Pagi hari berikutnya, Ralph duduk di restoran kecil penginapan yang menghadap ke arah padang rumput luas. Pagi ini cukup cerah, tapi suasana hati Ralph tidak baik. Malam ini dia tidak tidur sama sekali. Pikirannya mengelana ke mana-mana.
Ada bayangan hitam di mata Ralph. Matanya memerah, pelipisnya berdenyut tidak nyaman. Sial. Tampaknya dia butuh menelan beberapa butir aspirin.
Setelah setengah jam duduk sendirian di kursi kayu ditemani kopi, Rose datang ke restoran bawah dengan penampilan sama kuyunya dengan Ralph.
"Pagi, Ralph!" Rose mengambil kursi di dekat Ralph, membenarkan gaun sederhana yang berwarna kuning pucat.
Rambut Rose yang biasanya tergerai dikuncir kuda dengan jepit tembaga berbentuk hati.
"Hai, Miss, Sir, menu apa yang kauinginkan sebagai sarapan kalian?" Seorang pelayan bertubuh gempal mendekati mereka.
"Tidak." Ralph menolak.
"Kopi saja!" Rose juga tak berselera untuk makan apa pun.
"Makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu!" Ralph mengingatkan. Bagaimanapun, Ralph adalah laki-laki sehingga ia bisa tahan tanpa sarapan. Tapi kondisi Rose sedang tak terlalu baik. Alangkah baiknya jika Rose mau sarapan.
"Nanti saja. Aku sedang tak ingin makan apa pun!" tolak Rose lemah.
"Tapi kondisimu?"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja!" Rose meyakinkan. Dia tersenyum kecil, agar Ralph tak perlu mengkhawatirkannya.
Pelayan itu pergi, menyiapkan secangkir kopi untuk Rose. Karena kopi Ralph masih, dia tak ingin menambahkan pesanan lagi.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?"
Semalam setelah keadaan Rose lebih stabil, Ralph meninggalkan wanita itu sendirian di kamarnya. Namun meski begitu, Ralph tetap menyimpan kekhawatiran untuk Rose mengingat keadaan mental Rose yang tak terkendali.
"Sudah lebih baik. Mimpi buruk hanya mempengaruhiku sesaat. Jangan terlalu khawatir, Ralph! Aku bisa mengendalikan diriku sendiri!"
"Kau harus mengikuti nasihatku. Kau perlu menemui seorang psikiater. Aku akan mengaturnya!"
Sadar tak bisa menolak keinginan Ralph, Rose hanya bisa bekerja sama dan menyanggupi kemauan Ralph yang keras kepala. Tak lama kemudian, pelayan membawakan secangkir kopi dan croissant. Alis Rose naik sedikit, menyadari ia tak memesan croissant sama sekali.
"Ini?" Rose menunjuk apa yang pelayan itu bawa.
"Ini gratis untukmu, Miss! Lihat wajahmu yang tampak pucat dan kuyu. Makanlah ini sedikit untuk membuat kondisimu lebih baik!" Pelayan itu mengedipkan salah satu matanya, kemudian pergi menjauh dengan bersenandung lirih.
Tak berdaya dengan kebaikan kecil itu, Rose tersenyum lemah, mengambil croissant dan menggigitnya beberapa kali untuk ia makan. Rasanya tidak buruk. Ekstra mentega dengan manis yang pas.
"Aku akan menemui Bella setelah ini!" Rose berkata pelan.
"Kau yakin? Bagaimana jika aku menemanimu?" Ralph menawarkan diri. Keadaan mental Rose mungkin tak terlalu baik. Ralph khawatir jika ia bertemu Bella, semuanya akan menjadi lebih buruk.
"Tidak, Ralph. Kami sama-sama wanita. Terkadang kamu butuh berbincang secara pribadi!"
Melihat tekad Rose yang besar, Ralph tak ingin membujuk lagi. Dia hanya mengangguk dan mengucapkan harapan baik agar semuanya berjalan dengan lancar.
Matahari semakin naik tinggi, membawa sedikit kehangatan di musim gugur yang hampir berakhir. Dua orang yang sama-sama tertekan, mencoba berharap agar segalanya kembali seperti semula, menghilangkan noda kesalahan di masa lalu.
…
Bella menghabiskan pagi ini dengan merajut sesuatu di sapu tangan. Steve yang melihatnya ingin memalingkan muka, tak tega melihat hasil karya Bella yang menyedihkan.
