"Bagaimana keadaanmu?" Clive duduk di ruang tengah kediaman Mic, menyeruput kopi panas yang baru saja disuguhkan Bella.
"Baik." Bella duduk tak jauh dari Clive, sama sekali tak menyangka Clive menyempatkan diri datang ke sini untuk menanyakan keadaannya.
"Anne sangat khawatir dengan keadaanmu setelah kau pulang dari rumah sakit. Kali ini dia menyuruhku untuk datang ke sini, bertanya padamu secara langsung. Oh dan ngomong-ngomong, dia menbuatkanmu pai apel." Clive menyodorkan kotak makanan persegi yang di dalamnya terdapat pai apel hasil tangan tunangannya.
Bella menerima dengan baik, tersenyum tulus pada Clive. Sebagai seorang lelaki, Clive jelas memanjakan wanitanya dan mau melakukan beberapa hal untuk Anne.
"Sampaikan terimakasihku pada Anne. Jika dia memiliki waktu luang, dia bisa datang ke sini!" Bella menawarkan undangannya dengan tulus.
Amy, Jasmine, dan Megg telah berulang kali datang ke sini dan tampaknya Mic tak keberatan. Seharusnya jika Anne juga melakukan hal yang sama, Mic tak akan marah, bukan? Undangan yang Bella sampaikan tak ada salahnya.
Clive tak langsung menjawab. Dia menatap Mic yang malam ini mengenakan kaos hitam dengan celana kain senada, tampak nyaman duduk di sudut kursi paling jauh.
"Ada apa?" tanya Bella tak mengerti.
"Anne sedikit tak nyaman dengan Mic. Jadi jika kau ada waktu, kau bisa datang ke rumah kami!" Clive menjawab rasa ingin tahu Bella secara blak-blakan.
Mulut Bella membentuk huruf O tanpa suara. Dia mengedipkan mata beberapa kali, terkekeh kecil saat menyadari antara Anne dan Mic memiliki ketidaknyamanan tertentu setiap kali mereka bertemu.
"Pantas Anne belum pernah berkunjung ke sini!" Akhirnya Bella mengerti.
"Bukan itu saja. Mic juga jarang mampir ke rumahku setiap Anne berada di rumah. Kau tahu, mereka saling kucing-kucingan satu sama lain!" Clive mengedipkan sebelah matanya pada Bella penuh konspirasi, dalam hati menertawakan sikap kedua orang itu.
"Mereka canggung satu sama lain, kau tahu?" Clive dengan terus terang mengatakan semuanya. Bella yang tidak menyangka Clive akan seblak-blakan itu, hanya bisa terkekeh pelan.
Tampaknya Clive menganggap kecanggungan Mic dan Anne sebagai lelucon kecil yang menyenangkan. Clive juga tak terlalu keberatan dengan kisah masa lalu Mic dan Anne yang pernah bersama. Mungkin Clive tipe orang terbuka yang tak banyak mempermasalahkan hal-hal di masa lalu.
"Bisakah kau tidak membicarakan orang lain saat orang itu berada satu ruangan yang sama denganmu? Kau mungkin tuli, tapi aku tidak." Mic yang tak bisa menahan kekesalan, akhirnya bersuara.
"Hubunganmu dengan Anne memang aneh. Ayolah, Mic. Kau dan dia sama-sama dewasa. Bersikaplah selayaknya orang dewasa." Clive mencoba menasihati, entah untuk yang keberapa kalinya. Sudah tak terhitung jumlahnya dia mengatakan hal ini.
"Dan seperti apa sikap orang dewasa itu?" tanya Mic dengan nada sinis.
"Bertemu dengan normal, berbincang, bertegur sapa, seperti aku dan kau! Kau dan Anne memiliki masa lalu yang sudah berakhir! Apa gunanya tetap canggung satu sama lain? Kalian berdua seperti anak kecil!" Clive membuka kotak pai yang baru ia berikan pada Bella, mengambilnya sebagian, dan memakannya dengan cepat. Dia tidak malu sama sekali mengambil kembali apa yang baru saja ia berikan. Pai ini manis dan lezat.
"Ini enak. Cobalah, Bella. Tidak perlu repot-repot menawarkannya pada Mic." Clive membujuk Bella untuk merasakan pai tersebut.
"Ya. Ini enak. Anne cukup ahli dalam hal ini!" Pai yang Anne buat terasa lembut, manis, dan sesuai selera Bella.
