Steve berada di ruang tengah, di sebelahnya duduk Lyana dengan bantal di pangkuan. Wajah Lyana tampak khawatir, dia sesekali melirik Steve dengan kerutan di dahi.
Steve mengelus lembut tengkuk istrinya, memberikan ketenangan dan menyampaikan segalanya pasti akan baik-baik saja.
"Ada apa, Steve?" Suara adiknya dari gagang telepon terdengar lembut, membuat Steve kian merasa tak nyaman.
Sial. Steve jarang merasa canggung. Kali ini adalah satu dari segelintir momen di mana ia merasa tidak tahu harus bersikap bagaimana. Bagaiamanapun juga, Bella adalah adik yang tumbuh bersamanya. Steve enggan menyakiti dan menyampaikan hal-hal buruk padanya.
"Steve?" Bella kembali memanggil kakaknya, saat dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Apakah ada hal-hal buruk terkait si L? Apakah ada korban lain yang berhubungan denganku yang ditargetkan si L?"
Teringat akan kematian Cindy dan Chinthya yang tidak menyenangkan, pikiran Bella jadi berkelana tak menentu. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan si L, mengingat cara berpikirnya yang abnormal?
"Ini tidak terkait si L. Ini terkait ... ehem!" Steve berhenti sejenak.
"Apa? Apakah Mom tahu aku terluka karena serangan Jason beberapa waktu yang lalu?" Bella terdengar khawatir. Mom adalah tipe orang yang mudah sekali cemas dan memikirkan banyak hal. Karena itulah Bella dan Steve sepakat untuk menutupi kejadian Bella yang terluka beberapa waktu lalu agar Mom tidak membuat keributan yang tak penting. Jika sekarang Mom tahu hal itu, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Mom. Bukan hal yang mustahil dia akan terbang ke Outhsphilled dan menciptakan kehebohan, menuntut Johan dengan pasal berlapis, dan menambah rumit situasi.
"Bukan. Kau tak perlu khawatir akan hal itu!" Steve menenangkan.
"Biar aku yang berbicara. Kau hanya berputar-putar saja dari tadi!" Lyana yang duduk di sisinya, tak sabar oleh pembicaraan Steve yang tak penting.
Terkadang ada hal-hal yang tidak bisa ditangani kaum adam dengan baik. Steve menatap Lyana tak berdaya, mau tak mau mengakui ia memang kurang ahli dalam hal-hal ini. Dengan senyum lemah, dia menyerahkan gagang telepon pada istrinya.
"Kau masih yang terbaik!" kata Steve lembut, mengecup puncak kepala Lyana dengan kasih sayang yang besar. Istrinya, masih menjadi wanita terbaik di matanya dalam segala hal.
"Kau tahu itu!" Lyana terkekeh kecil.
"Bella, Sayang, ini aku, Lyana. Bagaimana keadaanmu di sana? Apakah semuanya sudah lebih baik? Luka-lukamu tidak membawa gejala yang tidak diharapkan, bukan?" tanya Lyana, nada lembutnya dipenuhi perhatian yang tulus.
Setiap kali berbincang dengan Lyana, Bella selalu merasa ia berbincang dengan malaikat surga yang hangat dan penuh kelembutan. Setiap nadanya membawa kenyamanan unik yang istimewa.
"Lyana, kau masih saja menjadi orang yang paling peka dan perhatian." Bella terkekeh kecil. "Luka-lukaku sudah lebih baik. Hanya butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan fungsi kakiku agar bisa berjalan normal lagi. Bagaimana kabarmu, Lyana? Apakah putramu membuat keributan lagi?"
"Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir. Mengenai putraku, kau tahu sendiri bagaimana tingkahnya. Dia selalu membuatku pusing. Sayang, aku ingin bertanya sesuatu terkait Ralph!"
"Ralph? Ada apa dengan dia? Dia baik-baik saja, bukan?" Bella mulai khawatir Ralph entah bagaimana dijadikan target oleh si L.
