Rose baru saja selesai mandi air hangat. Dia mengenakan jubah mandi berbahan lembut, rambutnya yang setengah kering dibiarkan tergerai. Dia membetulkan simpul jubah mandi, mengeratkannya beberapa kali.
Suara ketukan di pintu kamar menarik perhatian. Rose mengibaskan rambutnya beberapa kali, kemudian berjalan ke pintu untuk membukanya.
Kamar penginapan ini sederhana. Terdiri dari tiga ruangan. Satu ruang duduk, kamar tidur, dan kamar mandi yang bersekat dengan fasilitas air hangat.
Ada dua penghangat listrik yang dipasang. Jendela-jendela besar menghadap padang rumput, sesekali menampakkan sekawanan sapi yang merumput dengan tenang saat masih siang hari.
Malam telah datang. Padang rumput yang semula menjadi objek pemandangan, kini objek yang menarik berganti menjadi langit yang penuh bintang. Bulan mengintip samar, membuatnya tampak malu-malu seperti gadis perawan.
"Ralph?" Rose menatap lelaki di balik pintu dengan ekspresi keraguan di wajahnya. Ralph bilang malam ini akan mencoba berbicara lagi dengan Bella secara pribadi, tetapi kenapa malah datang ke sini?
"Bisakah aku masuk?" Wajah Ralph terlihat suram, tanpa semangat sama sekali. Jejak luka di wajahnya yang sebelumnya tampak samar, kini tampak lebih jelas.
Rose berdaham, sedikit tak nyaman. Dia ingat bagaimana jejak luka itu terjadi beberapa hari yang lalu. Steve menghajar Ralph di lorong rumah sakit dengan gila-gilaan. Meskipun banyak dokter dan perawat mencoba menghentikan, tapi Steve berhasil memberi Ralph banyak luka.
Ralph yang sebelumnya berniat menemani Rose untuk melakukan aborsi, berubah menjadi pasien rumah sakit yang dirawat di bangsal selama beberapa hari karena hasil tangan Steve.
"Ya." Rose membuka pintu lebih lebar, membiarkan Ralph duduk di kursi kulit sederhana dengan warna sedikit pudar.
"Aku mencoba berbicara dengan Bella, tapi dihalangi Steve. Aku tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana." Tubuh Ralph luruh ke sandaran kursi, punggung yang biasanya tegak dipenuhi kepercayaan diri berubah menjadi lemah seperti pemuda rendahan yang tak memiliki kekuatan.
Rose belum pernah melihat Ralph seperti ini. Selama ia mengenal Ralph, lelaki itu terbiasa bersikap tegas, percaya diri, bahkan sedikit angkuh. Siapa yang menyangka Ralph akan jatuh ke titik ini?
"Aku tahu segalanya pasti tak akan mudah! Bagaimanapun juga, seorang wanita tidak akan dengan mudah memaafkan kesalahan besar seperti yang kita lakukan, Ralph!" Rose memejamkan matanya, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidakberdayaan.
Satu kesalahan. Satu malam. Menghasilkan banyak konsekuensi besar.
"Maaf, Ralph! Aku mengacaukan hubunganmu dengan Bella! Seandainya saja malam itu aku bisa mengontrol konsumsi alkoholku. Seandainya saja malam itu aku bisa lebih sadar, semua ini tak akan terjadi!" Rose menitikkan air mata, wajahnya yang cantik dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang dalam.
Di mana-mana, wanita sering kali menjadi pihak yang disalahkan. Wanita sering kali dianggap sebagai penggoda. Status Rose yang menjalin hubungan semalam dengan Ralph menyematkan dirinya sebagai wanita penghancur hubungan orang lain. Dan status ini memberikan rasa sakit di hatinya, mengguncang mentalitasnya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Rose! Kita sama-sama melakukan kesalahan. Apa yang terjadi di antara kita adalah kesalahan satu malam. Kita sama-sama tahu kita tak mengharapkan semua ini terjadi!" Ralph menenangakan Rose.
Manusia tak bisa luput dari kesalahan. Pada hakikatnya, tak ada yang bisa menjamin seseorang akan selalu melakukan hal-hal benar dalam hidup. Masalahnya adalah, setiap kesalahan selalu menimbulkan konsekuensi. Ralph tidak tahu sejauh mana konsekuensi yang akan ia tanggung kali ini.
