Penginapan Ralph dan Rose bersebelahan. Kebetulan letak kamar didesain saling membelakangi, sehingga karena bersekat dinding kayu, suara-suara yang terlalu keras dari kamar lain bisa ditangkap oleh penghuni lain yang bersebelahan.
Di tengah malam, saat Ralph baru saja terlelap karena merenungkan banyak hal terkait hubungannya dengan Bella, ia dikejutkan oleh teriakan Rose yang keras. Teriakan itu tidak berhenti, terdengar semakin histeris dan bercampur dengan isak tangis yang terdengar menyedihkan.
Ralph melupakan kantuknya, bangkit dari tidur hanya dengan jubah katun tipis. Dia segera keluar menuju ruangan Rose, mengetuk pintunya penuh kecemasan.
Penginapan di ranch ini tak banyak menerima pengunjung di musim gugur. Hanya ada beberapa tamu, itu pun sebagian besar mereka berada di area depan. Di area belakang, hanya ada Rose dan Ralph yang menempati ruangan berdekatan. Jarak penyewa terdekat sekitar enam ruangan dari mereka, yang cukup jauh. Wajar jika teriakan Rose hanya didengar oleh Ralph saja.
Ralph terburu-buru datang ke kamar Rose, tergelincir beberapa kali karena jubahnya terlalu panjang, dan akhirnya berhasil tiba di pintu kamar dengan napas tak beraturan.
"Rose! Rose! Bisakah kau membuka pintu?!"
Karena Ralph berdiri di balik pintu, jeritan Rose tak terdengar terlalu keras, tetapi masih bisa ditangkap dengan jelas. Ralph mengetuk pintu berulang kali, setiap kalinya semakin keras daripada sebelumnya.
"Rose! Rose! Ada apa denganmu? Apakah semuanya baik-baik saja?" Gerakan tangan Ralph yang sebelumnya sebatas ketukan, kini berubah menjadi gedoran kuat. Dengan kekuatan ini, seharusnya siapa pun yang tidur di dalam ruangan pasti terbangun. Tapi tampaknya itu tak berlaku bagi Rose. Jeritan Rose terdengar semakin menyedihkan dan menyesakkan.
"Rose! Ya Tuhan, Rose! Bisakah kau mendengarku?!" Ralph berteriak putus asa saat semua usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali.
Ralph menatap lorong panjang, berniat untuk memanggil salah satu petugas yang berjaga untuk meminta kunci cadangan ruangan Rose. Sebelum segalanya terlambat, Ralph harus bertindak cepat.
Namun baru beberapa langkah Ralph bergegas, pintu yang sebelumnya tertutup terbuka dengan bunyi klek pelan. Ralph menghentikan langkahnya, berbalik ke belakang.
"Ralph?" Suara Rose serak dan lemah. Wajahnya pucat dipenuhi air mata, sudut bibirnya mengeluarkan darah karena digigit sendiri.
"Ada apa denganmu? Apa yang kaualami?" Ralph menatap piyama sutra Rose yang berantakan dan kusut. Rambutnya ditarik kasar ke belakang, tampak tertekan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya … bermimpi buruk," bisik Rose tak berdaya, bersandar di sisi pintu untuk menopang seluruh bobot tubuhnya yang ringan.
"Mimpi buruk? Mimpi buruk apa yang membuatmu bereaksi kuat dan tak terkendali? Aku mendengar teriakan dan jeritanmu dari kamarku!" Ralph semakin khawatir dengan keadaan Rose yang menyedihkan.
Rose tampak linglung, wajahnya yang pucat perlahan-lahan memiliki semburat merah, sebelum akhirnya ia menjawab dengan canggung.
"Maaf, aku mengganggu tidurmu. Maafkan aku." Suara Rose masih lemah, tetapi ekspresi wajahnya berubah pelan-pelan karena malu dan tak enak hati.
"Lupakan. Biarkan aku masuk ke ruanganmu sebentar! Kau tampaknya dalam situasi buruk!" Ralph masuk ke dalam ruangan, melewati Rose yang berdiri membeku dengan linglung.
Karena lampu masih padam, Ralph meraba-raba ke stop kontak untuk menghidupkannya. Ruangan berubah terang dalam sekejap, disiram cahaya lembut keesaman. Ada lampu gantung kuno yang menghiasi ruangan, membuat suasana dipenuhi aura kehangatan yang langka.
"Duduklah, Rose! Apakah kau perlu air?" tawar Ralph dengan sabar.
Rose menutup pintu dengan hati-hati, melangkah ke hadapan Ralph untuk duduk, dan mengamati Ralph lama. "Tak perlu repot-repot!" tolak Rose.
Ini kamar Rose. Ini ruangan Rose. Bagaimana bisa orang luar, terutama Ralph, melayaninya? Rose tak memiliki keberanian sebesat itu.
"Kau benar-benar tampak kacau. Mimpi buruk apa yang kaualami?" Ralph mau tak mau prihatin oleh kondisi Rose yang menyedihkan. Entah kenapa semakin Ralph menyadari, semakin mengenaskan hidup Rose jadinya.
"Ini …." Rose terlihat ragu-ragu.
"Berceritalah! Mungkin dengan itu bisa mengurangi tekananmu!"
"Aku ... aku … aku bermimpi tentang bayi yang aku gugurkan. Semenjak aborsi itu, malam-malam yang kumiliki tak pernah tenang! Selalu ada sesosok bayi yang datang mendatangiku di malam hari, bertanya kenapa aku membunuhnya. Bertanya kenapa aku membuangnya.
