dengan goblin," ucapku dengan perlahan. "Matanya berwarna merah menyala, dan tubuhnya kecil tapi entah mengapa tampak kekar. Dia tak memiliki rambut dan juga dia terlihat ... begitu berbahaya."
Aku menahan diri untuk tidak menangis. "Kami melarikan diri dari kejarannya, Elena terjatuh karena aku tidak berhati-hati. Namun saat itu, beberapa Goblin sudah berdiri di belakang kami dan menyeret Elena."
Atmosfer di sekitarku semakin tegang.
"Aku berlari cepat berusaha menolongnya, tapi tanganku gagal meraih tangan Elena ...." Aku mengepalkan tangan dengan erat, aku begitu sampah. "Elena berteriak memanggil namaku, aku benar-benar tidak bisa melupakan wajah menangis Elena saat itu."
"Kemudian aku berbalik dan kembali meneruskan perjalanan ke desa sambil menangis," ucapku, bersamaan dengan air mata yang menetes. "Aku saat itu berjanji akan menyelamatkan Elena apa pun yang terjadi. Aku kembali ke desa untuk meminta bantuan warga desa, meski aku tahu semuanya masih ada di kedalaman hutan, tapi aku hanya ingin berusaha mencarinya."
"Kemudian ... aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Se-sepertinya kepalaku terbentur dengan keras dan karena itu aku sempat lupa ingatan dan hanya berbaring dan bersembunyi di rumah."
Aku menunduk dalam-dalam. "Itulah yang terjadi kepada Elena, dan sungguh ... malam purnama itu sangatlah menakutkan."
Aku tak tahu seperti apa mereka memandangiku yang penakut ini. Terserah mereka mau mengatakan apa tentangku, setidaknya aku sudah berusaha jujur kepada mereka. Sungguh, ini begitu sulit untukku.
"Sudahlah, tak apa-apa. Ini semua bukan salahmu."
Aku mendengar suara keibuan yang berasal dari bibi Beatrix dari sosok yang memelukku dengan tangan yang gemetaran. Aku menengadahkan wajah dan melihat bibi Beatrix menangis.
"Bi-bibi!" Aku menyeka air mata wanita itu. "Bibi, bibi! Kumohon, ampunilah aku! Aku tak bisa menyelamatkan Elena, aku gagal menangkap tangannya! Maafkan aku, Bi ...."
Bibi Beatrix kembali menarikku ke dalam pelukannya. "Sstt, sudahlah, tidak apa-apa. Jangan menangis lagi."
Aku bertahan selama beberapa saat dalam pelukan ibu kandung Elena. Wanita itu pasti syok mendengar ceritaku. Dia di dunia ini yang tak mempunyai kesempatan untuk bisa memiliki anak, tapi kenyataan sebenarnya berkata lain, bahwa dia aslinya memiliki seorang putri yang sangat cantik.
Namun anak itu malah menghilang dari ingatan semua orang karena kesalahanku. Seharusnya bibi Beatrix membenciku saja, bukan memelukku dengan erat seperti ini.
Tap!
Aku merasakan tepukan keras di pundakku, aku menoleh dan melihat Paman Jim dengan wajah kerasnya. Paman terlihat galak dan seperti serigala yang mengerikan, tetapi sebenarnya dia berhati lembut. Paman sangat menyayangi Elena.
Ikatan orang tua dan anak begitu kuat, sampai-sampai keduanya bisa merasakan bahwa ada yang mengganjal dengan rumah lama mereka yang sempat mereka pikir rumah hantu.
Aku menyeka air mataku setelah Bibi Beatrix melepaskan pelukan kami berdua. Aku menatap teman-teman dengan mata berkaca-kaca, tak ada satupun di antara mereka yang mengeluarkan ejekan atau sejenisnya. Mereka hanya berdiri menatapku dengan raut wajah sedih. Padahal aku sudah mempersiapkan hati. Apa mereka merasakan keputusasaanku?
