"Bella, aku benar-benar terkejut dan tak menyangka saat mendengar dari Linda jika kau dan Mic terluka!" Amy datang dengan sekeranjang buah di tangan, didampingi oleh Jasmine yang tercengang menyadari seberapa parah luka yang diderita Bella.
"Linda?" Seingat Bella, dia belum pernah mengenal orang itu.
"Linda Green. Orang yang bertanggung jawab membersihkan rumah Clive. Linda mendengar dari Clive jika kau dan Mic mendapat serangan dari seseorang tadi malam! Berita ini sudah menyebar di mana-mana. Richy Rock bahkan menunda perlombaan kudanya dan menghabiskan seharian ini untuk menemani Mic!"
"Richy?" Bella semakin tak mengerti siapa lagi yang Amy maksud.
"Dia pengelola ranch di sebelah kediaman Mic. Richy dan Mic cukup akrab!"
Bella mengangguk mengerti. Sebenarnya, ini mengejutkan juga menyadari Mic yang memiliki temperamen abnormal mampu memiliki teman dekat selain Clive! Apa menariknya berteman dengan makhluk sinis dan penuh sarkasme seperti Mic? Lagi-lagi ini masuk dalam kategori keajaiban dunia.
"Amy, apa kau tahu siapa orang yang bernama Jason?" Bella bertanya dengan penuh harap.
"Jason? Orang yang menyerangmu itu? Apa nama keluarganya?"
"Gilberth. Jason Gilberth!" Itulah informasi yang Clive berikan pada Bella.
Amy dan Jasmine saling bertatapan. Mereka mengingat-ingat nama ini, sebelum akhirnya menggeleng lemah.
"Aku tidak tahu!"
"Aku juga." Beberapa detik kemudian, ekpresi Amy berubah antusias. "Tunggu-tunggu. Aku sepertinya mendengar belum lama ini ada penyewa baru dengan seorang anak remaja di pinggir pondok Madam White. Tampaknya orang memanggilnya Jason. Mungkinkah Jason ini?" Amy mengetuk dagunya beberapa kali, berhasil mengingat-ingat.
"Mungkin. Aku hanya mengenal Jason. Jason O'connel. Jadi ini pasti bukan orang yang dimaksud Bella!" Jasmine menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sedikit bingung karena tidak tahu banyak hal.
"Bodoh! Jason O'connel adalah pensiunan militer yang telah berusia hampir tujuh puluh tahun dan memiliki empat cucu remaja. Mana mungkin orang itu menjadi pelaku kejahatan dan menyerang orang lain dengan mudah. Hentikan pikiranmu itu!" Amy memukul lengan temannya karena merasa otak temannya benar-benar tak tertolong.
"Maka dari itu aku berkata itu pasti bukan orang yang dimaksud Bella. Coba bayangkan saja jika Jason O'connel datang dengan kruk penyangga dan menyerang rumah Mic. Tampaknya dia akan menjadi orang yang pertama pingsan dan dibawa ke rumah sakit setelah menerima serangan balasan!" Jasmine terkekeh kecil, tak bisa menghentikan pikiran liarnya tentang kakek berusia tujuh puluh tahunan yang melakukan kejahatan.
"Jangan dengarkan kata-katanya. Setiap kali dia berterori, selalu saja mengungkapkan hal-hal gila!" Amy mengedipkan salah satu matanya pada Bella, untuk meminta pemahaman dan kemakluman.
"Tentu saja tidak. Amy, mungkin Jason itu adalah Jason yang pernah kaudengar menyewa di madam … siapa tadi kaubilang?"
"Madam White. Dia wanita paling cerewet, paling menyulitkan yang pernah aku kenal. Aku heran bagaimana bisa ada yang tahan hidup di sebelah rumahnya!" Amy teringat akan wanita tua yang selalu mengomel dan mudah marah-marah. Anak-anak sekitar selalu takut dengan Madam White. Dia terkenal suka menggertak anak kecil dan dianggap sebagai penyihir jahat.
Setiap kali ada anak yang nakal dan sulit dikendalikan, banyak orang tua akan menakut-nakuti mereka dengan ancaman Madam White. Cara ini sangat berhasil.
"Tapi aku tidak terlalu mengenal Jason. Kau yakin Jason itu yang kaumaksud? Apakah kau atau Mic pernah berseteru dengan Jason itu?"
Mendengar pertanyaan ini, Bella tak tahu harus berkata apa. Segalanya masih belum pasti. Semua masalah terkait Mic. Dendam yang dimiliki lelaki itu memiliki hubungan kuat dengan Mic di masa lalu. Bella hanyalah orang yang tidak beruntung yang terseret ke dalam masalah di waktu yang tidak tepat.
"Aku akan menanyakannya pada Mic setelah aku pulang ke kediamannya!" Tak ingin menambah kekhawatiran Amy maupun Jasmine, Bella mencoba mengakhiri topik tentang Jason.
