Asrama yang ditempati oleh Aaron dan kawan-kawan bukanlah asrama mewah dan megah seperti yang orang lain pikirkan setelah melihat bangunan sekolahnya.
Asrama itu hanya terdiri dari dua lantai. Ukuran masing-masing kamar tidak terlalu besar, hanya muat dua ranjang bertingkat yang menempel di dinding. Ketika mau digunakan, barulah ranjang ditarik keluar.
Setiap kamar ditempati 2 sampai 4 siswa laki-laki, karena itu memang asrama khusus yang hanya menerima siswa laki-laki yang memilih untuk sekolah jauh dari rumah. Termasuk Aaron dan ketiga temannya yang ingin lepas dari orang tua mereka dan hidup dengan mandiri di kota besar.
Bukan hal mudah untuk mendapatkan izin tersebut, tetapi karena mereka berani mencoba hal baru setelah membuktikan dengan prestasi yang bagus akhirnya mereka diperbolehkan pergi asalkan selalu bersama-sama.
Tak terasa, sudah setahun lebih Aaron dan ketiga temannya tinggal di asrama itu. Berbagi kamar mandi dengan siswa yang lain, memasak makanan secara bergantian bahkan menggunakan ruang mencuci pakaian secara bergiliran. Mereka sudah terbiasa tinggal di sana tanpa orang dewasa.
Tinggal di kamar bersama para sahabat adalah kebahagiaan tersendiri bagi Aaron. Malam itu, dia mengusulkan permainan Truth or Dare kepada teman-temannya yang langsung antusias dengan usul Aaron.
Mereka kemudian duduk membentuk lingkaran, dan menaruh botol soda yang sudah kosong di tengah-tengah. Mereka sudah menyiapkan kartu Truth or Dare juga hukuman jika tidak berani mengatakan Truth.
Mereka bermain dengan asyik, suasana begitu menyenangkan karena Ivan selalu ditunjuk oleh botol yang berputar. Wajah Ivan sudah dipenuhi dengan warna-warni dari kuas cat air. Tawa kebahagiaan meledak di ruangan kecil mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan mereka masih belum merasakan kantuk. Pukul 9 malam adalah waktu tidur yang sudah ditetapkan oleh kepala asrama, dan untuk mengulur waktu tersebut mereka memutuskan untuk bermain game hingga dua jam ke depan.
"Omong-omong, sebentar lagi musim panas," ucap Aaron tiba-tiba kepada Albert, Deinn dan Ivan yang masing-masing duduk membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi sebuah botol berwarna hijau. Mereka sedang bermain Truth or Dare. "Dan kudengar lagi dari kakak kelas, akan ada renovasi besar-besaran di asrama kita. Jadi kemungkinan besar kita akan libur selama beberapa bulan."
Ivan terlihat senang. "Begitukah? Baguslah, kita bisa bersenang-senang sepuasnya!"
Aaron hanya tersenyum sekilas pada Ivan, ia lalu menatap tumpukan kartu beserta botol soda di tengah-tengah mereka. Ada juga beberapa botol cat air dan kuas yang berguna untuk menandai sang pelaku Dare Sekarang giliran Deinn untuk memutar botol.
"Cepat putar," ucap Aaron seraya menunjuk Deinn. Dengan patuh, pemuda berkacamata itu memutar botol sesuai arah jarum jam.
Botol kemudian berhenti di Ivan.
"Ah, sial. Kenapa aku lagi yang kena?" keluhnya sambil mengambil salah satu kartu secara acak. Ia mengintip tulisan di kartu itu lalu membaliknya dengan cepat, memperlihatkannya kepada yang lain. "Apa-apaan, kartu truthnya sudah gila, ya!?"
Albert tertawa terbahak-bahak. Ia merebut kartu Ivan dan membacanya keras-keras. "The woman you imagine in the shower? Siapa wanita yang kau bayangkan saat mandi, ya? Hahaha sinting," cecar Albert sambil tertawa keras, ia melempar kartu ke arah Ivan. "Cepat jawab."
Wajah Ivan memerah. "Dare! Aku pilih dare!" ucapnya beberapa kali.
Deinn menggeleng. "Tidak bisa, kesempatan Dare milikmu sudah habis," jelasnya dengan ekspresi datar. "Jadi jawab saja."
"Uh." Ivan terlihat tidak terima, padahal dia sendiri yang mengambil kartu berisi tantangan itu. Aaron terkikik sendiri melihatnya.
"Regina," jawab Ivan, wajahnya memerah. "Kelas 8-A. Teman sekelasnya Aaron. Cantik."
"Ho, kau suka padanya? Baiklah, akan kusampaikan nanti di kelas." Aaron merespons dengan baik sambil tertawa terbahak-bahak. Albert dan Deinn ikut tertawa bersamanya.
Ivan buru-buru memutar botor yang langsung berputar dengan cepat. "Awas saja, kali ini giliran kau, Ron!" sungutnya dengan tatapan berapi-api. Aaron tersenyum menanggapi tingkah sahabatnya.
