Malam ini Mic dan Bella mengadakan pesta barbeque. Aroma daging sapi yang dibakar di atas griller menggoda selera, membuat Bella yang sedang menata wine dan menyiapkan saos berkali-kali melirik ke arah Mic yang sedang sibuk membakar.
Telah lama Bella tidak merasakan hal-hal seperti ini. Terakhir kali ia melakukan pesta barbeque adalah delapan bulan lalu saat Mom dan Dad merayakan anniversary pernikahan mereka. Saat itu pun Bella tidak ikut sampai akhir, mengingat ia harus langsung mengambil penerbangan malam untuk mengejar pemotretan di luar negeri.
Sekarang, berdiri santai di halaman belakang, menatap langit yang tanpa bintang, dengan aroma daging yang menggoda, rasanya Bella benar-benar menikmati hidup.
"Wine ini lumayan juga!" Bella menyesap cairan cerah dalam gelas kristal, hati-hati merasakan rasanya.
"Kau belum mencoba anggur yang diproduksi Richy. Anggurnya lebih nikmat dari wine yang baru saja kaucoba!" Mic melirik Bella, sudut mulutnya tanpa sadar terangkat miring membentuk senyum malas.
"Richy memproduksi anggur?" Bella terkejut.
"Ya. Tapi dia menjualnya secara terbatas. Dia memiliki penyulingan di bagian belakang ranch. Dia juga kolektor anggur yang hebat. Kau bisa menemukan segala jenis anggur, dari semua tempat, dan dari semua tahun dari 1920 hingga sekarang!"
Bella terkesiap. Dia benar-benar iri dengan kemampuan Richy yang mampu mengoleksi banyak anggur. "Keberuntungan Richy benar-benar kuat! Temanmu itu sungguh luar biasa!" Bella memuji dengan tulus.
"Aku akan mengajakmu untuk makan malam bersama dengan Richy kapan-kapan. Sekarang dia sibuk mengurus banyak hal. Dia sedang berniat mengembangkan peternakannya agar menjadi objek wisata yang lebih baik. Butuh pengembangan yang terstuktur dan renovasi di mana-mana. Juga butuh promosi di beberapa tempat agar target pasarnya berhasil digaet!" Mic menjelaskan dengan santai.
Memang untuk saat ini, ranch yang dikelola Richy masih tampak seperti ranch biasa, belum memiliki hal-hal uniknya sendiri. Untuk bisa mengembangkan lebih besar minat pasar pada ranch tersebut, butuh pengembangan di mana-mana.
"Dia pasti akan sibuk hingga beberapa tahun ke depan!" Bella terkeleh geli. Butuh perencanaan yang panjang untuk melakukan semua itu.
"Ya. Tapi jika hanya untuk makan malam, aku pasti bisa meminta waktunya sebentar di sela-sela itu. Jangan khawatir. Kau pasti bisa melihat koleksi anggurnya suatu hari nanti!" Mic berjanji dengan serius.
"Kenapa Richy baru berniat mengembangkan ranch sekarang? Kenapa tidak sebelumnya?" Bella tak mengerti. Bukankah seharusnya jika pengembangan lebih awal, lebih cepat pula hasilnya?
"Karena dia membutuhkan persetujuan seseorang! Dan orang itu baru setuju sekarang! Pengembangan ranch itu masih dalam tahap proses, Bella. Untuk saat ini, itu tak akan mempengaruhi tindakanmu bersembunyi dari si L di tempat ini." Mic menunjukkan bahwa tindakan Richy pasti tak akan mempengaruhi keamanannya.
Bella tak perlu khawatir itu. Dia percaya Mic pasti mengatakan yang sebenarnya.
"Cobalah!" Mic melambaikan tangan, memberi isyarat agar Bella mengambil beberapa daging yang selesai ia bakar.
Bella mendekat membawa piring kosong. Memindahkan daging yang matang dari griller, dan membubuhinya dengan saus yang telah disiapkan. Bella juga menyandingkan daging itu dengan kentang bakar yang terbungkus dengan alumunium foil.
"Enak?" tanya Mic setelah Bella mencoba sepotong daging yang masih panas. Bella meniup-niupnya sebentar sebelum makan.
"Ehm hem!" Bella mengangguk antusias, duduk di kursi kayu tak jauh dari Mic.
"Tadi saat kau mandi, ada panggilan dari Revel. Dia ingin mengatakan sesuatu padamu. Dia bilang dia akan menghubungimu lagi malam ini!" Mic menyampaikan apa yang Revel katakan sebelumnya.
Mendengar nama Revel dibahas, Bella hanya mengangguk, sinar matanya berubah sedikit redup. Mungkinkah Revel ingin membujuk Bella lagi untuk memaafkan Ralph? Bukankah ini sangat keterlaluan?
