"Bella, Mom dan Dad sudah mengetahui tentang perselingkuhan Ralph! Tadi malam benar-benar terjadi perang dunia ketiga!" Steve memberi kabar pada adiknnya, suaranya dipenuhi semangat. Orang ini. Benar-benar suka jika melihat keributan terjadi.
"Tunggu tunggu. Bagaimana bisa seperti itu?" Bella tak habis pikir. Bukankah dia sudah mengatakan pada Steve agar hal ini dijaga lebih dulu? Dad adalah orang yang sangat pemarah. Memberi tahu masalah ini hanya akan menciptakan masalah yang lebih besar lagi.
"Kami makan malam keluarga di rumah Mom. Karena mereka masih tidak tahu masalah tentang Ralph, jadi Mom berinisiatif untuk mengundang Ralph ikut serta."
"Dan?"
"Ada juga Revel. Si k*****t itu benar-benar i***t tak tertolong lagi. Revel menyingkir dengan Ralph setelah makan malam, membahas masalah perselingkuhan itu dan berjanji pada Ralph untuk membujukmu memaafkannya. Dan drama pun terjadi. Mom tidak sengaja mendengarnya saat ia berniat mengundang mereka untuk menikmati makanan penutup di ruang dalam setelah makan. Kau bisa membayangkan kelanjutan ceritanya dari sini." Steve menjelaskan, nada suaranya berapi-api.
Bella memejamkan mata, membuat tebakan dengan akurat. Jika Mom tahu, tentu dia akan marah dan histeris. Dari sini, Dad pasti akan terlibat dan akhirnya mengetahui semua permasalahan. Setelah Dad tahu, nasib Ralph akan berubah lebih buruk. Laki-laki itu pasti akan dijadikan objek kemarahan Dad.
"Apakah Ralph masuk ke rumah sakit?" tanya Bella.
"Tentu. Kutebak dia pasti mengalami retak tulang! Di usia tua, Dad benar-benar mampu menghajar orang dengan baik! Mau tak mau aku kagum dengannya! Beruntungnya Mom memiliki suami seperti itu!"
Bella menurunkan bahunya, tak berdaya oleh komentar Steve. Kekerasan bukan sesuatu yang dianjurkan, apa pun alasannya. Tapi tampaknya Steve memiliki pemikiran yang berbeda. Kadang Bella meragukan IQ kakaknya.
"Steve, moralmu perlu dibenahi!" Bella mengingatkan.
"Ini bukan tentang moral. Ini tentang kepantasan! Dengan dosa Ralph, sudah baik dia hanya dihajar seperti itu! Yang masih membuatku marah adalah Revel berani berjanji pada Ralph untuk membujukmu memaafkannya! Di mana otaknya?"
Steve masih tak terima dengan sikap yang Revel ambil. "Jadi saat Dad menghajar Ralph, aku menghajar Revel!"
Mendengar ini, Bella ternganga tak percaya, tak tahu lagi harus berkomentar apa.
Kenapa situasinya jadi seperti ini? Banyak kekacauan di luar dugaan.
Bella menekan pelipisnya berulang kali, menenangkan suasana hatinya yang berfluktuasi. Terkadang emosi Steve dan Dad tak bisa ditebak saat mereka marah. Menakutkan.
Dad yang temperamental. Tak ragu menggulingkan seseorang yang dianggapnya mengganggu. Steve yang sama buruknya dalam bertindak. Mom yang terlalu menyayangi Bella dan menjadikan Bella seperti permata di telapak tangan. Satu lagi. Revel yang selalu membujuknya untuk memiliki kebajikan seperti biksuni, memberi maaf pada setiap orang dengan hati suci.
Empat orang ini membuat kepala Bella pusing. Terlalu rumit. Terlalu kompleks.
"Dad dan Mom sekarang dalam perjalanan ke Outhsphilled. Sebentar lagi mereka mungkin tiba di tempat Mic. Tolong sambut mereka dengan baik. Dan tentang rumor Mic yang pernah dianggap sebagai pembunuh Sevana, kau tahu apa yang harus kaulakukan, bukan, Bella?"
"Apa? Menghalangi Mom dan Dad agar tak mendengar rumor itu?"
"Bodoh! Meyakinkan mereka jika rumor itu tak benar! Oh dan satu lagi! Tenangkan emosi Mom. Dia tampak lebih terguncang daripada kau saat mendengar tentang pengkhianatan Ralph!"
Bella meringis, tak menyangka beban berat ini akan jatuh ke pundaknya. Dia yang dikhianati, tapi dia yang dituntut untuk menenangkan emosi semua orang. Nasib apa yang Tuhan berikan pada Bella?
Karena pembicaraan Mic semakin lama semakin membuat Bella pusing memikirkannya, akhirnya Bella memutuskan untuk menyudahi panggilan ini. Bella menatap langit-langit ruangan, mengatur napas seperti yang diajarkan instruktur yoga padanya, dan mencoba menenangkan suasana hati.
Mic yang bersiap pergi ke pondok lain untuk bekerja, menatap Bella dengan pandangan bertanya. Tadi wanita itu tampak baik-baik saja. Kenapa sekarang tampak ada yang salah?
"Mic!" Menyadari kehadiran Mic, Bella mencoba menghentikan lelaki itu sebelum pergi bekerja. "Orang tuaku akan datang ke sini sebentar lagi!" Bella memberitahu.
"Aku sudah tahu!" Mic menjawab kalem, tak ada keterkejutan sama sekali dalam nada suaranya.
"Kau … tahu?"
"Steve sudah memberitahuku!"
"Kapan?"
"Dua jam sebelumnya?"