"Tapi aku yang menjadi pihak ketiga di antara kalian, Ralph! Jika ada orang yang paling bersalah, itu aku. Jika ada yang patut dihakimi, itu aku! Rasa bersalah itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk menggugurkan kandungan!" Rose terisak pelan.
Aborsi bukan sesuatu yang diijinkan begitu saja di negara bagian ini. Dengan menggugurkan kandungan, Rose dan Ralph sama-sama tahu mereka mengambil keputusan yang paling beresiko. Jika hal ini tersebar dan bocor, reputasi Ralph akan ternoda dan tercoreng.
Tapi dihadapkan pada anak yang lahir dan tidak diharapkan, Rose tak bisa berbuat apa-apa. Jika anak itu dibiarkan lahir, bukankah situasinya akan lebih menyedihkan? Nasib anak yang lahir dan tak diinginkan, bagaimana bisa mendapat kasih sayang yang layak?
Hanya saja, siapa yang tahu ternyata dokter yang menjadi teman dekat Rose, ternyata juga teman dekat Revel, kakak Bella? Inilah yang membuat segala sesuatunya bocor dan tak bisa terjaga lagi rahasianya. Lagi pula, sebenarnya tak mengherankan jika Revel mengenal dokter tersebut. Bagaimanapun juga, Revel adalah dokter bedah, sehingga ia memiliki kenalan banyak rekan sesama dokter.
Sebagai seorang wanita, Rose telah mengorbankan prinsipnya yang paling besar saat ia memutuskan untuk menggugurkan kandungan miliknya. Bohong jika Rose bilang tak ada rasa sakit. Jauh di dalam hati, ia masih terbayang-bayang saat alat-alat terkutuk itu memasuki dirinya, mengambil janin yang ia miliki dengan kejam, membunuhnya tanpa hati nurani.
Tapi siapa yang patut disalahkan? Kehadiran bayi yang tak diharapkan adalah petaka baginya, bagi Ralph, juga bagi Bella.
"Jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri, Rose. Apa yang terjadi adalah musibah bagi kita semua. Kita sudah dewasa. Mari kita hadapi ini bersama. Jika kau mengalami gejala tambahan di tubuhmu terkait aborsi itu, atau mungkin mengalami tekanan tertentu, katakan saja! Aku akan menfasilitasimu untuk mendapatkan pelayanan medis dan psikiater yang memadai jika dibutuhkan. Dan tentang masalah aborsi, aku akan mencoba agar hal ini tidak mempengaruhi reputasimu!"
Tidak mudah menjamin semuanya tetap aman sekarang. Jika Steve mau, dengan karakter Steve, dia bisa menjadikan aborsi ini untuk menyulitkan Ralph dan membuat tuntutan-tuntutan tertentu. Semua itu hanya akan menyeret Rose ke dalam masalah lebih banyak lagi.
"Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi aku akan melakukan semampuku untuk menyelesaikan kekacauan ini! Kau akan tetap bekerja padaku." Ralph berjanji, menepuk bahu Rose dengan lembut.
Rose telah menjadi sekretarisnya selama enam tahun. Kinerjanya baik dan gesit. Dia juga tak membuat banyak kekacauan. Profesionalismenya jelas. Dengan Rose di sisi Ralph, dia telah mendapat banyak keuntungan.
Mengingat semua kerja keras Rose di masa lalu, Ralph masih memiliki simpati padanya dan tidak ingin memecatnya dari pekerjaan. Tidak adil rasanya jika satu kesalahan melebar ke mana-mana. Bukankah Rose sekarang telah terlibat banyak masalah gara-gara kesalahan ini? Semua itu lebih dari cukup untuk diterima Rose.
"Apa kau yakin, Ralph? Kau tahu itu hal buruk jika aku tetap bekerja padamu! Kita telah melakukan kesalahan. Bagaimana jika ini semua akan berakibat pada kemarahan Bella?" Rose tak percaya dengan kata-kata Ralph. Situasi sekarang sedang genting. Ralph bodoh jika tetap mempertahankan Rose sebagai sekretarisnya.
"Kita hanya melakukan satu kesalahan. Satu kesalahan, Rose. Apakah layak satu kesalahan itu membuat kita membayar banyak hal? Lihat dirimu! Karirmu yang menjanjikan adalah satu-satunya hal yang kaumiliki. Ini sangat tak adil jika kau kehilangan karir itu juga!"