"Ada apa?" Melihat ketidaknyamanan Bella, Mic mengerutkan kening, tangannya sibuk membalik daging.
"Tidak apa-apa. Hanya saja sebelumnya Revel menghubungiku untuk membujukku menerima Ralph kembali. Tapi aku masih belum bisa memutuskan. Mungkin dia menghubungiku untuk membicarakan topik itu lagi!"
Kepribadian Revel sangat berbeda dengan Steve. Revel mudah menoleransi, mudah memaklumi, dan mudah berdamai pada banyak hal. Sementara Steve sebaliknya. Mondominasi, keras kepala, pendendam, bahkan dulu ia disebut sebagai biang keributan. Bella ingat dulu setiap minggu, Steve satu-satunya anak yang akan dimarahi oleh pendeta karena tingkahnya mengganggu jamaah yang lain saat beribadah. Steve dari kecil memang sudah menunjukkan pemberontakannya.
Bella sebenarnya tidak separah Steve. Namun, jiwa petualangnya lebih condong seperti Steve. Karakter dan sikapnya lebih mendekati Steve. Mungkin karena itulah Revel berpikir perlu membujuknya agar Bella mengambil keputusan sesuai yang Revel anggap baik.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah sesuatu yang Revel anggap baik pasti baik juga bagi Bella? Hidup Bella, Bella-lah yang menjalani. Bella yang mengambil keputusan, Bella pula yang bertanggung jawab. Tidak nyaman rasanya jika keputusan yang Bella ambil didikte oleh orang lain, meskipun itu kakaknya sendiri.
"Hidupmu adalah milikmu sendiri. Kau yang akan merasakan suka dukanya. Sudah selayaknya kau sendiri yang mengambil keputusan sesuai kata hatimu!" Tak disangka, akhirnya Mic memberikan nasihat.
Mic meletakkan daging yang telah matang di piring saji, kemudian meletakkan steak ke atas griller untuk ia proses. Gerakannya ringan, lincah, dan fleksibel. Melihat Mic seperti ini, dia tampaknya terbiasa melakukan segala sesuatu seorang diri.
"Apakah kau pernah membuat keputusan yang salah, Mic?" tanya Bella kemudian. Dia penasaran apakah orang seperti Mic pernah jatuh dalam penyesalan.
"Mungkin!" Mic menjawab dengan ambigu.
"Apa itu?" Bella tak membiarkan Mic melarikan diri dari topik ini.
"Aku menyesal tidak berpisah dengan Sevana lebih awal!" Mic akhirnya membuka suara.
Bella yang tak menyangka Mic akan seterbuka ini, untuk sesaat merasa bingung. Butuh beberapa saat bagi Bella untuk memahami ke mana topik pembicaraan Mic sebenarnya.
"Kau menyesal bersama Sevana?" tanya Bella. Karena daging Bella telah habis, dia berjalan mendekat ke arah Mic, mengambil daging lainnya lagi yang baru saja matang.
"Kebersamaan itu bukan sesuatu yang patut disesalkan. Ini seperti perjalanan kehidupan. Pertemuan seseorang dengan orang lainnya, kisah seseorang yang tercipta dengan orang lainnya, semuanya terjadi secara alami, membentuk kisah hidup seseorang menjadi lebih utuh!"
Mic memgambil botol wine yang masih utuh, membukanya, dan meminum isinya langsung dari botol.
"Aku tidak menyesali pertemuan. Aku juga tidak menyesali kebersamaan. Garis hidup memang mengarahkanku pada itu semua!" Mic menatap Bella yang memandangnya dengan hati-hati.
Meskipun Mic tidak membentuk akhir yang baik dengan Anne, dia tidak menyesali pertemuan dan kebersamaan mereka. Begitu juga dengan Sevana. Meskipun Mic tidak memiliki akhir yang bahagia, tak ada yang perlu ia sesali. Hidup memang sudah memiliki takdir begitu.
"Lantas apa yang kausesali?" Bella mendekat, meraih air putih biasa, dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan untuk menghilangkan dahaga.
"Menyesali keputusanku untuk tetap bersama Sevana, saat aku mulai tahu dia ternyata tidak seperti yang aku nilai selama ini!" Mic menatap langit malam yang kusam, seperti suasana hatinya saat ini.
Kesalahan selalu melahirkan penyesalan. Penyesalan selalu melahirkan kehati-hatian. Kehati-hatian selalu melahirkan rasa takut. Takut untuk memulai, takut untuk mencoba, takut untuk segalanya.
Setelah kepergian Sevana, terkadang Mic merasa seperti itu. Dia takut untuk merasakan cinta lagi, khawatir masa lalu akan kembali berulang. Ini tidak sehat, tapi hatinya yang penuh luka terlanjur menciptakan kewaspadaan tinggi.