"Kau mendapat wanita yang luar biasa, Clive! Aku bahkan tak memiliki sepersepuluh dari kemampuan Anne!" Bella melahap sisa pai di tangan.
Sungguh menyedihkan membandingkan kemampuan kita dengan orang lain yang memiliki kelebihan berkali-kali lipat dari kita. Melihat Anne dan Bella, seperti melihat kupu-kupu dan ulat. Antara mereka memiliki selisih banyak fase metamorfosis.
"Apa kau tak bisa masak?" Clive tampak heran. Sejak Bella terluka karena ulah Jason dan Clive menyelidiki kasus itu, hubungan Clive dan Bella tidak lagi sekaku sebelumnya.
"Hanya telur dan air." Bella terkekeh, sama sekali tak merasa malu mengakui kelemahannya.
"Mengerikan!" Clive sangat berterus terang dalam komentarnya.
Bella dan Clive mengobrol hal-hal kecil, menghidupkan suasana. Sementara Mic lebih banyak diam. Dia hanya sesekali menyela dan menanggapi hal-hal tertentu. Clive tidak terlalu canggung dengan sikap Mic dan tetap berbincang dengan Bella mengenai beberapa topik.
"Clive, mengenai masalah aku menyampaikan kecurigaanku pada Mic beberapa waktu lalu, aku benar-benar menyesal. Saat itu aku terlalu impulsif dan tidak berpikir panjang!" Bella mengingat kembali pertemuannya dengan Clive pertama kali. Dia datang ke rumah Clive, mengatakan beberapa kecurigaannya terkait Mic.
Clive pasti tahu Mic bukan orang yang akan bertindak tak masuk akal dan melukai orang begitu saja. Saat Clive mendengar tuduhan Bella, sebagai teman, Clive pasti sangat kesal saat itu.
"Kau akhirnya sadar jika Mic bukan orang yang tak masuk akal?" Clive menanggapi dengan ringan.
Karakter Mic kaku dan sering menjaga jarak. Kadang tak mudah untuk mendekatinya dan memahaminya dengan baik. Wajar jika orang yang baru mengenal akan menyimpan pikiran buruk tentang Mic. Lagi pula, ekspresi Mic sering suram dan memiliki kesan mudah menolak semua orang. Selain itu, penampilan Mic tidak bisa dikatakan baik. Penuh jejak luka dan matanya tertutup satu. Mudah sekali mengaitkan Mic sebagai penjahat dan pelaku hal-hal negatif.
"Ya. Aku membuat penilaian yang salah!" Bella mengakui tanpa ragu-ragu. Setelah bergaul dengan Mic, ia akhirnya mengerti Mic tidak sejahat yang ia duga. Mungkin karena Bella akhirnya mampu memahami beberapa hal, atau mungkin karena instingnya akhirnya terbuka dan mampu membuat penilaian yang benar.
"Mic orang yang masuk akal. Dia bukan orang suci, tapi dia bukan orang yang sepenuhnya kotor!" Clive menoleh ke arah Mic. "Bukan begitu, Mic? Kata-kataku benar, bukan?" tanyanya pada objek yang sedang mereka bicarakan.
"Bukankah sudah kukatakan jangan membicarakan orang yang duduk satu ruangan denganmu?" Mic melirik temannya dengan ketus.
"Kau masih saja pemarah. Mic, aku akan ke Texas beberapa hari lagi untuk keperluan pribadi. Apa kau akan ikut?"
"Tidak!" tawaran Clive langsung ditolak oleh Mic tanpa dipertimbangkan sama sekali.
"Baiklah. Ini sudah larut. Aku akan kembali dulu. Bella, ingat tawaranku! Kau bisa datang ke tempatku untuk bertemu dengan Anne! Dia pasti menyambutmu dengan baik!" Clive mengingatkan.
"Terimakasih, Mic. Aku pasti akan mengingat tawaranmu!" Bella tersenyum kecil, mengantarkan Clive ke teras tanpa kruk. Bella mulai bisa berjalan tanpa penyangga. Sejak itu, ia selalu berusaha melatih kakinya lebih sering, agar tak memiliki ketergantungan dengan kruk.
"Clive, kau benar-benar tidak marah aku pernah salah paham dengan Mic waktu itu?" Bella bertanya lirih agar tak didengar Mic, masih penasaran bagaimana Clive bisa bersikap baik padanya dengan mudah.