Ralph tahu Rose memiliki latar belakang yang rumit. Orang tuanya bercerai dan dia menjadi anak asuh seorang pensiunan guru. Kehidupannya meskipun tidak sulit, tapi tak bisa dibilang mudah. Untuk sampai di titik ini, Rose telah bekerja keras, memberikan semua hal yang bisa ia berikan dari seluruh kemampuannya.
"Tapi keputusanmu akan memperburuk hubunganmu dengan Bella, Ralph! Lihat keadannya sekarang! Bella bahkan belum bersedia bertemu denganmu lagi! Tapi kau masih mempertahankanku sebagai sekretarismu. Apa kau tak tahu hal ini hanya akan memperumit segalanya?"
"Bella terkadang memang manja dan keras kepala, tapi dia bukan orang yang picik dan tidak masuk akal. Mari kita tunggu sampai dia tenang. Setelah dia tenang dan bisa diajak berdiskusi, aku akan menjelaskan lagi padanya! Dia seharusnya bisa memahami keadaan dengan baik! Tidak mungkin hanya karena satu kesalahan akan membuat Bella menghancurkan masa depan kebersamaan kami!"
Ralph mengangguk kecil, mencoba meyakinkan Bella. Tapi sinar matanya redup, tak memiliki keyakinan diri seperti seharusnya. Entah siapa yang coba ia yakinkan sebenarnya.
Rose menyentuh perutnya dengan lembut, wajahnya menunjukkan ekspresi yang menyakitkan. Ralph yang menyadari ini merasa tak nyaman.
"Apakah kau sakit? Apakah ada yang salah dari tubuhmu?" tanya Ralph hati-hati.
"Tidak. Dokter bilang semuanya baik-baik saja. Aku hanya perlu beristirahat untuk pemulihan. Tapi sejak aku menggugurkan kandungan, entah bagaimana aku merasa sakit di bagian perutku! Aku pernah mendatangi psikiater dan dia bilang mungkin ini rasa sakit imajiner. Terkadang trauma tertentu membuat tubuh kita mengingat kembali kenangan rasa sakit yang pernah kita derita! Ini menjadikan kita seolah-olah mengulangi kembali rasa sakit itu berkali-kali!"
Senyum Rose terlihat menyedihkan. Dengan didikan konservatif yang ia terima dari keluarga angkatnya, aborsi adalah sesuatu yang terlarang baginya. Wajar hal ini membawa pukulan keras bagi mental Rose lebih dari yang ia duga.
Ralph berdiri, menatap malam yang bersinar penuh bintang, berlawanan dengan hatinya yang gelap gulita. Kedua tangan Ralph mengepal di sisi tubuhnya dengan kuat. Sebelumnya, Ralph pikir ia hanya menyakiti Bella. Tapi ternyata ia salah. Ia juga menyakiti Rose lebih dari yang ia pikir.
Wanita mana yang ingin menjadi pihak ketiga bagi hubungan orang lain? Wanita mana yang ingin menjadi penghancur hubungan orang lain? Wanita mana yang ingin disalahkan sedemikian rupa atas dosa yang tak sengaja ia lakukan? Wanita mana yang sanggup menggugurkan anak yang ia kandung begitu saja hanya agar tidak menciptakan masalah lebih besar di kemudian hari?
Tidak ada. Tidak ada wanita yang menginginkan semua itu. Sayangnya, Ralph telah menempatkan Rose ke dalam posisi itu.
"Maaf, Rose! Aku menempatkanmu dalam situasi sulit!" aku Ralph dengan nada penyesalan.
Rose adalah wanita baik. Kebersamaan mereka yang cukup lama membuat mereka menjadi lebih seperti teman daripada atasan dan bawahan. Siapa sangka akhirnya akan seperti ini?
"Kau wanita yang baik. Seharusnya kau menemukan laki-laki yang layak di luar sana, laki-laki yang pantas mendampingimu dengan sempurna!" Bukan malah terjebak dengan hubungan Ralph dan Bella dan membuat segalanya semakin rumit.
"Hidup terkadang tak bisa ditebak, Ralph! Sering kali kita menargetkan sesuatu, tetapi dalam perjalanan, banyak halangan di luar dugaan yang menyapa kita. Nasib tak bisa kita tentukan begitu saja! Kita hanya harus menghadapi segalanya dengan hati yang lapang!"
Berdamai dengan kehidupan adalah cara yang paling baik, sekalipun kita terlanjur melakukan hal-hal yang salah.
