Ivanoff bangun 10 menit kemudian setelah Aaron dan lainnya pergi meninggalkan ruangan dalam keadaan terkunci. Dengan panik, Ivan berusaha membuka pintu yang kuncinya dibawa oleh Aaron sebagai orang biasanya memegang kunci kamar mereka.
"Astaga, mereka semua kemana!?" tanya Aaron kepada udara kosong, tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaannya itu karena tak ada siapa-siapa di dalam kamar selain dirinya sendiri.
Beberapa menit lalu, Ivan terbangun dalam keadaan linglung. Ia duduk dengan mata terpejam selama beberapa saat, kantuknya perlahan-lahan menghilang dan digantikan perasaan hangat yang datang dari punggung. Ketika dia menyadari bahwa sebelumnya dia tidur di lantai, Ivan langsung terkejut sampai-sampai dia menjatuhkan selimut yang melindungi tubuhnya dari hawa dingin.
"Apa mereka sudah pulang ke desa tanpa memberitahuku?" Ivan bertanya kepada dirinya sendiri. Ia mengigiti kuku ibu jarinya sambil sesekali melirik jam dinding setiap 1 menit sekali. "Mustahil, sekarang masih belum jam 7!"
Dengan panik, Ivan berusaha membuka pintu. Tapi percuma, pintu itu dikunci dari luar.
"Ah, sial. Aku harus bagaimana?" Ivan mencoba memutar otak, mencari alternatif lain. Jika benar teman-temannya pulang ke desa, kenapa mereka tidak membawa barang-barang berharga mereka? Ivan kemudian mengecek satu per satu lemari pakaian di ruangan itu, dan hasilnya semua pakaian teman-temannya masih berada di sana, dalam keadaan lengkap.
"Aneh, sebenarnya mereka pergi kemana?" Ivan bertanya lagi, ia lalu duduk di pinggir ranjang. Tempat tidur Deinn yang terlihat rapi. Anak itu memang tak pernah meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan berantakan. Bahkan ketika bangun dari tidur, hal pertama yang dia lakukan adalah merapikan bantal, guling, melipat selimut sampai mengencangkan seprai di kasur.
"Andai saja aku bisa serajin Deinn," gumam Ivan seraya mengusap permukaan halus ranjang sahabatnya itu. "Mungkin aku akan jadi laki-laki paling rapi di kamar ini."
Ivan lantas duduk bersila dengan pikiran yang melayang begitu jauh, sembari mengingat-ingat kembali pembicaraan yang sempat dilakukannya dengan teman-temannya di dini hari tadi.
"Van, tidurlah. Sepertinya pagi nanti kita semua akan dipanggil untuk kumpul di lapangan." Aaron menasehati Ivanoff agar pergi tidur setelah mereka sama-sama tidak bisa tidur dan berjaga semalaman.
"Huh, tidak usah pedulikan aku. Kalian bertiga tidur saja, karena tidur itu hanya untuk orang-orang lemah." Ivan menyeringai dan memilih duduk bersandar pada dinding sembari mengamati Aaron, Deinn dan Albert yang telah naik ke atas ranjang masing-masing, bersiap untuk tidur.
Lalu tanpa Ivan sadari, dia jatuh tertidur dengan begitu pulasnya dan baru bangun setelah kakinya merasa sedikit gatal. Hal pertama yang mengejutkan Ivan yang sepenuhnya sudah bangun dari tidurnya adalah keadaan kamar yang kosong.
Tak ada Aaron, Albert maupun Deinn. Mereka semua pergi.
"Sial, harusnya aku tidur seperti mereka tadi malam."
Ivan pun tertunduk lemas dengan perasaan campur aduk, ia akan menunggu teman-temannya kembali.
Kemungkinan yang terpikir oleh Ivan saat ini adalah Aaron dan yang lainnya sedang disuruh berkumpul di lapangan.
Masalahnya sekarang adalah Ivan tidak mengetahui lapangan mana yang dimaksud. Ivan bisa saja melihat dari jendela kamarnya, tapi halaman di dekat asrama ada 3 buah. Satu yang berada dekat dengan lokasi kamarnya, yang kedua berada di dekat asrama putri dan yang terakhir ada di depan. Persis dekat gerbang.
