Seminggu berlalu dengan cepat. Bella menghabiskan hari-hari di rumah Mic dengan monoton. Untuk mengisi kegiatan, ia berkunjung ke ranch dan belajar berkuda. Dua hari awal Bella bangun tidur dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama di selangkangannya. Untuk bergerak saja, Bella mengerang tak nyaman.
"Memang begitu pada awalnya. Lagi pula, kau terlalu percaya diri dan belajar berkuda untuk waktu yang lama dalam satu sesi latihanb!" Mic mengomentari Bella, melihat wanita itu berjalan tertatih-tatih menuju meja makan untuk sarapan.
Bibir Mic terangkat sedikit, samar-samar membentuk senyum kecil. Wanita itu terlalu keras kepala. Saat dia ingin sesuatu, usahanya terlalu tinggi dan tidak melihat kemampuan tubuhnya apakah mampu untuk menanggung konsekuensi atau tidak.
Mic jadi ingat saat remaja dulu pertama kali ia belajar berkuda. Usaha Mic lebih gila-gilaan. Besoknya ia tak bisa bangun dari tempat tidur. Grandma memarahinya hingga Mic tak mendapat jarah makan malam.
Yah. Bella dan Mic tak terlalu berbeda.
"Dalam dua hari ini, aku berhasil belajar cara menyeimbangkan diri di atas kuda. Bukankah ini bagus?" Bella melupakan rasa sakitnya untuk sejenak, duduk di depan meja makan, menatap penekuk telur yang dibuat Mic dengan penuh minat.
"Bagus! Tapi kendalikan kecepatan kudamu agar tidak jatuh! Kau juga harus melihat suasana hati kudamu! Bujuk sesekali agar kau dan kudamu memiliki chemistry!" Mic mengingatkan. Dia membiarkan Bella makan lebih dulu, sementara Mic menikmati kopinya yang harum.
"Apakah perlu membangun ikatan dengan kuda juga?" Bella menatap Mic dengan bodoh.
"Tentu saja. Bagaimanapun, kuda juga makhluk hidup. Apa kaupikir binatang tidak membutuhkan rangsangan emosional?" Mic mengangkat satu alisnya yang menawan.
Mic yang biasanya mengenakan pakaian berwarna gelap, pagi ini mengenakan kemeja hijau cerah dipadukan dengan celana kain. Aura Mic lebih kuat daripada biasanya.
"Anne pernah berkata kau pandai merawat anjing. Apakah itu benar?" tanya Bella, teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Anne saat mereka ada di rumah sakit.
"Hm." Mic menanggapi dengan gumaman.
"Kenapa kau tak memelihara? Anne punya banyak bayi anjing dengan beberapa ras yang berbeda!" Bella meraih air putih, menghabiskan satu gelas dalam beberapa teguk. "Jika kau mau, kau bisa meminta satu di antaranya!"
Mic tak menanggapi. Dia sibuk menghabiskan makanannya, melirik Bella sekilas.
Ada apa? Apakah kata-kata Bella salah? Ataukah Mic terlalu enggan meminta sesuatu dari Anne? Jika begitu, Bella benar-benar tak tahu lagi harus mendeskripsikan hubungan mereka bagaimana. Ini terlalu konyol. Apakah hanya karena mantan kekasih, hubungan mereka jadi memburuk? Orang dewasa seharusnya bisa menyikapi ini dengan benar.
"Apakah kau masih terlibat sesuatu dengan Anne yang berhubungan dengan masa lalu kalian sehingga kau dan Anne enggan bertemu satu sama lain? Mic, Clive benar. Kau dan Anne harus bersikap dewasa." Setidaknya, jangan seperti anak kecil yang menghindar satu sama lain, batin Bella tak mengerti.
"Tidak. Apa yang telah lalu, sudah berlalu. Aku bukan orang yang akan menyambung ikatan yang sudah kuurai! Prinsip hidupku, yang telah terjadi, biarkan usai!" Mic berkata tegas.
Hidup adalah serangkaian dari kisah demi kisah yang terhubung membentuk satu kesatuan. Bagi Mic, apa yang telah berlalu bukan lagi takdirnya untuk diulang. Tidak peduli apakah sesuatu itu masih melekat atau tidak di dalam hati.
"Jadi karena itulah Clive tidak pernah khawatir tentang Anne dan kau?" Untuk seorang teman dekat, sebaik apa pun hubungan mereka, bukankah seharusnya ada rasa terancam saat tunangannya berhubungan dengan sang mantan?
"Ya. Clive tahu aku orang yang pantang mengulang kisah lama." Mic membenarkan. Clive sangat paham bagaimana karakter Mic. Sekuat apa pun Anne ingin kembali—jika premisnya Anne memang ingin kembali—Mic tak akan pernah bersedia. Tapi sayangnya, Clive tahu baik Anne maupun Mic tak ada yang berniat mengulang kembali kisah masa lalu. Mereka telah menjalani hidup dengan takdir masing-masing.
Saat mereka sedang berbincang, telepon di ruang tengah berdering. Steve bangkit berdiri, melangkah ke ruangan sebelah untuk mengangkatnya.
"Bella, ada panggilan dari Revel, kakakmu!" Steve berteriak untuk memberi tahu Bella. Bella yang kebetulan berniat untuk mencuci alat makan, mengurungkan niatnya dan datang ke ruang tengah untuk menerima telepon.