"Dia baik-baik saja. Ini bukan tentang bahaya. Ini tentang … bagaimana aku mengatakannya … apakah hubunganmu dengan Ralph benar-benar serius? Kau yakin ingin melanjutkan hubunganmu dengan Ralph hingga jenjang pernikahan?" tanya Lyana hati-hati. Cinta tidak ada yang tahu ke mana semuanya akan berlabuh.
"Tentu saja serius. Kami telah bertunangan. Meskipun kami belum menentukan tanggal pasti pernikahan kami, tapi kami telah merencanakan kami akan menikah tahun depan. Tidak akan lama lagi. Semua itu dengan asumsi tidak ada lagi masalah-masalah seperti teror yang belum selesai!" Teror si L ini bukan hanya menghalangi karir Bella dan membuatnya vakum entah untuk berapa lama, dia juga membuat rencana masa depan terkait Bella dan Ralph jadi tidak pasti.
Bella membenarkan duduknya yang tidak nyaman, mengambil bantal untuk menyangga kakinya, kemudian kembali fokus pada perbincangan antara dia dan Lyana.
Sebetulnya, Lyana ingin menikah setelah natal, tetapi Ralph berencana menikah di akhir musim semi atau awal musim panas. Jadi tanggal pasti pernikahan mereka belum ditentukan. Perlu pembicaraan lebih lanjut.
"Apa kau mencintai Ralph?" tanya Lyan hati-hati. "Begini, Sayang, coba pikirkan lagi semuanya dengan lebih baik. Kadang ada hal-hal yang terasa seperti ilusi. Sesuatu yang kaupikir cinta, mungkin sesungguhnya bukan cinta. Dan sesuatu yang kaupikir kasih sayang, mungkin sebenarnya semua itu hanya hasil dari ketergantungan yang berlarut-larut."
Mendengar ini, Bella semakin tidak tahu ke mana arah tujuan Lyana mengatakan semua itu. Pembicaraan cinta bukan sesuatu yang akan dilakukan Lyana dengan tiba-tiba tanpa alasan. Ada apa ini?
"Lyana, sebenarnya, apa yang coba kausampaikan padaku?" tanya Bella yang mulai kehabisan kesabaran. Steve tadi tampaknya ingin mengatakan sesuatu pada Bella, tapi enggan mengungkapkannya. Sekarang Lyana juga seperti ini. Ada apa dengan mereka berdua? Mungkinkah sesuatu telah terjadi?
"Biarkan aku memberitahumu sesuatu, Bella. Tapi mungkin ini bukan hal yang baik! Begini … dua hari yang lalu, Steve melihat aktifitas Ralph yang sedikit mencurigakan. Dia membuntuti Ralph dan menemukan bahwa …" Lyana berhenti untuk sesaat, menguatkan tekad untuk melanjutkan penjelasan yang ia siapkan. "Ralph membantu seorang wanita bernama Rose Madelline, sekretarisnya sendiri untuk melakukan aborsi. Kebetulan ini ditangani oleh teman Revel, jadi Steve bisa mendapat banyak informasi!"
Lyana mendesah panjang, tangannya sedikit gemetar. "Yah … bayi Rose adalah milik Ralph. Janin itu digugurkan dalam usia kandungan delapan minggu!"
"Tunggu … apa maksudmu?" Bella bertanya dengan linglung.
"Ralph berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri bernama Rose. Mereka baru saja melakukan aborsi tiga hari yang lalu untuk menghilangkan semua masalah yang nantinya akan terjadi!"
Guntur seperti jatuh di tengah hari, menghancurkan semua hal yang Bella yakini.
"Tidak mungkin! Lyana, pasti ada kesalahpahaman. Ralph bukan orang yang seperti itu!"
Bella telah mengenal Ralph cukup lama. Enam tahun. Mereka juga sering tinggal bersama selama dua tahun terakhir. Mereka berpisah hanya jika Bella atau Ralph memiliki agenda kerja di tempat yang jauh.
