Antonio duduk dengan kaki terlipat di kursi kantor Gareth, tangannya yang mengenakan gelang emas menopang dagunya dengan malas. Kali ini ia mengenakan kemeja bermotif bunga sakura, penuh warna-warna cerah. Sementara celana yang ia kenakan berwarna merah merona yang membuat Garreth merasa malu sebagai seorang laki-laki. Kalung Antonio yang berbentuk rantai bermaterial emas, mungkin beratnya mencapai satu pond. Garreth penasaran mungkinkah suatu hari nanti Antonia akan mati karena tercekik oleh kalungnya sendiri. Jika benar seperti itu, bukankah itu kematian yang memalukan?
Antonia berdaham, kemudian berkata dengan bangga, "Aku orang kaya. Ayah tiriku kaya. Dia memiliki perusahaan tambang minyak yang akan ia wariskan padaku! Ibuku juga kaya. Dia yang dulu mengembangkan Diamond Entertainment sebelum aku. Latar belakang keluargaku kaya. Semua aset-asetku jelas menunjukkan seberapa besar kekayaanku. Dengan fakta itu saja, banyak orang yang akan iri dan menargetkanku! Siapa yang bisa menjamin seseorang tidak akan membantai model-modelku karena aku kaya? Ingat? Aku kaya."
Garreth mengusap telinganya berulang kali, dalam hati mengutuk Antonia yang terlalu menyombongkan diri. Entah berapa kali laki-laki itu menggunakan kata "kaya" berulang-ulang.
Antonia kaya. Ibunya kaya. Ayah tirinya kaya. Keluarganya kaya. Sialan. Siapa yang peduli!
Memangnya, berapa besar korelasi kaya itu dengan kasus yang sedang Garreth hadapi saat ini terkait si L?
"Kenapa kau diam? Kau tak yakin dengan kata-kataku? Kau bisa memeriksa sumber kekayaan yang aku daftarkan untuk mengonfirmasi fakta yang ada. Aku kaya dan—"
"Ya. Aku percaya." Tak ingin mendengar kata "kaya" lagi yang lama-lama terdengar memuakkan, Garreth segera menghentikan kata-kata Antonia.
"Tapi orang yang menargetkanmu bukan hanya melihat kekayaanmu. Jika hanya karena kau kaya, kenapa si L baru bertindak sekarang untuk membantai model-modelmu? Kenapa tidak dari dulu?" Garreth mengutuk betapa rendahnya IQ orang kaya di depannya.
"Itu seharusnya kau tanyakan pada si L ini. Aku bukan dia. Bagaimana aku bisa tahu alasannya?"
Jalan buntu. Mendengar jawaban Antonia yang sembarangan, Garreth hanya bisa melapangkan hatinya agar memiliki kesabaran seluas Samudera Pasifik.
"Mari kita fokuskan pada apa yang aku katakan sebelumnya!" Garreth mengalihkan topik. "Siapa orang yang pernah kau singgung, yang kira-kira akan bertindak melawanmu, terlepas dari kekayaan yang kaumiliki!"
Mendengar ini, Antonia terdiam cukup lama. Dia kemudian meminta kertas, bolpoin, dan menulis beberapa nama.
Satu nama, menjadi dua, menjadi tiga, menjadi sepuluh, menjadi dua puluh, dan masih tak berhenti.
Setelah sampai di nomor empat puluh dua, Antonia berhenti sejenak, mengambil napas, dan melanjutkan lagi menulis banyak nama. Saat akhirnya ia berhenti, Antonia berhasil menulis enam puluh satu nama. Masing-masing dari nama ini memiliki latar belakang yang tidak main-main.
Garreth yang melihatnya benar-benar ingin pingsan. Saat Antonia berkata jika Garreth harus menyelidiki orang-orang yang memusuhi Antonia mungkin setengah dari orang-orang berpengaruh di negara ini, Garreth masih tak terlalu percaya. Tapi kini setelah ia melihat daftar nama, Garreth tahu betapa besar masalah ini sesungguhnya.
Bahkan jika Garreth diberi wewenang lebih, ia masih tak mampu menyelidiki nama ini satu per satu.
"Apa kau ingin membunuh karirku?" Garreth ingin menangis tanpa air mata. "Bagaimana aku bisa menyelidiki semua ini? Jika aku menyinggung orang yang salah, mungkin aku akan jatuh dalam masalah."
Melihat wajah Antonia yang ikut prihatin, akhirnya Garreth mengusulkan sebuah saran. "Ringkas itu menjadi sepuluh nama!" pinta Garreth pada Antonia.
"Kalau begitu, ambil saja nomor satu hingga sepuluh. Aku mengurutkannya berdasarkan kemungkinan terbesar hingga terkecil!" Antonia melingkari nama yang berada di sepuluh besar.
"Baiklah. Aku akan mencoba melakukan sesuatu!" Garreth mengangguk, menjadikan nama-nama itu sebagai objek penyelidikannya. Namun beberapa saat kemudian, Garreth berhenti di nama paling atas.
