Kendall bermain catur dengan Mic di teras, sementara Bella berbincang dengan Mom di ruang tengah. Bella memutar lagu klasik, membuat suasana ruangan yang disiram cahaya redup menjadi lebih penuh nostalgia.
"Aku dan ayahmu pernah menikmati musik seperti ini di bungalo di Hawaii. Itu bulan madu kami yang ketujuh!" Celline berkata penuh kenangan, matanya berbinar-binar bahagia. Cinta dan kasih sayang di matanya untuk Kendall meluap tak terkendali.
"Kalian bahkan bulan madu hingga ketujuh kali." Bella menggeleng lemah, malas untuk berkomentar.
Usia pernikahan orang tua Bella telah berjalan cukup lama, tetapi kemesraan dan keharmonisan masih tetap terjaga. Mom dan Dad pernah diundang dalam beberapa variety show, untuk diwawancarai dan menunjukkan kuatnya pernikahan mereka.
"Pernikahan yang harmonis adalah berkah besar." Celline mengatakan ini dengan serius kepada putrinya.
Dalam kelas sosial atas, sering kali pernikahan dijadikan sebagai suatu alat. Alat untuk mempertahankan prestise, sebagai jalan demi tercapai kepentingan dan dukungan tertentu, membangun dinasti baru, menyatukan aset bersama demi nama yang lebih besar lagi dalam bisnis dan kekuasaan.
Atau bisa juga, alat hedonisme. Meraih nafsu, hasrat, dan keinginan egois sebagai objek pamer kebanggaan.
Jumlah pernikahan yang gagal di sekitar Celline tak lagi terhitung jumlahnya. Dengan alasan pengkhianatan, perselisihan yang tak dapat didamaikan, atau mungkin sekadar jenuh. Ya. Jenuh. Alasan yang sebenarnya sederhana, tapi nyatanya banyak terjadi.
Cinta yang dirasa tak lagi berkobar seperti di awal pernikahan, kasih sayang yang perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi benci, keselarasan yang berujung pada pertentangan pendapat, hasrat yang berubah menjadi keengganan, dan semua alasan-alasan lain yang beragam. Dengan kata lain, pernikahan itu sendiri tak berhasil mengikat dua orang yang dikehendaki dengan istilah "selama-lamanya". Ada banyak variabel yang menggagalkan proses perkawinan itu sendiri.
Perceraian bukan lagi hal yang tabu. Jumlahnya pun setiap tahun selalu membuat lembaga pengadilan menarik napas panjang tak berdaya. Karena itulah banyak orang yang lebih suka hidup bersama tanpa pernikahan, tidak lagi mengandalkan kesakralan pernikahan. Jika sesuatu yang sakral saja bisa hancur, apalagi yang perlu diandalkan sebagai jaminan kesetiaan selamanya?
Namun, Celine dan Kendall berhasil menjadi ikon pasangan yang paling harmonis di tengah-tengah banyak isu perceraian yang ada. Sepanjang pernikahan mereka, tak pernah ada isu negatif, baik wanita lain, lelaki lain, maupun perselisihan yang besar. Meskipun pasangan Celline dan Kendall bukan satu-satunya yang mampu mempertahankan keharmonisan rumah tangga selama nyaris tiga puluh tiga tahun, tetapi sosok mereka berhasil menyita perhatian dengan banyaknya kebersamaan yang mereka bagi di banyak momen yang membuat orang iri.
"Pernikahanmu menjadi contoh pernikahan yang ideal, Mom!" Bella mengakui itu. Dibesarkan dalam keluarga harmonis yang penuh kasih sayang, membuat Bella memiliki impian pernikahan seperti orang tuanya.
"Dalam pernikahan itu, yang terpenting bukan keinginan masing-masing. Tapi lebih kepada keinginan bersama dalam banyak hal. Mimpi, visi misi, harapan, target, dan hal-hal sejenis. Saat kita melihat tujuan-tujuan ini, kita mampu menekan ego kita sendiri demi tujuan yang lebih besar lagi!" Celline menjelaskan dengan baik.
"Mom, apakah kau dan Dad pernah bertengkar?" tanya Bella hati-hati. Sepanjang hidup Bella, dia jarang melihat Mom dan Dad terlibat dalam masalah. Hal besar yang ia lihat saat Mom dalam suasana hati yang buruk, biasanya ia berubah menjadi lebih pendiam pada Dad. Itu saja, tidak lebih.
"Bertengkar? Tentu saja!" Celline tertawa keras. "Dua individu yang disatukan, selaras apa pun itu, tetap ada perbedaan yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Pertengkaran itu pasti, perdebatan itu ada."
Manusia pada dasarnya memiliki pemikiran sendiri dengan segala kerumitannya. Memiliki keegoisan sendiri dengan semua tujuan-tujuan khusus di dalam hati. Namun, semua itu perlu dikendalikan.