Jarak dua lapangan tersebut tentu saja tidak terlihat di jendelanya saat ini. Ivan benar-benar merasa kesal, ia pandangi jendela besar kamarnya yang seolah-olah sedang mengejeknya karena terpaksa mendekam dalam kamar yang dikunci dari luar.
Jika seandainya saja Ivan terlahir sebagai orang dengan sikap yang nekat, mungkin saja sekarang dia bisa keluar dari kamar dengan cara memutar akal dan berusaha keluar dari kamar dengan meloncat turun dari satu jendela ke jendela yang lain. Tapi yang terakhir ini jelas merupakan sesuatu yang mustahil karena dia tidak punya masa otot yang kuat seperti Albert atau kelincahan seperti Aaron. Dia juga tak pandai seperti Deinn.
Paket komplit yang menyebalkan, membuat Ivan habis kesabaran.
***
"Astaga, semoga kita sempat mengemasi semua barang kita," gumam Albert begitu mereka dibubarkan dari lapangan. Matahari sudah bersinar cukup terik, jam besar di lapangan menunjukkan pukul 10 pagi.
"Ya, semoga saja. Para guru dan pihak asrama benar-benar keterlaluan, mereka menjemur kita selama 4 jam!" Aaron menimpali perkataan Albert. Peluh bercucuran dari keningnya dan dengan segera ia usap dengan punggung tangan.
Deinn berjalan di belakang Albert dan Aaron, diam menyimak pembicaraan kakak dan temannya.
"Tapi baguslah mereka akan memulangkan kita hari ini juga. Kita harus mengemasi barang-barang dan menunggu bus kita datang menjemput."
Albert dan Aaron kemudian membahas hal random. Terkadang mereka membahas tentang pelajaran, terkadang membahas tentang para wanita.
"Deinn, apa ada gadis yang kau suka di sekolah kita?" tanya Aaron tiba-tiba, ia sengaja berhenti berjalan agar bisa menanyakan hal itu kepada Deinn.
Adik Albert itu ikut berhenti dan menatap Aaron dengan kebingungan. "Hah?" gumamnya.
Deinn kemudian menuding dirinya dengan jari telunjuk. "Siapa gadis yang aku suka, maksudmu?" tanyanya memastikan. Dia tadi melamun sejenak, sehingga tidak terlalu mendengar pembicaraan kakaknya dan juga Aaron.
"Ya, apa ada yang kau suka?" tanya Albert. Sebagai kakak, dia ingin tahu siapa yang adiknya sukai.
Deinn diam selama beberapa detik, kemudian menggeleng. "Tidak ada yang kusukai, aku hanya ingin fokus sekolah," jawabnya tak terduga. Aaron dan Albert menghela napas panjang.
"Kalau aku suka dengan Seravina, dia gadis berambut pirang yang selalu memakai jepit rambut kupu-kupu." Albert membuat pengakuan, seketika wajah manis gadis yang duduk sebangku dengannya di kelas terbayang di benaknya, membuat Albert tersenyum cerah.
"Oh, kakak suka dia?" tanya Deinn, ia baru tahu kakaknya menyimpan rasa terhadap seseorang. Selama ini, Albert selalu memberitahukan apa yang dirasakannya. Namun sepertinya, untuk masalah percintaan dan gadis, kakaknya itu tidak terbuka dengannya.
Albert tertawa. "Haha ... ya, aku suka dia."
Mereka lalu membahas apa saja kejadian lucu di kelas yang membuat mereka bisa dekat dengan yang lainnya. Meski Aaron dan ketiga teman lainnya tidak satu kelas, tapi mereka tetap berjanji untuk selalu kumpul bersama-sama.
"Omong-omong, koridor begitu sepi. Apa para senior belum kembali ke asrama?" Aaron menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak menginjakkan kaki ke bangunan asrama mereka.
"Kurasa mereka disuruh pergi ke tempat lain. Kau tentu tahu mereka itu sudah kelas 3." Albert menjawab dengan tenang. Seandainya saja dia naik kelas beberapa tahun yang lalu, mungkin dia sudah kelas 3 dan menjadi kakak kelasnya Aaron dan lainnya.