"Bayi itu imut dan lucu. Di detik berikutnya, dia berubah menjadi monster darah tanpa kepala dan mengejarku ke mana pun aku pergi. Dia selalu memanggilku 'Mummy … Mummy …' tapi aku merasa ketakutan.
"Ralph … mungkinkah ini hukuman yang diberikan Tuhan padaku karena aku melakukan aborsi? Bahkan tidur pun aku tak bisa merasakan ketenangan sama sekali. Dosaku mengejarku terus. Rasa bersalahku semakin besar seiring waktu. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa aku perbuat untuk menghilangkan rasa bersalahku?"
Tangan Rose memukul dirinya dengan kuat, menjambak rambutnya, menangis depresi karena tertekan.
Sepuluh hari telah berlalu. Peristiwa aborsi yang ia lakukan bukannya semakin memudar, tetapi malah semakin jelas dan kuat di dalam ingatan. Bagaimana janin itu dihancurkan dengan alat, dikeluarkan berupa gumpalan darah, mati, kehilangan napas terakhirnya.
Seorang ibu pada hakikatnya adalah jalan bagi lahirnya kehidupan baru. Pintu bagi berlangsungnya generasi yang diteruskan. Namun di tangan Rose, seorang ibu berubah menjadi pembunuh. Seorang ibu berubah menjadi perampas kehidupan.
Beban mental seperti itu terlalu sulit ditanggung Rose. Mentalnya yang sudah kacau semakin terpuruk menyedihkan. Jika tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin dia menderita depresi minor.
"Rose, tenangkan dirimu dengan baik. Kau tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Aku juga berperan dalam menggugurkan kandunganmu! Ini adalah fase terberat bagi kita semua. Ini adalah masa-masa sulit yang harus kita lewati. Bisakah kau bertahan dengan baik? Kita pasti akan berhasil melalui semua ini. Lagi pula, kita sama-sama tahu bayi itu tidak akan memiliki kehidupan yang baik jika tetap dipertahankan! Jangan terlalu menyalahkan dirimu, oke?"
Ralph meraih tangan Rose yang masih bergerak liar, berusaha menahan semua gerakan wanita itu agar tak melukai dirinya sendiri.
"Aku pembunuh. Aku pembunuh. Aku pembunuh. Aku—"
"Cukup, Rose, cukup!" Ralph menghentikan kata-kata Rose dengan berteriak.
"Aku membunuh darah dagingku sendiri. Aku …." Air mata bercucuran di wajah Rose, membuat penampilannya semakin berantakan. Sepasang matanya yang biasanya menyorot tenang, kini tampak liar tak terkendali.
Rasa bersalah adalah sesuatu yang sulit dihilangkan. Kita bisa memaafkan orang lain, tapi sulit memaafkan diri sendiri. Karena luka yang kita buat adalah hasil dari tangan kita sendiri.
"Aku kotor. Aku menjijikkan. Aku tak pantas hidup." Rose masih terus berbicara tanpa terkendali, tubuhnya sesekali terhuyung ke depan dan ke belakang. Ralph harus menahan wanita itu agar tak jatuh.
"Rose, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Bayi itu datang di waktu yang tidak tepat dan situasi yang tidak tepat. Suatu hari nanti, kau akan menemukan orang yang kaucintai, yang akan memberimu banyak bayi sebagai ganti yang telah hilang. Kau orang yang baik. Kau hanya melakukan satu kesalahan. Tuhan tidak akan terlalu kejam dan menghukummu begitu saja! Dengarkan kata-kataku, oke? Kau wanita yang kuat. Bertahanlah dalam melewati krisis ini!"
Ralph tahu kata-katanya mungkin terdengar munafik, tetapi ia tak bisa melakukan hal lain lagi. Memangnya, apalagi yang bisa ia lakukan selain membujuk?
Ralph tidak pernah membenci dirinya sendiri hingga sedalam ini. Kesalahan satu malam yang ia lakukan, kini berimbas pada mental Rose dengan cukup dalam. Setelah Rose menggugurkan kandungan, Ralph hanya melihatnya beberapa kali di siang hari dan tampaknya semuanya baik-baik saja. Setidaknya, Rose selalu berusaha tampil normal. Siapa yang tahu nyatanya di balik semua ini mentalitas Rose telah banyak terguncang?
"Aku akan menghubungi psikiater untukmu! Rose, kau perlu dirawat! Aku tak ingin hal-hal buruk terjadi padamu!"
"Tidak tidak! Aku sehat! Aku baik-baik saja. Aku akan tetap bekerja." Mata Rose semakin suram. Dia teringat ibu angkatnya yang memiliki penyakit diabetes. Rose telah menjadi penopang keluarganya selama beberapa tahun terakhir. Bagaimana nasib keluarganya jika ia berhenti bekerja tiba-tiba?
"Dengarkan aku! Aku akan tetap membayarmu selama perawatan psikismu! Kau harus menemui psikiater! Percayalah padaku! Kau perlu melakukan itu!"
Ralph tak menerima beragam penolakan Rose. Dia akan mengatur asistennya agar mengambil urusan ini sesegera mungkin. Mental Rose benar-benar mengkhawatirkan.
"Maafkan aku, Rose! Maafkan aku!" Ralph menundukkan kepalanya, lemas tak berdaya.
Satu kali kesalahan. Satu kali pengkhianatan. Menghancurkan banyak hal.
Sesal tak berguna lagi. Waktu tak bisa diputar kembali.
…