Bella menatap langit yang kelabu, mengencangkan sweter yang membungkus tubuhnya dengan erat. Angin berembus kencang, menerbangkan dedaunan di halaman, membuatnya berserakan ke mana-mana. Rambut Bella yang berwarna keemasan menari lembut, bergerak indah mengikuti angin.
Tangan Bella terkulai di sisi tubuhnya, kehilangan semangat yang biasa ia miliki. Matanya sembab, bengkak, dan sayu. Napas Bella tak terlalu stabil, menunjukkan suasana hatinya yang kacau balau.
Bella teringat akan pembicaraan tadi siang bersama Mic dan Rose. Mereka berdua bilang hubungan mereka hanyalah kesalahan. Suatu kesalahan yang seharusnya tidak pernah tercipta dan membawa efek buruk.
Hanya saja, hati Bella terpelintir dengan sangat menyakitkan. Bisakah seseorang berlindung di balik alasan kesalahan? Manusia menyepelekan satu kesalahan. Tapi terkadang satu kesalahan mampu menciptakan banyak kehancuran. Mengacaukan pondasi utama kepercayaan yang tak bisa ditambal lagi di masa depan.
"Bella!" Suara Steve datang dari belakang, membuyarkan perenungan Bella.
Steve mengambil kruk yang diletakkan tiga meter darinya, menyerahkan kembali benda itu ke tangan Bella sebagai penahan beban.
"Meskipun kondisimu sudah lebih baik, jangan terlalu memaksakan diri. Gunakan dulu kruk itu sebagai penopang!" Steve menatap tak setuju pada Bella yang berdiri tanpa bantuan apa pun di halaman belakang kediaman Mic.
Bella tidak menolak dan menerima tawaran kakaknya. Dia sudah berdiri lebih dari satu jam di sini. Kakinya yang sakit mulai menjerit protes karena tak nyaman.
"Aku tahu apa yang terjadi terkait Ralph bukan sesuatu yang mudah kauterima! Terkadang kita tidak tahu hal buruk apa yang dibawa orang terdekat!" Steve menepuk bahu Bella, memberinya dukungan sebagai seorang kakak.
"Ralph bilang itu kesalahan satu malam!" Bella berkata dengan lemah. Salah satu tangannya yang sebelumnya terkulai, kini terkepal kuat.
"Siapa yang tahu apakah itu pembelaan atau memang yang sebenarnya? Jika pengakuan itu mudah, penjara tak akan penuh oleh para penjahat." Steve menarik Bella, membimbingnya ke dalam ruangan karena udara sore yang mulai terasa tidak bersahabat. "Aku sudah meminta Ralph pergi dari sini, tapi dia tetap keras kepala dan ingin berbicara padamu lagi!"
Steve dipenuhi kebencian. Laki-laki itu benar-benar merepotkan. Ralph bahkan tampak khawatir melihat keadaan Bella yang menggunakan kruk dan mengganggu Steve berulang kali untuk melihat Bella lagi. Tapi Steve tidak mengijinkan. Siapa yang tahu apakah simpati Ralph terhadap Bella benar-benar nyata atau hanya topeng belaka?
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, Steve! Hubunganku dengan Ralph sudah berjalan jauh dan berlangsung lama. Memaafkan dia rasanya terlalu murah. Memutuskan dia rasanya juga tidak tepat. Bagaimana dengan semua waktu, semua tenaga, semua perasaan, yang telah aku investasikan selama ini untuknya? Apakah semua itu sia-sia?" Bella bertanya lirih, tubuhnya terhuyung karena tak stabil. Steve yang ada di sisinya langsung mengeratkan pelukannya pada Bella, takut adiknya tiba-tiba jatuh menyedihkan.
"Duduklah dulu! Aku akan membuatkan teh panas untukmu!" Steve membimbing Bella hingga tiba di ruang tengah, menyelimuti kaki Bella dengan kain hangat rajutan tangan. Entah bagaimana Mic bisa memiliki kain seperti ini mengingat kepribadiannya yang kaku.
Bella menutup matanya, ingin melupakan sejenak masalah yang melanda. Bisakah ia berpura-pura masalah Ralph tak pernah terjadi?
Steve yang membuat teh di dapur, mengutuk saat ia tidak berhasil menemukan lokasi teh. Setelah mencari cukup lama, Steve menemukan teh itu berada di laci paling bawah dan paling ujung yang sulit untuk ia jangkau.