"Sudah kukatakan. Mudah sekali salah paham dengan Mic. Aku tidak menyalahkanmu! Aku tahu kau wanita yang baik, Bella. Lagi pula, aku juga bukan orang picik yang akan membencimu hanya karena kesalahpahaman satu kali." Clive memahami rasa bersalah yang Bella miliki.
"Lagi pula, Mic memiliki sejarah buruk dengan wanita kota! Sikap Mic padamu di awal pasti bukan sesuatu yang baik!" Clive memahami ini dengan baik.
Lelaki itu menatap langit yang terhampar luas, menarik napas panjang beberapa kali. Dalam hal wanita, bisa dikatakan Mic tak terlalu beruntung. Cinta pertamanya, Anne, tidak berhasil dimiliki Mic. Mantan istrinya, Sevana, bukan wanita yang baik. Dengan dua pengalaman ini, justru aneh jika Mic masih bisa bersikap baik pada wanita.
"Aku harap denganmu, Mic bisa mengubah mindsetnya terhadap wanita kota!" Clive menyuarakan harapannya yang terpendam.
Bella mengangguk kecil, menatap kepergian Clive yang semakin menjauh.
…
"Bagaimana kondisi Bella?" Anne memberikan cangkir teh pada Clive, membiarkan lelaki itu beristirahat di sofa ruang tengah dengan nyaman.
"Baik. Dia mulai berjalan tanpa kruk! Luka-luka Mic juga membaik. Mereka berdua tampaknya mulai rukun!" Senyum Clive merekah sempurna, puas oleh hubungan Bella dan Mic yang berteman dengan baik.
"Sikap Mic sudah lebih baik pada Bella?" Anne tak menyangka Mic akan dengan mudah menerima Bella dengan sikap yang baik. Anne tahu dengan baik bagaimana Mic membenci wanita kota.
"Ya. Mereka lebih seperti ... berteman!" Clive menjelaskan. "Ada apa? Tampaknya kau terkejut dengan informasi ini!"
"Yah sedikit terkejut. Kita tahu bagaimana pandangan Mic sebenarnya pada wanita kota!" Anne mengingatkan. "Tapi baguslah jika Mic bisa rukun dengan Bella. Bella orang yang baik. Tidak mudah baginya jika ia dibenci Mic tanpa alasan!" Anne mendesah panjang, duduk di sebelah Clive untuk bersandar di bahu lelaki itu.
"Hei, bagaimana jika kita mengundang Bella untuk makan malam?" tanya Anne tiba-tiba. Bella wanita yang mudah berteman. Seharusnya tidak masalah jika Anne mengundangnya.
"Terserah kau. Kupikir Bella pasti akan menerima itu dengan mudah!"
"Aku juga akan mengundang Eadric dan Daisy juga. Bagaimana menurutmu?"
Clive mengerutkan kening, tampak berpikir sebentar. "Apa ini baik?" tanya Clive hati-hati.
"Bagaimana tidak baik? Mereka adalah temanku. Mereka orang yang cukup menyenangkan!" Anne tampak tak terima.
"Baiklah. Lakukan saja apa yang menurutmu baik!" Clive akhirnya menyerah.
Anne adalah wanita lembut yang lugu dan baik hati. Terkadang karena ini, dia tidak terlalu bisa membedakan karakter seseorang. Di mata Clive, Daisy dan Eadric bukan tipe orang yang tulus. Tidak terlalu baik jika Anne tetap dekat dengan mereka.
Namun, jika Clive mengatakan kebenaran ini, Anne yang hatinya sangat sensitif akan menganggap Clive menuduh orang sembarangan. Clive tak tega untuk berdebat dengan kekasihnya. Daripada debat, lebih baik Clive mengalah. Mungkin suatu hari nanti Anne bisa menilai orang dengan benar.
"Sayang, terkadang orang tidak selamanya baik. Tidak selalu orang yang kautemui sebaik apa yang tampak di permukaan." Clive menjelaskan.
Dulu, saat Sevana masih menjadi istri Mic, Anne selalu menganggap Sevana wanita yang baik dan berkali-kali mendekatinya untuk berteman. Pada akhirnya, Sevana selalu menganggap Anne sebagai saingan cinta, menuduhnya secara kasar, memperlakukannya dengan buruk, bahkan bertengkar dengannya dan membuat Anne malu.
Meski begitu, Anne masih saja berusaha berhubungan dengan Sevana, berharap wanita itu bisa mengakhiri kesalahpahaman di antara mereka.
Clive benar-benar tak berdaya dengan kepolosan dan kebaikan Anne yang tanpa batas.
