Aku dan ketiga temanku memutuskan keluar dari rumah setelah tak ada lagi pembicaraan yang terjadi antara aku dan pasangan suami-istri Rikharnova.
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan kepada Paman dan Bibi mengenai Elena. Tapi sepertinya aku sudahi sampai di sana. Paman Jim sudah memberikan perintahnya padaku dan aku harus melakukannya dengan baik, bukan?
Aku salut dengan mereka yang mempercayai ceritaku. Walau bagaimanapun juga, aku masih anak-anak berusia 7 tahun. Aku mungkin saja berbohong tentang gadis itu kepada mereka. Toh, mereka tidak akan tahu kenyataannya.
Namun, Paman Jim dan Bibi Beatrix mempercayakan pencarian Elena padaku. Aku sungguh terharu mendengarnya dan aku putuskan untuk melakukannya tanpa melibatkan orang lain.
Termasuk ketiga sahabatku.
"Kau percaya apa yang dikatakan Tuan Jim? Kita disuruh melakukan sesuatu yang tidak kita mengerti! Kita juga tak mendapat penjelasan apa-apa tentang apa yang dibicarakannya dengan Aaron."
Ivan sibuk berceloteh di belakangku saat kami sedang dalam perjalanan ke markas kami di pinggir hutan Lakebark. Suaranya yang keras membuktikan bahwa dia sengaja membicarakanku agar bisa memojokkanku di depan teman-teman.
Memangnya aku bodoh, tak tahu jika dia sedang membicarakanku untuk menjatuhkanku? Aku jelas tahu mulut Ivan yang seringkali pedas dan tidak tahu waktu itu.
Deinn yang berdiri di sebelahku menepuk pundakku beberapa kali seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku menoleh padanya dan tersenyum lembut. Aku mulai senang dengan perubahan sikap Deinn, dia memang jadi lebih pendiam, tapi kini hatinya jauh lebih luas dibandingkan kakaknya, Albert.
Andai tak ada Deinn, mungkin saja aku sudah terpancing dan balas memarahi Ivan saat ini juga. Bersyukur aku tak tersulut.
"Heh, Aaron. Coba jelaskan apa yang kau rencanakan dengan Paman Jim!"
Tubuhku tertarik ke belakang, ketika kulihat ternyata Ivan yang melakukannya. Aku mengeratkan rahang, berusaha meredam kekesalanku yang m
"Apalagi?" tanyaku dengan sikap tenang. Aku dan Deinn berhenti berjalan dan menghadap Ivan dan Albert yang seperti menuntut penjelasan dariku.
Aku pikir Ivan sudah mengerti apa yang aku sampaikan di rumah tadi, ternyata dia tetap tidak mengerti, ya? Aduh, sulit sekali. Dia memang rangking paling belakang di kelasku.
"Paman Jim meminta kalian bertiga membantuku menyelamatkan Elena," jelasku cepat. "Elena itu anaknya Paman Jim dan Bibi Beatrix."
"Cerita kau itu sangat tidak masuk akal, mereka itu tidak bisa punya anak!" Ivan menekankan setiap kata-katanya, seolah menegaskan bahwa aku gila dan menghayal.
"Kalian dibodohi goblin dalam legenda! Kita punya teman bernama Elena dan dia hilang pada malam bulan purnama setiap tujuh tahun sekali di desa ini!"
Ivan dan Albert memandangiku dengan tatapan tak percaya. Hanya Deinn yang menatapku datar, seakan mempercayai ucapanku.
"Itu hanya cerita bohong untuk menakut-nakuti anak-anak seperti kita. Ayolah, Aaron, berhenti mengatakan hal yang tidak perlu. Jangan banyak membual!"
"Ya, kau itu sudah tujuh tahun! Jangan mudah diperdaya orang-orang tua desa ini!" Albert ikut menimpali ucapan Ivan.
Aku merasa dipojokkan, mereka tak henti-hentinya menyerangku dengan kalimat-kalimat dan tatapan tidak percaya mereka. Apakah mereka sungguh menganggapku sebagai temannya? Aku tiba-tiba ragu sendiri.