Semakin lama seseorang mengenal, semakin banyak pemahaman yang tercipta. Hal-hal kecil dalam keseharian, kebiasaan tak penting, semuanya telah mengakar dalam. Dengan karakter dan sikap Ralph, mustahil dia mampu melakukan pengkhianatan.
"Bella, sudah kukatakan sebelumnya. Kadang kita tidak mampu mengenal orang lain dengan baik. Steve telah mendatangi Ralph sebelumnya untuk mengonfirmasi beberapa hal. Raplh sebenarnya ingin berbicara denganmu lebih awal, tetapi dia tak memiliki kontak barumu dan Steve tidak memberikannya. Kami pikir lebih baik memberitahumu hal ini lebih dulu sebelum memutuskan kapan kau akan menghadapi Ralph. Kami tak ingin kau tertekan terlalu dalam."
Beberapa waktu yang lalu, Steve menyarankan Bella untuk membuang ponsel dan mengubah SIM card. Sejak itu, Bella memang belum sempat memberi tahu Ralph tentang kontak barunya karena sebelumnya Ralph bilang sedang dalam perjalanan ke Beijing selama beberapa waktu. Bella berencana mengejutkan Ralph dan bersiap menghubungi Ralph malam ini. Siapa yang menyangka Bella justru mendapat kejutan lebih awal?
"Ralph bilang dia sibuk mengurus bisnisnya di Asia belakangan ini. Aku .… aku tidak percaya ini. Lyana, aku yakin pasti ada yang salah. Aku mengenal Ralph seperti aku mengenal diriku sendiri. Dia mustahil melakukan hal-hal kotor seperti itu. Tidak mungkin dia mengkhianatiku. Kami mempertahankan hubungan ini dengan baik. Kami—"
"Bella, Sayangku, nyatanya Steve berada di Washington D.C. akhir-akhir ini. Aku tahu ini bukan sesuatu yang bisa kauterima dengan baik. Steve juga menanggapi hal ini dengan cukup buruk!" Bella teringat dengan kemarahan Steve tiga hari yang lalu yang tampak tak terkendali. "Tapi kau harus tahu aku dan Steve tak mungkin memberikan informasi palsu! Kami, bagaimanapun, selalu berada di pihakmu. Bagaimana mungkin kami memberikan informasi yang tidak kami konfirmasi sebelumnya!"
Sebagai seorang wanita, Lyana tahu bagaimana kacaunya mental Bella mendengar kabar ini. Tidak mudah menerima kenyataan orang yang paling kita percayai adalah orang yang paling mengkhianati kita. Karena itulah ia berharap, mungkin sebenarnya, di dalam hati Bella, dia tidak terlalu mencintai Ralph sehingga pengkhianatannya tidak melukainya terlalu besar.
Bella terdiam cukup lama. Dia menatap lantai kayu yang entah bagaimana terasa lebih dingin dari biasanya, merasakan tengkuk dan punggung belakangnya dipenuhi keringat. Jari-jari Bella gemetar hebat. Bibirnya berkedut cepat dan berubah pucat.
Bella tidak mempercayai informasi yang diberikan Lyana. Tapi ia juga menyadari satu hal. Steve dan Lyana tidak mungkin melakukan kebohongan padanya, dengan alasan apa pun. Karakter Steve terlalu lurus. Mustahil dia membuat skema kejam yang tak perlu.
"Sayang, aku tahu hal ini tidak mudah. Bahkan untukku dan Steve, semua itu masih sulit diterima. Tetapi kau harus tahu cepat atau lambat kau perlu menghadapi kenyataan ini." Lyana menyeka keringat di dahinya, baru sadar menyampaikan hal ini ternyata menguras tenaga dan mentalitasnya. Bukan tugas yang mudah menjadi informan kabar buruk.
