"Grook ... Grook ...."
Pagi harinya, Ivanoff ditemukan tertidur di atas lantai dengan selimut mengelilingi tubuhnya untuk menjaganya tetap hangat. Dia terlihat nyenyak sekali, sampai-sampai Aaron, Albert dan Deinn yang sudah bangun dan membersihkan diri tidak tega membangunkannya.
"Kasihan, biarkan saja dia tidur dulu," ucap Aaron. Ia melihat Ivan mendengkur dengan keras, tanda tidurnya begitu pulas. Dengan perhatian, Aaron memberikan selimut miliknya untuk menjaga agar Ivan tidak terbangun karena kedinginan. Padahal sebentar lagi musim panas.
"Dia terlalu sombong mengatakan tidak akan tidur dan memilih begadang semalaman, tapi lihat akhirnya." Albert menunjuk Ivan yang meringkuk di lantai, bersandar pada tangan yang dijadikannya sebagai bantalan tidur.
"Padahal dia tidak bisa tidur sama sepertiku dan kami memutuskan berjaga semalaman sampai akhirnya aku dan Ivan melihat truk-truk besar membawa material bangunan ke lingkungan asrama," ucap Aaron menjelaskan. Aaron ingat sesaat sebelum tidur dia sempat menyuruh Ivanoff untuk tidur, tapi Ivan menolak dan menyuruh Aaron tidur saja.
"Dia malah mengatakan tidur hanya untuk orang lemah," kata Aaron lagi, dan mendapat anggukan setuju dari Deinn. Dia juga ada mendengarkan percakapan Aaron dan Ivan sebelumnya.
Albert sepertinya tidak mengingat apa-apa karena dia tak ikut menimpali pembicaraan antara Aaron dan adiknya, Deinn.
"Kalian berdua sudah mandi?" tanya Albert.
"Ya," jawab Aaron dan Deinn serempak.
"Kenapa belum juga berpakaian? Sana cepat pakai seragam. Ingat kata kepala asrama tadi yang menyuruh kita berkumpul di halaman 30 menit lagi," Albert mengingatkan. Ia melirik jam dinding dan kembali berkata, "Dan sekarang hanya tersisa 15 menit. Jadi cepat pakai seragam dan sisir rambut kalian dengan rapi."
"Siap, Kapten!"
Sekitar 15 menit yang lalu, bel berbunyi dengan nyaring kemudian disusul oleh pengumuman yang meminta semua anak yang tinggal di asrama bersiap-siap dengan pakaian rapi.
"Perhatian, perhatian. Kepada seluruh anak laki-laki dan perempuan di gedung asrama A dan B, harap berkumpul di lapangan dalam 30 menit lagi. Sekali lagi, kepada seluruh anak asrama, harap segera berkumpul di lapangan. Waktu yang diberikan hanya 30 menit. Demikian pemberitahuan ini disampaikan. Terima kasih."
Pengumuman melalui speaker suara itu mengejutkan Aaron yang bangun lebih dulu dibandingkan yang lainnya. Ia buru-buru membangunkan Deinn yang ternyata sudah terjaga dari tidurnya, ia hanya tidak beranjak dari ranjang. Sementara Albert, ia ternyata langsung duduk begitu melihat Aaron dan adiknya sudah bangun.
Ketiganya lalu memutuskan pergi mandi bersama-sama ke kamar mandi yang luasnya mampu menampung 20 anak di bawah pancuran yang berbeda-beda.
Tentu saja mereka mandi di dekat yang berbeda.
Barulah ketika mereka bertiga selesai mandi dan melihat Ivan masih tidur dengan posisi memprihatinkan di lantai, mereka memutuskan untuk tidak mengusik anak laki-laki itu.
"Aaron, jangan lupa dasimu," ucap Deinn mengingatkan. Aaron refleks menepuk keningnya.
"Maaf, aku lupa." Buru-buru Aaron mencari dasinya di lemari pakaian khusus miliknya yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Begitu menemukan dasi pita berwarna biru, Aaron memasangnya dengan cepat.
"Bagus, sudah rapi," gumam Aaron seraya melihat tampilan dirinya di cermin. Aaron melirik Ivan yang masih tidur di lantai, beralaskan selimut dan tubuh dibaluti selimut lainnya. Benar-benar posisi yang membuat siapapun betah tidur seharian.
"Tetap kita biarkan Ivan begitu?" tanya Aaron ke Albert.
"Ya, biarkan saja dia," jawab Albert cepat, sepertinya dia masih kesal dengan perbuatan Ivan yang membuatnya kedinginan di dini hari. "Lagipula dia tidak mungkin sempat mandi dan berpakaian."
"Hei, ayo cepat," panggil Deinn. Dia sudah menyisir rambutnya dengan rapi. Deinn menunggu di depan pintu yang terbuka lebar, mengamati sang kakak dan Aaron yang sibuk bercengkrama di dalam. "Anak-anak sudah lebih dulu ke sana."
