Teman? Mic menatap Bella dengan masam. Mic dan Bella. Bisakah ia?
Bella adalah refleksi dari semua hal yang dibenci oleh Mic dalam hatinya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk Bella adalah menganggap keberadaannya tidak ada sehingga diantara mereka tidak akan saling mengganggu dan mencampuri urusan satu sama lain.
Namun, tampaknya tidak begitu yang diinginkan Bella.
"Kau mungkin adalah orang yang bisa hidup seorang diri dan menciptakan batasan dari orang-orang sekitar. Tapi aku tidak. Aku tidak bisa hidup satu atap bersama orang yang menekanku dengan sengaja. Orang yang akan selalu menyerangku secara verbal. Orang yang membenciku tanpa aku tahu alasan sebenarnya apa. Masa lalu adalah milikmu, Mic. Tapi aku bukan objek kebencian yang pantas kau pojokkan dan menjadi pelampiasan kemarahanmu yang tak masuk akal.
"Aku jauh dari keluarga, jauh dari teman dekat, jauh dari profesi yang biasa kulakukan, jauh dari lingkungan yang familier. Keadaanku sudah seperti ini dan kau menambahkan beban lagi dengan kebencianmu yang tak masuk akal!"
Pada dasarnya, Bella adalah wanita dengan kepribadian riang dan mudah bergaul. Terjebak satu rumah dengan lelaki berwajah sinis setiap hari bukan sesuatu yang bisa ia terima.
Hening.
Tidak ada yang berbicara cukup lama. Bella menjadi lebih gugup, dalam hati ragu-ragu apakah ia baru saja memancing kemarahan Mic dan membuat lelaki itu kesal. Bagi beberapa orang yang memiliki kepribadian sulit seperi Mic, bergaul mungkin bukan sesuatu yang ada dalam daftar prioritas.
Dengan hati-hati, Bella mengamati wajah Mic yang tak bisa ditebak. Hanya sebelah alisnya saja yang tampak berkerut, menunjukkan ia tengah memikirkan sesuatu.
"Mic?" Bella memanggil lelaki tersebut. Suaranya lemah, tidak terlalu percaya diri.
"Aku akan berusaha bergaul lebih baik!"
Satu kalimat singkat, tapi itu sudah menjadi janji yang terpatri di dalam benak mereka berdua dalam-dalam. Mic tak pernah mengatakan omong kosong. Saat ia menjanjikan sesuatu, itu artinya ia sungguh-sungguh menjalankannya.
"Aku sudah lama kehilangan konsep berteman dengan wanita. Aku akan lebih menoleransi keberadaanmu, tetapi aku tak bisa menjamin sejauh apa aku mampu bersikap ramah sesuai yang kau mau!" Mic tak ingin memberi pengharapan berlebih pada Bella.
"Janjimu sudah lebih dari cukup!" Bella mengangguk. "Aku hanya tidak ingin menambah tekanan pada diriku sendiri dengan berada di rumahmu! Aku tahu keberadaanku di sini bukan sesuatu yang kauharapkan, tapi ini bukan hal yang bisa membenarkanmu untuk bersikap acuh tak acuh dan penuh kebencian!"
"Uhuk." Angel terbatuk kecil, menyela percakapan dua orang yang tampak serius. "Makan siang telah siap. Bella, ayo ke ruang makan. Biar kubantu!" Angel meraih ujung sandaran kursi roda dan mendorongnya ke ruang makan dengan sigap.
Mic mengikuti di belakang Bella dalam diam. Suasana tubuhnya memancarkan energi yang membuat banyak orang gugup.
Baik Mic maupun Bella belum bisa mengomsumsi makanan yang berat-berat, sehingga Angel hanya membuatkan mereka makanan ringan seperti bubur dan kaldu. Masakan Angel terbilang baik, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan koki terkenal.
"Apakah aku perlu membantu kalian makan?" tawar Angel dengan tulus.
"Tidak perlu! Kau bisa melakukan apa yang kaumau!" Steve menolak. Dia makan perlahan tanpa bantuan siapa pun.
"Tidak perlu. Terimakasih, Angel!" Bella juga menolak. Tangan Bella tak memiliki banyak luka sehingga ia bisa makan dengan normal seperti biasanya.
"Baiklah jika begitu. Aku akan ada di dapur. Panggil saja dengan berteriak jika kalian membutuhkan sesuatu!" Angel pergi dan membiarkan mereka berdua makan.
Suasana hening untuk sesaat. Tidak ada dari mereka yang berbicara. Bella dan Mic sibuk menghabiskan makanan mereka dalam diam. Setelah seperempat jam berlalu, Mic menatap Bella dan membuka suara.