"Sialan Mic! Dia menempatkan teh seperti menempatkan emas dua puluh empat karat!" rutuk Mic, menaburkan teh ke cangkir dan mencampurnya dengan gula, sebelum akhirnya menuangkan air panas yang baru saja ia seduh.
Setelah selesai menyeduh teh, Steve menyuguhkannya pada Bella. Aroma daun teh dan melati melayang ke udara, membawa keharuman.
"Kau menghajar Ralph?" tanya Bella, teringat dengan bekas luka di wajah Ralph yang mulai memudar.
"Tentu saja. Itu sudah lebih baik karena aku tidak membuat kakinya patah!" Ada penyesalan di mata Steve, karena ia merasa luka yang ia berikan pada Ralph terlalu ringan. Seandainya saja waktu bisa diulang, dia akan menatahkan semua sendi-sendi yang Ralph punya. Biarkan saja lelaki itu terbaring cacat tak berdaya. Ralph pantas mendapatkannya. Jika perlu, biarkan Ralph berada di kursi roda sepanjang sisa hidupnya.
"Apa yang kausarankan, Steve? Jika kau menjadi aku, apakah kau akan memaafkan Ralph?" tanya Bella hati-hati.
Steve terdiam lama. Dia tak bisa membayangkan jika pasangan yang ia cintai mengkhianatinya meskipun hanya untuk satu kali dan itu juga karena kesalahan. Kepribadian Steve terlalu mendominasi. Apa pun yang menjadi miliknya, siapa pun yang menjadi miliknya, akan ia jaga secara kuat, tak akan biarkan orang lain menyentuhnya. Lyana pernah bilang Steve terlalu posesif. Yah. Mungkin itu benar. Lagi pula, siapa yang suka miliknya menjadi jarahan orang lain?
"Aku orang yang sangat egois dan posesif." Steve tersenyum kecut.
"Itu artinya kau tak bisa memaafkan pengkhianatan!" Bella mengangguk mengerti.
"Aku orang yang tidak akan pernah membuat kesalahan dengan mudah, dan tidak akan menerima kesalahan dengan mudah juga. Aku tidak akan mengkhianati pasanganku, apa pun yang terjadi. Aku bersumpah. Dan aku tidak akan sanggup menerima pengkhianatan dari pasanganku. Apa pun yang terjadi, dengan alasan apa pun!" Steve tersenyum kecil.
Di mata Steve, kesetiaan adalah harga mati. Harga yang tak bisa ia tawar karena apa pun.
"Terlalu mendominasi!" Bella terkekeh, memahami dengan baik karakter kakaknya yang keras. Dari dulu, dari semua saudara-saudaranya, Steve memang orang yang paling keras kepala, dan tak mudah dibujuk. Mom sulit mengendalikan Steve sejak ia remaja. Sudah tak terhitung berapa kali Mom mengeluh atas nama Steve yang dianggap kepala batu.
"Hahaha. Lyana juga bilang begitu." Steve menepuk kepalanya, malah merasa bangga. "Jacob mewarisi sikapku!"
Bella teringat dengan keponakannya yang berusia sembilan tahun dan sangat nakal. Yah. Tampaknya memang benar. Dari siapa Jacob mewarisi sikap tak terkendali jika bukan dari ayahnya yang terkutuk itu?
"Terkadang aku kasihan dengan Lyana. Dia satu-satunya orang yang paling rasional dan paling lembut dalam keluarga kecilmu!" Bella mendesah panjang, teringat dengan saudari ipar yang dulu pernah menjadi saudari angkat.
Lyana merupakan putri dari sahabat Mom. Setelah ibu Lyana meninggal, Mom membawanya ke rumah, membesarkannya sebagai anak angkat di bawah perlindungan keluarga Shancez. Siapa yang menyangka akhirnya saudari angkat ini diambil Steve sebagai istrinya? Kisah romansa mereka mengalami banyak rintangan di awal. Bella bersyukur akhirnya mereka bisa damai dan menjalani pernikahan dengan layak.
"Tidak. Brown juga lembut. Karakternya mewarisi Lyana." Steve teringat dengan putri kecilnya yang masih balita. Putrinya memiliki banyak kesamaan sifat dengan Lyana. Lembut, manja, menyenangkan, patuh, dan mudah dibujuk. Benar-benar kebalikan dengan Jacob yang sulit diatur. Terkadang Steve heran bagaimana mereka bisa menjadi kakak adik biologis. Perbedaan karakter mereka seperti sungai nil jauhnya.