"Mom dan Dad belum tahu masalah ini. Kami pikir kau yang paling berhak untuk memutuskan apakah kau akan memberi tahu mereka atau tidak. Ralph ingin berbicara padamu, tetapi sejauh ini Steve belum memberikan kontak terbarumu. Kami menunggu kapan kau siap berbicara dengan Ralph!"
Bella menghela napas panjang, menekan pelipisnya yang terasa berdenyut. Bagaimana bisa semuanya berkembang seperti ini?
"Aku ingin bertemu dengan Ralph dan wanita itu!"
Lyana menatap Steve tak berdaya, menggerakkan bibirnya tanpa suara untuk memberi tahu Steve jika Bella ingin bertemu dengan Ralph dan Rose. Steve meraih gagang telepon menggantikan Lyana, menjawab keinginan Bella secara langsung.
"Tidak mungkin membiarkan kau dan Ralph bertemu. Aku takut si L nanti melacak jejak ini yang akan membuat keberadaanmu dalam bahaya. Jika ada yang ingin kaukatakan, katakan saja melalui telepon atau video call. Apa pun itu, selama tidak bertemu secara langsung!" Steve mengingatkan. Kali ini dia cukup tegas.
Mempertemukan Ralph dan Bella bukan hal yang baik dalam situasi ini. Menghubungi Bella terlalu sering juga sebenarnya bukan hal yang baik. Steve berani menghubungi Bella setelah meningkatkan kemananan panggilannya sehingga pembicaraan dan rekam jejaknya dalam setiap panggilan tidak mudah diretas pihak lain.
"Aku ingin bertemu. Aku perlu bertatap muka dengan Ralph dan Rose!"
"Jangan membuat permintaan ini, Bella. Situasinya sedang tak mendukung!"
"Steve, terkadang kita bisa menilai keadaan melalui tatap muka. Aku akan lebih bisa menerima jika aku menghadapi ini secara langsung. Berbicara melalui panggilan bukan solusi yang baik. Seharusnya kau tahu itu, bukan?"
"Tapi keadaanmu sekarang—"
"Steve, kau orang yang cukup cerdik. Kau pasti bisa membuatku dan Ralph bertemu secara langsung, bukan? Pikirkan cara! Entah aku yang datang ke situ, atau Ralph yang datang ke sini!"
"Ralph sedang berada di Washington D.C. sekarang!"
"Ya. Berarti aku akan ke sana jika Ralph tidak bisa ke sini!" Bella sangat keras kepala. Tak ada negosiasi sama sekali. "Steve, mari kita balik situasinya. Jika ada sesuatu yang tak beres dengan Lyana, bisakah kau hanya menyelesaikannya melalui panggilan telepon?"
"Tidak. Tapi situasi kami berbeda!"
"Sama saja. Ayo jujurlah. Kita sama-sama tahu aku tak bisa diam saja dan menyelesaikan segalanya melalui telepon yang terkutuk!" Bella marah, nada suaranya menunggi, dipenuhi emosi.
"Tenanglah, Bella!"
"Bagaimana aku bisa tenang?!" Bella berteriak, semakin kalap.
"Baiklah! Aku akan mencari cara untuk membawa Ralph dan Rose ke Outhsphilled."
"Kau telah berjanji. Jangan membalikkan kata-katamu lagi!"
"Ya ya. Aku berjanji. Aku bersumpah!" Steve kemudian mengakhiri panggilan, menatap Lyana tak berdaya.
"Sudah kuduga akan seperti ini!" kata Steve, memeluk istrinya dengan sepenuh hati.
"Jangan mengeluh. Tidak mudah bagi Bella mengalami semua ini! Kupikir, seharusnya bertemu dengan Ralph bukan hal yang sulit. Mereka memang perlu berhadapan langsung!"
"Tapi situasi Ralph …." Steve menggeleng sinis, teringat penampilan Ralph terakhir kali saat mereka bertemu.
"Kau yang menyebabkan Ralph seperti itu!" Lyana menggeleng lemah, menyadari betapa buruk temperamen suaminya.
…