Enamhari ini, Bella tampak kuyu dan kurang semangat. Sering kali dia linglung dan melamun, membuat Mic yang terbiasa acuh tak acuh mau tak mau mulai khawatir.
"Apakah ada sesuatu yang salah?" Mic bertanya saat mereka berdua makan malam. Kali ini Mic membuat hamburger dengan ekstra isian. Bella menghabiskan beberapa suap, kemudian menyingkirkan sisanya ke sudut meja. Wajahnya yang kuyu tampak semakin kuyu di bawah penerangan lampu ruang makan yang redup.
"Dua hari lagi mungkin Steve akan membawa beberapa orang ke sini. Apakah kau sudah tahu itu?" tanya Bella hati-hati.
Malam ini Mic mengenakan kemeja merah maroon, ujung lengannya digulung beberapa kali. Sebelah matanya masih menggunakan penutup mata hitam. Jejak luka di masa lalu tampak mengerikan di wajahnya yang berwarna tembaga.
Mungkin karena Bella mulai terbiasa dengan Mic, atau mungkin karena Mic mulai bersikap lebih lunak akhir-akhir ini, sehingga sekarang Bella tak terlalu takut setiap kali berinteraksi dengan Mic. Luka Mic bukan lagi menjadi hal yang mengerikan di mata Bella.
"Steve sudah mengatakannya!" Mic mengangguk. "Aku memiliki orang yang akan mengawasi kedatangan orang-orang itu nantinya. Daftar penerbangannya juga akan dikonfirmasi. Jangan khawatir!" indikasinya adalah, selama ada ijin jelas, Ralph dan Rose bisa masuk ke kota ini. Jika tidak, proses itu akan menyulitkan.
"Ya. Terimakasih!"
"Hm." Mic mengangguk, kemudian mengingatkan lagi. "Hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain. Sering kali orang yang paling dekat adalah yang paling menusuk!"
Mata Bella berkedip beberapa kali, mulutnya terbuka, tapi tak menyuarakan sepatah kata pun. Ini … apa maksud kata-kata Mic? Untuk siapa kalimat itu diucapkan?
Belum sempat Bella bertanya lebih jauh, Mic sudah meninggalkan Bella seorang diri. Jatuh dalam perenungan.
…
"Ada apa dengammu? Kau tampaknya tidak terlihat baik?" Amy berkunjung bersama Meg ke kediaman Mic untuk melihat keadaan Bella.
Sejak Angel, sang perawat bekerja di rumah ini untuk merawat Bella, keberanian Amy terstimulasi dan tidak lagi terlalu takut untuk mendekati Mic. Beberapa kali setelah itu, Amy sering datang mengunjungi Bella ditemani Jasmine atau Meg Candy.
"Tidak apa-apa. Berikan aku cake itu lagi. Aku akan memakannya!" Bella menunjuk bungkusan cake yang sudah dibuka dan tersisa setengah porsi.
Meg memutar matanya dengan malas. "Bukankah seharusnya kau menjaga asupan kalori?" Meg mengingatkan Bella. "Amy, aku sudah mengatakan padamu kau tidak baik membawakannya cake! Dia model! Makan terlalu banyak akan membuat tubuhnya tumbuh lebar sepertimu!" Meg tak habis pikir.
"Cake ini enak. Aku membelinya dari kedai Anne. Apa salahnya memberikannya pada Bella. Lihat tubuh Bella. Seperti tiang tanpa daging. Harus diberi asupan banyak nutrisi!"
Bella menatap dirinya sendiri. Dadanya memiliki ukuran yang layak. Lebih dari layak malah, mengingat ia beberapa kali menerima kontrak ekslusif sebagai model pakaian dalam. Pinggulnya juga berisi dan tubuhnya memiliki lekukan yang indah. Apakah tubuh seperti ini bisa disebut tiang tanpa daging? Nah. Mungkin mata Amy yang mengalami gangguan.
"Kaubilang Anne memiliki kedai?" tanya Bella hati-hati. Meskipun Bella ditemani Anne saat ia berada di rumah sakit, Anne belum pernah sekalipun menjenguknya setelah ia kembali ke kediaman Mic. Mungkin wanita itu sangat sibuk.
"Ya. Meskipun dia membuka praktek dokter hewan, tapi dia memiliki kedai di dekat SPBU. Apakah aku belum pernah mengatakannya?" Amy menjelaskan.
"Belum," jawab Bella lirih.
"Benarkah? Kupikir sudah. Kedai Anne ini tidak dijalankan oleh Anne secara langsung. Dia mengambil beberapa karyawan. Yah, meskipun bukan bisnis besar, tapi ini cukup membantu pemasukan Anne!" Amy menambahkan. Dia mengambil sepotong cake lagi, menghabiskannya dalam waktu singkat.