Botol yang berputar cepat perlahan-lahan melambat. Mula-mulanya semuanya mengira botol itu akan berhenti pada Deinn yang duduk di samping kanan Aaron, tetapi botol itu justru berhenti berputar dan berhenti pada Albert di sebelah kiri Aaron yang langsung mengucap syukur.
"Hei, botol ini curang!" teriak Ivan tidak terima. "Ulang! Ulang!"
"Mana bisa begitu, kau yang memutarnya tadi," balas Aaron sambil menjulurkan lidah. Dia beruntung karena sejak permainan dimulai sekitar 10 menit yang lalu, dia tidak pernah terkena botol itu.
"Ambil kartunya," ucap Deinn kepada sang kakak. Albert dengan cepat menurut.
Mereka memperhatikan kartu yang didapatkan oleh Albert. "Siapa yang paling ingin kau temui sekarang?" Aaron membaca tulisan di kartu itu dengan lambat.
Hening, keempat anak laki-laki itu terdiam di tempat duduknya masing-masing.
Entah mengapa, pertanyaan itu seperti tidak ditujukan kepada Albert seorang. Melainkan kepada mereka berempat yang sudah tidak pernah lagi pulang ke rumah sejak memutuskan tinggal di asrama sekolah. Mereka sama-sama merindukan rumah, keluarga yang ditinggalkan dan suasana desa yang asri.
Ivan tertawa kecil. "Aku rasa kita semua sepemikiran," ucapnya seperti perwakilan isi hati yang lain. "Kita semua rindu rumah, orang tua kita dan masakan enak yang mereka buat untuk kita."
Aaron mengangguk, ia setuju dengan perkataan Ivanoff bahwa dia rindu keluarganya di desa. Sudah setahun lebih mereka tidak pulang dan memberi kabar, selain saat mengatakan bahwa mereka tinggal di satu kamar asrama yang sama.
Setelah itu mereka berempat memutuskan untuk tidak menghubungi keluarga mereka lagi. Putus kontak begitu saja.
"Kalau dipikir-pikir, kita sudah keterlaluan juga. Karena tidak pernah menelepon atau mengirim surat ke mereka," ucap Albert dengan lirih. Ia dan Deinn tidak pernah berpisah lama dengan orang tua mereka, tapi begitu masuk SMP dan tinggal jauh, mereka memutuskan untuk menjadi anak yang mandiri.
"Sebaiknya musim panas nanti kita pulang," usul Deinn, ia setuju dengan kakaknya. "Bukankah Aaron sudah bilang tadi? Kemungkinan kita libur selama beberapa bulan karena ada renovasi besar-besaran di asrama."
"Bukan ide buruk," sahut Ivan, ia terlihat senang. "Aku rindu ayahku dan masakan yang dibuat oleh tangannya. Membayangkannya saja sudah membuatku lapar."
Aaron menatap botol soda yang masih mengarah ke Albert. "Tak ada yang mau putar botolnya lagi?" tanyanya di luar topik hangat yang sedang ketiga temannya bicarakan.
"Kalau kau bagaimana, Aaron? Kau mau pulang bulan Juni nanti?" tanya Albert, ia menatap Aaron yang jauh lebih pendiam dibandingkan biasanya. "Kau mau, kan?"
Aaron melipat tangan dan memasang ekspresi datar. "Tentu saja aku akan pulang, bukankah kita akan menghadiri ritual itu?"
Perkataan Aaron membuat ketiga temannya terkejut.
"Ritual apa maksudmu?" tanya Ivan, sepertinya dia sudah melupakan kejadian tujuh tahun yang lalu tentang seorang pria tua yang meminta mereka mencari anak perempuannya yang hilang di hutan.
Ekspresi Aaron berubah ceria. "Tentu saja ritual penyambutan bagi anak-anak nakal yang tidak pulang setelah setahun lebih~"
Ivan tertawa, ia langsung meninju lengan Aaron dengan pelan. "Hahaha, dasar! Ya, aku rasa mereka harus melakukan penyambutan yang sangat meriah. Apakah sebaiknya kita meminta maaf karena baru bisa pulang ke rumah?"
Albert tertawa dan membalas, "Tentu saja harus, dasar konyol. Kalau kau tidak meminta maaf kepada orang tuamu, bisa-bisa nanti kau diusir keluar dari rumah."
Mereka lalu tertawa terbahak-bahak, hingga melupakan permainan Truth or Dare yang tengah mereka mainkan. Keempat anak laki-laki itu lalu menceritakan apa saja yang mereka rindukan dari desa Birdben, dan mereka mulai merencanakan hari keberangkatan menuju ke sana.
Malam itu sungguh sepi, bulan tak menampakkan dirinya. Musim panas pun hampir tiba, dan mereka sedang bersiap untuk menyambutnya dengan meriah.
Yang terlihat berbeda hanya Aaron seorang.