"Sudahlah, jangan memojokkan Aaron," ucap Deinn menengahi. "Sekarang Aaron sudah bisa kembali ke sekolah. Kita belajar dengan giat biar bisa bersekolah keluar kota."
Albert sepertinya sependapat dengan sang adik. "Aku rasa Deinn benar. Kita hanya perlu tinggal jauh dari desa ini dan melupakan kejadian tak masuk akal yang Aaron alami," ucapnya terdengar meledekku. Sumpah, dia tak pernah bersikap tak sedewasa ini padaku.
Ivan ikut mencibirku. "Aku rasa dia hanya sakit jiwa setelah kepalanya terbentur keras." Ivan sepertinya mulai membenciku setelah kami berempat pulang dari rumah Paman Jim dan Bibi Beatrix.
Aku tahu dari tatapan dan sikapnya yang tidak mau memaafkanku.
"Aku salah dan aku minta maaf jika aku membuat kalian berdua marah." Dengan sisa-sisa kekuatan hati ini, aku berusaha meminta maaf kepada Ivan dan juga Albert. Aku tak ingin keduanya merusak rencanaku yang ingin menyelamatkan Elena.
"Nah, begitu. Akui kesalahanmu." Ivan tertawa, ia lalu menarik tanganku dan mendekapku erat. "Aku tidak suka kau membicarakan hal-hal aneh, rasa-rasanya kau seperti sulit ditakuti lagi olehku."
Aku tersenyum kecut. Jadi hanya karena itu Ivan berubah sikap padaku? Hanya karena dia tidak ingin aku menjadi pemberani yang tidak bisa lagi ditakut-takutinya?
Albert menghela napas panjang, ia mendekatiku dan menepuk pundakku sekali. "Aku juga minta maaf, tadi aku hanya mengikuti Ivan," ucapnya mengakui kesalahan.
Aku tersenyum. "Sudahlah, tidak apa-apa," ucapku sambil memandangi mereka satu per satu. "Mulai besok, aku kembali ke sekolah."
"Yeayy!"
Mereka bertiga bersorak-sorai dengan gembira, aku tertawa dan merangkul mereka sebisaku.
"Kejar beasiswa dan pindah ke Moskow!"
"Jadi anak populer di sekolah kota!"
"Ketemu gadis-gadis cantik!"
Kalimat terakhir diucapkan oleh Ivan yang langsung mendapat pukulan bertubi-tubi dari kami yang kesal mendengarnya. Tapi setelah itu kami tertawa terbahak-bahak. Kami harus belajar dengan giat agar bisa masuk ke SMP favorit yang ada di kota.
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju pinggiran hutan Lakebark, di sana terdapat markas rahasia kami.
"Eh, eh, kudengar anak gadis di kota dadanya besar-besar ...."
Aku tersenyum mendengar pembicaraan ketiga temanku yang mulai membahas tentang lawan jenis. Mereka hidup seperti biasa, tak ada yang berbeda. Yang kurang hanyalah ketiadaan Elena bersama kami berempat.
Mereka tak mau tahu mengenai gadis kecil yang menghilang itu, hanya aku yang terus memikirkan tentangnya.
Jika itu yang mereka inginkan, maka aku akan mengikuti alurnya. Aku tak akan membahas tentang Elena lagi di depan mereka. Toh, Albert dan Ivan tak mempercayai ceritaku. Kurasa Deinn juga demikian. Dia hanya tidak ingin menyakiti perasaanku saja.
Dan pada akhirnya yang tersisa kini hanyakah aku seorang, bersama semua kenangan dan ingatan tentang gadis kecil berambut pirang keemasan yang sudah bersamaku sejak lama.
Aku harap rencanaku dan Paman Jim bisa berjalan lancar. Sebuah rencana yang dibuat khusus untukku dan mereka bertiga agar kami bisa kembali mengikuti ritual pada malam bulan purnama, di tujuh tahun mendatang.
Jika saat itu tiba, mungkin aku sudah berusia 14 tahun dan mereka 15 tahun lebih. Tentu saat itu aku pasti jadi jauh lebih kuat dibandingkan aku yang sekarang dan mungkin saja aku bisa menyelamatkan Elena dari para goblin itu.