"Kamal Makruf. Ini … bukankah ini pamanmu sendiri? Kenapa kau menasukkannya di daftar nama paling atas?" Garreth tak mengerti.
"Dia pernah berusaha membunuh ayah tiriku dan aku dua bulan lalu. Jika kami meninggal dan mendapat masalah, dia orang pertama yang akan diuntungkan karena menjadi penerima waris pertama!"
Mendengar ini, Garreth hanya mendesah panjang.
"Dan Shiena Jones. Bukankah ini saudari kembar ibumu?"
"Ah itu dia. Shiena pernah merayu ayah tiriku agar naik ke ranjangnya, tapi ditolak. Dia orang kedua setelah Kamal yang akan bahagia jika aku mendapat masalah!"
"Dan nama ketiga ini, memiliki nama keluarga yang sama denganmu!"
"Oh tentu saja dia sepupu dekatku! Dia selalu mengincar kejatuhanku. Dia orang ketiga yang akan menerima manfaat besar jika aku mati, atau aku dalam masalah!"
Setelah itu, ada nama-nama lain yang semuanya ternyata masih terkait kekerabatan. Entah melalui ibu Antonia, melalui ayah tirinya, atau melalui ayah biologisnya.
Garreth meletakkan daftar itu di meja, menatap Antonia dengan pandangan kasihan. Hidup orang kaya ternyata mengerikan. Hampir semua kerabatnya mengharapkan kematian dan kejatuhan satu sama lain. Lantas apa manfaatnya Antonia masih memakai perhiasan emas seperti itu jika ia ditargetkan banyak orang? Di mana otak lelaki itu!
…
Bella menyambut kedua orang tuanya di ruang tamu sederhana milik Mic, menyuguhkan teh dan beberapa kudapan—hasil dari membeli, tentunya—dan menemani mereka seperti tuan rumah yang baik.
"Sayang, aku tahu apa yang terjadi padamu terkait Ralph! Kami baru mengetahuinya tadi malam. Jujur, ini benar-benar mengguncang kami!" Celine mengusap matanya yang memerah.
Celine adalah seorang wanita yang berusia pertengahan lima puluh, tetapi wajahnya masih terjaga dengan baik. Hanya ada sedikit kerutan di titik-titik tertentu, yang mudah disembunyikan dengan make up sederhana. Tubuhnya dalam kondisi yang baik, hasil dari olahraga rutin.
Sementara Kendall, sang ayah, adalah sosok lelaki berusia enam puluhan dengan kesan kedewasaan dan pengetahuan yang mendalam. Matanya bersinar tajam, menunjukkan ia tipe pengamat yang baik dan penuh waspada. Dominasinya kuat. Ada jejak keangkuhan kuat di seluruh gerak tubuhnya. Melihat Kendall, seperti melihat Steve. Karakter itu diturunkan pada putra keduanya.
"Mom, aku sudah menerima hal ini lebih baik daripada sebelumnya!" Bella menepuk lengan ibunya dengan lembut, memahami dengan baik betapa khawatirnya Mom pada pengkhianatan Ralph.
Kejadian ini sudah berlalu hampir tiga minggu lamanya. Mental Bella sudah lebih kuat dari sebelumnya dalam menerima hal-hal buruk ini. Meskipun ada rasa sakit, tapi sakitnya tak lagi separah tiga minggu lalu.
"Bagaimana kau bisa menyembunyikan hal ini dariku? Kau telah menanggung ini seorang diri. Sebagai ibu, aku merasa tak berharga!" Tubuh Celine terguncang dengan isak tangis, merasa sakit atas luka batin yang dialami putrinya.
Bagaimanapun juga, Bella adalah darah daging yang Celline miliki. Bagaimana bisa seorang ibu tidak merasakan sakit yang sama dengan yang dialami putrinya?
"Mom, sudahlah! Ralph dan Rose juga sudah datang ke sini untuk meminta maaf!" Tak ingin membuat Mom semakin sedih, Bella mencoba menghibur ibunya yang masih terisak sedih.
"Apa dia pikir maaf bisa semudah itu? Dia mengkhianatimu dan menghamili orang lain. Sekarang hanya dengan maaf segalanya akan baik-baik saja? Mimpi!" Kendall berkata penuh kebencian, sorot matanya menolak untuk berdamai dengan mudah terkait masalah Ralph.
Meskipun Bella dalam hal ini sangat setuju dengan Dad, tapi ia tak ingin membuat kedua orang tuanya semakin khawatir dan ikut bersedih berlarut-larut.
"Aku meminta waktu untuk memikirkan segalanya dengan baik. Aku belum memutuskan apa yang akan aku lakukan terkait Ralph!" Bella menjelaskan langkah yang sekarang ia ambil.
Untuk mengambil keputusan yang bijak, seseorang perlu berpikir dalam ketenangan pikiran, tanpa dipengaruhi variabel-variabel lain yang tak terkait. Inilah yang coba Bella lakukan saat ini.