"Apa kau membuat cacing?" tanya Steve, melihat garis-garis benang yang tak beraturan, membentuk sesuatu yang mirip kurva membingungkan. Ini gambar senyum atau cacing? Steve tak terlalu yakin.
"Di mana kau meletakkan matamu, Steve? Tidak bisakah kau melihat ini adalah naga? Jangan sia-siakan kedua matamu yang tak berharga itu!"
Naga? Steve ingin memukul sesuatu dengan keras. Sialan. Bagaimana bisa cacing itu bermetamorfosis menjadi naga?
"Lakukan sesuatu yang lain. Berhentilah merajut!" Sakit rasanya melihat naga dirajut seperti itu.
"Steve, mematahkan kepercayaan diri adikmu sendiri bukan sesuatu yang baik! Lihat! Aku merajutnya dengan cukup baik! Tidakkah kau menyadarinya?" Bella menunjuk hasil tangannya dengan bangga, seperti anak kecil yang menunggu untuk dipuji.
Steve tak ingin berbohong, tapi juga tak bisa tetap jujur. Dia hanya menggeleng lemah, kembali melanjutkan pekerjaannya di laptop. Ada beberapa hal yang perlu ia tangani. Karena jarak, Steve hanya bisa menanganinya dari jauh. Sebentar lagi Steve akan melakukan konferensi video. Di tempat ini jaringan lemah. Sepertinya Steve harus beralih ke ranch untuk menyambungkan jaringan wifi dari Richy.
Ada ketukan pelan di pintu depan. Wajah Steve berubah buruk dalam sekejap. Dia berjalan dengan kaku, tampaknya siap meledakkan amarahnya yang besar. Apakah ini Ralph lagi?
Terlalu besar keberanian lelaki itu. Steve harus ingat untuk menendang lelaki itu dengan kekuatan penuh agar Ralph hancur berkeping-keping.
"Persetan! Sudah kukatakan kau tak perlu datang ke sini lagi! Adikku tak ingin melihatmu! Apakah kau benar-benar tak punya telinga atau—"
Steve berhenti mengutuk, menatap tamu di hadapannya dengan bingung.
Rose berdiri anggun, dengan dress kuning pucat yang memancarkan kepolosan. Ujung rambutnya yang dikuncir kuda terbang tertiup angin, menambahkan kesan vitalitas yang samar.
Namun meski begitu, wajahnya yang pucat dan kuyu sangat bertolak belakang dengan penampilannya. Tampaknya wanita ini mengalami hari yang buruk juga. Bagus kalau begitu. Jika Bella tidak bahagia, tak ada orang lain yang boleh bahagia.
"Ada apa?" Meskipun nada Steve sudah tidak berapi-api seperti sebelumnya, ia masih menunjukkan permusuhan pada Rose. Memangnya siapa yang bisa bersikap baik pada selingkuhan adikmu sendiri?
"Mr. Shancez, ijinkan aku untuk berbincang dengan adikmu. Aku datang untuk mengungkapkan beberapa hal!"
"Bah! Apalagi yang kauinginkan? Belum cukup kau menghancurkan hatinya? Apakah kau perlu menertawakannya secara langsung? Bahagia atas kesedihannya?" Steve menunjukkan sikap sarkasme.
"Tidak. Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga, aku tahu di mana posisiku. Aku sudah menanggung banyak rasa bersalah untuk ini. Sir, bisakah kau sedikit saja bersikap lunak padaku? Ijinkan aku berbincang dengan Bella. Ada hal-hal yang perlu aku sampaikan padanya!"
Steve menimbang-nimbang sebentar. "Biarkan aku bertanya pada Bella. Jika dia mau, kau bisa berbicara padanya! Jika ia tidak mau, aku hanya bisa mengusirmu!" Steve masuk ke dalam, kemudian keluar lagi tak berapa lama.
Ekspresi wajah Steve sudah jauh lebih baik saat ia keluar lagi. Dia mengangguk kecil pada Rose, membiarkan wanita itu masuk ke kediamam Mic yang sederhana.