Tujuh tahun lagi ... menunggu malam bulan purnama di tengah hutan Lakebark yang sepi dan mengerikan. Aku tak sabar lagi menunggu saat-saat itu tiba.
Rasanya mengerikan, tapi tidak buruk juga. Jadi, tunggulah aku, Elena. Aku akan menjadi lebih kuat dan lebih berani dibandingkan sebelumnya.
***
Aaron's POV off.
Tujuh tahun kemudian ...
"Apa!? Kita berempat tidak sekelas?! Bagaimana bisa!?"
Ivanoff berteriak di depan mading (majalah dinding) sekolah. Ia memeriksa daftar nama kelas 8-C yang menjadi kelas yang akan ditempatinya selama satu tahun mendatang.
"Ya, lagi-lagi kita berempat tidak sekelas," keluh Albert sambil merangkul saudara kembarnya, Deinn. Tubuh mereka yang tinggi sampai membuat anak-anak lain kesulitan mencari nama mereka di papan pengumuman.
"Tapi kelas kita tetap bersebelahan, kan?" tanya Aaron, ia tadi sempat melihat namanya di papan pengumuman dan ternyata dia masuk di kelas 8-A.
"Bukan itu masalahnya," sungut Ivan tidak terima. Ia terus mengeluh tanpa henti. "Aku hanya ingin pergi ke kantin dengan kalian bertiga! Tak adil, Albert dan Deinn saja satu kelas!"
"Sudahlah," sahut Albert. "Lebih baik terima keadaan. Toh, kita tetap bisa bertemu."
Albert dan Deinn menyingkir dari mading sekolah, mereka lalu mengajak Ivanoff dan Aaron ke kantin.
"Ah, tidak seru." Ivan kembali mengeluh, wajahnya terlihat tidak ikhlas melihat pembagian kelas di semester baru.
"Sekarang kan tetap bisa ke kantin berempat ...." ucap Albert, bentuk tubuhnya berkembang pesat sejak tujuh tahun yang lalu. Tubuhnya jadi lebih berisi dan tinggi. Tapi kulitnya tetap pucat seperti mayat.
"Kalian tak mengerti maksudku," tukas Ivan dengan kesal. "Kalau jam istirahat kita tidak sama, bagaimana?! Aku pergi ke kantin sendirian, begitu?"
Ivan benar-benar cerewet.
"Berarti kita bisa kumpul saat jam makan siang. Waktunya cukup panjang kok." Deinn yang menjadi pendiam akhirnya angkat bicara. Aaron terkikik geli mendengar nada bicara ketiga sahabatnya. Dia hanya diam mendengarkan.
"Sudahlah, aku bosan bermain dengan kalian bertiga," ucap Ivan setengah merajuk. Kekesalan anak laki-laki itu menyebar entah kemana.
"Pesankan aku makanan terenak, kalian yang bayar!" Suasana hati Ivan tampaknya sudah jauh lebih baik, ia melangkah di sisi Aaron yang sibuk melihat ke luar jendela.
Musim dingin telah terlewati, kini saatnya mereka menyambut musim semi. Indahnya musim semi, bunga-bunga bermekaran, tumbuh-tumbuhan mekar kembali dengan cantik.
Tapi dibandingkan semua itu, Aaron hanya menginginkan musim panas tiba.
Perjalanan menuju kantin mereka lalui dalam keheningan, lorong terasa semakin panjang dan melelahkan. Albert, Ivan, Aaron dan Deinn tetap menjadi teman baik setelah tujuh tahun lamanya mereka bersama-sama.
Ketika lulus dari sekolah dasar dengan nilai yang cukup baik, mereka sama-sama merayu orang tua mereka untuk menyekolahkan mereka di kota besar. Di manapun terserah, asal mereka berempat bisa tetap bersama-sama.
Setelah memutuskan selama beberapa waktu, akhirnya mereka memilih Petersburg Junior High School sebagai tujuan mereka selanjutnya. Mereka diantar ke asrama yang akan mereka tempati berempat nantinya. Sebuah kamar berukuran sedang yang tampak nyaman dan cukup bersih.