"Ya. Memang ada beberapa orang yang tindakannya tidak baik. Tapi jangan menuduh orang sembarangan. Terkadang kau ini cukup picik dan banyak mencurigai niat seseorang!" Anne menggeleng lemah, tak berdaya setiap kali Clive beranggapan buruk pada seseorang.
"Aku tahu kau menjadi sheriff. Biasanya orang sepertimu akan memiliki kewaspadaan tinggi pada orang lain, dan menaruh banyak kecurigaan pada hal-hal kecil. Tapi, Clive, jangan terlalu berlebihan. Kadang kau ini bisa bersikap sinis tanpa alasan jelas. Lihat wajahmu. Wajah seperti ini, jika sering digunakan untuk tersenyum dan tidak menatap curiga pada orang lain, pasti akan tampak lebih tampan!" Anne menyodok pipi Clive, kemudian mencubit pipinya dengan main-main.
"Aku bersikap sinis tanpa alasan jelas?" Clive tak terima. Dia menggosok rambut Anne yang tebal, membuatnya berantakan.
"Benar!"
"Tidak. Aku selalu bersikap rasional dan masuk akal!"
"Ya ya ya. Terserah kau akan mengatakan apa!" Anne memutar matanya, tahu dia tak akan pernah menang setiap kali berdebat dengan kekasihnya.
"Dan aku orang yang mencintaimu dengan sangat!" Clive mengecup dahi Anne penuh kasih sayang.
"Oh ya?" Tangan Anne menggoda Clive, menekan dadanya yang penuh otot.
"Ya. Apakah perlu bukti?" Clive memeluk Anne lebih erat, tidak memperhatikan teh yang seharusnya ia nikmati.
"Kau harus membuktikan seumur hidupmu untuk menegaskan bahwa kau akan selalu mencintaiku!" Anne berkata serius, binar matanya penuh kesungguhan.
"Tentu saja. Awal musim semi, mari kita menikah. Dengan begitu, aku bisa membuktikan pada dunia betapa aku mencintaimu! Bagaimana?"
"Clive, sejauh mana kau mencintaiku?" tanya Anne.
"Sejauh yang mampu kaupikirkan!"
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan. Apakah cintamu cukup besar untuk memaafkanku?"
"Tentu saja. Kita akan saling belajar bertahan dan memaafkan satu sama lain. Tak peduli siapa nanti yang akan membuat kesalahan, masing-masing dari kita akan selalu memaafkan!"
Dalam hidup, meskipun kita bersama dengan orang yang kita cintai, akan selalu ada masa di mana salah satu pihak membuat kesalahan. Maaf akan selalu menjadi hal yang patut diberikan. Bukankah manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan?
"Anne, cinta akan selalu memaafkan. Cinta akan selalu menerima. Cinta akan selalu menjadi tempat pulang!" Clive memberikan janji dengan semua kesungguhan yang ia punya.
"Aku tahu, Clive. Kau akan selalu menjadi orang terbaik yang aku cinta! Denganmu, aku selalu merasa aman!"
"Kalau begitu, menikahlah denganku!"
"Hei, pernikahan adalah hal yang besar! Mari kita melangkah perlahan-lahan, oke? Jangan terlalu tergesa-gesa!"
Mendengar jawaban Anne, Clive menatap wanita itu tanpa daya. Mereka telah menjalin hubungan bertahun-tahun. Kapan wanita itu mantap melangkah ke dalam perkawinan? Rasanya Clive sudah menunggu ini lama sekali.
"Jangan cemberut. Kau tampak jelek jika cemberut!" Anne menggoda Clive, mencium keningnya dan bangkit tiba-tiba untuk melarikan diri.
"Masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan di dapur! Kau bisa ke kamar dulu!" teriak Anne, terdengar sibuk melakukan sesuatu.
Clive menggeleng kecil dan menyesap teh yang disuguhkan oleh kekasihnya. Sial. Masih tanpa gula.
Karena Anne mulai tercerahkan melakukan gaya hidup sehat, dia selalu mengurangi kadar gula pada minuman. Clive merasa sakit hati dengan ini. Dia penyuka gula, tapi kopi dan tehnya mulai terasa hambar.
Clive mulai iri pada Bella. Setidaknya wanita itu mendapat pai dengan rasa manis yang lezat dari Anne. Tapi Clive sendiri? Lihat! Dia diperlakukan seperti penderita diabetes akut oleh kekasihnya sendiri. Sungguh sial.
…