"Terima kasih telah jujur kepada kami," ucap Paman Jim. Dari nada bicaranya yang bergetar, Paman Jim saat ini sedang menahan tangis. Aku berusaha untuk tidak menitikkan air mata lagi untuk menjaga perasaan ayah kandung Elena.
"Sekarang kami tahu bahwa perasaan mengganjal ini berasal dari anak perempuan kami yang membutuhkan bantuan dari alam sana," bisik Bibi Beatrix dengan sendi. Aku mengangguk seraya menarik ingus yang hampir jatuh menetes. Aku buru-buru mengelap hidung dengan punggung tangan, malu.
"Meski aku dan Beatrix tidak bisa mengingat gadis itu lebih jelas selain dari mimpi, ceritamu menyadarkan kami bahwa Elena itu adalah nyata. Dia putri kami."
Aku tersenyum mendengar ucapan Paman Jim.
"Aaron, sebagai saksi mata satu-satunya kejadian itu, aku meminta bantuanmu."
Tiba-tiba suasana mengharukan tersebut berubah menjadi serius tatkala Paman Jim menatapku tajam. Aku menahan napas saking takutnya terhadap intimidasi suami dari wali kelasku di sekolah.
"Bantuan ... apa?" Aku bertanya dengan hati-hati, jantungku berdegup kencang. Apa Paman Jim bermaksud menjadikanku umpan goblin?
"Hanya kau dan ketiga temanmulah yang bisa melakukan ini di masa depan, karena aku rasa aku tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkannya."
Aku masih tidak mengerti ke arah mana pembicaraan ini berlangsung. Aku membetulkan posisi dan fokus terhadap apa yang Paman Jim ucapkan.
Sebelum itu, Paman memanggil Albert, Ivan dan Deinn untuk berdiri di dekatku. Aku juga disuruhnya berdiri. Aku melirik teman-temanku saat kami disuruh berbaris dengan rapi di depan laki-laki bertubuh besar itu.
"Aku tak tahu apakah aku masih memiliki umur di tujuh tahun nanti, tapi aku rasa umur kalian masih sangat panjang sehingga kalian pasti bisa melakukannya sebagai penggantiku," ucap Paman Jim lagi. "Ini permintaanku kepada kalian, para pahlawan."
Aku masih penasaran dengan maksud Paman Jim, tapi aku merasa ini sesuatu yang akan sangat mencengangkan.
"Aku ingin kalian terlibat secara sadar dalam ritual malam bulan purnama yang terjadi setiap tujuh tahun sekali itu."
Aku, Ivan, Albert dan Deinn secara serempak berteriak, "APA!?" Begitu Paman Jim mengucapkan permintaannya.
"Kenapa kami!?" teriak Ivan, terlihat jelas bahwa dia tidak ingin melakukan permintaan tidak perlu dari orang yang sudah memukuli bokongnya sampai sakit.
Paman Jim tersenyum lemah. "Karena hanya kalian teman yang Elena inginkan datang menolongnya," balasnya lirih.
Aku langsung sadar bahwa ini adalah tugas yang Paman Jim berikan kepada kami berempat. Sebuah tugas untuk menyelamatkan Elena. Tak peduli apa pun yang terjadi, kami harus memastikan keadaan Elena dengan mata kepala kami sendiri.
"Aaron, kau mau, kan?" Paman Jim beralih padaku sembari menyodorkan tangannya.
Dengan keyakinan penuh, aku menyambut jabat tangan itu. "Ya, aku mau," ucapku tegas. "Aku pasti akan menyelamatkan Elena."
Paman Jim tersenyum kepada kami berempat. "Terima kasih, dan semoga berhasil."
Aku merasa euforia hebat tengah mengalir dalam d**a ini. Aku hanya perlu menunggu tujuh tahun lagi sampai aku bisa menyelamatkan Elena di ritual selanjutnya, yaitu ketika aku berusia 14 tahun.
Elena, tunggulah kami!