Enam bulan pertama terasa sulit bagi Aaron yang belum pernah jauh dari orang tuanya.
"Aku mau pulang saja, di sini dingin sekali," keluh Aaron sambil merapatkan syal di lehernya.
"Ayolah, ini kesempatan emas untuk kita berempat karena bisa tinggal jauh dari desa kuno itu," jelas Ivan sambil menepuk pundak Aaron. "Lagipula kau itu sudah besar, jadi jangan penakut lagi. Dan coba kutebak, kau pasti sudah punya bulu-bulu di paha."
Ivan refleks menarik tali celana olahraga yang Aaron gunakan, membuat celananya longgar dan melorot seketika.
"WuaHAHAHAA! Hentikan! DASAR GILA!"
Ivan tak mau berhenti, justru dia semakin menggelitiki perut temannya yang terus saja merengek ingin pulang ke rumah.
"Berjanjilah kau tidak ingin pulang ke desa itu lagi," ancam Ivan tidak serius.
Aaron tertawa terbahak-bahak, geli pada perut dan pinggangnya membuat kantong kemihnya menjadi lebih cepat penuh. Albert dan Deinn hanya berdiri memandangi tingkah konyol keduanya.
"Hei, hei! Sudah! A-aku janji! Mwahahaah, sudah cukup!"
Begitu Aaron menjawab pertanyaan Ivan, pemuda itu dengan cepat berhenti mengerjai Aaron yang langsung terduduk lemas di lantai sembari memegangi perut dan harta berharga di tengah-tengah paha.
"Uh, sudah tidak tahan lagi!" ucap Aaron tiba-tiba. Ia kemudian berdiri dan lari terbirit-b***t ke toilet yang letaknya tak jauh dari ruang tidurnya bersama teman-temannya.
Albert, Ivan dan Deinn hanya tertawa terbahak-bahak karena tidak tahan melihat ekspresi Aaron saat menahan kencing.
Masa lalu mereka begitu indah, terutama masa-masa sekolah dasar yang mereka penuhi dengan belajar dan membaca buku. Tekad untuk bersekolah di luar kota membuat keempatnya belajar dengan sangat giat.
Dan kini, mereka berempat sudah duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama yang begitu populer di kota Sevastopol, sebuah kota besar di Rusia yang merupakan kota yang terletak di Distrik Federal Krimea.
Di tempat itulah mereka menuntut ilmu selama setahun terakhir.
"Hari ini kita makan apa?" tanya Deinn seraya melihat kantin yang dipenuhi anak-anak kota yang berbaris dengan rapi sambil menyodorkan nampan berisi piring dan mangkok yang siap diisi oleh petugas kantin.
"Entahlah, aku rasa aku tak berselera makan apa-apa hari ini," jawab Ivan terlalu santai, ia merangkul Aaron dengan erat. "Iyakan, Ron?"
Namun begitu beberapa orang gadis cantik melewati mereka sambil tertawa kecil, Ivan langsung mendorong Aaron agar jauh-jauh darinya. "Maaf, Nona-nona. Jangan salah paham, hatiku hanya untuk kalian," ucapnya penuh rayu, tak lupa dengan sebelah mata yang mengedip mesra.
Aaron dan Albert memasang ekspresi jijik mereka. "Dasar mata keranjang," ucap keduanya bersamaan.
Mereka berempat lalu tertawa terbahak-bahak, menertawakan hal lucu yang akan selalu terdengar baru bagi mereka yang hanya berasal dari desa.
Kota besar selalu menyimpan sesuatu yang menyenangkan. Tak salah jika mereka memilih pergi dari desa Birdben dan tinggal berempat secara mandiri di sana.
Pilihan mereka dirasa sudah tepat dan mereka tidak ingin kembali lagi ke desa itu untuk menyesali semuanya.
Kecuali satu orang dengan pemikiran berbeda.
Aaron terlihat sedang memandangi langit siang yang cerah dengan pandangan yang begitu misterius. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya.