Dua minggu berlalu. Banyak hal terjadi dengan cepat. Kondisi Bella sudah lebih baik. Dia mulai berjalan kembali dengan bantuan kruk. Luka-luka Mic juga mulai pulih, tetapi ia belum mulai mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat. Ada seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang bekerja padanya, membantu Mic membuat perabotan sehingga Mic tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga.
Pemuda itu bernama Jacob Daniels. Penampilannya sederhana dan tidak terlalu banyak berbicara. Bella hanya melihatnya beberapa kali, langsung menyadari karakter pemuda yang acuh tak acuh dalam sekali pandang dalam pertemuan pertama. Lagi pula mengingat karakter Mic, tidak aneh jika ia menemukan pemuda seperti itu.
Karena kondisi Mic dan Bella yang telah membaik, hari ini Angel memutuskan untuk berhenti merawat mereka. Dia mengemasi barang-barang miliknya untuk dibawa pulang, menunggu salah satu mobil yang ia sewa dari tetangganya untuk datang.
"Kau bisa meminta Mic untuk mengantarmu!" Bella mencoba menyarankan.
Mendengar ini, Angel menggeleng dan terkekeh kecil. "Dengan karakter Mic, bahkan aku pun tidak memiliki keberanian untuk meminta bantuan darinya. Apakah kau memintaku untuk mencari masalah?"
"Hah? Jadi kau juga takut pada Mic? Kupikir dengan karaktermu yang lugas tak akan membuatmu merasa takut!" Bella tertawa kecil. Dia tak menyangka Angel masih memiliki jejak ketakutan pada Mic mengingat ia selama ini cukup cerewet dalam merawat Mic.
"Bella, Mic adalah orang yang sulit dipahami. Apa kau tahu, wanita di sekitar sini takut menjadi asisten rumah tangganya. Itulah kenapa Mic melakukan semuanya sendirian!" Angel menjelaskan.
Mendengar ini, Bella mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dari awal Bella datang ke tempat ini, Bella memang menyadari Mic mengurus semuanya sendiri. Dari memasak untuk setiap kali makan, membersihkan rumah, mencuci, bekerja, hingga mengatur segalanya. Seharusnya dengan kemampuan finansial Mic, meskipun ia tidak bisa dikatakan kaya, dia bisa menyewa pengurus rumah tangga sambilan. Tapi ia tidak melakukannya. Bukan karena Mic tidak mau, tetapi kini Bella tahu orang-orang yang Mic minta tidak ada yang bersedia.
"Rumor pembunuhan beberapa tahun yang lalu terlalu kuat. Semua orang waspada pada Mic. Terutama para wanita. Siapa yang bisa menjamin Mic tidak akan melukai pengurus rumah tangga yang ia sewa? Meskipun dia tidak dinyatakan bersalah, tapi semua orang menghakiminya sama dengan tersangka!" Suara Angel lirih, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Apa kau tahu berapa besar kehebohan orang-orang saat mendengar Mic menerimamu sebagai tamu sementara di kediamannya? Banyak orang bertaruh berapa lama kau bisa hidup. Di klub malam taruhan itu dipasang secara terbuka. Tapi tampaknya banyak yang kalah. Saat ini kau masih tetap bernapas dengan baik!" Angel tertawa karena tak menyangka akan seperti ini.
"Tapi kenapa kau dan Jacob bersedia bekerja untuk Mic?" tanya Bella lebih tak mengerti lagi.
"Karena melihatmu masih hidup hingga sekarang. Aku pikir, jika kau bisa hidup lama di sisi Mic, bukan hal yang mustahil juga aku bisa bertahan hidup dan tetap aman. Jacob pasti memiliki pikiran serupa."
Mendengar penjelasan ini, Bella langsung menggertakkan giginya. Sial. Jadi dia dijadikan kelinci percobaan untuk orang lain?
"Tapi kudengar Mic memiliki hubungan yang baik dengan beberapa orang!" Bella kembali teringat akan Clive dan Anne.
"Ya. Tapi hanya segelintir orang. Lebih banyak lagi yang waspada dan meragukan karakternya! Tapi setelah aku bergaul dengan Mic, aku sekarang tahu mungkin rumor itu hanya sekedar rumor. Meskipun dingin, kupikir Mic bukan orang yang akan membunuh orang begitu saja tanpa alasan kuat!"
"Apakah itu artinya Mic akan membunuh jika ia memiliki alasan kuat?" Bella memutar matanya dengan enggan. Setelah mereka berdua berjanji untuk berdamai, hari-hari Bella di rumah Mic berjalan dengan baik.
Meskipun Mic tidak dekat dengan Bella layaknya teman, tapi mereka bisa berkomunikasi sederhana dengan menjaga kesopanan satu sama lain. Dengan cara ini, Bella tak perlu lagi khawatir akan tertekan.
"Siapa yang tahu. Niat seseorang bisa sedalam lautan!" Angel mengangkat bahu, dalam hati ia setengah meyakini kemampuan Mic untuk membunuh orang lain.
"Aku tidak ingin berpikir terlalu jauh terhadap Mic. Hei, lagi pula, aku dibayar lebih dari jasaku untuk merawat kalian. Aku tidak ingin terlalu peduli pada hal-hal yang bukan menjadi urusanku. Bella, aku akan kembali ke rumah dan mencari lowongan lain sebagai perawat penuh waktu atau paruh waktu lagi. Hati-hati di sini! Aku harap kita bisa bertemu kembali di masa depan!" Angel mencium pipi Bella dengan kehangatan seorang teman, kemudian pergi tergesa-gesa setelah mobil yang ia sewa datang.
"Ya ya ya. Jangan khawatir, aku akan tetap hidup dengan baik. Berhati-hatilah!" Bella melepaskan kepergian Angel dengan senyum kecil di bibir.
Tidak lama setelah kepergian Angel, Bella mempersiapkan makan siang dengan asal. Ada telur di kulkas. Dia menggoreng lima, menempatkannya di piring, menambahkannya dengan sayuran yang ia sajikan sebagai salad.
Setelah hidup di sini cukup lama, keahlian Bella untuk menggoreng telur mengalami peningkatan. Setidaknya dari segi rasa dan kematangan, telur itu sudah layak untuk dimakan.
Tak berapa lama kemudian, Mic datang ke ruang makan seorang diri. Jacob tidak pernah makan di rumah ini. Entah ke mana dia pergi setiap waktu makan. Bella tak ingin terlalu usil dan tak berminat menanyakan keberadaan pemuda itu pada Mic.
Melihat hanya ada telur dan sayur, ekspresi Mic tidak berubah sama sekali. Dengan kata lain, dia memang tak berharap banyak dengan adanya Bella di dapur. Karena telur tak bisa menahan rasa laparnya, Mic membuat spageti dari pasta dengan toping keju dan saus di atasnya.
Bella menelan ludah saat aroma lezat merasuk ke dalam indera pembaunya. Dia sudah menyiapkan diri dengan keahlian Mic. Tapi tetap saja ada jejak kekaguman di matanya menyadari Mic selalu memiliki sikap luwes dan anggun, bahkan di dapur. Lelaki seperti itu … seandainya saja ditemukan dalam kondisi yang lebih normal dan berkarakter normal, pasti banyak yang mengaharapkannya jatuh ke pelukan para wanita.
"Makanlah!" Mic mengangsurkan seporsi spageti pada Bella, menyadari tatapan Bella yang serakah setiap kali menatap masakan yang ia buat.
Wanita ini … apakah benar-benar tidak memiliki keahlian apa pun selain penampilannya yang cantik?
"Kau sepertinya serba bisa!" komentar Bella, tak menunggu lagi untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapannya dengan cepat.
"Untuk seseorang yang harus hidup sendiri, jika tidak bisa, aku hanya akan menjadi tak berguna!" Mic menjawab dengan suara datar, memakan spageti yang ia buat dengan gerakan anggun. Tampaknya lelaki itu memiliki pembawaan alami untuk bersikap layaknya seorang bangsawan sejati.
"Mic, bagaimana dengan perkembangan kasus Jason? Aku tidak mendengar banyak kabar tentangnya!" Bella teringat dengan lelaki si pembuat masalah.
"Dia akan dikirim untuk rehabilitasi mental. Bipolarnya memang parah."
"Kudengar dia datang ke kota ini dengan seorang remaja."
Mic terdiam cukup lama. Dia menatap dengan ragu-ragu, kemudian memutuskan untuk menahan informasi. "Semuanya akan diurus oleh pihak berwenang!"
"Baguslah."
Dering telepon rumah berbunyi keras. Mic yang kebetulan telah selesai makan, bangkit dari kursi dan berjalan ke ruang tengah untuk menerima panggilan. Tak berapa lama kemudian, Mic berteriak memanggil Bella.
"Steve ingin berbicara denganmu! Ini penting!"
"Tunggu sebentar! Aku akan ke sana!" Bella meraih kruk untuk membantunya berjalan ke ruang tengah.
…