"Aku belum mencuci alat makan!" kata Bella saat menerima gagang telepon yang diserahkan Mic.
"Biar aku yang mencuci!" Mic berjalan ke dapur, menggantikan pekerjaan mencuci Bella. Dalam keadaan normal, karena Bella tak bisa memasak, Mic yang akan memasak dan Bella yang akan mencuci alat makan. Ini kesepakatan tak terucap di antara mereka.
"Bella?" Suara Revel yang cemas terdengar dari gagang telepon.
"Ya, Revel? Bagaimana kabarmu?" Bella duduk di kursi kulit dengan bantal lembut, satu tangannya membenahi rambutnya yang berantakan.
"Baik. Aku sebenarnya telah mendengar masalahmu terkait dengan Ralph dan Rose!" Revel terdengar ragu-ragu.
Sebenarnya, Revel telah mengetahui masalah ini saat Ralph bersiap menggugurkan kandungan Rose. Dokter yang melakukan malpraktik adalah teman Revel, yang kebetulan saat itu minum alkohol bersama Revel dan membocorkan beberapa informasi terkait pasien rahasia dengan ciri-ciri seperti Ralph secara tak sengaja, yang akhirnya mengarah pada kecurigaan Revel. Kebetulan saat itu Steve sudah mencurigai tindak-tanduk Ralph—radar Steve terkait hal-hal yang mencurigakan selalu di atas rata-rata—sehingga akhirnya Steve dan Revel menyelidiki bersama dan mendapatkan fakta Ralph berkhianat dari Bella dan membuat Rose hamil untuk kemudian diaborsi.
Sebenarnya, Revel ingin membicarakan ini dengan Bella lebih awal. Namun, karena hubungan Revel dengan Bella tidak sedekat Steve, Revel memilih menunggu Bella untuk menghubunginya.
Nyatanya penantian Revel sia-sia. Dia sudah menunggu dua minggu lebih, tetapi Bella tak kunjung menghubunginya. Karena tak sabar, akhirnya Revel memutuskan untuk menghubungi Bella dan menanyakannya lebih dulu. Jika tetap menunggu Bella, bisa-bisa Bella tidak pernah melakukannya. Sebagai kakak, Revel tentu ingin memberi beberapa pertimbangan pada adiknya.
"Ya. Mic berkata dokter yang menangani Rose adalah temanmu!" Wajar jika Revel mengetahuinya.
"Jadi bagaimana sekarang, Bella? Sudahkah Ralph membicarakan hal ini denganmu?" Steve bilang ia akan menjadi mediator untuk kasus ini, tapi Revel tak terlalu yakin. Emosi Steve mudah meledak-ledak. Bagaimana orang seperti itu bisa menjadi mediator? Lebih mirip dia menjadi tukang jagal.
"Ya. Dia membawa Rose juga untuk menjelaskan beberapa hal padaku. Mereka bilang itu adalah kesalahan satu malam. Mereka berharap aku memaafkan kejadian itu dan menerima Ralph kembali!" Bella mulai tertekan membahas topik ini. Jika bisa, Bella ingin sesedikit mungkin mengingat masalah ini, tetapi tampaknya sulit. Semakin ia ingin melupakan, ada saja seseorang yang akan mengingatkannya lagi. Seperti saat ini contohnya.
"Bagaimana keputusanmu? Apakah kau sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Revel kemudian.
"Aku meminta waktu kepada mereka untuk memikirkan masalah ini. Aku butuh waktu, Rev! Aku pikir, aku perlu menenangkan diri, sebelum akhirnya mengevaluasi hubunganku dengan Ralph secara serius!"
Bella tak ingin mengambil keputusan yang salah Keputusan yang akan ia sesali di kemudian hari.
Bella selalu memiliki impian menjalani pernikahan seperti orang tuanya. Meskipun hubungan mereka tidak mudah di awal, tetapi komitmen mereka dalam pernikahan adalah komitmen sehidup semati. Komitmen di mana masing-masing pihak bersedia saling mendukung selamanya, dan tidak pernah membiarkan sedikit pun celah bagi pihak ketiga untuk masuk dan menghancurkan segalanya.
Karena itulah Bella memilih bersikap hati-hati dan ingin memikirkan masalah pengkhianatan Ralph dengan serius. Mungkin Ralph membela diri karena itu adalah kesalahan satu malam yang tak diharapkan. Tetapi bagi Bella, semua itu lebih dari yang dikatakan Ralph. Masalah kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibongkar pasang dengan mudah.
"Bella, aku tahu kau terluka oleh pengkhianatan Ralph. Tapi jika aku bisa menyarankan, cobalah miliki hati yang lapang dan maafkan dia! Hari ini Ralph berbicara padaku dan meminta agar aku menyampaikan beberapa hal padamu!" Ralph memberikan nasihat kepada adiknya.
"Dia mencintaimu, Bella. Dia sangat mencintaimu. Jangan biarkan satu kesalahan menghancurkan banyak hal yang telah kau dan Ralph bangun selama ini!" Nasihat Ralph terdengar tulus. Tapi entah kenapa, Bella yang mendengarnya merasa terpelintir hatinya.
…