"Beberapa waktu sebelum Sevana meninggal, aku sudah tahu dia telah mengkhianatiku!" Mic tersenyum miris, mengejek dirinya sendiri.
Pengkhianatan. Rupanya Sevana jatuh dalam dosa itu. Mata Bella suram, kepalanya menunduk ke tanah, kakinya bermain dengan rumput liar yang terasa lebih dingin dari biasanya.
"Dia meminta maaf padaku, dan aku memaafkannya! Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kautinggalkan begitu saja. Jadi saat ia melakukan satu kesalahan, aku memberinya pengampunan. Aku pikir, satu kesalahan akan membuat Sevana mengambil banyak pelajaran di masa depan. Jika dia bijak, dia tak akan jatuh ke dalam lubang yang sama lagi untuk kedua kalinya!"
Harapan normal dalam suatu perkawinan. Satu kesalahan dimaafkan.
"Tapi dia melakukannya untuk kedua kalinya!" Suara Mic terdengar lebih serak, tekanannya lebuh kuat dari sebelumnya. Seolah-olah mengingat hal ini telah membuat hatinya diliputi amarah dan kekecewaan.
"Dan kedua kalinya berubah menjadi tiga kalinya. Satu kesalahan wajar. Dua kesalahan patut dipertanyakan. Tiga kesalahan, itu di luar toleransiku. Jadi suatu malam, aku berbicara padanya dari hati ke hati. Aku pikir pernikahan kami tak bisa dipertahankan lagi!"
Mic adalah orang yang memiliki pandangan menikah satu kali untuk selamanya. Tapi terkadang takdir berbeda. Kita tak akan pernah tahu badai apa yang menanti seseorang dalam rumah tangga.
"Setiap orang memiliki karakter dan sikap yang berbeda. Aku pikir, satu kesalahan akan membuat Sevana mampu kembali ke jalur yang benar. Tapi nyatanya tidak. Bagi orang-orang seperti Sevana, semakin ditoleransi, semakin besar keberaniannya untuk melakukan kesalahan serupa. Ini justru seperti memicu anak kecil untuk berbuat nakal lagi karena tidak mendapatkan hukuman yang layak sebelumnya." Mic menjelaskan.
"Jadi setelah Sevana melakukan beberapa pengkhianatan, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskannya?" tanya Bella kemudian. Dia tahu dengan kepribadian Mic, dikhianati berulang kali telah menghancurkan kepercayaannya yang tersisa. Pernikahan yang dilakukan tanpa kepercayaan, apa gunanya itu? Tak ada bedanya dengan hidup sendiri-sendiri.
"Ya. Tapi saat itu dia hamil. Hamil anakku!" Senyum Mic semakin sinis, mengejek diri sendiri.
Saat Mic tak bisa lagi mempertahankan Sevana, bayi itu justru mengikat kembali Mic. Memenjarakan Mic dalam pernikahan yang tak lagi ia inginkan.
"Aku tidak bisa berpisah dengan Sevana dalam keadaan seperti itu! Setelah pembicaraan yang cukup lama, aku memberinya kesempatan yang terakhir. Demi anak kita. Aku memberinya waktu dua tahun untuk berubah. Jika dia bisa membenahi diri, aku akan bertahan dengannya demi anak itu. Jika tidak, yah … aku pasti akan mencari cara untuk tetap mendukung anak itu tanpa Sevana. Aku tumbuh jauh dari orang tua. Sebenarnya aku ingin anakku tidak sepertiku. Setidaknya, anakku harus memiliki dua orang tua lengkap!"
Mic tumbuh tanpa orang tua. Dia tahu bagaimana sulitnya berjalan sendiri, merangkak selangkah demi selangkah tanpa bimbingan ibu atau pun ayah. Membayangkan anaknya akan seperti itu, dia tidak sanggup. Lagi-lagi, Mic menoleransi Sevana demi anak mereka. Toleransi demi toleransi telah Mic berikan. Hingga akhirnya, Mic sendiri telah mati rasa memikirkannya.
"Di kehamilannya yang ketiga bulan, Sevana mengalami pendarahan. Kau tahu apa yang dikatakan dokter? Sevana terlalu banyak melakukan hubungan intim sehingga kandungannya terganggu! Jika bayi itu ingin selamat, aku tak boleh menyentuhnya untuk sementara waktu. Tapi ini seperti pukulan lain padaku!"
"Karena kau sebenarnya tak pernah menyentuh Sevana lagi setelah tahu ia hamil?" tebak Bella, ikut merasakan kekecewaan dan sakit hati yang Mic derita.
"Ya. Aku tak menyentuh dia." Itu artinya, ada orang lain yang menyentuh istri Mic di balik punggungnya. "Bukankah ini seperti lelucon untukku? Aku memberinya maaf berulang kali, menerimanya lagi dan lagi, menoleransinya, tapi akhirnya … dia tetap seperti itu! Di situlah aku menyesal kenapa aku tidak melepaskan Sevana lebih awal.