"Biarkan aku berbicara dengan Bella besok. Aku dan dia sama-sama wanita. Mungkin jika aku yang berbicara, dia akan lebih menerima dan memaafkanmu!" Rose menawarkan dirinya tanpa ragu-ragu.
Hubungan Ralph dan Bella telah memasuki pertunangan dan sebentar lagi menuju pernikahan. Sangat disayangkan jika keduanya berpisah hanya karena Rose.
"Yang benar saja! Jangan melibatkan dirimu lebih jauh lagi!" Ralph menolak.
"Bagaimana bisa aku tidak melibatkan diriku? Dari awal, akulah yang telah menciptakan masalah untuk kalian. Biarkan aku meminta maaf lagi pada Bella secara langsung. Aku yakin hati Bella akan melunak. Aku tahu dia orang yang baik. Jangan khawatir, aku pasti akan membuatnya menerimamu lagi!" Rose menepuk punggung Ralph, meyakinkan lelaki itu dengan sepenuh hati.
"Kau yakin akan melakukan itu?" tanya Ralph, nada suaranya lebih lunak daripada sebelumnya.
"Tentu saja! Apa salahnya mencoba!" Senyum Rose merekah lebih lebar lagi.
Baru saat inilah Ralph sadar Rose memiliki hati yang sangat lembut dan tidak egois. Dia menempatkan dirinya sendiri dalam posisi salah, bersedia menebus semuanya tanpa ragu-ragu.
"Kau benar-benar wanita yang sangat pengertian. Kuharap laki-laki yang ditakdirkan memilikimu akan menjadi lelaki yang mencintaimu dengan sepenuh hati!"
Mendengar komentar Ralph, Rose terkekeh pelan. "Aku tak memiliki banyak harapan! Aku hanya berharap lelaki yang memilikiku bisa menerimaku apa adanya!"
Semakin dewasa, semakin sederhana harapan seseorang. Untuk wanita seperti Rose, ia hanya berharap pendamping hidupnya mampu menemani hari-harinya hingga mereka menua bersama.
"Ralph, kulihat Bella berjalan menggunakan kruk. Apakah ia terluka sebelumnya?" tanya Rose, tiba-tiba teringat dengan pemandangan yang ia lihat tadi siang.
"Ya. Steve pernah berkata Bella terluka karena serangan seseorang. Tapi Steve bilang waktu itu hanya luka ringan dan masalah ini telah diatasi! Aku tak menyangka ternyata hingga sekarang Bella masih mengalami gejala lanjutan!"
"Tampaknya luka itu bukan luka ringan!"
"Memang!" Ralph sangat prihatin. Bella wanita yang lembut dan terbiasa dimanja. Bagaimana bisa wanita itu mengalami luka yang menyakitkan dan belum sembuh sepenuhnya? Membayangkannya saja membuat Ralph merasa tak nyaman.
"Biarkan aku membawa beberapa buah untuk Bella besok. Aku juga akan membuat beberapa makanan penutup. Apakah ranch ini bersedia meminjamkan dapur untukku?" Rose membuat ide di kepalanya.
"Tentu saja bisa. Aku akan meminta ijin pada Richy besok." Lagi-lagi, Ralph menyadari Rose wanita yang sangat baik hati. Dia bahkan rela menyisihkan waktu untuk memasak. Sepanjang kebersamaan Ralph dengan Bella, Ralph belum pernah dimasakkan sesuatu oleh Bella. Dua wanita itu memiliki karakter yang sangat berbeda.
"Terimakasih, Ralph!" Manik mata Rose dipenuhi rasa syukur.
"Tidak. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu! Kau melakukan banyak hal untukku!"
"Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi tanggung jawabku!"
"Ini sudah malam. Tak seharusnya aku mengganggumu! Beristirahatlah dengan baik!" Ralph mengingatkan. Dia ingin pergi, tapi kemudian melihat wajah Rose tampak memucat tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Ralph ragu-ragu.
"Tidak apa-apa. Kembalilah ke kamarmu!" Rose mendorong Ralph, tetapi wajahnya tampaknya menunjukkan sesuatu yang salah.
"Apa kau baik-baik saja, Rose?"
"Aku baik-baik saja. Segeralah kembali. Tidurlah dengan baik!"
Ralph mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun karena didorong keluar oleh Rose, Ralph hanya bisa mengikuti kemauan wanita itu.
…