"Hei, Mic!" Steve mendongak, saat melihat Mic yang baru saja kembali dari pekerjaanya. Keringat membasahi rahang Mic. Kaos yang ia kenakan tampak lembab di bagian belakang.
"Kau akan menginap di sini? Atau di penginapan ranch? Aku akan mengaturnya!" Mic tampaknya bukan orang yang suka berbasa-basi. Dia langsung mengatakan apa yang ia pikirkan.
"Kita lama tidak bertemu. Bagaimana jika aku menginap di tempatmu? Kau masih memiliki wine tahun enam puluhan? Mari kita berbincang-bincang di teras nanti malam!" Steve bangkit berdiri, memukul bahu Mic dengan main-main. "Lihat matamu yang memakai penutup kain. Kau masih sama membosankannya dengan dulu. Apa kau penggemar bajak laut?" Steve menggeleng lemah, memberikan olok-olok sebagai bentuk pertemanan.
"Aku akan mandi! Siapkan saja makan malam sebentar lagi!" pinta Mic.
Hari mulai petang. Tak ada salahnya Steve menyiapkan makan malam lebih awal kali ini.
"Aku tidak terlalu bisa memasak. Bella, apakah kakimu baik-baik saja untuk memasak? Bagaimana jika kau yang memasak?" Steve menatap adiknya. Satu-satunya wanita di kediaman ini adalah Bella. Siapa lagi yang akan memasak jika bukan Bella?
Mendengar ini, Bella dan Mic saling menatap cukup lama. Tatapan Bella dipenuhi ketidakberdayaan. Ekspresi Mic lebih terdistorsi.
"Ada apa dengan kalian?" Steve bingung melihat tingkah adik dan temannya.
"Kau ingin makan satu butir telur sebagai makan malam?" tanya Mic.
"Bagaimana bisa makan malam hanya dengan telur? Apakah kau berubah menjadi miskin dalam sekejap?" Steve tak terima.
"Tanyakan saja pada adikmu!" Mic meninggalkan mereka berdua untuk mandi.
"Ada apa dengan telur?" tanya Steve menatap adiknya.
"Apa kau lupa aku tidak punya keahlian memasak? Aku hanya bisa menggoreng telur ngomong-ngomong, dan memasak air. Keahlianku kali ini sudah lebih baik. Telurku bisa dimakan dengan tingkat kematangan standar!"
"Apa kau memuji dirimu sendiri hanya karena telur?" Steve memukul kakinya sendiri dengan putus asa. Dia lupa otak Bella tidak pernah bersahabat sepanjang digunakan untuk urusan hal-hal dapur.
"Kau belum tahu sebelumnya. Telur yang kubuat satu tengah bulan lalu hanya berupa benda hitam dengan rasa asin yang luar biasa. Aku bahkan sulit memakannya. Sekarang skill-ku sudah lebih baik! Jangan remehkan progress yang kualami. Bersykurlah, Mic!" Bella tak terima diejek oleh Steve.
"Tidak bisakah kau membuat orak-arik?" tanya Steve.
Bella menatap Steve dengan tatapan kosong.
"Buat saja penekuk!"
Tatapan Bella masih kosong.
"Buat bacon!"
Lagi-lagi tatapan Bella tak berubah.
"Burger? Salmon asap? Spageti? Apakah kau tak bisa membuat semua itu?"
Bella mengalihkan pandangannya, sorot matanya terluka oleh penghinaan yang ditujukan Steve untuknya.
"Aku kadang heran bagaimana kau bisa hidup sampai detik ini jika kemampuanmu tak lebih baik dari putriku yang balita! Bella, kau harus melakukan kelas tambahan setelah kembali ke kota, demi masa depanmu sendiri!" Steve bangkit berdiri, berniat menyiapkan makan malam. Adiknya benar-benar tak bisa diharapkan. Bagaimana bisa Mom melahirkan anak seperti itu? Sungguh memalukan nama keluarga Shancez.
…
"Selain model, adikku benar-benar tak memiliki keahlian apa pun. Sungguh memalukan!" Steve duduk di teras bersama Mic, baru saja mengusir Ralph untuk yang keempat kalinya hari ini.