Bella mengangguk kecil dan kembali terdiam lama. Fokusnya seperti teralihkan. Dia memandang langit yang kini mendung, tampaknya akan turun hujan lebat.
"Musim gugur akan berakhir. Langit tampaknya kurang bersahabat!" Meg menatap pemandangan luar melalui kaca jendela, mengamati awan kelabu yang menggantung rendah.
"Sayang, Cathy sedang hamil. Jika nanti dia melahirkan, apakah kau mau salah satu anaknya? Anak-anak Cathy cukup menyenangkan. Bagaimana menurutmu? Bella! Hei, Bella!"
"Bella!" Kali ini Amy bukan hanya memanggil, tetapi juga menepuk bahu Bella. Wanita itu terkejut, memandang Amy dengan linglung, seolah-olah pikirannya tidak pada tempatnya.
"Ada apa?"
"Lupakan saja! Ada apa sebenarnya kau ini? Apakah kau memiliki masalah?" Amy bertanya prihatin.
Meg yang duduk dengan secangkir kopi di tangan juga mengamati perbedaan sikap Bella yang tampaknya terganggu oleh sesuatu. Wajah wanita itu lebih kuyu dan pucat daripada biasanya. Mungkinkah ada seseorang yang menyakitinya?
"Apakah Mic menyulitkanmu? Bella, jika terjadi sesuatu yang buruk, jangan diam saja!" Meg mengantisipasi. Dia tak terlalu memahami Mic. Namun, dari gosip yang ada, jelas Mic tidak dikabarkan baik. Jika sesuatu terjadi, seharusnya Bella bisa lebih terbuka dan waspada.
Tampak ragu-ragu, Bella menatap Meg dan Amy secara bergantian. Setelah waktu berlalu cukup lama, akhirnya dia mengungkapkan pikirannya.
"Aku mendengar dari kakakku tunanganku berkhianat!"
"Tunanganmu berkhianat" Amy tercengang. "Oh. Tunggu tunggu. Apa maksudmu? Siapa yang berkhianat? Tunanganmu?" Amy bertanya seperti orang bodoh.
Mata Meg tampak menggelap untuk sesaat. Kata-kata tentang pengkhianatan membuat dadanya perih dan terasa sakit. Ada amarah dan murka di lubuk hatinya yang mulai berfluktuasi.
Bibir Meg terkatup erat. Dia menatap Bella lagi, kali ini lebih hati-hati. Pantas wanita itu kuyu. Pantas wanita itu pucat. Ternyata orang terdekatnya berkhianat.
"Aku belum yakin seratus persen. Aku ingin menemuinya secara pribadi. Mungkin dengan begini, aku bisa menilai lebih objektif!" Sulit dikatakan bagaimana Bella harus bereaksi jika ia belum mengonfirmasi informasi ini secara langsung.
Ada sentuhan lembut di bahu Bella. Sentuhan yang menenangkan dan memberinya dukungan. Bella berbalik, menerima senyum tulus dari Meg.
"Perselingkuhan bukan hal yang kecil, Bella. Pahami segalanya dengan baik. Lihat dari semua sudut pandang. Jangan menjadi orang yang mudah dirugikan!" ingatnya.
Dua kali menikah, dua kali pula Meg gagal. Kini ia menjanda dan memiliki seorang putri cantik di bawah asuhannya. Sebelumnya dia pikir hidup tanpa laki-laki akan menyulitkan setelah memiliki anak. Tapi nyatanya, itu lebih baik daripada hidup dalam tekanan pengkhianatan.
Hidup terlalu singkat. Tapi jika dihabiskan dengan orang yang tak layak, semuanya bisa menjadi terlalu lama, terlalu membosankan, terlalu jengah.
"Sial! Siapa yang berani mengkhianatimu? Laki-laki mana yang dengan bodoh melakukan itu semua?! Aku akan mencincangnya seribu kali! Katakan padaku, Bella! Aku akan berada di pihakmu dan membelamu apa pun yang terjadi! Laki-laki itu! Cih! Berani-beraninya dia!" Amy berdiri, mengucapkan sumpah serapah untuk Ralph yang bahkan belum pernah ia lihat sosoknya.
Melihat Amy dan Meg yang membela Bella, hati Bella terasa menghangat. Senyum Bella merekah sempurna, dalam hati bersyukur ia masih memiliki orang-orang baik di sekitarnya, yang bersedia berpihak padanya apa pun yang terjadi.
"Terimakasih! Aku tahu kalian akan berada di pihakku!" Bella merasa sebagian beban yang menekannya sedikit berkurang.
"Tentu saja! Kau memiliku aku dan Meg. Dan juga Jasmine! Lihat saja jika Jasmine tahu. Mungkin dia akan membawa senapannya untuk menembak kepala orang terkutuk itu!"
Mendengar ini, Bella terkekeh kecil. Emosi orang yang telah memasuki masa tua ternyata memang menakutkan.
…