"Pertemuanku dengan Sevana bukan suatu kesalahan. Siapa yang bisa menolak takdir. Kebersamaanku dengan Sevana juga bukan kesalahan. Siapa yang bisa mengendalikan perasaan. Tapi kebodohanku tetap bersama Sevana adalah suatu kesalahan besar. Aku mampu berpisah, tapi tidak melakukannya. Aku mampu menghentikan pernikahan, tapi tetap mempertahankan. Ini sesuatu yang ada dalam kendaliku. Seharusnya aku bisa menentukannya. Tapi aku mengambil keputusan yang salah!"
Mic membalik daging yang gosong, mengerutkan kening dengan tak nyaman, dan memisahkannya ke piring khusus agar tak perlu dimakan.
"Seseorang tidak perlu membayar pertemuan. Tapi seseorang harus membayar saat mempertahankan orang yang salah!" Mic seolah-olah memberikan nasihat untuk Bella. Tapi pada hakikatnya, dia memberikan nasihat untuk dirinya sendiri. Andai waktu bisa diputar, mungkin keputusan Mic bisa diubah.
Sayangnya, tak ada obat penyesalan di dunia ini.
"Apakah kau tetap mempertahankan Sevana setelah semua itu?" Bella bertanya dengan bodoh. Mic tak akan seidiot itu, bukan?
"Aku tidak perlu mengambil keputusan sama sekali. Karena beberapa hari setelah itu, setelah kami berdebat sangat keras, dia meninggal di kamar. Terbunuh dengan beberapa tusukan!
"Dua hari sebelumnya, aku dan Sevana berdebat hebat. Ada banyak saksi yang melihat kami. Di kamar Sevana, pisau yang digunakan adalah pisau milikku, meskipun tak ada jejak sidik jari di atasnya. Tapi itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku jatuh dalam tuduhan. Untuk membunuh seseorang, mudah bagi pelaku untuk menghapus jejak sidik jari, termasuk jika aku sendiri pelakunya.
"Lagi pula, dengan posisiku yang dikhianati berulang kali, dan itu bukan lagi rahasia di kota kecil ini. Setelah pertengkaran hebat, siapa kira-kira tersangka yang paling masuk akal dengan motif kuat untuk membunuh Sevana?"
Bella mengangguk memahami kerumitan masalah ini, tahu segalanya tidak mudah diurai. "Ya. Kau orang yang paling besar memiliki kemungkinan membunuh Sevana!" Bella mengakui.
"Itulah intinya. Kemudian, ada seorang lelaki bernama Jed Franklin yang menyerangku tiba-tiba. Dia salah satu lelaki yang pernah berselingkuh dengan Sevana."
"Dia menyerangmu untuk membalas dendam atas nama Sevana? Dia pasti menganggap kau adalah pembunuh sebenarnya!"
Mic mengangguk.
"Kaupikir kenapa wajahku hancur dan mataku cacat?" Mic bertanya sarkastik.
"Oh Ya Tuhan. Wajahmu dihancurkan oleh orang itu?" Bella tercengang.
"Ya. Segalanya memiliki sebab akibat!" Mic menusuk daging beraroma rempah-rempah, memasukkannya ke dalam mulut dengan gerakan anggun.
"Mic, jika kau tidak membunuh Sevana, jika kau ada di rumah, seharusnya kau mendengar keributan saat semua itu terjadi, bukan? Tidakkah kau memiliki suatu petunjuk?"
"Aku tertidur."
"Hah?" Tertidur? Apakah kejadian pembunuhan bisa dilakukan dengan sangat bersih sehingga bahkan Mic tidak terbangun sama sekali? Bella tak tahu lagi harus berpikir apa.
"Aku tertidur. Atau mungkin, aku sengaja dibuat tidur!" Mata Mic menyipit, mengambil kesimpulan secara hati-hati.
"Kau entah bagaimana mengonsumsi obat tidur?" tebak Bella.
"Itu tebakanku. Aku diperiksa oleh dokter setelah itu, tapi tidak ada yang salah dengan tubuhku." Pemeriksaan menunjukkan Mic tidak terpengaruh oleh alkohol atau obat-obat tertentu.
Tapi, dengan kemampuan dan kewaspadaan Mic, dia tahu seharusnya dia tidak tertidur senyenyak itu saat bahaya muncul di rumahnya.
Jadi ada sesuatu di sini yang masih mengganjal.
"Aku sebenarnya menemukan petunjuk lain. Tapi mungkin ini … tidak berguna!" Jadi petunjuk itu dibuang oleh Mic, sebelum yang berwenang mengetahuinya.
"Apa?"
"Sobekan pita wanita. Pita yang seharusnya bukan milik Sevana!"
…