"Tapi kenapa Steve baru memberitahuku sekarang?" Bella tak terima.
Mic menatap Bella cukup lama, seolah-olah ingin mengatakan betapa bodohnya Bella.
"Apa? Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Mic menggeleng kecil, memilih tak menjawab pertanyaan Bella. Dia berjalan ke belakang, mengambil beberapa peralatan tukang dari gudang, dan langsung menuju tempat Mic bekerja. Hari ini Mic mendapat pesanan satu set meja kursi dari toko meubel setempat.
Bella mengetukkan ujung kaki ke lantai, mulai memahami beberapa hal. Pantas semalam Revel ditunggu lama tidak menghubungi Bella. Ternyata dia terkapar di rumah sakit karena dihajar Steve. Sungguh memalukan. Kasihan Morrisa yang harus mengurus suaminya seperti itu. Kasihan juga Lyana yang harus menenangkan emosi Steve yang bar-bar.
Dan semua itu, biang keroknya adalah Ralph. Ingin rasanya Bella menendang p****t orang itu, hingga ke kutub utara.
…
Antonia menatap lokasi tempat pembunuhan si L terbaru. Tadi malam, Flora Finch, salah satu model berkulit hitam yang baru naik daun menembus pasar internasional di bawah naungan perusahaan Antonia, ditemukan meninggal dengan luka tusuk dan goresan di mana-mana. Kematian Flora bukan karena luka tusuk, tapi lebih karena kehabisan darah.
Cara kematian ini cara yang lebih menyakitkan karena korban hidup tetapi tetap merasakan sakit yang lama. Jauh dari kematian yang mudah dan langsung.
"Semua korban sejauh ini adalah model-model di bawah naungan perusahaanmu! Apakah kau memiliki komentar?" Garreth Harald, kepala polisi yang bertugas menyelidiki kasus ini, melirik Antonia yang berdiri merenung, mengamati tempat kejadian perkara.
Karena koneksi dan kekuatannya, Antonia dapat melihat langsung tempat pembunuhan ini. Beberapa oknum yang memiliki kewenangan mengijinkan Antonia ikut serta, berharap mungkin Antonia menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai petunjuk.
Bagaimanapun juga, model-model Antonia-lah yang selalu dijadikan target. Bukan hal yang mustahil jika pelaku memiliki semacam dendam pada Antonia.
"Apakah kau memiliki tebakan orang yang pernah kauprovokasi sebelumnya? Seseorang yang mampu membuat semua kekacauan ini?" Garreth duduk di batu buatan tinggi tak jauh dari Antonia, mengamati lingkungan sekitar yang sunyi. Hanya angin yang sesekali menabrak dahan dedaunan, menciptakan suara-suara alam.
Tempat pembunuhan kali ini berada di lokasi villa pribadi milik Jake Hammond, salah seorang pengusaha kawakan yang berkecimpung dalam bisnis perbankan. Flora menjalin hubungan dengan pengusaha itu dan diijinkan menggunakan sebagian besar aset miliknya.
"Flora adalah simpanan Jake Hammond! Mungkin yang membunuhnya adalah orang suruhan istri sahnya!" Antonia mencoba membuat dugaan.
Flora menjadi simpanan di bawah tangan, alias wanita gelap yang menjalin hubungan terlarang dengan Jake. Jika dia terbunuh, salah satu orang yang memiliki motif besar untuk itu adalah istri sah Jake.
"Kami sudah menahan istri Jake, dan dia telah membuat pengakuan tak bersalah atas pembunuhan ini. Dia bahkan belum tahu jika suaminya memiliki simpanan!" Garreth menggeleng lemah, tak tahu apakah Jake yang terlalu pintar menyimpan rahasia, atau istri Jake yang terlalu polos. Tapi dari kejadian ini Garreth yakin rumah tangga Jake pasti akan terguncang. Istri Jake adalah adik dari seorang anggota senat. Mempermainkan hati wanita berlatar belakang besar seperti itu pasti membawa banyak masalah.
"Lagi pula, kaulihat sendiri ada noda darah membentuk inisial si L. Bisakah itu dipalsukan? Orang yang membunuhnya tidak menargetkan Jake!" Garreth menambahkan.
"Tapi menargetkanku?" tanya Antonia.
"Kemungkinan besar. Ayo kita berbincang di kantorku! Cobalah buat tebakan kasar siapa kira-kira yang menjadi musuhmu dan ingin menghancurkan bisnismu melalui model-modelmu yang dibantai satu per satu!" Garreth menepuk lengan Antonia, yang tampak linglung karena memikirkan sesuatu.
"Musuhku banyak!" Antonia menjawab lirih, sedikit frustasi.
"Apa?" Garreth masih tak mengerti.
"Jika aku harus membuat daftar orang yang menjadi musuhku, mungkin butuh satu lembar kertas bolak-balik berukuran A4!"
"Sial! Hidup seperti apa yang kaulakukan sehingga berhasil menyinggung banyak orang?"
"Di antara mereka, aku bisa jadi lupa nama musuhku sendiri!" Antonia berkata getir.
Garreth menatap Antonia, tak menyangka akan datang padanya waktu di mana ia merasa ingin memukul otak seseorang dengan sangat kuat.
"Apa kau perlu menyelidiki orang yang kemungkinan bermusuhan denganku? Mungkin kau akan menyelidiki setengah dari orang-orang berpengaruh di negara ini!" Antonia mengingatkan.
Garreth menatap Antonia dengan rasa sesal yang mendalam. Bisakah ia mengundurkan diri dari kasus ini? Lebih baik pulang ke rumah dan mengambil pensiun dini.
…