"Jason adalah saudara tiri Sevana." Mic memulai percakapan kembali.
Bella sedikit linglung mendengar penjelasan Mic. Dia tak pernah menyangka Mic akan menjelaskan hal-hal terkaiy Jason.
"Oh." Tak tahu harus menanggapi bagaimana, Bella hanya bisa mengangguk. Bella meraih gelas kristal di tengah meja yang berisi air putih, menyesapnya dengan hati-hati.
"Kematian Sevana membawa banyak kesalahpahaman di mana-mana. Sebagian orang menganggap kematiannya adalah hasil dari perbuatanku, termasuk Jason." Mic kembali menjelaskan dengan tenang.
Sebenarnya, Mic bukan seseorang yang suka menjelaskan berbagai hal. Namun, mengingat Bella telah terluka dan terseret dalam masalahnya, Mic merasa Bella berhak mendapatkan beberapa penjelasan. Tak adil rasanya jika Bella tak tahu apa-apa.
"Jadi dia mencarimu untuk membalas dendam atas nama saudarinya?" tanya Bella hati-hati.
"Hm." Mic mengangguk pelan. Dia menyeka bibirnya menggunakan tisu, merapikan beberapa peralatam makan di meja makan dengan cepat, dan menatap Bella dengan penuh arti.
"Tapi bukankah kematian mantan istrimu sudah terjadi beberapa tahun lalu?" tanya Bella kemudian.
"Tujuh tahun lalu!" Mic membenarkan.
"Jika Jason ingin membalas dendam, kenapa sekarang? Kenapa tidak beberapa tahun lalu?" tanya Bella. Jika Bella menjadi Jason, seharusnya dia bergerak lebih awal setelah kematian Sevana, bukan?
"Jason mengidap penyakit bipolar dan tinggal di Swiss bersama pamannya untuk perawatan. Kupikir seharusnya keluarga Sevana hanya memberi tahu kematian Sevana padanya, tapi mungkin tidak menjelaskan secara detail bagaimana Sevana meninggal. Jadi orang itu tidak tahu jika saudari tirinya meninggal karena dibunuh!"
Dengan kesehatan mental Jason, keluarganya pasti melindunginya dengan baik dan menyaring banyak informasi untuknya demi kondisi mentalnya.
"Tapi kenapa Jason tiba-tiba menyerangmu?" tanya Bella hati-hati.
"Setengah tahun yang lalu keluarga Jason bangkrut. Mereka kehilangan banyak properti dan jatuh dalam kemiskinan. Jason kembali ke Amerika karena keluarganya tak bisa merawatnya lagi. Mungkin dia akhirnya tahu bagaimana Sevana meninggal, dan berpikir semua itu adalah perbuatanku! Dia mulai melancarkan serangan padaku. Awalnya diam-diam, lama-lama kemudian serangannya semakin serius dan parah!" Mic menjelaskan.
"Apakah luka-lukamu sebelumnya juga karena Jason?"
"Ya." Mic mengangguk mengakui. "Malam itu aku berencana menemukan Jason dan mencoba berbicara baik-baik dengan salah satu temanku. Tapi aku tidak menemukannya. Ternyata Jason sudah menyusup ke rumahku dan melukaimu." Ada penyesalan dalam ekspresi wajah Mic yang biasanya kaku.
"Semuanya telah terjadi. Apa yang berlalu biarlah berlalu." Bella tak ingin menyalahkan Mic lagi karena rasanya tak pantas. Baik Bella maupun Mic semuanya sama-sama korban. "Hanya saja kaubilang Jason mengidap bipolar!"
"Seharusnya begitu!" Mic mengangguk membenarkan.
"Jika begitu, meskipun nanti Jason disidang, bukankah kemungkinan besar ia tak akan dipenjara jika ia memiliki kelainan kejiwaan?" tanya Bella hati-hati.
"Ada kemungkinan ia hanya akan dimasukkan ke bangsal rumah sakit jiwa untuk rehabilitasi. Apa pun itu, entah itu penjara atau rumah sakit jiwa, semua itu membuat Jason tak bisa bergerak untuk membuat keributan lagi. Jadi selama Jason pergi jauh dari kami, kau dan aku akan aman. Kau tak perlu khawatir, Bella. Semuanya akan baik-baik saja." Mic meyakinkan. Dia menatap Bella dengan serius, seolah tak ingin Bella khawatir akan banyak hal.
"Terimakasih, Mic, atas penjelasanmu!" Bella tahu tak mudah bagi laki-laki itu berbagi penjelasan. "Aku akan tetap di sini. Kuharap ke depan semuanya berjalan dengan lancar. Tak ada lagi masalah!"
…