"Aku penasaran bagaimana reaksi Ivan setelah bangun nanti." Deinn mengucapkan sesuatu yang langsung mengguncang Albert dan Aaron. Mereka baru ingat dengan Ivan yang dikunci di kamar sejak mereka disuruh kumpul di lapangan.
Mungkin saja dalam empat jam itu Ivan sudah bangun dan terkejut melihat tak ada teman-temannya di kamar.
"Aku harap dia tak marah kepada kita," ucap Aaron dengan lirih. Deinn dan Albert diam-diam mengangguk setuju.
Tiba di depan pintu kamar bernomor 235, Aaron mengeluarkan kunci dari kantong celananya. Ia menyerahkan kunci kepada Albert yang bertugas membuka pintu tersebut.
"Kau saja yang membukanya, aku takut Ivan marah denganku." Aaron lantas mundur selangkah, ia geser ke sebelah kanan untuk memberikan ruang agar Albert bisa membukakan pintu kamar mereka dengan cepat.
CKLEK
Pintu pun terbuka perlahan, Albert segera mendorong pintu dan mengintip ke dalam. "Halo?" sapanya. Dengan hati-hati, Albert pun melangkah masuk ke ruangan.
"HEH KALIAN!" bentak seseorang, ia terdengar murka. "Berani sekali kalian membuatku terkurung dalam kamar sialan ini!"
Ivan berdiri di tengah ruangan sambil melipat tangannya di d**a, matanya menyalang tajam dan kakinya dilebarkan dengan sikap siaga penuh.
Dia benar-benar seperti banteng yang siap mengamuk kapan saja jika Aaron tak segera memberi penjelasan untuknya.
"Van, maaf tidak membangunkanmu. Kami tidak tega melihat kau tidur di lantai, jadi kami biarkan saja. Tadi juga ada pengumuman yang memaksa kami untuk segera bergegas ke sana."
Aaron menghampiri Ivan, ia berusaha menyentuh pundak laki-laki itu tapi dengan cepat Ivan menepisnya.
"Harusnya tetap bangunkan aku! Aku ingin tahu pengumuman apa lagi yang kalian dengar dari para guru!"
Albert maju dan menepuk pundak Aaron, ia mengisyaratkan agar Aaron mundur. Aaron mundur dengan patuh. "Kau tak apa?" tanya Deinn. Aaron tersenyum dan mengangguk pelan.
"Maaf tidak membangunkanmu sebelumnya. Tapi tadi ada pengumuman dari pihak asrama yang mengonfirmasi bahwa kita akan dipulangkan hari ini ke rumah masing-masing dan karena asrama akan dibangun ulang maka libur kita berlangsung selama sekitar 3 bulanan."
Albert menjelaskan dengan bijaksana, berusaha untuk tidak memancing amarah Ivan lebih dari ini.
"Dan tadi kami sudah dikoordinasi bahwa bus kita akan menjemput dalam 2 jam lagi. Selain itu, ada tambahan biaya inap asrama tapi tidak wajib," ucap Albert yang mengakhiri penjelasannya dengan menunjuk jam dinding. "Kita tidak punya banyak waktu, cepat bersiap-siap."
Dengan suasana hati yang dongkol, Ivan pun berusaha menerima penjelasan Albert. Ia tak ingin marah lagi karena hanya akan menghambat keberangkatan mereka ke desa. Ada banyak barang yang harus dibawa pulang.
"Orang tua kita pasti terkejut melihat kita pulang tiba-tiba setelah tidak pulang selama satu tahun lamanya," celetuk Aaron. Ketiga temannya tertawa mendengarnya.
Suasana hati Ivan terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Aaron tersenyum di sela-sela kegiatannya memasukkan semua pakaian ke dalam koper.
3 bulan di desa bukan waktu yang sebentar, karena itu mereka harus membawa pulang pakaian mereka agar tidak membusuk di lemari kayu yang bisa saja dimakan rayap selama mereka pergi dari asrama.
"Aku penasaran bagaimana reaksi nenek ketika melihatku yang sekarang." Aaron bergumam, berbicara dengan diri sendiri. Ia melirik jendela besar yang berada tak jauh darinya.
Sudah tujuh tahun berlalu sejak malam penuh kejadian itu dan inilah saatnya. Pulang ke desa Birdben dengan legendanya yang mengerikan.