Rose dipenuhi jejak nostalgia saat ia menatap perabotan kayu kediaman Mic. Semua ini mengingatkannya pada rumah orang tua angkatnya. Orang tua angkat Rose adalah orang yang sederhana. Rumahnya dibangun dari kayu, semua perabotannya simpel dan terbuat dari material murah. Namun, ada jejak kehangatan di mana-mana. Tirai orange yang disulam dengan manik-manik lucu, tempat sepatu yang dihias dengan nama setiap anggota keluarga, kamar tidur dengan gantungan lonceng yang akan berbunyi setiap kali pintu dibuka, dan masih banyak lagi.
Sayang, meskipun kediaman Mic didesain sederhana, kehangatan-kehangatan itu bisa dibilang tak ada sama sekali. Sangat berbeda dengan rumahnya.
Rose berjalan ke dalam, hingga akhirnya tiba di halaman belakang. Bella duduk di kusi berlengan, dengan sweter berwarna gelap hingga leher.
"Bella," panggil Rose dengan senyum kecil. Dia duduk di sisi Bella, menatap wanita itu dengan lembut.
"Ada apa lagi? Apakah kau belum cukup membuat masalah?" Ada permusuhan di mata Bella. Dia menumpuk hasil sulaman, meletakkannya di sudut meja.
Rose tak langsung berbicara. Dia menatap langit yang hari ini tampak cerah, menampilkan sinar matahari yang berwarna orange.
Proses hidup akan selalu menjadi rahasia. Tak ada yang bisa menebak ke mana tujuan dari setiap hal.
Jari-jari Rose saling terkait, menarik napas panjang dengan sorot mata tak berdaya. Meminta maaf tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mengembalikan kondisi seperti semula lebih sulit lagi.
"Aku dan Ralph membuat kesalahan besar. Aku akui aku melakukan dosa yang tak seharusnya! Tapi, Bella, apakah kau akan tetap menolak kami? Apakah aku dan Ralph belum cukup menderita? Aku hamil, seorang diri, tak diharapkan, dan melakukan aborsi. Rasa bersalah yang terus merongrong hatiku seperti pisau tajam bermata dua yang menggerogoti jiwa.
"Apakah hukuman yang kualami kurang, Bella? Apalagi yang harus aku terima agar kau memaafkanku? Penderitaan apalagi yang harus aku lewati agar kau bisa merelakan aku dan Ralph menutup kesalahan kami?
"Demi hubunganmu dan Ralph, aku merelakan janinku meninggal. Itu sudah menjadi siksaan bagiku yang paling dalam. Setiap malam selalu berubah menjadi teror tanpa akhir. Sebagai wanita, aku merasa gagal. Sebagai ibu, aku merasa tak pantas. Jika kau tak memaafkanku, mungkin aku juga tak merasa layak lagi menjadi manusia dengan moral tersisa!"
Rose mencengkeram ujung meja, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dia tidak menangis. Air mata tak lagi berderai seperti tadi malam. Namun, ekspresi wajahnya yang menyakitkan menunjukkan betapa terdistorsi hati Rose sesungguhnya.
Rasa bersalah adalah senjata yang paling membunuh seseorang. Mengikis semua hati nurani dan akal sehat yang tersisa.
Andai waktu bisa diulang, andai masa lalu bisa diputar kembali, Rose tak akan melakukan kesalahan yang sama. Harga dari kesalahan ini terlalu besar, mengguncang mentalnya.
"Kau dan Ralph yang melakukan kesalahan, kalian yang melakukan pengkhianatan, dan kalian juga yang melakukan dosa. Sekarang kau dan Ralph memohon aku untuk memaafkan. Seolah-olah jika aku tidak memaafkan, aku pihak yang bersalah. Seolah-olah jika aku tidak memaafkan, aku orang yang kejam! Kenapa kau menuntutku untuk memaafkanmu? Apakah saat kau berselingkuh dengan Ralph, kau memikirkan rasa sakit yang akan kuderita? Apakah kau memikirkan kehancuran yang kualami? Apakah kau memikirkan bagaimana perasaanku?" Bella bertanya berapi-api.
"Kau berkata padaku seolah-olah kau orang yang paling menderita. Seolah-olah kau adalah orang yang paling tersakiti! Tapi bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan hatiku yang tersisa dan tercabik-cabik?"