"Ketidaksetiaan kadang bisa menjadi karakter, Bella. Sekali dia melakukan, siapa yang menjamin tak akan melakukan kedua, ketiga, dan keempat kalinya?" tanya Kendall, ingin putrinya berpikir panjang lagi, agar tidak mengambil keputusan yang sembarangan.
"Memang tidak menutup kemungkinan seseorang yang melakukan pengkhianatan bisa kembali setia. Tapi juga selalu ada resiko kembali terulang. Aku mencoba tak ikut campur masalah ini. Tapi cobalah pahami resiko yang akan kauambil jika kau memilih memaafkan Ralph!"
Tidak ikut campur? Apakah setelah membuat Ralph babak belur masih bisa dikategorikan tidak ikut campur? Bella sendiri tak memahami permainan kata Dad yang terlalu ahli dalam bermain taktik.
"Dad, kudengar kau memukuli Ralph!" Bella meringis, teringat dengan apa yang disampaikan Steve padanya.
"Huh. Dia pantas mendapatkan itu!" Dad melirik ke luar jendela, tampaknya sedikit malu karena memiliki temperamen yang mudah meledak.
"Kali ini, Mom mendukungnya! Bisa-bisanya dia memohon Revel untuk mendapatkan maaf darimu! Bah! Dia harus melalui aku dulu jika masih ingin mengambil putriku sebagai istri!" Celine mengepalkan kedua tangan, menunjukkan tekad yang kuat.
"Dia juga harus melalui restuku! Dan Revel, anak ini …." Dad tampak sedikit kecewa. "Dia benar-benar mendukung Ralph. Aku bingung di mana dia meletakkan otaknya! Beruntung aku masih memiliki Steve yang berpikiran normal! Semakin lama, Revel semakin mengecewakan!"
"Jangan terlalu menyalahkan Revel. Revel beranggapan Ralph pantas dimaafkan karena ia pikir Ralph seperti dirinya." Celline masih berpikir baik tentang putranya.
"Maksudnya bisa berubah lebih baik setelah dimaafkan? Bah! Tetap saja otak Revel perlu dipertanyakan!" Kendall tetap tak setuju.
"Baiklah, jangan berdebat! Yang terpenting, aku baik-baik saja! Lihat! Aku sehat dan aku tidak mengalami hal-hal buruk. Kalian jangan terlalu khawatir!" Bella berdiri, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
Dukungan orang terdekat adalah dukungan yang paling penting. Melihat Mom dan Dad rela datang jauh-jauh ke sini hanya untuk memastikan keadaan Bella secara langsung, membuat hati Bella diliputi kehangatan. Tindakan orang tua Bella menunjukkan bahwa dalam keadaan apa pun, Bella selalu memiliki pendukung.
Celine yang sudah berhasil mengendalikan emosi, memeluk Bella dalam rengkuhan hangat, mengecup seluruh wajah Bella seolah-olah Bella adalah anak kecil yang butuh dimanja.
"Kau selalu menjadi putriku yang paling hebat!" Tak peduli seperti apa putrinya di mata dunia, bagi Celline, Bella adalah yang terbaik. Seorang putri yang akan selalu ia sayang selamanya.
Orang lain bisa menyakiti Bella, tetapi Celline akan menghapuskan rasa sakitnya. Orang lain bisa melukai Bella, tetapi Celline akan membalut lukanya satu demi satu, hingga putrinya kembali pulih seperti semula.
"Aku tak akan pernah menuntutmu untuk menikah! Jika kau menemukan orang yang cocok, itu berkah untukmu! Jika pun tidak, aku dan ayahmu masih sanggup menghidupimu dengan baik!" Celline menatap sosok Bella secara seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapannya penuh kebanggaan sebagai seorang ibu.
"Yang penting, kau bahagia, Bella! Berapa pun harga yang harus kamu bayar untuk itu, kami akan menyediakannya!" Celine bersumpah dengan sungguh-sungguh.
Cinta seorang ibu hadir tanpa syarat. Terus mengalir tak peduli waktu, memberikan perlindungan tanpa batas. Iniah hakikatnya cinta yang murni. Cinta yang esistensinya abadi.
"Aku berjanji, Mom. Aku akan hidup bahagia. Tidak akan ada yang bisa menyakitiku dengan mudah! Percayalah! Putrimu akan menemukan hal-hal baik di masa depan!"
Wajah Bella basah oleh air mata, terharu oleh besarnya kasih sayang dan janji yang Mom berikan untuk selalu ada di sisinya, melindunginya, memberi segala yang terbaik.
"Seorang wanita bisa menjadi istri dari banyak laki-laki, karena pernikahan sejatinya tidak dijamin selamanya. Tetapi seorang wanita hanya memiliki satu ibu, satu dan selamanya. Ingatlah itu, Sayangku!" Celine mengecup kening putrinya, memberi dukungan tanpa syarat.
Cinta seorang ibu adalah cinta yang paling murni. Hadir dalam setiap nadi anak-anaknya, tak terbatas waktu. Bahkan jika hidup telah berubah dalam dimensi lain.
…