Satu-satunya orang yang bisa Bella tanyai dengan akurat adalah Mic Navaro.
"Sayang, aku pernah berjanji padamu untuk mengundangmu makan malam dengan putraku tapi belum sempat terlaksana!" kata Amy kemudian. "Sekarang terjadi masalah seperti ini. Bagaimana jika kau pulang ke rumahku saja? Rumahku tidak terlalu mewah, tapi setidaknya kau lebih aman. Lagi pula, aku dan Jasmine telah menjadi pengangguran tanpa aktifitas cukup lama. Dengan kau ada di rumahku, kami bisa merwatmu selama kau belum sembuh."
Jiwa keibuan Amy terpancing saat melihat Bella yang menyedihkan. Lihat saja penampilan Bella sekarang. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana Amy bisa rela membiarkan Bella pulang ke kediaman Mic begitu saja. Bagaimana jika Bella tidak terawat dengan benar dan justru terseret lagi ke dalam masalah lain?
Mendengar usulan Amy, Jasmine yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, Bella membutuhkan perawatan setelah ini. Rumah Amy adalah tempat yang paling baik untuk Bella.
"Dengarkan kata-kata Amy. Pulanglah ke tempatnya. Aku juga khawatir jika kau tetap tinggal di tempat Mic!" Jasmine membujuk.
"Aku akan memikirkannya, Amy. Untuk saat ini, aku tak bisa menjanjikan apa-apa!" Bella masih diliputi shock pada apa yang terjadi. Dia butuh waktu untuk mengambil tindakan ke depan.
"Ya ya, kami tahu keadaanmu masih belum bisa dikatakan baik. Percayalah, Bella, kami selalu berada di pihakmu. Jika terjadi apa-apa, jika kau memiliki firasat tidak baik akan sesuatu, katakan saja pada kami. Setidaknya kau memiliki kami sebagi tempat untuk berbagi keluh kesah!" Jasmine mengingatkan. Di matanya, Bella masih terlalu muda untuk mengalami hal-hal buruk. Membayangkan Bella bisa saja menemui kesulitan di masa depan membuat Jasmine merasa tak tertahankan.
"Ya. Terimakasih untuk semuanya!" Bella berkata lemah.
"Kau tampaknya lelah. Kami akan pulang dulu dan kembali besok untuk menjengukmu. Sheriff bilang sebentar lagi Anne akan datang untuk menunggumu!"
"Ya. Kalian bisa kembali pulang. Berhati-hatilah!" Bella melihat kedua orang itu pergi, tersenyum ringan sebagai tanda perpisahan, dan memejamkan matanya untuk beristirahat.
Setengah jam kemudian, Bella bangun dan tidak bisa lagi kembali tidur. Hari telah sore. Suara burung berkicau terdengar dari luar. Cuaca tampaknya kurang bersahabat. Langit mendung, awan menggantung, siap untuk mencurahkan hujan.
Bella menatap langit-langit kamar dengan cahaya redup di matanya. Dia merenungkan semuanya. Berbagai keputusan berkelebat di benaknya, dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Setelah beberapa waktu dalam keheningan, akhirnya Bella meminta bantuan salah satu perawat dan meminjam ponselnya untuk menghubungi Steve.
"Steve, semalam aku mengalami kejadian yang tak menyenangakn …." Bella menceritakan semua hal yang telah terjadi padanya pada kakaknya.
Setelah Steve mendengar semua cerita Bella, dia merespon dengan hati-hati.
"Bella, sebenarnya aku telah mendengar ini dari Mic. Tapi aku masih memikirkan beberapa hal sehingga aku belum sempat menghubungimu! Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Steve kemudian.
Jadi Steve sudah tahu apa yang terjadi semalam? Tampaknya Mic memang bertindak gesit dengan memberi Steve informasi lebih dulu.
"Lukaku cukup lumayan, meskipun tidak mengenai organ vital. Steve, dengan keadaan sekarang, tidakkah kaupikir lebih baik aku pindah dari kediaman Mic? Mic orang yang rumit. Siapa yang tahu suatu hari nanti aku akan terseret kembali ke dalam masalahnya dan membuatku terbunuh tanpa kusadari?"
"Hati-hati, Bella, dengan ucapanmu!"
"Lebih baik waspada daripada ceroboh!"
"Huh. Situasi di sini sedang sulit!" Steve mengembuskan napas dengan tak berdaya. "Aku sebenarnya memiliki kabar buruk. Inilah yang membuatku berpikir untuk saat ini kau belum bisa kembali ke kota!"
"Ada apa? Katakan saja padaku!"
"Kuatkan mentalmu, Bella. Aku sebenarnya ingin menunda kabar ini untukmu untuk beberapa hari ke depan!"
"Katakan saja padaku sekarang!"
"Agen dan manajermu terbunuh tadi malam. Tersangka pembunuhan kemungkinan besar si L!"
…