Aaron dan Albert bergegas keluar dari kamar, menyusul Deinn yang langsung memimpin jalan di depan. Aaron jadi orang terakhir yang menutup pintu, ia sudah memastikan bahwa pintunya terkunci agar Ivan tidak bisa menyusul mereka nantinya.
Bukan apa-apa, tapi dia tak ingin Ivan yang kurang tidur itu memaksakan dirinya lagi.
Ketiga sahabat itu pun berjalan cepat menelusuri lorong, menuju lapangan bola yang berada di lantai paling bawah, meninggalkan Ivan yang masih tidur mendengkur dengan suaranya yang keras.
Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai anak itu terbangun dan marah-marah karena tidak melihat m seorang pun di kamarnya.
Teman-temannya sudah pergi lebih dulu.
***
"Anak-anak, cepat berkumpul di tengah lapangan," ucap seorang pria bertubuh kekar yang memegang microphone di pinggir lapangan. Dia adalah Hendrik, guru olahraga yang juga bertugas sebagai staff keamanan asrama yang ditempati Aaron dan kawan-kawan.
"Ada apa, ya? Kok kita disuruh kumpul pagi-pagi sekali," gumam seorang siswa yang berdiri di sebelah Albert. Aaron melirik siswa berkacamata yang masih berusaha merapikan kerah di seragamnya. Dia bahkan belum memasang dasi.
"Baris yang rapi!" Tiba-tiba guru olahraga bertubuh atletis itu berteriak lantang, mengejutkan semua siswa yang disuruh berkumpul di tengah lapangan.
Siswa laki-laki dipisah dengan siswi perempuan karena perbedaan gedung asrama keduanya. Jadilah hanya anak laki-laki yang berkumpul di lapangan, sedangkan para siswi di ballroom asrama.
"Huh, pilih kasih," keluh seorang siswa. "Harusnya kita juga di ballroom yang pakai AC itu."
Kebetulan, siswa yang mengeluh itu berdiri di sebelah kiri Aaron. Ia terus melihat ke arah Aaron, seakan meminta pendapat dari laki-laki itu.
"Ya, kurasa karena kita jauh lebih kuat daripada perempuan, jadilah kita disuruh ke lapangan." Aaron menjawab dengan jawaban sederhana. Sebuah jawaban atas pertanyaan yang hampir membuatnya berpikir perempuan tidak layak diperlakukan istimewa. Itu salah besar.
"Huh, kau pintar juga." Siswa dengan nametag Dave itu membuang muka, tak mau lagi melihat ke arah Aaron. Sepertinya dia kesal dengan jawaban siswa laki-laki di sekolahnya.
Aaron hanya tersenyum tipis.
"Anak-anak, kami mengumpulkan kalian semua di sini untuk memberikan pengumuman penting terkait renovasi asrama kita." Seorang guru perempuan maju dan naik ke atas mimbar yang entah sejak kapan sudah disiapkan di pinggir lapangan, tepat di depan barisan Aaron dan siswa lainnya.
"Seperti yang kalian lihat di sebelah sana, terdapat banyak material bahan bangunan yang dini hari tadi diangkut oleh puluhan truk besar untuk keperluan pembangunan kita."
Guru perempuan bersanggul tinggi itu kemudian menutup mic dengan telapak tangannya, ia kemudian berbicara dengan Hendrik yang berdiri tegak di belakang perempuan berusia 45 tahunan itu.
"Renovasi ini berlangsung sekitar 2-3 bulan. Sebenarnya ini tidak bisa dibilang renovasi besar-besaran, melainkan pembangunan gedung baru karena asrama kita sudah terlalu tua dan harus diperbaharui dengan layak."
Siswa laki-laki langsung ribut mendengar kalimat itu. Padahal gedung asrama masih layak digunakan, beserta fasilitas yang membuat mereka nyaman. Misalnya seperti ruang tidur, ruang bermain, ruang bersantai dan kamar mandi yang penuh sekat.
Kenapa harus membangun ulang? Darimana dana pembangunannya?
"Harap tenang, semuanya."
Guru perempuan itu kembali berbicara dengan Hendrik yang memasang wajah garang. Hampir semua siswa takut dengan guru olahraga kelas 3 itu. Aaron bersyukur sebab dia masih kelas 2 dan belum bertemu dengan Hendrik di mata pelajaran yang paling tidak dia sukai di sekolah.
"Karena renovasi bangunan asrama ini juga memerlukan tambahan biaya, mulai sekarang kami akan mengenakan biaya tambahan."
Terdengar ringisan dari para siswa yang keberatan dengan kabar adanya penambahan biaya di asrama.
Sementara itu, di kamar yang ditempati Aaron dan ketiga temannya ....
"Huh? Kemana semua orang?"