"Kau menempatkanku dalam posisi yang tidak tepat. Kau dan Ralph yang melakukan kesalahan. Secara teoritis, beban moral apa pun yang kaudapatkan, itu adalah konsekuensi dari tindakanmu! Setiap tindakan menghasilkan resiko. Setiap kesalahan membuahkan hukuman moral tersendiri. Ini sudah sifat dunia! Bagainana bisa kamu ingin membebaskan dirimu sendiri dari rasa bersalah dengan menuntut maaf dariku?"
Egois. Rose terlalu egois. Dia melakukan kesalahan dengan Ralph, tetapi Bella yang dituntut untuk memaafkan. Dia yang menciptakan kekacauan, tetapi Bella yang diminta membenahi. Di mana ada hukum seperti itu?
Mendengar jawaban Bella yang langsung tanpa basa-basi, hati Rose kian dipenuhi beban berat. Kehilangan anak telah menyeretnya ke dalam beban mental yang kuat. Kini moralnya dibebani rasa bersalah karena menjadi penghancur hubungan orang yang tak diharapkan. Bagaimana bisa Rose bangkit dari keterpurukan ini?
"Kenapa kau terlalu keras kepala, Bella? Aku hampir gila oleh semua ini. Tapi alih-alih menenangkan keadaan, kau justru menaruh api ke dalam masalah yang masih berkobar!" Rose menutupi wajahnya, merasa terjebak ke jalan buntu.
Ralph bilang Bella adalah wanita lembut yang akan memikirkan segala sesuatu dengan kepala dingin. Tindakannya selalu rasional dan tidak akan keras kepala. Tapi apakah wanita yang lembut akan mendorong rasa bersalah pada wanita yang sudah hancur oleh dosanya sendiri? Ini seperti memberikan beban pada orang yang sudah tak bisa berjalan lagi.
"Kau ingin menyalahkanku? Moral siapa yang salah di sini, kau lebih tahu yang sebenarnya. Posisikan dirimu pada diriku. Jika orang yang kaucintai, yang kaupercayai, yang kausayangi melakukan pengkhianatan dan menghancurkan semua kepercayaan, bisakah kau berdiri dengan tangguh dan berderma dengan maaf? Bisakah kau?!" Bella tersenyum sinis, sangat yakin wanita mana pun tak akan sudi bertukar posisi dengannya.
"Kepercayaan itu masalah keyakinan. Saat itu ada, kekuatannya mampu melawan banyak hal. Saat itu hilang, tak ada apa pun di dunia ini yang mampu mengembalikan lagi dengan utuh!" Bella menatap Rose, megutarakan isi hatinya dengan baik.
Kepercayaan bisa sangat kuat jika dijaga, dan bisa berubah serapuh porselen saat dirusak. Segalanya bergantung pada kedua pihak apakah mereka akan cukup mempertahankannya atau tidak.
"Apakah itu artinya kau tak ingin memaafkanku, Bella? Apakah itu artinya kau akan menghancurkan hubungan yang telah kaubangun bersama Ralph selama bertahun-tahun? Bisakah kau melakukan semua itu?" Di titik ini, Rose terkejut dengan sikap keras kepala Bella.
Ralph ternyata salah. Jika Bella mau, Bella bisa bertindak apa pun, tak peduli apakah itu masuk akal atau tidak.
Bella menyugar rambutnya dengan pelan, menatap langit yang cerah seolah-olah membawa banyak janji manis.
"Untuk saat ini, aku tidak tahu, Rose! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan! Biarkan aku sendiri dulu. Aku perlu memikirkan banyak hal lebih hati-hati lagi. Kau dan Ralph, lebih baik kembali ke Manhattan dulu! Jika nanti aku sudah mengambil keputusan, aku pasti akan berbicara lagi dengan kalian!"
Untuk sekarang, Bella tak bisa menjamin banyak hal. Hatinya masih dipenuhi rasa sakit hati yang kuat. Belum ada obat yang ia temui yang mampu mengurangi rasa sakitnya.
Bella butuh sendiri. Bella butuh ketenangan. Untuk merenungkan semua hal yang menimpanya dengan pikiran terbuka. Waktu adalah yang paling Bella butuhkan saat ini.
Bella butuh berdamai dengan semuanya. Dan waktu adalah sarana yang paling ia andalkan.
"Beri aku dua minggu untuk berpikir. Aku akan mempertimbangkan segalanya. Katakan pada Ralph keputusanku!" Bella berkata dengan mantap.
Dua minggu. Seharusnya Bella sudah mampu menjernihkan pikirannya.
…