"Saat kita menikah, hal yang paling utama adalah kompromi. Di titik tertentu Mom menginginkan sesuatu, tetapi Dad tidak. Di lain waktu Dad ingin melakukan sesuatu bersama, tetapi Mom tidak. Dari sinilah kita butuh saling berbincang, membentuk kesepakatan. Ada kalanya Mom mengalah di beberapa kesempatan dan mengikuti kemauan Dad, dan ada kalanya Dad mengalah dalam kesempatan lain untuk memenuhi kemauan Mom. Kompromi ini butuh sikap saling memahami dan mengerti satu sama lain. Semakin lama kita hidup bersama, semakin kita paham seberapa besar kompromi yang diperlukan dalam banyak situasi. Kita akan tahu hal paling penting apa bagi pasangan kita, dan apa saja yang tak bisa ia toleransi.
"Dan sebaik-baiknya kita mampu berkompromi, masih ada saja hal yang akan memicu pertengkaran dalam rumah tangga. Manusia itu memiliki emosi. Marah dan kecewa itu hal yang sangat wajar. Apalagi terhadap pasangan. Tapi dari sinilah kita belajar mengendalikan. Mom dan Dad selalu memiliki prinsip, semarah apa pun kami satu sama lain, kami tak akan pernah menunjukkannya pada anak-anak. Di depan anak-anak, kami akan selalu bersikap senormal mungkin, karena tak ingin emosi kami mempengaruhi perkembangan mental anak-anak.
"Setiap kali kami marah, kami membutuhkan beberapa waktu untuk menenangkan diri. Mengevaluasi banyak hal, hingga akhirnya kami lebih tenang dan memahami di mana titik kesalahan kami sebelumnya. Setelah itu, Dad dan Mom selalu melakukan pembicaraan baik-baik. Hasilnya, kami selalu berdamai!"
Mempertahankan pernikahan butuh kerja keras dari masing-masing pasangan. Namun yang paling penting adalah cinta. Dengan cinta, seseorang akan selalu bersedia berkompromi, menurunkan ego, mendengarkan harapan pasangan, dan memaklumi.
"Di antara Dad dan Mom, siapa dari kalian yang sering mengalah?" tanya Bella penasaran. Meskipun Mom tampak lembut, sebenarnya dia meyembunyikan kekeraskepalaan. Sekali dia memiliki suatu prinsip dan kemauan, sulit baginya dialihkan. Dad pun lebih parah lagi. Sebagai lelaki, dominasinya tinggi dan temperamennya tak terlalu baik. Meskipun sejauh ini, Dad selalu bersikap baik untuk keluarga.
"Dad." Celline tersenyum, binar matanya diwarnai kelembutan.
"Dad yang sering mengalah?" Bella cukup terkejut.
"Kau putrinya, seharusnya kau tahu itu dengan baik. Saat aku menginginkan sesuatu, atau saat aku memutuskan sesuatu, apakah kau melihat Dad menentang? Yah mungkin beberapa kali ia menentang, tetapi—"
"Tetapi akhirnya, Mom menang. Dad mengikuti kemauan Mom!" Bella mengangguk, teringat dengan banyak momen saat Mom menginginkan sesuatu. "Lantas, apa maksud Mom tadi bilang Mom perlu mengalah pada Dad?" Pada akhirnya, Dad yang selalu mengalah. Bella memutar matanya tak habis pikir. Sungguh kasihan Dad.
"Yah, jika diingat-ingat, tetap saja Mom pernah mengalah!" Celline membela diri, meski situasi itu jarang terjadi.
"Sayang, lelaki yang sungguh-sungguh mencintaimu biasanya akan banyak mengalah dan mendengarkanmu! Kau lihat betapa sulitnya temperamen Dad di luar sana." Banyak orang enggan menghadapi Kendall secara langsung karena temperamennya yang tak mudah. "Tapi dia sering memanjakanku dengan banyak hal. Itulah salah satu efek cinta, Sayang. Jika kau menemukan orang yang sanggup memotong egonya untukmu, saat itulah kau tahu dia mencintaimu dengan tulus!"
Tapi jumlah cinta seperti ini tidak banyak. Celline tahu itu dengan baik. Karena itulah Celline mensyukuri berkah ini sepanjang hidupnya.
"Aku harap demikian, Mom!" Pandangan mata Bella tak fokus, bayangan Ralph mengkhinatainya kembali teringat dalam memori.
Ada rasa nyeri di dalam hati, nyeri yang diam-diam membesar dan membuat d**a Bella terasa sesak.
"Ada apa?" Celline merasa ada yang salah dengan putrinya.
"Tidak ada!" Bella tersenyum kecil, menutupi rasa sesak di d**a yang menjadi-jadi.
"Kau memikirkan masalah Ralph, bukan?" Sebagai seorang ibu, Celline bisa membaca suasana hati putrinya dengan baik. "Sayang, terkadang sebelum menemukan orang yang tepat, kau perlu bertemu seseorang yang salah lebih dulu!"
…