Setelah Bella memutuskan pembicaraan mereka tadi siang dan kembali ke kediaman Mic, Ralph tampaknya masih belum menyerah. Dia berusaha bertemu dengan Bella lagi untuk membahas masalah pengkhianatannya, berusaha menggapai maaf dari Bella. Sayang usahanya tak berhasil. Steve menemani Bella dan setia menjadi satpam yang menjaganya. Ralph tak berdaya dan hanya bisa kembali ke tempat penginapan di ranch lagi berulang kali.
Mari kita lihat akan sejauh mana Ralph berani mengganggu.
"Bukankah dia adikmu sendiri?" Mic melirik Steve, tatapan matanya terlihat melecehkan.
"Siapa yang menyangka aku akan memiliki adik yang hanya punya penampilan cantik saja!" Nada suara Steve terdengar penuh keluhan, tetapi terselip rasa sayang dan memanjakan yang kuat.
Meskipun di permukaan Steve berkata penuh keluhan, tetapi sebenarnya rasa sayang dan cinta untuk Bella tak bisa disembunyikan. Di mata Steve, adiknya bisa melakukan apa pun yang ia mau. Bagaimana jika Bella tidak memiliki keahlian memasak? Biarkan saja. Toh keluarga Shancez masih bisa menopang hidup Bella dengan baik. Untuk hidup layak hingga tua, Bella tak perlu bersusah-susah.
Mungkin Steve egois. Namun baginya, yang terpenting adalah kebahagiaan orang-orang terdekatnya. Selama Bella bahagia, bahkan jika ia tak memiliki kelebihan apa-apa, Steve akan menutupi kekurangan Bella dengan hal-hal lain. Jadi jika Bella memutuskan untuk menendang Ralph, Steve akan mendukung Bella dengan sepenuh hati. Dengan atau pun tanpa Ralph, hidup Bella akan tetap baik-baik saja.
"Ralph benar-benar b******n. Aku seharusnya menghajar Ralph lebih keras lagi. Lama-lama wajah lelaki itu tampak memuakkan di depanku!" Steve menyesap wine yang Mic suguhkan melalui gelas kristal tinggi, merasakan kekuatan alkohol yang terkandung di dalamnya dengan sungguh-sungguh.
"Jadi dia mengkhianati adikmu?" Mic yang biasanya tak ikut campur dengan masalah orang lain, mau tak mau menebak apa yang terjadi setelah melihat semua adegan yang terjadi hari ini.
"Ya. Katanya karena satu kesalahan. Persetan dengan satu kesalahan. Narapidana yang melakukan satu kesalahan bisa dihukum seumur hidup! Kenapa dia berlindung dengan satu kesalahan untuk mendapat pengampunan? Apa dia pikir maaf Bella semurah itu?"
"Hm!" Mic mengangguk mengerti, tetapi tak banyak berkomentar. Bagaimanapun juga, ini masalah Bella. Keputusan akhir ada pada Bella. Mic tak tertarik untuk ikut campur.
"Selama Bella ada di sini, dia tidak merepotkanmu, bukan?" tanya Steve hati-hati. Dengan masa lalu Mic, Steve tahu temannya memiliki kisah buruk pada wanita berlatar belakang kota.
"Yah awalnya!" Mic tak menutup-nutupi. Awal-awal Bella ada di sini, wanita itu sering kali menatap Mic seolah-olah Mic adalah pembunuh berantai yang siap menerkamnya kapan saja. "Dia beranggapan aku pembunuh psikopat yang mungkin akan menggorok lehernya di tengah malam!"
Steve menghela napas panjang. Dia ingat beberapa waktu yang lalu, Bella mengatakan beberapa kali keinginannya untuk pergi dari sini karena rumor yang ia dengar terkait Mic.
"Dia kadang berpikir dangkal. Tapi sebenarnya, dia wanita yang cukup baik. Kadang juga terlalu naif!"
Ya. Bella bisa dikatakan naif. Mungkin itulah kenapa Ralph bisa mengkhianatinya.
"Bella? Naif?" Mic ingin tertawa mendengar kalimat itu.
"Mic, tidak semua wanita kota itu sekotor dan selicik yang kaupikirkan. Setidaknya, adikku tidak termasuk di dalamnya. Dia cukup lugas dan polos!" Steve menjelaskan.
Lugas dan polos? Mic tak tahu lagi harus berkata apa. Lama-lama Steve mendiskripsikan Bella di luar akal sehat.
…